11 Peristiwa Bersejarah di Hari Asyura

11 Peristiwa Bersejarah di Hari Asyura

Hari asyura adalah hari ke-10 dari bulan muharram, meski ada pula beberapa ulama yang menyatakan hari asyura adalah hari ke-9 bulan muharram. (baca: keistimewaan bulan muharram)

Asyura di kalangan orang-orang jawa biasa disebut hari suro.

Di hari ini banyak sekali peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah yang mungkin belum diketahui banyak orang.

Berikut ini beberapa peristiwa bersejarah di hari asyura:

1. Diterimanya tobat Nabi Adam As

Setelah memakan buah terlarang bersama sang istri, Nabi Adam AS merasa sangat bersalah kepada Alloh swt.

Meski apa yang dilakukan oleh Nabi Adam AS tanpa didasari kesengajaan sebagaimana difirmankan dalam al-Quran. Namun Nabi Adam merasa apa yang dilakukannya merupakan sebuah kesalahan besar sehingga menjadikannya bersungguh-sungguh dalam bertobat.

Kemudian taubat Nabi Adam diterima oleh Alloh SWT di hari asyura.

2. Nabi Idris diberi kedudukan luhur di hari asyura

3. Berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS dengan selamat

Nabi Nuh AS merupakan Nabi yang sangat sabar dalam menghadapi kaumnya. Meski ratusan tahun berdakwah namun hanya beberapa orang saja yang mengimaninya.

Ketika dirasa bahwa kaumnya yang mengingkarinya tidak ada yang akan beriman maka Nabi Nuh AS berdoa agar kaumnya dibinasakan dari muka bumi ini.

Akhirnya Alloh SWT menjawab doanya dan mewahyukan agar Nabi Nuh AS segera membuat kapal untuk menampung kaumnya yang beriman dan juga binatang-binatang dari berbagai spesies.

Setelah tiba waktu yang telah dijanjikan oleh Alloh SWT untuk melenyapkan kaum Nabi Nuh AS yang durhaka, turunlah hujan selama beberapa bulan dan mengakibatkan banjir yang hebat.

Banjir ini melanda seluruh bumi. Bahkan Ka’bah mengalami kerusakan akibat terdampak banjir Nabi Nuh. Hingga akhirnya saat banjir mulai surut perahu Nabi Nuh AS berlabuh dengan selamat.

Kejadian ini terjadi pada hari asyura.

Asal muasal bubur suro

Diceritakan bahwa ketika Nabi Nuh AS melabuhkan kapalnya dan berhasil melewati banjir dengan selamat, ia dan orang-orang yang bersamanya merasakan lapar, sementara perseediaan makanan mereka telah menipis.

Kemudian Nabi Nuh As memiliki inisiatif untuk mengumpulkan semua sisa-sisa persediaan makanan mereka.

Lantas para pengikut Nabi Nuh AS ada yang berhasil mengumpulkan beberapa kantong gandum, kacang adas, kacang brol (فول), buncis dan yang lain sampai terkumpul 7 macam biji-bijian.

Setelah semua bahan makanan terkumpul. Nabi Nuh AS segera memasaknya. Hingga mereka semua mendapatkan bagian dari masakan ini serta semua merasa kenyang dari bubur suro masakan Nabi Nuh AS, lantaran berkah Nabi Nuh AS.

Kejadian ini tepat pada hari asyura dan sampai sekarang telah menjadi tradisi bubur suro yang dijalankan.

4. Selamatnya Nabi Ibrahim AS dari siksa api Raja Namrudz

Setelah menjadi tersangka penghancuran berhala-berhala sesembahan Namrudz. Ia pun murka dan menyurh untuk membuat perapian yang sangat besar sebagai bentuk eksekusi hukuman mati atas Nabi Ibrohim AS.

Hingga akhirnya Nabi Ibrahim AS diselamatkan oleh Alloh SWT lantaran api tersebut dijadikan sebagai api dingin yang menyelamatkan.

Selamatnya Nabi Ibrahim terjadi tepat pada hari asyura.

Meski saat akan di eksekusi Nabi Ibrahim sempat didatangi Malaikat Jibril & Mikail AS untuk menawarkan pertolongan. Namun Ia tetap bersikukuh dan menjawab: “Adapun bantuan dari kalian, aku tidaklah membutuhkan.”

Nabi Ibrahim As tetap pada pendiriannya dan mengucapkan:

حسبنا الله ونعم الوكيل

“Hasbunalloh wa ni’mal wakil.”

Apa yang dibaca Nabi Ibrahim saat akan dieksekusi di api Namrudz sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori RA:

عن ابن عباس. {حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ} قالها إبراهيم – عليه السلام – حين ألقى فى النار

“Dari Ibn Abbas: Hasbunalloh wa ni’mal wakil diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS saat akan dilempar ke api Namrudz.”

Pasalnya, sebelum kejadian ini Nabi Ibrahim As berjanji untuk tidak meminta apapun kepada makhluk, termasuk Jibril dan Mikail AS.

5. Allah SWT menurunkan Taurot pada Nabi Musa AS

Berbeda dengan al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap, Taurat diturunkan pada Nabi Musa AS secara langsung, dan ini terjadi pada hari asyura.

6. Nabi Yusuf AS dikeluarkan dari penjara

Nabi Yusuf AS sempat menjalani hukuman penjara selama beberapa tahun. Beliau dipenjara bukanlah karena melakukan tindakan pidana atau kemaksiatan, melainkan atas doanya sendiri karena takut terfitnah dengan wanita-wanita yang merayunya untuk berbuat kemaksiatan.

Hingga akhirnya doa Nabi Yusuf diijabah oleh Alloh SWT, lantas beliau harus menjalani hukuman selama 7 tahun tanpa alasan yang jelas.

Nabi Yusuf keluar dari penjara saat Fir’aun di zamannya memimpikan 7 ekor sapi yang kurus memakan 7 ekor sapi yang gemuk.

Merasa penasaran dengan tafsir mimpinya, Firaun akhirnya memanggil para pentakwil mimpi.

Namun mereka tidak ada yang sanggup menafsiri mimpi Firaun. Hingga akhirnya orang terdekat Firaun merekomendasikan Nabi Yusuf yang masih berada di penjara untuk menafsiri dan mengeluarkan Nabi Yusuf AS. Dan itu bertepatan dengan hari asyura.

7. Nabi Ya’kub AS kembali melihat

Nabi Ya’kub mengalami kebutaan sebab kesedihan beliau atas hilangnya Yusuf, putranya. Apalagi ditambah dengan tidak pulangnya saudara kandung Nabi Yusuf, Bunyamin AS karena tertahan otoritas Mesir.

Namun, kesedihan Nabi Ya’kub AS seketika menjadi sukacita tatkala dirinya mengetahui bahwa Yusuf dan Bunyamin masih hidup dan berhasil ditemukan.

Mata Nabi Ya’kub yang awalnya buta dapat kembali melihat usai wajahnya diusap dengan baju gamis Nabi Yusuf AS. Kejadian ini juga bertepatan dengan hari asyura.

8. Disembuhkannya Nabi Ayub AS

Dijelaskan oleh Ali as-Shobuni RA dalam tafsirnya bahwa Ayub merupakan Nabi dari Romawi.

Beliau dikaruniai banyak putra-putri dan harta yang melimpah.

Kemudian Alloh SWT mengujinya dengan melenyapkan harta bendanya. Namun ia tetap sabar.

Lalu Alloh SWT mengujinya dengan kematian putra-putrinya. Namun ia tetap bersabar.

Hingga Alloh mengujinya dengan penyakit di tubuhnya. Namun ia tetap saja bersabar.

Hingga akhirnya, saat orang-orang dari kaumnya melihat apa yang dialami Nabi Ayub, dan mereka mengatakan:

ما أصابه هذا إلا بذنب عظيم

“Apa yang dialami orang ini disebabkan dosa besar,”

Nabi Ayub lantas merendahkan dirinya kepada Alloh seraya berdoa:

أنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Ya Rab, sesungguhnya hamba mendapatkan kesulitan, sementara Engkau Maha Penyayang”

Kemudian Alloh menjawab doa Nabi Ayub AS dan menyembuhkannya di hari asyura.

Selain itu Alloh SWT juga mengkaruniakan Nabi Ayub AS beberapa putra-putri yang lebih baik dari sebelumnya serta mengembalikan harta-hartanya melebihi yang sebelumnya sebagai balasan kesabaran Ayub AS.

9. Dikeluarkannya Nabi Yunus AS dari perut ikan paus

Ali as-Shobuni dalam tafsirnya Shofwatut Tafasir menjelaskan bahwa ulama-ulama tafsir menyatakan: Nabi Yunus AS merasa resah disebabkan perilaku kaumnya yang terus saja mengingkarinya, lalu ia mengancam kaumnya akan datangnya adzab dalam waktu dekat.

Ia pun membentak mereka karena telah mendustakannya. Lantas dalam keadaan marah, Nabi Yunus pun pergi meninggalkan kaumnya. Hingga sampailah Nabi Yunus di pinggiran laut, beliau akhirnya menumpang kapal yang telah penuh berdesakan.

Di tengah lautan tiba-tiba kapal itu diombang-ambingkan angin dan ombak besar. Dalam keadaan terancam tenggelam, para pelaut meneriakkan “Di kapal ini ada budak yang kabur dari tuannya, kita harus membuangnya agar kapal ini tidak tenggelam.”

Akhirnya mereka memutuskan untuk mengundi siapa yang akan dibuang ke laut. Tanpa diduga, nama Nabi Yunus lah yang keluar. Mereka pun akhirnya melemparnya ke laut.

Masalah ini sebagaimana difirmankan Alloh SWT dalam al-Quran:

فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ المدحضين

As-Shoffat 141

“Maka ia ikut diundi, dan ia kalah dalam undian itu.”

Setelah itu Nabi Yunus AS ditelan ikan paus yang besar. Namun Nabi Yunus AS tidak pernah merasa putus dari rahmat Alloh, ia tetap mengharap rahmat dan ampunan-Nya sambil senantiasa mengucap tasbih:

لاَّ إله إِلاَّ أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظالمين

“Laa ilaaha illa Anta subhaanaka inni kuntu minad dholimin.”

Alloh SWT menerima tasbih Nabi Yunus dan menyelamatkannya. Paus itu pun akhirnya memuntahkan Nabi Yunus AS ke pantai yang terik tanpa pepohonan, sementara ia dalam keadaan sakit karena terlalu lama dalam perut ikan. Lalu Alloh menumbuhkan pohon labu di atas Nabi Yunus As.

Hal ini sesuai dalam penjelasan Syekh Ali as-Shobuni dalam tafsirnya:

قال عطاء: أوحى الله تعالى إلى الحوت إني قد جعلت بطنك له سجناً، ولم أجعله لك طعاماً، فلذلك بقي سالماً لم يتغير منه شيء {وَأَنبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّن يَقْطِينٍ} أي وأنبتنا فوقه شجرة لتظله وتقيه حرَّ الشمس، وهي شجرة القرع ذات الأوراق العريضة قال ابن جزي: وإِنما خصَّ القرع بالذكر لأنه يجمع كبر الورق، وبرد الظل، والذبابُ لا يقربه، فإن لحم يونس لما خرج من البحر كان لا يحتمل الذباب، وكان هذا من تدبير الله ولطفه، فلما استكمل قوته وعافيته ردَّه الله إلى قومه

صفوة التفاسير

“Atho’ RA berkata: Alloh memberitahukan kepada ikan paus bahwa Dia menjadikan perutnya sebagai penjara Nabi Yunus, bukan menjadikannya sebagai makanan. Karena inilah Nabi Yunus AS bisa keluar dalam keadaan selamat. (Alloh berfirman: Dan Aku memberi Yunus pohon yaqthin) agar dijadikan Yunus sebagai tempat berteduh dari teriknya matahari.

9. Dikeluarkannya Nabi Yunus AS dari perut ikan paus
شجرة القرع: https://www.maan-ctr.org/magazine/article/1624/

Pohon dari yaqthin adalah labu. Ibn Jazy mengatakan: Alloh memilih pohon labu sebagai tempat berteduhnya Nabi Yunus karena pohon ini selain memiliki dedaunan yang lebar juga tidak dihinggapi lalat sementara Nabi Yunus dikala itu kondisinya sangat lemah dan tidak akan mampu jika dihinggapi banyak lalat. Hal ini merupakan bentuk kasih sayang Alloh dan indahnya pengaturan-Nya.

Kemudian setelah Nabi Yunus AS pulih, Alloh mengembalikannya ke kaumnya (di Ninawa, Mosul, Irak)”

10. Dibelahnya laut merah untuk menyelamatkan Bani Israil

Jumlah pasukan Fir’aun saat mengejar Nabi Musa As beserta kaumnya adalah 5.500000 (lima juta lima ratus ribu). Namun ketentuan Alloh SWT menghendaki kekalahan Fir’aun, pasukan yang begitu besar jumlahnya hanya mengikuti arahan Allah menjemput ajal mereka di laut merah.

Kekalahan Fir’aun beserta pasukannya merupakan tanda keagungan Alloh, siapa yang bisa menggiring pasukan sebesar itu menuju ajalnya di satu lautan jika bukan kehendak Yang Maha Kuasa.

Syahidnya penyihir-penyihir Fir’aun

Fir’aun yang dihadapi Nabi Musa bernama Walid bin Mus’ab, ia merupakan yang terkuat dibanding Fir’aun-Fir’aun sebelumnya. Tidak ada yang lebih bengis, diktator dan lebih panjang umurnya dibanding Fir’aun di zaman Nabi Musa. Hal inilah yang menambah keyakinannya memposisikan dirinya sebagai tuhan.

Ingkarnya Firaun terhadap mukjizat yang dibawa Nabi Musa membuatnya ingin membuktikan kebenaran ajarannya. Ia akhirnya memutuskan untuk memanggil penyihir-penyihir terbaik untuk mengalahkan Nabi Musa AS.

Dalam kitab al-Lafdhul Mukarram bifadhli Asyura al-Muharram dijelaskan bahwa Firaun mendatangkan 72 penyihir, 2 dari Persia sedang sisanya dari Bani Israil.

Setelah waktu yang disepakati telah ditentukan yaitu hari sabtu, 8 muharram. Kedua belah pihak akhirnya bertemu untuk pembuktian kebenaran Musa AS.

Lantas 72 penyihir Fir’aun pun mengeluarkan tipu daya mereka dan berhasil mengecoh serta membuat semua mata yang hadir di situ terpana.

Tibalah giliran Nabi Musa AS menandingi sihir mereka, atas ijin dan perintah Allah SWT Nabi Musa disuruh melempar tongkatnya. Ia pun segera melakukan perintah wahyu itu.

Secara spontan tongkat kayu Nabi Musa AS berubah menjadi ular yang sangat besar. Kepalanya menutupi langit-langit Mesir dan ekornya melilit melingkari kubah Fir’aun. Diriwayatkan dari Muqotil bin Sulaiman bahwa tinggi kubah Fir’aun saat itu adalah 70 dziro’ (-+ 33,6 meter).

Orang-orang yang hadir sangat tercengang dan takjub akan kejadian ini. Namun saat ketakjuban mereka belum sirna tiba-tiba ular Nabi Musa AS membuka mulutnya dan melahap habis semua sihir rekayasa para penyihir. Ular raksasa ini akhirnya menuju Nabi Musa dan saat dipegang oleh Nabi Musa ia berubah menjadi tongkat seperti semula.

Kontan ke-72 penyihir yang menyaksikan ini segera bertobat dan menyatakan iman kepada Nabi Musa AS.

Sedangkan Firaun, hatinya telah membatu ia tetap tidak mempercayai mukjizat Nabi Musa AS, ia bahkan menuduh Musa AS sebagai senior sekaligus pembesar penyihir-penyihir itu. Bahkan Fir’aun memerintahkan untuk membunuh dan menyalib para penyihir lantaran beriman kepada Nabi Musa AS.

Menyikapi tragedi atas 72 penyihir yang telah bertobat, Ibn Abbas RA berkata:

قال ابن عباس رضي الله تعالى عنهما : كانوا أول النهار سحرة وآخر النهار شهداء رضي الله تعالى عنهم

“Ibn Abbas RA berkata: Mereka di pagi harinya adalah penyihir dan menjelang malam menjadi syuhada.”

Pengejaran Fir’aun kepada Bani Israil

Malam setelah syahidnya mantan penyihir Fir’aun, Nabi Musa AS mendapat wahyu untuk mengeluarkan Bani Israil dari Mesir.

Tepat di malam ahad, 9 muharram, Nabi Musa menjalankan perintah Allah untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir.

Paginya setelah kepergian Nabi Musa beserta kaumnya diketahui, Fir’aun segera mengumpulkan pasukannya untuk mengejar rombongan Nabi Musa AS.

Namun sebelumnya, Jibril AS telah membunuh semua ternak orang-orang Mesir sehingga Fir’aun dan bala tentaranya terhambat untuk mengejar Nabi Musa dan memutuskan untuk menunda pengejaran serta fokus dalam mengubur semua ternak yang mati.

Barulah di hari senin 10 muharram mereka melakukan pengejaran dengan jutaan pasukan-pasukan berkuda. Meski terpaut lebih dari satu hari Fir’aun dan pasukannya berhasil menyusul rombongan Nabi Musa.

Di sisi lain, rombongan Nabi Musa mendapati jalan buntu. Di hadapan mereka terdapat laut merah yang luas dan mustahil untuk dilewati sementara di belakang mereka pasukan Fir’aun sudah mulai terlihat.

Kaum Nabi Musa lantas mengucapkan: “Mereka akan mendapatkan kita, di depan kita adalah lautan sementara di belakang kita, pasukan berkuda Firaun mengejar”

Dalam situasi buntu ini, Allah menurunkan wahyu agar Nabi Musa AS memukulkan tongkatnya pada laut merah. Seketika itu, laut merah terbelah menjadi daratan kering yang luas sehingga cukup untuk dilewati Nabi Musa AS beserta kaumnya.

Di tengah perjalanan melewati laut merah, pasukan berkuda terlihat semakin dekat. Mereka juga melintasi dasar laut merah untuk menyusul pelarian Bani Israil.

Namun setelah Nabi Musa dan Bani Israil sudah sampai di daratan, Nabi Musa diperintahkan oleh Allah untuk memukul kembali tongkatnya ke laut merah, dan laut pun kembali mengatup seperti sediakala sehingga Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam di laut yang sama.

Sebagai bentuk rasa syukur atas diselamatkannya Bani Israil, Nabi Musa AS melakukan puasa di hari asyura. Puasa ini juga dilakukan oleh orang-orang yahudi di zaman Rosululloh SAW.

11. Syahidnya Husain bin Ali RA

Di hari asyura juga terdapat peristiwa bersejarah yang sangat tragis, terbunuhnya Sayidina Husain RA di Padang Karbala, Irak pada usia 56 tahun.

Kejadian ini bertepatan setelah ashar di hari jumat tanggal 10 muharram tahun 61 H.

Larangan puasa asyura karena hari musibah terbunuhnya Husain bin Ali RA

Ada beberapa golongan yang mengharamkan puasa hari asyura karena asyura adalah hari terbunuhnya Husain RA hingga sepatutnya seluruh umat muslim berkabung.

Menanggapi hal ini Syekhul Islam Abu Muhammad Abdul Qodir al-Jili RA menjelaskan:

ثم قال الشيخ عبدالقادر رحمة الله تعالى عليه : وهذا القائل خاطر ومذهبه قبيح فاسد ، لأن الله تبارك وتعالى لما اختار لسبط نبيه رضي الله تعالى عنه الشهادة في أشرف الأيام وأعظمها وأجلها وأرفعها عنده منزلة ليزيده بذلك رفعة في درجاته وكرامة مضافة إلى كرامته ويبلغه منازل الخلفاء الراشدين الشهداء بالشهادة ، قال : ولو جاز أن يتخذ يوم موته يوم مصيبة لكان يوم الإثنين أولى بذلك إذ قبض الله – عز وجل – نبيه – صلى الله عليه وسلم – فيه ، وفقد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أعظم من فقد غيره ، وقد اتفق المسلمون على شرف يوم الإثنين وفضيلة صومه وأنه تعرض فيه وفي الخميس أعمال العباد ، فكذلك يوم عاشوراء لا يتخذ يوم مصيبة ، انتهى

اللفظ المكرم بفضل عاشوراء المحرم

“Syekh Abdul Qodir kemudian berkata: Pendapat ini (haram puasa asyura dengan alasan hari musibah) adalah pendapat yang rusak dan pendapat yang sangat buruk!. Karna ketika Allah SWT memilihkan Sayidina Husain RA keagungan derajat syahid di hari yang mulia dan agung serta istimewa bagi Allah SWT bertujuan untuk menambah keagungan derajat Husain RA di sisi-Nya, sehingga kehormatan dan derajatnya akan semakin terangkat serta sampai pada derajat syahid dari Khulafaurrosyidin RA.

Seandainya hari syahidnya Husain RA boleh diperingati sebagai Hari Musibah maka sudah pasti hari senin paling layak dijadikan sebagai hari musibah. Karena di hari senin adalah hari mangkatnya Rosululloh SAW, dan sudah maklum bahwa kehilangan Rosulullah SAW merupakan musibah terbesar tiada tara. Sementara itu para ulama sepakat akan kemuliaan hari senin juga keutamaan berpuasa hari senin.

Karena inilah tidak diperbolehkan menjadikan hari asyura sebagai hari musibah.”

Refrensi:

اللفظ المكرم بفضل عاشوراء المحرم, اعانة الطالبين, صفوة التفاسير

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related