4 Macam Iftar Ramadhan dan Kewajibannya

4 Macam Iftar Ramadhan dan Kewajibannya

Iftar dalam dalam tulisan Arab إفطار adalah sebuah kondisi dimana orang yang berpuasa memakan makanan atau minum. Karena itulah sudah umum di masyarakat mengucapkan selamat berbuka puasa dengan istilah “Happy Iftar”.

Pengertian iftar tersebut merupakan pengertian asal, dan kemudian para ulama fiqih memutlakkan dan menjadikan arti iftar dengan sebuah kondisi dimana orang yang sedang berpuasa melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, baik itu dengan cara makan atau minum atau dengan cara yang lain.

Macam Iftar Ramadhan

Menurut ulama Syafi’iyah iftar Ramadhan memiliki 4 macam hukum. Yaitu:

  • Wajib

Iftar Ramadhan dihukumi wajib bagi wanita yang haid atau nifas di bulan Ramadhan. Akan tetapi yang dimaksud dengan kewajiban wanita haid atau nifas untuk iftar artinya bukan berarti mereka wajib melakukan perkara yang membatalkan puasa, namun mereka diharamkan untuk tidak makan atau minum (imsak) dengan diniati puasa, dengan kata lain wajib bagi mereka untuk tidak niat puasa.

  • Jaiz

Ifthor jaiz artinya kebolehan seseorang dalam melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Hukum iftar semacam ini berlaku bagi musafir yang melakukan perjalanan jauh dan perjalanan tersebut diperbolehkan secara syar’i sekira perjalanan tersebut memperbolehkan shalat qashar.

Terkait bolehnya iftar bagi musafir, ulama Syafi’iyah mensyaratkan adanya perjalanan dimulai sebelum fajar dan di waktu itu telah melewati batas desa.

Selain musafir, yang diperbolehkan melakukan iftar yaitu orang yang sangat tua dan lemah, wanita hamil, orang yang di hari itu merasa sangat lapar atau haus yang sekira akan merasa sangat kesulitan jika memaksakan puasa, dan orang sakit yang sekira sakitnya tersebut memperbolehkannya untuk melakukan tayamum. Dengan demikian jika memang sakitnya dirasa belum sembuh di hari berikutnya dia diperbolehkan meninggalkan niat.

  • Bukan wajib dan bukan pula jaiz

Hal ini sebagaimana ifthornya orang gila. Bagi mereka tidak berpuasa tidak ada keterikatan hukum wajib, sunah, haram atau jaiz.

  • Haram

Macam iftar yang terakhir adalah haram. Ini berlaku bagi orang yang memiliki qadha puasa Ramadhan dan dia melakukan qadha di hari dimana bulan Ramadhan akan tiba.

Seperti orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan sebanyak 5 hari, namun dia menunda untuk mengqadhanya tanpa ada udzur syar’i hingga tanggal 25 Sya’ban.

Baginya haram membatalkan puasa qadhanya karena waktu sudah tidak mencukupi dan bulan Ramadhan berikutnya segera tiba.

Kewajiban Bagi Orang Iftar

Perkara yang diwajibkan bagi orang yang iftar Ramadhan juga terdapat 4 macam, yaitu:

  1. Wajib qadha Ramadhan serta fidyah

Ketentuan mengganti puasa dengan wajibnya qadha disertai membayar fidyah menjadi kewajiban atas 2 macam orang yang iftar Ramadhan.

  • Orang yang iftar Ramadhan karena mengkhawatirkan keselamatan orang lain

Hal ini sebagaimana orang yang membatalkan puasanya disebabkan menyelamatkan hewan yang dimuliakan secara syariat. Baik manusia atau binatang.

Sebagai contoh orang yang sedang berpuasa melihat orang tenggelam, kemudian dia menyelamatkannya sehingga puasanya batal karena kemasukan air pada saat menyelamatkan.

Begitu juga wanita hamil atau menyusui yang tidak berpuasa karena mengkuatirkan kesehatan janin atau anaknya. Bagi mereka diwajibkan mengganti puasa disertai membayar fidyah.

  • Orang yang memiliki tanggungan puasa Ramadhan dan belum di qadha sampai datangnya bulan Ramadhan berikutnya

Kewajiban membayar fidyah serta mengqadha puasa bagi orang semacam ini jika memang dia sembrono dan tidak segera mengganti puasa Ramadhan yang pernah ditinggalkan sampai datangnya Ramadhan selanjutnya.

Lain halnya jika memang sepanjang bulan Syawal dia mengalami udzur (seperti sakit) yang berkelanjutan sampai Ramadhan berikutnya tiba sehingga tidak ada waktu yang memungkinkan baginya untuk mengqadha puasa. Jika memang demikian dia hanya kewajiban mengganti puasa tanpa disertai membayar fidyah.

  1. Wajib membayar fidyah tanpa mengganti puasa

Hal ini berlaku bagi orang tua yang sangat lemah dan tidak mampu lagi melakukan puasa. Begitu juga orang sakit yang mendapat vonis dari dokter bahwa tidak ada harapan untuk sembuh yang sekira seandainya dia memaksakan melakukan puasa maka akan sangat memberatkan.

  1. Tidak ada kewajiban qadha atau fidyah

Hukum ini berlaku bagi orang gila, anak kecil dan juga kafir asli yang tekah masuk Islam.

  1. Hanya wajib qadha puasa tanpa fidyah

Ketentuan mengganti puasa dengan wajibnya qadha tanpa disertai membayar fidyah berlaku pada selain orang yang telah disebutkan, seperti orang yang iftar Ramadhan dikarenakan tidak niat, bepergian dan sengaja meninggalkan puasa. Begitu juga wanita hamil atau menyusui yang mengkuatirkan keselamatan dirinya jika memaksakan puasa.

Demikian kajian tentang 4 macam iftar Ramadhan dan kewajiban yang disebabkan iftar. Semoga memberikan manfaat.

والله اعلم

Referensi:

نيل الرجا على سفينة النجا