Memahami Arti Aurat dan Batasannya

Batasan aurat

Memahami arti aurat – Kewajiban bagi setiap laki-laki dan wanita yang telah tertaklif (akil baligh: baca tanda-tanda baligh) adalah menutup aurat. Tentu kewajiban ini tidak akan bisa kita patuhi dengan sempurna jika tidak mengetahui pengertian aurat, dan juga batasan aurat.

Apakah yang dimaksud dengan aurat?

Menurut bahasa aurat merupakan sesuatu yang tercela, atau cacat. Adapun secara istilah syariat aurat adalah bagian tubuh yang wajib ditutupi. Tidak hanya itu, selain aurat wajib ditutupi bagi orang lain juga haram untuk melihat aurat orang lain, baik aurat sesama jenis atau aurat dari lawan jenis. Batasan-batasan aurat yang wajib ditutupi terkadang juga berbeda dengan batasan aurat yang haram dilihat, sebagai contoh, aurat laki-laki yang wajib ditutupi adalah antara pusar dan lutut. Namun, meski kewajiban lelaki hanya menutupi antara lutut dan pusar, wanita yang bukan mahram tetap diharamkan melihat seluruh tubuhnya.1 Karena itulah para ulama syafiiyah, pada umumnya menjelaskan aurat yang wajib ditutupi dengan aurat yang haram dilihat dalam 2 bab yang berbeda. Aurat yang wajib ditutupi umumnya dijelaskan dalam bab syarat sholat, sementara aurat yang haram dilihat dijelaskan dalam bab nikah.

Batasan aurat

Berikut ini batasan aurat, ditinjau dari tiap-tiap individu dan keadaan yang berlaku:

1. Batasan aurat laki-laki

Laki-laki, baik hamba sahaya atau lelaki merdeka memiliki batasan aurat yang sama. Mereka wajib menutup bagian tubuh yang ada di antara pusar dan lutut. Menutup antara pusar dan lutut merupakan kewajiban lelaki ketika,

  • Didalam sholat
  • Diluar sholat
  • Dihadapan wanita, baik mahram atau yang bukan mahram. Namun, bagi wanita lain yang bukan mahram tetap diharamkan melihat seluruh tubuhnya, kecuali jika memang dibutuhkan, sebagaimana dalam rangka pengobatan, muamalah, khitbah dll.
  • Dihadapan sesama jenis
  • Dalam keadaan kholwah atau menyendiri, kecuali ada keperluan seperti halnya mandi atau berhubungan suami istri

2. Batasan aurat wanita budak

Perbudakan memang telah tiada, dan dihapuskannya perbudakan merupakan salah satu keinginan serta jasa-jasa islam, dengan bukti banyaknya anjuran dan janji-janji yang telah disampaikan Rosululloh SAW bahwa siapa yang memerdekakan budak akan mendapatkan pahala yang besar. Bahkan banyak sekali kafarot-kafarot (hukuman) atas pelanggaran seorang muslim yang mengharuskan ia memerdekakan budak, seperti melanggar sumpah, berhubungan suami istri dikala sedang berpuasa ramadhan, dll. Namun, sebagai wacana keilmuan sangatlah penting menuturkan klasifikasi batasan aurat pada wanita hamba sahaya.

Batasan aurat pada wanita budak yaitu:

  • Didalam sholat

Kewajiban wanita budak ketika sholat yaitu menutup anggota tubuh diantara pusar dan lutut.

  • Dihadapan lelaki lain

Dihadapan lelaki lain aurat wanita pekerja (budak) adalah seluruh tubuh sebagaimana wanita merdeka.[lihat Nailur Roja Syarah Safinatunnaja Hal 152, dan Roudhotut Tholibin Juz 7/23]

Dengan demikian wajib bagi wanita pekerja untuk menutup seluruh tubuhnya dihadapan lelaki lain; lelaki yang bukan suami atau pemiliknya, serta tidak ada hubungan mahram, baik secara nasab, hubungan pernikahan, maupun hubungan persusuan.2 Dan bagi lelaki lain juga diharamkan untuk melihat seluruh tubuh mereka. Hal ini berlaku selama tidak ada hajat, jika ada hajat maka diperbolehkan melihat bagian tubuh yang memang diperlukan untuk dilihat, sebagaimana saat dalam penanganan medis.

  • Dihadapan mahram dan sesama jenis
  • Kholwah

Aurat budak wanita ketika dihadapan mahram dan sesama wanita muslim adalah bagian tubuh antara pusar dan lutut. Begitu juga ketika kholwah.

3. Batasan aurat wanita merdeka

Adapun klasifikasi batasan aurat wanita adalah sebagai berikut:

  • Dalam sholat

Agar sholat yang dilakukan wanita muslimah menjadi sah, maka ia harus menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Selain wajah dan kedua telapak tangan, bahkan telapak kaki dan pergelangan tangan, maka hukumnya wajib ditutupi dan menjadikan penentu sah tidaknya sholat. Dalam hal ini orang berkelamin ganda (khuntsa) juga memiliki batasan yang sama dengan wanita merdeka.

  • Dihadapan lelaki lain

Sama seperti halnya wanita budak, aurat wanita merdeka dihadapan lelaki lain adalah seluruh badan. Bahkan ada ulama yang berpendapat bahwa kewajiban wanita adalah menutup seluruh tubuhnya, termasuk wajah dan kedua telapak tangan. Dan bagi lelaki yang bukan mahram atau suami, diharamkan melihatnya kecuali ada tujuan yang diperbolehkan secara syari, semisal khitbah, muamalah, dan penanganan medis dll. Hal ini juga berlaku pada aurat khuntsa.

  • Dihadapan mahram dan sesama wanita
  • Saat menyendiri

Aurat wanita dihadapan mahram dan sesama jenis adalah antara pusar dan lutut. Begitu juga saat menyendiri.

Hal ini berlaku jika dihadapan sesama wanita muslimah. Jika dihadapan wanita non muslim maka haram bagi wanita muslimah untuk membuka selain bagian tubuh yang terbuka disaat bekerja.

  1. كفاية الأخيار
  2. نيل الرجا شرح سفينة النجا ١٥٢ دار المنهاج

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related