Bayi Gumoh Najis Atau Tidak?

Bayi Gumoh Najis Atau Tidak?

Seringkali mendapat pertanyaan mulut bayi yang gumoh najis atau tidak, membuat kami ingin mengulas hukum Islam terkait gumoh sesuai fiqih Madzhab Syafii.

Namun sebelumnya simak dulu bagaimana tinjauan medis terkait gumoh bayi, adakah perbedaan antara gumoh dengan muntah secara medis maupun fiqih.

Memiliki bayi merupakan keinginan mayoritas semua wanita di dunia ini. Meskipun ada beberapa pasangan yang justru mendambakan konsep Childfree seperti yg akhir-akhir ini sempat trending.

Bagi seorang ibu pemula, kemungkinan akan merasa kaget dan panik saat tiba-tiba bayinya mengeluarkan kembali asi yang baru saja ia telan dari mulutnya yang dalam bahasa Jawa kondisi ini biasa disebut gumoh.

Tak perlu panik! Hal ini wajar dan tidak berbahaya.

Penyebab Bayi Gumoh

Gumoh adalah keluarnya cairan, susu, atau makanan yang baru saja ditelan. Dalam istilah medis, gumoh ini disebut dengan refluks. Kondisi ini normal dialami bayi karena kerongkongannya yang belum tumbuh berkembang sepenuhnya dan ukuran lambung bayi yang masih kecil.

Alodokter

Sebagaiman dikutip dalam Alodokter “terjadinya muntah itu ketika ada dorongan dan kontraksi yang kuat dari otot perut untuk mengeluarkan isi lambung, dan hal ini bisa terasa sangat menyakitkan.

Lain halnya dengan gumoh bayi. Saat gumoh, bayi mengeluarkan cairan dengan mudahnya tanpa adanya tekanan dari perut bayi, dan biasanya bayi yang gumoh terjadi bersamaan dengan sendawa, tersedak, batuk, menangis, atau ketika bayi menolak makanan.

Hukum Gumoh Najis Atau Tidak?

Meski secara medis, gumoh bayi tidak sama dengan muntah. Dalam tinjauan Fiqih, bukankah sendawa yang disertai cairan atau sisa-sisa makanan dihukumi najis sebagaimana muntah? Dan sudah maklum bahwa muntah termasuk najis mutawasitah. Lantas bagaimana dengan gumoh najis atau tidak?

Dalam perspektif fiqih, hukum muntahan anak kecil sama sebagaimana muntahan orang dewasa. Dan tidak ada perbedaan gumoh dan muntah pada bayi, hanya saja muntahan bayi najis yang dimaafkan.

Terkait hal ini, Imam Ibnu Hajar Al Haitamy pernah mendapatkan pertanyaan apakah muntahan bayi najis yang dimaafkan atau tidak. Beliau akhirnya menfatwakan sebagaimana berikut:

وَسُئِلَ- رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – هَلْ يُعْفَى عَمَّا يُصِيبُ ثَدْيَ الْمُرْضِعَةِ مِنْ رِيقِ الرَّضِيعِ الْمُتَنَجِّسِ؛ كَقَيْءٍ أَوْ ابْتِلَاعِ نَجَاسَةٍ أَمْ لَا؟

فَأَجَابَ- فَسَحَ اللَّهُ فِي مُدَّتِهِ – يُعْفَى عَنْ فَمِ الصَّغِيرِ وَإِنْ تَحَقَّقَتْ نَجَاسَتُهُ كَمَا صَرَّحَ بِهِ ابْنُ الصَّلَاحِ وَقَالَ: يُعْفَى عَمَّا اتَّصَلَ بِهِ شَيْءٌ مِنْ أَفْوَاهِ الصِّبْيَانِ مَعَ تَحَقُّقِ نَجَاسَتِهَا

“Ibnu Hajar ؒ ditanya perihal apakah dimaafkan (dima’fu) air liur bayi yang terkena najis seperti muntahan atau habis menelan perkara yang najis apabila menempel pada puting ibunya?,

Beliau menjawab: Hal ini dima’fu dari mulut bayi, meskipun mulutnya jelas-jelas terkena najis. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Sholah.”

Namun, Syekh Zainuddin Al Malibary menjelaskan bahwa fatwa gurunya yang manyatakan bahwa muntahan bayi najis yang dimaafkan hanya berlaku pada puting yang ia hisap bukan yang lain.

Penjelasan ini beliau sampaikan dalam kitabnya Fathul Muin;

وأفتى شيخنا أن الصبي إذا ابتلي بتتابع القئ عفي عن ثدي أمه الداخل في فيه، لا عن مقبله أو مماسه

“Guru kami memberikan fatwa bahwa apabila bayi sering gumoh maka mulut bayi yang terkena najis dimaafkan pada puting yang dihisap saja, bukan berlaku pada orang yang mencium mulut bayi atau memegangnya.”

Kesimpulan

Hukum muntahan anak kecil atau bayi adalah najis karena muntah merupakan najis mutawasitah. Hanya saja muntahan bayi najis yang dimaafkan apabila terkena puting saat ia menyusu. Dalam arti sang ibu tidak perlu membasuh putingnya saat akan melakukan shalat.

Akan tetapi hukum kema’fuan ini tidak berlaku pada orang yang memegang atau mencium mulut bayi yang baru saja gumoh.

Dengan demikian, hukum mencium mulut bayi gumoh adalah najis dan mengharuskan pelakunya bersuci lebih dulu saat akan melakukan sholat. Ini juga berlaku bagi orang yang memegang bibir bayi yang terkena gumoh.

Sedangkan cara mensucikan muntah bayi itu sama dengan cara menghilangkan najis muntah, cukup mengalirinya dengan air suci mensucikan.

Itulah hukum mengenai gumoh najis atau tidak menurut Madzhab Syafii. Semoga bermanfaat

Referensi:

Al Fatawi al Fiqhiyah al Kubra

I’anatut Tholibin

Tinggalkan Komentar
Posting Terbaru

Related Articles

Related