Benarkah Dzikir Lebih Utama Dari Membaca Al Quran?

Dzikir Lebih Utama Dari Membaca Al Quran

Dzikir kerap kali menggunakan ayat-ayat dari Al-Qur’an, meskipun tak sedikit juga yg diambil dari hadits baik shohih, hasan bahkan dari hadits dho’if. Dzikir juga seringkali diajarkan melalui ijazah dari seorang syekh atau guru dengan menggunakan bacaan yang bukan dari Al-Qur’an.

Ironisnya, beberapa murid dari berbagai kalangan Tarekat Sufiyah sering kali ta’assub (fanatik buta) dengan wirid atau dzikir yg diajarkan oleh guru-guru mereka. Bahkan diantara mereka menyatakan : Wirid atau Dzikir yg diajarkan oleh syekh ini sangatlah mujarrab nan ampuh, bahkan lebih baik dari bacaan Qur’an yang setiap hari kau baca”

Benarkah ucapan salah seorang murid tarekat diatas? Benarkah dzikir lebih utama dari membaca Qur’an? Simak penjelasannya berikut ini:

Keutamaan Al Quran Dibanding Dzikir

Sudah bukan rahasia umum lagi, jika Al-Quran adalah Kalamullah. Bagaimanapun juga Kalam Allah swt lebih baik dari serangkaian kalam-kalam yang lain. Dalam sebuah hadits disabdakan:

فضل القرآن على سائر الكلام كفضل الرحمن على سائر خلقه

“Keutamaan Al-Qur’an dibandingkan kalam-kalam yang lain bagaikan keutamaan Allah Yang Maha Pengasih atas para makhluk-Nya”

Hadits di atas menunjukkan betapa Kalam Allah ini berada di tingkat yang jauh melebihi rangkaian-rangkaian kalam yang lain.

Meski begitu, hanya dengan menggunakan hadits tentang keutamaan Al-Quran di atas, belum bisa diambil kesimpulan bahwa secara mutlak membaca Alquran lebih utama dari berdzikir.

Karena itu, Imam Romli dalam kitab fatawinya menjelaskan bahwa dalam kondisi dan waktu-waktu tertentu dzikir menjadi lebih utama daripada mengaji Qur’an. Sebagai contoh membaca dzikir yang ma’tsur dari Nabi ﷺ setelah shalat fardhu itu lebih utama dari pada membaca Qur’an setelahnya.

Sedangkan hadits yang menjelaskan bahwa hailalah (kalimat tauhid) adalah kalimat terbaik yang diucapkan Nabi ﷺ dan nabi-nabi sebelumnya sholawatullahi alaihim wa salaamuh, ini sama sekali tidak berlawanan dengan hadits tentang keutamaan Alquran yang telah dijelaskan di atas.

Terkait hal ini, Imam Suyuthi dalam Fatawi Hawi miliknya pernah ditanya tentang seseorang yang menyatakan bahwa “ Dzikir Hailalah (La ilaha illallah) lebih utama dari pada membaca Al-Qur’an berdasarkan hadits

أفضل كلمة قلتها والنبيون من قبلي: لا إله إلا الله

“Kalimat terbaik yang aku ucapkan dan nabi-nabi sebelumku adalah Laa ilaaha Illallah”

Imam Suyuthi pun menjawab: Tahlil atau hailalah merupakan bagian dari Al-Qur’an, sehingga itu termasuk dari mengunggulkan sebagian kalimat Al-Qur’an dari sebagian kalimat-kalimat Al Quran yang lain, bukan berarti mengunggulkan kalimat yang bukan dari Al-Qur’an melebihi Al-Qur’an.

Kesimpulan:

Apa yang dikatakan murid tarekat sufi tersebut tidak bisa dibenarkan.

Ucapan sang murid kemungkinan didasarkan ketidaktahuannya tentang syariat sehingga tidak bisa menyelaraskan antara thoriqoh dan syariah. Bahkan kemungkinan terburuknya, dia salah memahami dawuh-dawuh syekhnya.

Karena itu dalam bertarekat, hendaknya terlebih dahulu seorang murid memperdalam syariat. Minimal dalam fan fiqh Syafi’i dia telah memahami kitab Fathul Qorib.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Tinggalkan Komentar
Posting Terbaru

Related Articles

Related