Biografi Abu Bakar As Siddiq

Biografi Abu Bakar As Siddiq

Abu Bakar as SIddiq merupakan sahabat terdekat Rasululullah sekaligus mertua beliau ﷺ dari istrinya Aisyah Ra. Abu Bakar as siddiq ra adalah khalifah islam yang pertama, beliau termasuk salah satu Khulafaur Rasyidin (pemimpin yang mendapatkan petunjuk Allah), beliau juga yang menggantikan Rasulullah ﷺ dalam memimpin dan mengurus segala kemaslahatan umat setelah Nabi Muhammad ﷺ wafat.

Ulama Ahlussunnah wal Jamaah sepakat bahwa baiat kepemimpinan Abu Bakar adalah sah, dan para Sahabat Nabi juga mengakui akan hal ini.

Nasab dan Nama Asli Abu Bakar as Siddiq RA

Abu Bakar as Siddiq nama aslinya adalah Abdullah bin Abi Quhafah Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taym bin Murroh bin Ka’b bin Lu-ay bin Gholib al Qurosy at taymi.

nasab abu bakar as siddiq
Biografi Abu Bakar As Siddiq 2

Secara nasab Abu Bakar as Siddiq keturunan dari bani taymi dan berasal dari suku Quraisy, selain itu nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah ﷺ pada kakeknya yang bernama Murroh.

Imam Nawawi dalam Kitab Tahdzib menuturkan bahwa nama asli Abu Bakar adalah Abdulloh merupakan pendapat yang shahih dan masyhur dikalangan ulama. Sedangkan nama ‘Atiq bukanlah nama asli dari Abu Bakar, akan tetapi sebuah julukan (laqob) bukan nama.

Beliau dijuluki ‘Atiq karena beliau dimerdekakan oleh Allah dari api neraka. Ini sesuai dengan sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Turmudzi.

وأخرج الترمذي والحاكم، عن عائشة رضي الله عنها أن أبا بكر دخل على رسول الله عليه الصلاة والسلام فقال: “يا أبا بكر، أنت عتيق النار” ٤، فمن يومئذ سمي عتيقًا

“Imam Turmudzi dan Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra bahwa suatu ketika Abu Bakar menghadap Nabi ﷺ, kemudian Nabi bersabda: Hai Abu Bakar, kamu adalah ‘Atiqunnar (yang dibebaskan dari neraka)” Sejak itu beliau dinamai Atiq.

Namun, Mush’ab bin Zubair, Laits bin Sa’d dan beberapa ulama yang lain berpendapat bahwa nama ‘Atiq disematkan pada Abu Bakar ra karena beliau berparas tampan. Pendapat ini sesuai dengan riwayat dari Ibnu Abbas ra:

وأخرج الطبراني عن ابن عباس قال: إنما سمي عتيقًا لحسن وجهه

At Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Penamaan ‘Atiq pada Abu Bakar karena beliau memiliki wajah yang tampan.

Penamaan as Siddiq

Terdapat beberapa pendapat ulama terkait sebab Abu Bakar disebut asSiddiq. diantara pendapat-pendapat tersebuat adalah:

  1. Ibnu Musdi

Beliau menjelaskan bahwa gelar as Siddiq telah diperoleh Abu Bakar sejak zaman jahiliyah, karena beliau terkenal sebagai sosok yang senantiasa jujur.

  1. Mayoritas ulama

Jumhur ulama mengatakan alasan disebut sebagai as Siddiq adalah karena Abu Bakar termasuk orang yang segera membenarkan segala perkataan Nabi ﷺ. Ibnu ishaq meriwayatkan dari Hasan al Bashri dan Qotadah RA: awal mula Abu Bakar masyhur dengan gelar as Siddiq adalah di waktu subuh setelah kejadian Isra’ dan Mi’raj. Demikian itu sesuai dengan yang diriwayatkan Imam Hakim di kitab Mustadrok dari Sayidah Aisyah RA.

وأخرج الحاكم في المستدرك عن عائشة رضي الله عنها قالت: جاء المشركون إلى أبي بكر، فقالوا: هل لك إلى صاحبك؟ يزعم أنه أسريَ به الليلة إلى بيت المقدس، قال: أو قال ذلك؟ قالوا: نعم، فقال: لقد صدق، إني لأصدقه بأبعد من ذلك -بخبر السماء غدوة وروحة، فلذلك سمي الصديق، إسناده جيد، وقد ورد ذلك من حديث أنس وأبي هريرة، أسندهما ابن عساكر وأم هانئ أخرجه الطبراني١.

“Aisyah RA berkata: Orang-orang musyrik mendatangi Abu Bakar dan berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang temanmu? Dia mengatakan bahwa tadi malam dia telah melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis,

Abu Bakar pun bertanya: Apakah dia mengatakan itu? Mereka kembali menjawab: Ya, dia mengatakan hal ini,

Lalu Abu Bakar kembali berkata: Dia telah mengatakan sesuatu yang benar, ketahuilah sesungguhnya aku akan membenarkan segala ucapannya yang jauh melebihi peristiwa ini, berita langit, pagi maupun malam.”

Kelahiran Abu Bakar dan Perjalanan Hidupnya

Abu Bakar as Siddiq dilahirkan pada tahun 573 M di kota Mekkah, tepatnya dua tahun lebih setelah kelahiran Nabi ﷺ. Sejak kecil hingga dewasa Abu Bakar as Siddiq RA tidak pernah keluar dari Mekkah kecuali untuk perjalanan bisnis. Abu Bakar merupakan seorang saudagar yang kaya raya, berwibawa di mata kaumnya, dan senantiasa melakukan kebaikan untuk mereka.

Imam Nawawi ra menuturkan keutamaan Sayidina Abu Bakar, beliau berkata:

قال النووي: وكان من رؤساء قريش في الجاهلية، وأهل مشاورتهم، ومحببًا فيهم، وأعلم لمعالمهم، فلما جاء الإسلام آثره على ما سواه، ودخل فيه أكمل دخول.

“Abu Bakar adalah salah satu pembesar Quraisy pada masa jahiliyah, beliau juga orang yang selalu diajak musyawarah (di Darun Nadwa), orang yang sangat dicintai kaum Quraisy, dan yang paling mengerti tentang ilmu-ilmu mereka. Ketika Islam hadir, beliau lebih memprioritaskan Islam melebihi segalanya, serta masuk Islam dengan penuh totalitas.”

Karakter dan sifat Abu Bakar as Siddiq

Abu Bakar as Siddiq terkenal dengan sifatnya yang dermawan, lemah lembut, berilmu, pemberani dan menjaga diri dari perbuatan yang tercela (Iffah). Ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Suyuthi dalam Tarikhul Khulafa’ bahwa dari semua orang yang hidup di zaman jahiliyah Abu Bakar as Siddiq adalah orang yang paling menjaga diri dari perkara-perkala yang tercela.

وأخرج ابن عساكر عن أبي العالية الرياحيّ، قال: قيل لأبي بكر الصديق في مجمع من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم هل شربت الخمر في الجاهلية؟ فقال: أعوذ بالله، فقيل: ولِمَ؟ قال: كنت أصون عرضي، وأحفظ مروءتي، فإن من شرب الخمر كان مضيعًا في عرضه ومروءته، قال: فبلغ ذلك رسول الله عليه الصلاة والسلام فقال: “صدق أبو بكر، صدق أبو بكر” مرتين، مرسل غريب سندًا ومتنًا.

“Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Abil ‘Aliyah ar Rayyahi bahwa suatu ketika dalam perkumpulan sahabat Nabi ﷺ, Abu Bakar ditanya: Apakah kau pernah minum khamr? Abu Bakar menjawab: Aku berlindung kepada Allah (dari khamr),

Kemudian ditanyakan lagi: Kenapa? Beliau pun menjawab: Aku sangat menjaga harga diri dan kehormatanku, ketahuilah! Sesungguhnya orang yang meminum arak adalah orang yang menyia-nyiakan harga diri dan martabatnya,

Kemudian peristiwa ini terdengar oleh Rasulullah ﷺ, beliau lalu bersabda: Abu Bakar telah berkata jujur, Abu Bakar berkata jujur.”

Kedermawanan adalah sifat Abu Bakar yang disepakati para ulama. Bahkan Imam Ibnul Jauzi mengatakan bahwa para ulama ijma’ bahwa ayat berikut ini diturunkan untuk menyifati Abu Bakar ra.

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى ۞ الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى

الليل: ١٨،١٧

“Dan orang yang paling bertakwa akan dijauhkan dari neraka, orang yang mengeluarkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya”

Ibnu Asakir juga meriwayatkan dari Aisyah RA bahwa Abu Bakar saat masuk Islam memiliki harta sebanyak 40 ribu dinar (sebagian riwayat, dirham) yang kemudian beliau infakkan kepada Rasululllah ﷺ.

Harta tersebut beliau gunakan untuk perjuangan Islam. Abu Bakar as Siddiq pernah membebaskan budak yang memeluk Islam bernama Bilal bin Rabah, beliau membelinya dari Umayyah bin Kholaf. Kurang lebih ada 7 budak yang disiksa karena memeluk Islam dan akhirnya dibeli dan dimerdekakan oleh Abu bakar.

Mengenai keberaniannya, Imam Suyuthi menjelaskan bahwa Abu Bakar ash Shiddiq adalah sahabat paling pemberani. Beliau tetap mendampingi dan menjaga Nabi di Perang Uhud dan Hunain, disaat para muslimin lari meninggalkan pos barisan.

Tentang keilmuan beliau, Imam Nawawi menuturkan bahwa pengikut madzhab Syafii mengakui keilmuan Abu Bakar as Siddiq dengan mengkaji perkataan beliau yang menganggap murtad orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat.

Bahkan Imam Abu Ishaq menganggap Abu Bakar sebagai sahabat nabi yang paling berilmu, karena pada waktu itu tidak ada satupun sahabat yang berani menghukumi status orang-orang yang tidak mau melaksanakan zakat kecuali Abu Bakar, dan setelah mereka mengkaji fatwa Abu Bakar mereka semua sepakat dengan fatwanya.

Islamnya Abu Bakar

Mayoritas ulama sepakat bahwa yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakar as Siddiq. Meski ada juga yang berpendapat bahwa yang pertama masuk Islam adalah Ali bin Abi Thalib, ada juga yang berpendapat Khadijah al Kubra radliyallohun anhum, namun Imam Abu Hanifah menuturkan bahwa perbedaan tersebut hanya pada penisbatan golongan saja dalam arti yang pertama kali masuk islam dari golongan lelaki dewasa adalah Abu Bakar, dari golongan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib, dari kalangan wanita adalah Khadijah al Kubra. Dengan demikian sebenarnya tidak ada perbedaan pendapat terkait sahabat yang pertama kali masuk Islam.

Peperangan yang dihadiri Abu Bakar di zaman Nabi ﷺ

Abu Bakar as Siddiq sahabat nabi yang selalu menyertai Nabi ﷺ sejak beliau masuk Islam hingga Nabi wafat. Beliau tidak pernah berpisah dengan Rasulullah baik dalam perjalanan maupun saat sedang tidak bepergian, kecuali ketika sudah mendapat ijin Nabi ﷺ untuk keluar seperti bepergian dalam rangka ibadah haji atau sebagai utusan perang.

Sayidina Abu Bakar juga selalu mengikuti peperangan yang diikuti Nabi Muhammad ﷺ, menyertai Nabi dalam hijrahnya ke Madinah. Kala itu beliau meninggalkan keluarga dan putra-putrinya karena lebih mengutamakan agama Allah dan Nabi-Nya.

Ketulusan Abu Bakar dalam menemani Rasululllah ﷺ juga diabadikan di dalam Al Quran kala beliau menjadi satu-satunya orang yang mendampingi Nabi dalam Gua Tsur saat orang-orang kafir melakukan pencarian untuk membunuh keduanya.

Sahabat nabi terbaik

Ulama Ahlussunnah wal Jamaah sepakat bahwa manusia terbaik setelah Nabi Muhammad dan nabi-nabi yang lain sholwātulloh wasalāmuhu alaihim adalah

  • Abu Bakar as Siddiq
  • Umar bin Khottob
  • Utsman bin Affan
  • Ali bin Abi Thalib
    Empat sahabat terbaik Nabi saw diberi gelar sebagai Khulafaur Rasyidun
  • 10 sahabat nabi yang dijamin masuk surga
  • Sahabat yang mengikuti perang Badar
  • Sahabat yang mengikuti Perang Uhud
  • Sahabat yang mengikuti Baiatur Ridlwān
  • Sahabat nabi yang lain rodliyallõhu anhum

Baiat Khalifah

Nabi Muhammad ﷺ adalah pemimpin agama sekaligus politik. Ia adalah nabi yang terakhir. Tidak mungkin sepeninggal beliau ada nabi yang diangkat. Namun bukan berarti kepemimpinan beliau dalam pemerintahan tidak bisa digantikan.

Wafatnya Rasul membuat Madinah menjadi gempar. Banyak yang bertanya-tanya siapa yang akan memimpin mereka, siapa yang akan menggantikan Nabi Muhammad. Sebagian pemuka sahabat rupanya telah memikirkan semua itu dan berkumpul di “balairung” safiqah di perkampungan Bani Sā’idah. Yang semula berkumpul disana adalah sahabat golongan Anshar, yang terdiri dari suku Khazraj dan ‘Aus.

Sayidina Umar ra ketika mendengar kabar berkumpulnya sahabat Anshar seketika itu panik. Dia segera menemui Abu Bakar untuk membicarakan masalah ini. Umar mengatakan kepada Abu Bakar,”Aku telah mengetahui bahwa kaum Anshar saat ini sedang berkumpul di Safiqah bani Sā’idah, mereka merencanakan untuk mengangkat Sa’ad bin Ubadah untuk menjadi pengganti Rasulullah ﷺ, apalagi mereka merencanakan pengangkatan dua pemimpin, satu dari Suku Quraisy dan satu lagi dari Anshar.”

Kekuatiran Umar ra pada saat itu bukan tanpa alasan, karena bagaimanapun juga dualisme kepemimpinan pasti akan menggoncang persatuan umat yang baru saja ditinggal nabinya.

Setelah mengerti bagaimana situasinya, Abu Bakar segera mengikuti Umar ke Saqifah. Di tengah perjalanan keduanya berpapasan dengan Abu Ubaidah bin Jarrah, ia pun diajak serta. Ketika mereka bertiga tiba di majelis Saqifah, ternyata telah hadir terlebih dulu beberapa kaum muhajirin yang tengah dalam perdebatan dengan kaum Anshar.

Setelah terjadi perdebatan panjang tentang siapa ‘orang yang berhak’ menggantikan Nabi Muhammad—yang baru saja wafat, akhirnya para sahabat sepakat untuk membaiat Abu Bakar as-Shiddiq sebagai khalifah.

Abu Bakar as Siddiq terpilih secara musyawarah menjadi khalifah dan dibaiat pertama di Saqifah bani Sā’idah, esoknya Abu Bakar dibaiat untuk kedua kalinya secara umum dan beliau juga menyampaikan sebuah pidato yang sangat menyejukkan serta menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar yang sebelumnya berselisih dalam penentuan pengganti Nabi Muhammad. Berikut pidatonya, sebagaimana dikutip dari Tārikhul Khulafā karya As Suyuthi: 

 أما بعد أيها الناس فإني قد وليت عليكم ولست بخيركم، فإن أحسنت فأعينوني وإن أسأت فقوموني، الصدق أمانة، والكذب خيانة، والضعيف فيكم قوي عندي حتى أريح عليه حقه إن شاء الله، والقوي فيكم ضعيف حتى آخذ الحق منه إن شاء الله، ولا يدع قوم الجهاد في سبيل الله إلا ضربهم الله بالذل، ولا تشيع الفاحشة في قوم قط إلا عمهم الله بالبلاء، أطيعوني ما أطعت الله ورسوله، فإذا عصيت الله ورسوله فلا طاعة لي عليكم، قوموا إلى صلاتكم يرحمكم الله.


“Wahai saudara-saudara, sesungguhnya aku telah kalian percayakan untuk memimpin kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku melakukan keputusan yang baik maka bantulah aku.

Sebaliknya, jika aku salah, maka luruskanlah langkahku. Kejujuran adalah amanat, dan dusta adalah penghianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat dalam pandanganku, sehingga aku berikan hak-haknya kepadanya. Sebaliknya, orang yang kuat di antara kalian bagiku adalah orang lemah setelah haknya ku ambil.

Bila ada yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka semoga Allah menghinakannya. Bila perzinahan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Allah akan memberikan bencana yang merata kepada mereka. Ikutilah aku selama aku masih mengikuti syariat Allah dan Rasul-Nya. Tetapi selama aku tidak taat kepada-Nya dan Rasul-Nya, maka hentikan taat kalian kepadaku. Laksanakanlah sholat, semoga Allah memberikanmu rahmat.” 

Abu Bakar as Siddiq diangkat menjadi khalifah pada tahun 632 hingga tahun 634 Masehi. Masa kepemimpinannya adalah 2 tahun 2 bulan. Abu Bakar as Siddiq wafat pada usia 62 tahun pada tahun 634 M.

Demikianlah biografi Abu Bakar as Siddiq. Semoga bermanfaat!

Referensi:

تاريخ الخلفاء للامام السيوطي