Biografi Abu Nashr As Sarraj Wali Penulis Luma’ fi Tasawuf

Biografi Abu Nashr As Sarraj Wali Penulis Luma' fi Tasawuf

Biografi Abu Nashr Abdullah bin Ali as Sarraj at Thusi – Seorang ulama besar, pembesar dan tokoh masyayikh serta dihormati oleh mereka. As Sarraj dikenal memiliki berbagai karomah dan kata-kata bijak yang indah, selain itu karena menjadi kebanggan para kaum sufi beliau pun masyhur dengan julukan Thawus al Fuqara (Merak para sufi).

Perjalanan Hidup Abu Nashr As Sarraj

Abu Nashr as Sarraj adalah salah satu ulama tasawuf yang sezaman dengan Imam Junaid al Baghdadi, Sari as Saqati, Sahal al Tustari dan juga Ibnu Jalla, hanya saja beliau dikaruniai umur yang panjang.

Dalam hidupnya beliau sering berpindah-pindah, Abu Nashr Sarraj pernah mukim di Kairo, Baghdad, Damaskus, Ramla, Dimyath, Basra, Tabriz dan juga Nisaphur.

Dalam riwayat hidup penulis al Luma’ fi Tasawuf dijelaskan bahwa meski jarang sekali ulama yang menjelaskan biografi dan perjalanan hidup Abu Nashr as Sarraj, namun beliau menuai banyak pujian terkait karyanya ini. Bahkan Nicholson, seorang orientalis barat menyatakan:

“Sungguh mengherankan mengapa para penulis biografi ulama tasawuf zaman dahulu tidak memperhatikan secara seksama. Mereka tidak menulis sebuah kitab yang memaparkan sejarah hidup, maupun oto biograpi dan kondisi spiritualnya. Padahal dia adalah orang langka dan tiada duanya di zamannya.

Keilmuannya dalam tasawuf juga sangat kuat, dan merupakan seorang syekh sufi terkemuka dalam tarekat mereka tentang masalah zuhud dan tasawuf .

Seringkali saya membayangkan, andaikan sempat menjumpai zaman keemasannya atau beberapa saat setelah itu, maka saya pasti mengikuti tarekatnya. Aku akan mencari jejak-jejaknya, berita serta ihwalnya hingga tersingkaplah cadar penutup yang menghalanginya. Dan jika ia tersingkap maka orang-orang yang lewat pun akan mencium semerbaknya.

Andaikan saya termasuk salah satu penulis yang hidup sezaman dengannya, tentu saya tidak hanya menggambarkan sifat-sifat dan kondisinya dengan gambaran yang sekadarnya. Namun, saya akan kerahkan segala tenaga untuk menyingkapkan tabir yang menyelimuti pribadi dan perilaku Imam sufi yang mulia ini.”

Sarrāj semakin terkenal karena karyanya, Kitāb al-luma ‘fi’l-taṣawwuf (كتاب اللمع في التصوف,) , salah satu survei tasawuf paling awal di mana dia menegaskan tasawuf sebagai “disiplin religius yang otentik” sebelum dia mempelajari berbagai cara mengetahui dalam tasawuf. Kitab ini dianggap sebagai ensiklopedia dalam sejarah tasawuf, berbagai cara mengetahui dalam tasawuf, dan konsep karakter sufistik serta ucapan sufi.

Kitab Luma’ ini sangat sukses menjadi salah satu “dokumenter besar” pertama, yang ditempa oleh informasi tangan pertama dari tiga puluh sembilan otoritas sufi dengan total sekitar 200 sufi. Abu Nashr as Sarraj juga berusaha dalam kitab itu untuk menunjukkan bahwa tasawuf sesuai dengan arus utama Islam Sunni. 

Selain aktivitas ilmiahnya, Abu Nashr juga sangat aktif di komunitas para sufi. Dia adalah kepala para sufi di Baghdad. Posisinya ini membuatnya menjadi syekh (guru) dari banyak pelaku tasawuf awal terkemuka, termasuk Abu al Fadl ibn al Hasan al Sarakhsi, yang juga merupakan syekh Abū-Sa’īd Abul-Khair , Abil Qasim al Qusyairi penulis Risalah Qusyairiyah, dan Ja’far al Khaldi.

Selain itu, Abu Nashr Sarrāj dianggap sebagai salah satu fuqaha ‘ (ahli fiqih) terkemuka. Meskipun keunggulannya di bidang tasawuf terutama karena keilmuan dan pengetahuannya tentang syariat, itu juga sebagian karena garis keturunannya, karena ia adalah keturunan dari dari para sufi. Ayahnya merupakan seorang sufi dan ahli ibadah, cukup sebagai bukti tentang ketaatannya, ia meninggal dalam keadaan sujud.

Abu Nashr As Sarraj RA wafat di bulan Rajab tahun 378 H yang bertepatan dengan bulan oktober 988 M.

Karomah, dan Kata Bijak

Berikut adalah kata bijak dan karomah syekh Abu Nashr as Sarraj yang kami rangkum dari kitab Tadzkiratul Auliya’ karya Syeikh faridudin attar

Tidak terbakar api

Diceritakan dalam Tadzkiratul Auliya: Suatu malam di musim dingin Syekh Abu Nasr as Saraj berkumpul bersama para sahabatnya untuk mengkaji tentang makrifat, sementara api yang besar telah dinyalakan di perapian.

Kemudian beliau mengalami sebuah hal (kondisi spiritual), lantas ia segera menceburkan diri ke perapian tersebut dan segera bersujud. Spontan para sahabatnya kebingungan melihat peristiwa ini, karena bingung apa yang mesti dilakukan, akhirnya mereka semua kocar-kacir tak keruan karena bingung dan takut.

Esoknya, para sahabatnya berniat berkunjung ke Syekh Sarraj untuk melihat kondisinya. Mereka semua mengira beliau pasti telah terbakar, bahkan telah menjadi abu. Namun apa yang dilihat tidak sesuai dugaan mereka. Para sahabatnya melihat Syekh Abu Nashr sedang duduk di mihrab membaca Laa ilaaha illalloh dan wajahnya bersinar laksana rembulan.

Mereka yang penasaran akhirnya bertanya: “Ya Syekh, bagaimana keadaanmu? Mestinya peristiwa kemarin minimal membuat wajahmu terbakar!,”

Mendapati pertanyaan itu, sang guru menjawab pertanyaan murid-muridnya: Itu cuma dugaan kalian! Siapapun yang meneteskan air mata karena Allah, wajahnya tidak akan terbakar api. Bahkan api akan menjauhinya.

Api dan cinta

Abu Nashr as Sarraj ra berkata: Cinta adalah api yang berkobar di hati pencinta, ia akan membakar apapun selain rasa cinta pada kekasihnya (Allah) sehingga yang tersisa di hati hanya Allah semata.

Tingkatan adab

Abu Nashr at Tusi berkata: Adab yang ada pada manusia ada tiga tingkatan

  1. Ahli dunia

Bagi ahli dunia, adab adalah melestarikan dan menjaga kefasihan lisan, sastra, ilmu-ilmu, sejarah para raja dan syair-syair arab.

  1. Ahli agama

Adab yang dijaga oleh golongan kedua ini adalah melatih nafsu, menghukum tubuh (dengan cara mengendalikan diri dari kenikmatan dan kenyamanan duniawi), menjaga batasan syariat dan meninggalkan syahwat.

  1. Ahli Khususiyah

Mereka ini golongan tertinggi, dalam menjaga adabiah, mereka lebih fokus untuk mensucikan hati, menjaga sirri ilahi, memenuhi janji, menjaga waktu (dari melakukan perkara yang tidak berfaidah), tidak begitu peduli terhadap perkara yang terlintas di hati, menjaga akhlakul karimah ketika meminta kepada-Nya, dan menginginkan agar selalu dekat dengan Rabbnya.

Referensi:

Al Luma’ fi Tasawuf, Tadzkiratul Auliya.