Biografi Hasan al-Bashri dan Kata-Kata Bijaknya

Biografi Hasan al-Bashri

Hasan al-Bashri merupakan tokoh sufi yang menjadi penyambung sanad hampir keseluruhan thoriqoh, pada rantai sanad sahabat Nabi SAW. Sebagai tabi’in beliau hidup di era kejayaan Islam, dan membuatnya mendapatkan guru-guru terbaik dari umat muhammad.

Profil Hasan al-Bashri

Beliau adalah Abu Sa’id, al-Hasan bin Abil Hasan, Yasar. Hamba sahaya yang dimerdekakan sayyidina Zaid bin Tsabit al-Anshori RA.

Menurut Syekh Abdussalam bin Muthohhar, Abul Hasan, Yasar, ayah dari Hasan al-Bashri merupakan budak tawanan perang yang terjadi di Maysan (kota kegubernuran Irak) yang akhirnya dimerdekakan.

Beliau menetap di Madinah dan kemudian pada waktu kekholifahan Sayidina Umar RA, beliau menikah dengan wanita bernama Khoiroh yang merupakan maulat (budak yang dimerdekakan) Umm Salamah, Ummul Mukminin al-Makhzumiyah. Setelah dua tahun dari kekholifahan Sidi Umar RA, Hasan al-Bashri dilahirkan.

Masa kecil Hasan al-Bashri

Ibu Hasan al-Bashri, kesehariannya adalah melayani Sayyidah Umm Salamah. Dia lah yang mengurus kebanyakan urusan rumah Umm Salamah. Hal inilah yang menjadikan Hasan al-Bashri kecil seringkali ditinggalkan ibunya dan dirawat oleh istri nabi, Umm Salamah.

Berkata Muhammad bin Sallam: Abu Amr as-Sya’ab menceritakan, bahwa:

“Saat Hasan al-Bashri masih bayi, Sayyidah Umm Salamah mengutus Khoiroh, Ibu Hasan al-Bashri RA untuk mengerjakan salah satu keperluan Umm Salamah. Di saat ibunya menjalankan pekerjaannya, Hasan al-Bashri menangis. Lantas Umm Salamah menyusuinya agar Hasan diam dan kembali tenang.

Selain itu, saat Hasan masih kecil dan tidak bersama ibunya, Umm Salamah juga membawanya ke sahabat-sahabat Nabi SAW agar didoakan, mereka pun mendoakan أasan dengan doa yang baik.

Umm Salamah juga membawa Hasan kecil kepada Sayyidina Umar RA, lalu beliau mendoakan Hasan dengan doa:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ، وَحَبِّبْهُ إِلَى النَّاسِ “

Ya Alloh, pahamkanlah Hasan tentang agama. Dan tumbuhkanlah rasa cinta kepadanya di hati semua orang

Hasan al–Bashri menjalani masa kecilnya hingga remaja di Wadil Quro, di usia 14 tahun beliau mengikuti sholat jumat yang diimami oleh Sayidina Utsman RA serta mendengar khutbahnya.

Selain melihat dan bertemu Sidi Utsman RA, Hasan juga pernah bertemu Tholhah, dan juga sahabat-sahabat utama yang lain RA.

Tak hanya mendapati era sahabat, beliau juga meriwayatkan beberapa hadits dari para sahabat, diantaranya: Imron bin Hushoin, al-Mughiroh bin Syu’bah, Abdirrohman bin Samuroh, Samuroh bin Jundab, Abi Bakroh as-Tsaqofi, an-Nu’man bin Basyir, Jabir, Jundab al-Bajali, Ibn Abbas, Amr bin Taghlib, Ma’qil bin Yasar, Aswad bin Syari’, Anas, dan beberapa sahabat yang lain RA.

Untuk bacaan al-Quran beliau membaca atas bimbingan Hitthon bin Abdillah ar-Roqqoshi RA.

Wafatnya Hasan al-Bashri

Diriwayatkan bahwa sebelum wafat Hasan sempat pingsan, lantas setelah sadar beliau berkata: Kalian telah membangunkanku dari melihat surga dan mata air yang indah serta kedudukan yang agung.

Selain itu, ketika ajalnya akan menjemput Hasan membaca istirja’ (Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un) sontak ucapan ini membuat putranya terkejut dan berkata: Ayah, engkau telah membuat kami sedih, apa ada yang engkau pikirkan? Hasan al-Bashri menjawab: Saat ini yang aku pikirkan adalah diriku, aku tak pernah mengalami ujian semacam ini.

Hasan al-Bashri wafat di permulaan Bulan Rojab tahun 110 H dalam usia kurang lebih 88 tahun. Kabar wafatnya Hasan al-Bashri terdengar sampai ke segala penjuru dan membuat ulama-ulama di zaman itu bersedih.

Hal ini sebagaimana yang dituturkan Hisyam bin Hassan: Kamis sore itu, kami sedang bersama Muhammad bin Sirin, kemudian ada orang yang masuk dan menyampaikan kepada kami kabar wafatnya Hasan al-Bashri. Mendengar kabar duka itu, Muhammad bin Sirin seketika mendoakan rahmat atas Hasan, lantas terlihat jelas perubahan pada wajah Muhammad, beliau pun terdiam membisu hingga matahari sore itu tenggalam. Kami yang melihat ekspresi Ibn Sirin ikut membisu untuk menjaga perasaannya.

Jenazah beliau disholati setelah sholat jumat di Bashroh, kemudian diiringi banyak orang yang berdesakan sampai-sampai pelaksanaan sholat ashar di hari itu tidak didirikan di masjid jami’.

Kata bijak sufi; Hasan al-Bashri tentang dunia

مبارك بن فضالة: سمعت الحسن يقول:
فضح الموت الدنيا، فلم يترك فيها لذي لب فرحا

“Dari Mubarok bin Fudhlah, Hasan berkata: Maut telah permalukan dunia hinnga tidak membiarkan orang berakal merasa bahagia di dunia.”

وروى: ثابت، عنه، قال: ضحك المؤمن غفلة من قلبه

“Diriwayatkan dari Tsabit, bahwa Hasan berkata: Tertawanya seorang mukmin merupakan kelalaian hatinya.”

ابن المبارك: حدثنا طلحة بن صبيح، عن الحسن، قال:
المؤمن من علم أن ما قال الله كما قال، والمؤمن أحسن الناس عملا، وأشد الناس وجلا، فلو أنفق جبلا من مال، ما أمن دون أن يعاين، لا يزداد صلاحا وبرا إلا ازداد فرقا، والمنافق يقول: سواد الناس كثير، وسيغفر لي، ولا بأس علي، فيسيء العمل، ويتمنى على الله

“Dari Ibn Mubarok, dari Tholhah bin Shobih, Hasan berkata: Mukmin sejati adalah orang-orang yang meyakini firman Alloh SWT sebagaimana yang difirmankan, bahwa seorang mukmin adalah orang yang paling baik amalnya, orang yang paling takut kepada-Nya. Bahkan seandainya dia telah menginfakkan harta sebesar gunung maka dia belum merasa aman (dari adzab Alloh SWT) sebelum dia menyatakan sendiri dengan mata kepala (mati), seorang mukmin tidak akan bertambah kesholihan dan kebaikannya kecuali bertambah pula takutnya pada Alloh SWT.

Sedangkan orang-orang munafik, dia akan berkata: Kesalahan manusia sangat banyak, aku akan diampuni, tidak masalah jika aku melakukan kemaksiatan, lantas dia melakukan amal-amal buruk serta mengharap ampunan dari Alloh (tanpa bertobat disertai menghentkan dosa-dosanya)”

حدثنا عبيد الله بن شميط حدثني ابي قال سمعت الحسن يقول ان المؤمن يصبح حزينا ويمسى حزينا وينقلب باليقين في الحزن يكفيه ما يكفي العنيزة الكف من التمرد والشربة من الماء

“Seorang mukmin menyambut pagi dalam keadaan gelisah, begitu pula saat menjelang malam. Dia merasa tercukupi dengan makanan yang dapat mencukupi seekor anak kambing yaitu segenggam kurma dan segelas air.”

حدثنا جعفر قال سمعت حوشبا قال سمعت الحسن يحلف بالله يقول والله يا ابن ادم لئن قرأت القران ثم امنت به ليطوان في الدنيا حزنك وليشتدن في الدنيا خوفك وليكثرن في الدنيا بكاؤك

“Demi Alloh, wahai anak Adam, sesungguhnya saat kamu membaca al-Quran kemudian kamu mengimaninya pasti kamu akan merasakan keresahan yang amat panjang, dan pasti kamu akan merasa sangat takut (pada Alloh) serta kamu lebih sering menangis.”

المغيرة بن محاوش سأل الحسن فقال يا ابا سعيد لقينا علماء يذكروننا ويخوفوننا يكاد يحلبون قلوبنا واخرون في حديثهم سهلة قال قال الحسن يا عبد الله انه من خوفك حتى تلقى الا من خير ممن امنك حتى تلقي المخافة

“Mughiroh bin Muhawish bertanya kepada Hasan al-Bashri: Ya Aba Said, sesunguhnya kami bertemu dengan ulama yang menakut-nakuti kami akan adzab Alloh hampir saja mereka melepaskan hati kami, dan ada juga ulama yang perkataannya memudahkan, siapakah yang lebih baik? Hasan menjawab: Wahai Abdulloh, ulama yang ucapannya membuatmu takut di dunia hingga akhirnya kamu mendapatkan rasa aman di akhirat lebih baik dari ulama yang ucapannya membuatmu merasa aman di dunia namun ahirnya kamu mendapati rasa takut di akhirat”

حدثنا عبد الله حدثنا على حدثنا سيار حدثنا جعفر حدثنا حوشب قال سمعت الحسن يقول والله لقد عبد بنو اسرائيل الاصنام بعد عبادتهم الرحمن عز و جل بحبهم الدنيا

“Hausyab bercerita, Hasan RA berkata: Demi Alloh, orang-orang Bani Israil tidaklah menyembah berhala setelah mereka menyembah Alloh SWT yang Maha Pemurah kecuali karena kecintaan mereka akan dunia.”

حدثنا عبد الله حدثنا علي حدثنا سيار حدثنا جعفر قال سمعت ابا كعب الازدي قال سمعت الحسن يقول اذا كنت امرا بالمعروف فكن من اخذ الناس به والا هلكت واذا كنت ممن ينهى عن المنكر فكن من انكر الناس له والا هلكت

“Dari Aba ka’ab al-Azdi, Hasan berkata: Jika kamu menegakkan amar ma’ruf maka jadilah orang yang paling terdepan melakukannya dan jika kamu nahi munkar maka jadilah orang yang paling anti terhadap apa yang kau larang, jika tidak, kamu akan binasa.”

حدثنا عبد الله حدثني علي بن مسلم حدثنا سيار حدثنا جعفر حدثنا ابراهيم بن عيسى اليشكري قال سمعت الحسن اذا ذكر صاحب الدنيا يقول والله ما بقيت الدنيا له ولا بقي لها ولا سلم من تبعتها وشرها وحسابها ولقد اخرج منها في خرقة

“Ibrahim bin Isa menceritakan bahwa ketika disebutkan orang-orang pemuja dunia di hadapan Hasan, maka Hasan al-Bashri akan berkata: Demi Alloh dunia tidak kekal untuknya, dan dia tidak akan abadi untuk memilikinya. Bahkan dia tidak akan selamat dari keburukan dan hisab dunia yang memberatkan. Sesungguhnya dia akan dikeluarkan dari dunia dengan beberapa helai kain.”

حدثنا عبد الله حدثني ابي حدثنا صفوان عن هشام قال سمعت الحسن يقول والله لقد ادركت اقواما وان كان احدهم ليرث المال العظيم قال وانه والله لمجهود شديد الجهد قال فيقول لاخيه يا اخي اني قد علمت ان ذا ميراث وهو حلال ولكي اخاف ان يفسد على قلبي وعملي فهو لك لا حاجة لي في قال فلا يرزا منه شيأ ابدا قال وهو والله مجهود شديد الجهد

“Hasan al-Bashri berkata: Demi Alloh, aku pernah mengenal beberapa kaum yang diantara mereka saat menerima harta warisan yang besar, dia akan sangat berat hati menerimanya. Kemudian dia pun berkata pada saudaranya:

“Ya Akhi, sesungguhnya aku tahu bahwa harta ini merupakan warisan, dan itu halal. Hanya saja aku merasa takut harta yang melimpah ini akan merusak hati dan amalku, karena itu, terimalah seluruhnya, aku tidak membutuhkannya,” Hasan al-Bashri melanjutkan ceritanya: Lelaki itu selamanya tidak mengambil sepeserpun bagian warisnya, selamanya. Dia merasa sangat keberatan mengambil bagian warisnya.”

قال وسمعت الحسن يقول ولله لقد ادركت اقواما كانوا فيما احل الله لهم ازهد منكم فيما حرم عليكم ولقد كانوا اشفق من حسناتهم ان لا تقبل منهم ان تؤاخذ وابسيئاتكم

“Hasan berkata: Demi Alloh, aku mengenal beberapa kaum yang lebih zuhud terhadap apa yang dihalalkan melebihi zuhud kalian atas apa yang diharamkan, sesungguhnya ketakutan mereka terhadap tidak diterimanya amal baiknya melebihi ketakutan kalian atas adzab dari dosa-dosa kalian.”

حدثنا عبد الله حدثنا ابي حدثنا سيار حدثنا جعفر حدثنا هشام عن الحسن قال لقد ادركت اقواما وصحبت طوائف منهم ما سألوا الله عز و جل الجنة قط حياء من الله عز و جل

“Aku mengenal beberapa kaum, dan aku pernah mengikuti beberapa diantara mereka, mereka tidak pernah meminta surga kepada Allah swt lantaran malu pada-Nya.”

حدثنا عبد الله حدثني ابي حدثنا ابو عبيدة حدثنا هشام عن الحسن قال كانوا يقولون موت العالم ثلمة في الاسلام لا يسدها شيء ما اختلف الليل والنهار

“Mereka berkata: Kematian orang alim merupakan sebuah kekosongan dalam islam yang tidak bisa diisi dengan apapun, selama siang dan malam masih bergantian.”

حدثنا عبد الله حدثنا علي بن مسلم حدثنا سيار حدثنا محمد بن مروان العجلي حدثنا عطاء الازرق قال سمعت رجلا سأل الحسن كيف انت كيف حالك قال يا شر حال وما حال من اصبح وامسى ينتظر الموت لا يدري ما يفعل الله به

“Atho’ al-Azroq pernah mendengar jawaban Hasan pada orang yang menanyakan kabarnya “Menurutmu, bagaimana keadaan orang yang pagi dan sorenya menanti kematian, sementara dia tidak mengerti apa yang akan dilakukan Alloh kepadanya?”

حدثنا عبد الله حدثنا هارون عبد الله حدثنا سيار حدثنا جعفر حدثنا ابو كعب الازدي قال قال رجل للحسن رحمه الله اني اريد سفرا فزودني قال ابن اخي اعز امر الله حيث ما كنت يعزك الله عز و جل

“Diceritakan bahwa ada seseorang yang meminta nasehat kepada hasan al-Bashri sebagai bekalnya hidup di perantauan, Hasan berpesan: Agungkan perintah Alloh di manapun kamu berada niscaya kau akan diagungkan oleh Alloh SWT.”

حدثنا عبد الله حدثنا احمد حدثنا سعيد بن عامر عن حزم عن عمار قال قلت للحسن يا ابا سعيد ما البر قال البذل واللطف قلت فما العقوق قال ان تحرمهما وتهجرهما قال اما علمت ان نظرك في وجه والديك او والدتك عبادة

“Ketika ditanyakan apa itu birrul walidain dan apa itu uququl walidain, Hasan berkata: Birrul walidain adalah engkau memberi dan bersikap halus pada kedua orangtuamu, sedangkan uququl walidain adalah saat kau enggan memberinya dan mendiamkan keduanya. Ketahuilah, bahwasanya memandang wajah kedua orang tuamu atau ibumu adalah ibadah.”

حدثنا عبد الله حدثنا الليث بن خالد ابو بكر البلخي حدثنا جعفر بن سليمان عن زكريا عن الحسن قال كان يقال ان الايمان ليس بالتحلي ولا بالتمني وانما الايمان ما وقر في القلب وصدقه العمل

“Iman bukanlah sekedar hiasan luar, juga bukan sekedar lamunan akan mendapatkan ampunan dan surga. Namun iman adalah apa yang menetap di hati dan dikonkretkan oleh amal.”

حدثنا عبد الله حدثنا احمد حدثنا ابن علية عن يونس عن الحسن قال الصلاة اذا لم تنه عن الفحشاء والمنكر لم تزد صاحبها الا بعدا

“Sholat yang tidak menjadikan pelakunya menjauhi hal-hal buruk dan kemunkaran akan menjadikan pelakunya semakin jauh dari Alloh.”

حدثنا عبد الله حدثنا احمد حدثنا وكيع بن سفيان عن يونس عن الحسن قال نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغ

“Dua kenikmatan yang sering disesalkan kebanyakan orang, sehat dan waktu luang.”

حدثنا عبد الله حدثنا هارون حدثنا ضمرة عن ابن شوذب قال قال الحسن والله ما صدق عبد بالنار الا ضاقت عليه الارض بما رحبت وان المنافق لو كانت النار خلف هذا الحائط لم يصدق بها حتى يتجهم عليها

“Demi Alloh, seorang hamba tidaklah membenarkan neraka kecuali dia merasa bumi yang luas ini begitu sempit. Sebaliknya, seandainya neraka dibalik tembok ini, orang munafik tidak akan mempercayainya sebelum dia menerjangnya.”

حدثنا عبد الله حدثنا هارون حدثنا ضمرة عن ابي شوذب عن الحسن قال الرجاء والخوف مطيتا المؤمن

“Mengharap rahmat dari Alloh dan takut akan adzabnya merupakan 2 kendaraan mukmin menuju makrifat Alloh.”

حدثنا عبد الله حدثنا عبد الله بن عمر بن محمد بن ابان بن صالح بن عمير حدثنا مبارك عن ابي عبد الله شيخ من اهل البصرة عن مالك بن دينار عن الحسن قال قلت له ما عقوبة العالم قال موت القلب قلت وما موت القلب قال طلب الدنيا بعمل الاخرة

“Malik bin Dinar bertanya pada Hasan al-Bashri: Apa hukuman Alloh pada orang alim? Hasan menjawab: Hati yang mati. Malik bin Dinar melanjutkan pertanyaannya: Bagaimana kematian hati? Hasan kembali menjawab: Mencari harta dunia dengan amal-amal akhirat.”

حدثنا عبد الله حدثنا عبد الله بن عمر حدثنا ابن المبارك عن الربيع عن الحسن افضل العلم الورع والتوكل

“Ilmu yang paling utama adalah ilmu yang menjadikan seseorang semakin warak dan tawakkal.”

حدثنا عبد الله حدثنا ابي حدثنا يونس بن محمد حدثنا حماد بن زيد عن المعلى بن زياد قال قال رجل للحسن يا ابا سعيد اشكو اليك قسوة قلبي قال ادنه من الذكر

“Ketika ada yang mengadukan keras hatinya kepada Hasan, beliau berkata: Dekatkan hatimu pada Alloh dengan mengingatnya.”

قال الحسن ان القلوب تموت وتحيا فاذا هي ماتت فاحملوها على الفرائض فاذا هي احييت فادبوها بالتطوع

“Beberapa hati mengalami pasang surut, kadangkala hati menjadi mati, kadang hidup. Saat hati mati bebani ia dengan melakukan hal-hal yang fardhu, saat hati terasa hidup maka berilah pelajaran kepadanya dengan melakukan hal-hal sunnah.”

حدثنا عبد الله حدثنا علي بن حكيم الاودي حدثنا فضيل بن عياض عن هشام عن الحسن قال لباب واحد من العلم اتعلمه احب الى من الدنيا وما فيها

“Mendapatkan satu intisari ilmu yang kupelajari lebih kusukai daripada mendapat dunia seisinya.”

حدثنا عبد الله حدثنا عبيد الله بن عمر حدثنا حماد عن ايوب قال كان الحسن يقول اذا رأيت الرجل ينافس في الدنيا فنافسه في الاخرة

“Jika kau melihat seseorang bersaing dalam hal dunia maka ajaklah dia berkompetisi dalam urusan akhirat.”

حدثنا عبد الله حدثنا هارون حدثنا سيار حدثنا جعفر حدثنا مالك بن دينار عن الحسن قال الايمان ايمان من خشى الله عز و جل بالغيب ورغب فيما رغب الله فيه وترك ما يسخط الله

“Iman yang hakiki adalah imannya seseorang yang takut kepada Alloh di saat tidak ada yang menyaksikan perbuatannya, dan suka melakukan hal-hal yang diridhoi Alloh serta meninggalkan hal-hal yang membuat-Nya murka.”

حدثنا عبد الله حدثنا ابي حدثنا روح حدثنا عون عن الحسن انه كان يقول اتهموا رأيكم واهواءكم على دين الله وانتصحوا كتاب الله على انفسكم ودينكم

“Janganlah percaya pendapat logika kalian atas urusan agama Alloh, dan jadilah orang yang selalu mengambil nasehat dari al-Quran terkait urusan agama Alloh.”

Komentar ulama tentang keutamaan Hasan al-Bashri

قَالَ مُعْتَمِرُ بنُ سُلَيْمَانَ: كَانَ أَبِي يَقُوْلُ: الحَسَنُ شَيْخُ أَهْلِ البَصْرَةِ.

“’Mu’tamir bin sulaiman berkata, ayahku berkata: Hasan adalah guru penduduk Bashroh.”

وَقَالَ سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ: كَانَ الحَسَنُ يَغْزُو، وَكَانَ مُفْتِيَ البَصْرَةِ جَابِرُ بنُ زَيْدٍ أَبُو الشَّعْثَاءِ، ثُمَّ جَاءَ الحَسَنُ، فَكَانَ يُفْتِي

“Berkata Sulaiman at-Taimi: Dulu Hasan berperang, dan yang menjadi mufti Bashroh adalah Jabir bin Zaid, Abus Sya’tsa’, kemudian datanglah Hasan al-Bashri dan beliau menggantikan posisinya sebagai mufti.”

الأَصْمَعِيُّ: عَنْ أَبِيْهِ، قَالَ:
مَا رَأَيْتُ زَنْداً أَعْرَضَ مِنْ زَنْدِ الحَسَنِ البَصْرِيِّ، كَانَ عَرْضُهُ شِبْراً.

“Al-Ashmu’i menceritakan dari ayahnya, beliau berkata: Aku tidak pernah melihat orang yang lengannya (tulang hasta) melebihi lebarnya lengan Hasan, lebar lengannya satu jengkal.

ضَمْرَةُ بنُ رَبِيْعَةَ: عَنِ الأَصْبَغِ بنِ زَيْدٍ، سَمِعَ العَوَّامَ بنَ حَوْشَبٍ، قَالَ: مَا أُشَبِّهُ الحَسَنَ إِلاَّ بِنَبِيٍّ.

“Dari Ashbagh bin Zaid, beliau mendengar al-Awwam bin Hausyab berkata: Aku tidak menyerupakan Hasan al-Bashri kecuali dengan Nabi.”

وَعَنْ أَبِي بُرْدَةَ، قَالَ: مَا رَأَيْتُ أَحَداً أَشْبَهَ بِأَصْحَابِ مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- مِنْهُ

“Diceritakan dari Abi Burdah, beliau berkata: Aku tidak pernah melihat seseorang yang sama dengan sahabat-sahabat Muhammad SAW melebihi Hasan al-Bashri.”

حُمَيْدُ بنُ هِلاَلٍ: قَالَ لَنَا أَبُو قَتَادَةَ:
الْزَمُوا هَذَا الشَّيْخَ، فَمَا رَأَيْتُ أَحَداً أَشْبَهَ رَأْياً بِعُمَرَ مِنْهُ -يَعْنِي: الحَسَنَ

“Humaid bin Hilal menceritakan bahwa Abu Qotadah pernah berkata kepadanya: Ikutilah Syekh ini (Hasan al-Bashri) karena dibanding yang lain, dia memiliki pendapat yang lebih mirip dengan pendapat Umar RA.”

وَقَالَ مَطَرٌ الوَرَّاقُ: لَمَّا ظَهَرَ الحَسَنُ، جَاءَ كَأَنَّمَا كَانَ فِي الآخِرَةِ، فَهُوَ يُخْبِرُ عَمَّا عَايَنَ

“Berkata Mathor al-Warroq: Ketika Hasan muncul, kedatangannya seakan-akan dari akhirat, beliau menceritakan apa yang dinyatakan.”

مُجَالِدٌ: عَنِ الشَّعْبِيِّ، قَالَ: مَا رَأَيْتُ الَّذِي كَانَ أَسْوَدَ مِنَ الحَسَنِ.

“Mujalid menceritakan dari Sya’bi: aku tidak pernah melihat seseorang yang berjiwa pemimpin melebihi Hasan.”

عَنْ أَمَةِ الحَكَمِ، قَالَتْ: كَانَ الحَسَنُ يَجِيْءُ إِلَى حِطَّانَ الرَّقَاشِيِّ، فَمَا رَأَيْتُ شَابّاً قَطُّ كَانَ أَحْسَنَ وَجْهاً مِنْهُ!

“Wanita amat dari al-Hakam berkata: Dulu Hasan mendatangi Hitthon ar-Roqqosy. Aku tidak pernah melihat pemuda setampan dia.”

وَقَالَ قَتَادَةُ: مَا جَمَعْتُ عِلْمَ الحَسَنِ إِلَى أَحَدٍ مِنَ العُلَمَاءِ، إِلاَّ وَجَدْتُ لَهُ فَضْلاً عَلَيْهِ، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا أَشْكَلَ عَلَيْهِ شَيْءٌ، كَتَبَ فِيْهِ إِلَى سَعِيْدِ بنِ المُسَيِّبِ يَسْأَلُهُ، وَمَا جَالَسْتُ فَقِيْهاً قَطُّ، إِلاَّ رَأَيْتُ فَضْلَ الحَسَنِ.

“Qotadah berkata: Aku tidak pernah membandingkan ilmu Hasan pada seorang ulama kecuali pengetahuan Hasan lebih baik. Hanya saja, saat Hasan memiliki permasalahan yang dianggapnya janggal, beliau akan menanyakan pada Sa’id bin Musayyab melalui surat. Aku juga tidak pernah berkumpul pada ahli fikih kecuali Hasan menjadi tokoh yang unggul.”

قَالَ أَيُّوْبُ السِّخْتِيَانِيُّ: كَانَ الرَّجُلُ يَجْلِسُ إِلَى الحَسَنِ ثَلاَثَ حِجَجٍ مَا يَسْأَلُهُ عَنِ المَسْأَلَةِ هَيْبَةً لَهُ.

“Ayyub as-Sikhtiyani berkata: Ada orang yang mengikuti majelis ta’lim Hasan selama 3 tahun, dia sama sekali tidak pernah bertanya pada Hasan karena kewibawaan Hasan.”

وَقَالَ مُعَاذُ بنُ مُعَاذٍ: قُلْتُ لِلأَشْعَثِ: قَدْ لَقِيْتَ عَطَاءً وَعِنْدَكَ مَسَائِلُ، أَفَلاَ سَأَلْتَهُ؟!
قَالَ: مَا لَقِيْتُ أَحَداً بَعْدَ الحَسَنِ إِلاَّ صَغُرَ فِي عَيْنِي

“Muadz bin Muadz berkata kepada al-Asy’ats: Kamu memiliki beberapa permasalahan sementara kamu telah bertemu Atho’, kenapa tidak kamu tanyakan (permasalahan itu) padanya? Asy’ats menjawab: Selain Hasan al-Bashri di mataku semuanya kecil.”

وَقَالَ أَبُو هِلاَلٍ: كُنْتُ عِنْدَ قَتَادَةَ، فَجَاءَ خَبَرٌ بِمَوْتِ الحَسَنِ، فَقُلْتُ:لَقَدْ كَانَ غَمَسَ فِي العِلْمِ غَمْسَةً.

قَالَ قَتَادَةُ: بَلْ نَبَتَ (1) فِيْهِ، وَتَحَقَّبَهُ (2) ، وَتَشَرَّبَهُ، وَاللهِ لاَ يُبْغِضُهُ إِلاَّ حَرُوْرِيٌّ

“Abu Hilal berkata: Dulu aku bersama Qotadah, lalu datanglah kabar wafatnya Hasan, lantas aku berkata: ٍSesungguhnya Hasan telah menyelami (lautan) ilmu .

Qotadah menjawab: Justru ilmu tumbuh di diri Hasan, terikat padanya dan menyerapnya. Demi Alloh tidak ada yang membenci Hasan al-Bashri kecuali Haruri (kaum Khowarij yang dinisbatkan pada tanah Haruro’) “

حدثنا خالد بن صفوان، قال:
لقيت مسلمة بن عبد الملك، فقال: يا خالد، أخبرني عن حسن أهل البصرة؟
قلت: أصلحك الله، أخبرك عنه بعلم، أنا جاره إلى جنبه، وجليسه في مجلسه، وأعلم من قبلي به: أشبه الناس سريرة بعلانية، وأشبهه قولا بفعل، إن قعد على أمر، قام به، وإن قام على أمر، قعد عليه، وإن أمر بأمر، كان أعمل الناس به، وإن نهى عن شيء، كان أترك الناس له، رأيته مستغنيا عن الناس، ورأيت الناس محتاجين إليه.
قال: حسبك، كيف يضل قوم هذا فيهم (3) ؟

“Kholid bin Shofwan menceritakan bahwa dia bertemu dengan Maslamah bin Abd Malik, lantas Maslamah berkata: Wahai Kholid, ceritakanlah tentang Hasan al-Bashri?

Lantas aku jawab perkataan Maslamah: Semoga Alloh memberimu kemaslahatan, akan aku ceritakan tentang Hasan sesuai pengetahuanku, karena aku selalu bersama Hasan dan mengikuti majlisnya.

Beliau adalah orang yang paling sesuai antara dhohir dan bathinnya, paling sesuai ucapan dan perbuatannya, jika dia menganggap penting sebuah perkara dia akan melakukannya, sebaliknya apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang penting dilakukan.

Jika beliau memerintahkan sesuatu maka beliaulah orang yang paling sering melakukannya, jika melarang sesuatu, beliau orang yang paling menghindarinya.

Dan aku melihat sosok Hasan al-Bashri sebagai orang yang tidak membutuhkan manusia namun orang-orang membutuhkannya.

Kemudia maslamah menyela perkataanku dan berkata: Cukup wahai Kholid, bagaimana suatu kaum bisa sesat sementara tokoh seperti Hasan al-Bashri menyertainya.”

Baca “Habib al-Ajami, rentenir yang bertobat setelah mendapat nasehat dari Hasan al-Bashri.

حماد بن زيد: سمعت أيوب يقول:
كان الحسن يتكلم بكلام كأنه الدر، فتكلم قوم من بعده بكلام يخرج من أفواههم كأنه القيء.

“Hammad bin Zaid, aku mendengar Ayub berkata: Dulu kata-kata hikmah yang keluar dari Hasan al-Bashri bagaikan untaian mutiara, sepeninggal Hasan, perkataan yang keluar dari suatu kaum bagaikan muntahan.”

وقال السري بن يحيى: كان الحسن يصوم: البيض، وأشهر الحرم، والاثنين، والخميس

“Sari bin Yahya: Hasan (senantiasa) berpuasa ayyamil biidh, di bulan-bulan mulia, dan puasa senin kamis.”

Baca “Puasa malam padang mbulan di Bulan Dzulhijjah.

غالب القطان: عن بكر بن عبد الله المزني، قال:
من سره أن ينظر إلى أفقه من رأينا، فلينظر إلى الحسن.

“Gholib al-Qotthon dari Bakr bin Abdillah al-Muzani: Siapa yang suka melihat orang yang paling faqih menurut kami maka lihatlah Hasan al-Bashri.”

وقال قتادة: كان الحسن من أعلم الناس بالحلال والحرام

“Qotadah: Hasan adalah orang yang paling memahami perkara halal dan haram.”

قال هشام بن حسان: كان الحسن أشجع أهل زمانه.

“Hisyam bin Hassan: Hasan merupakan orang paling pemberani di zamannya.”

وقال أبو عمرو بن العلاء: ما رأيت أفصح من الحسن، والحجاج.

“Abu Amr bin al-Alla’: Aku tidak pernah mengetahui orang yang melebihi fasihnya Hasan dan al-Hajjaj.”

حدثنا عبد الله حدثنا ابي حدثنا علي بن جعفر حدثنا سليمان بن المغيرة عن يونس بن عبيد قال ما رأيت اطول حزنا من الحسن وكان يقول نضجك ولعل الله قد اطلع على اعمالنا فقال لا اقبل منكم شيئ

“Yunus bin Ubaid: Aku tidak pernah melihat orang yang sering merasa gelisah melebihi Hasan, seringkali beliau mengatakan: Bagaimana mungkin aku tertawa, sementara aku tidak tahu, barangkali Alloh melihat amalku kemudian menolaknya.”

والله اعلم بالصواب

Refrensi: سير أعلام النبلاء, الزهد للإمام أحمد بن حنبل

0 Komentar

Trackbacks/Pingbacks

  1. Bulan Muharram dan Doa, Amaliahnya | Pondok Pesantren Putri Hikmatun Najiyah - […] al-Bashri (Baca: Biografi Hasan al-Bashri dan kata-kata hikmah) juga […]

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related