Biografi Imam Syibli, Sufi Unik Pengikut Madzhab Maliki

Makam Imam Syibli

Biografi Imam Syibli, seorang tokoh yang menjadi syekh para sufi, panutan para pengikut tarekat, serta imam dari pengamal tasawuf. Sosok wali yang tiada duanya di masa itu, bahkan riyadloh dan karomahnya hampir tidak bisa dihitung.

Biodata Imam Syibli

Kunyah beliau adalah Abu Bakar, dengan nama asli Dulaf bin Jahdar1 as Syibli al Baghdadi. Beliau dilahirkan dan tumbuh dewasa di Baghdad, Irak. Namun ada pula yang mengatakan kelahiran Imam as Syibli adalah Sāmarrā2

Beliau meninggal di bulan dzulhijjah tahun 334H diusianya yang ke-87, dan disemayamkan di Pemakaman Khoizaran, yang saat ini dikenal dengan nama Makam A’dhomiyah, di Baghdad.

Perjalanan Hidup Imam Syibli

Mulanya, ayah Imam Syibli adalah kepala penjaga (jabatan penting di masa itu) Kholifah Abi Ahmad al Muwafaq, putra dari Kholifah al Mutawakkil. Kemudian setelah Abi Ahmad diturunkan dari jabatannya, Imam Syibli mulai bertobat dari gaya hidupnya sebagai anak pejabat dan lebih sering menghabiskan waktu untuk mengikuti pengajian di majelisnya para masyayikh, dan akhirnya beliau juga nyantri pada Wali Junaid RA, dari sini Allah menyiramkan Nurnya hakikat di hati as Syibli .

Di masa hidupnya, Imam Syibli menemui banyak guru tarekat, diantaranya adalah Abil Qosim al Junaidi atau Junaid al Baghdadi. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menjadikan beliau menjadi ulama thoriqoh yang tiada duanya kala itu.

Sebelumnya, soal keilmuan, beliau lebih fokus mempelajari ilmu fiqih Madzhab Maliki, hingga menguasainya dan menjadikannya mendapat gelar al faqih di madzhab itu. Tak hanya itu, beliau juga mengkaji hadits dan menulisnya.

Memutuskan Menjalankan Tasawuf dan Hidup Zuhud

Sebagai seorang yang alim dan menguasai Fiqih Maliki, menjadikan beliau diangkat sebagai Gubernur sekaligus Hakim di Nahawand, Iran. Kemudian di suatu waktu, Kholifah mengirim surat kepada Hakim Kota Ray3 yang memintanya untuk berkunjung ke Baghdad. Karena mendapat perintah dari Sultan, akhirnya hakim itu memulai perjalanannya ke Baghdad bersama amir-amir yang lain termasuk as Syibli.

Setibanya di Baghdad, mereka bertemu dengan Khalifah, mereka juga mendapatkan sambutan yang luar biasa, serta beberapa hadiah berupa harta dan pakaian kesultanan. Setelah pertemuan itu berakhir, merekapun pulang,

Dalam perjalanan Hakim Ray tiba-tiba bersin, ia pun membersihkan ingus yang ada di hidung dan mulutnya menggunakan ujung lengan pakaian kesultanan yang ia peroleh dari Sultan.

Siapa sangka, perbuatan Hakim Ray tersebut dilaporkan ke Sultan, dan membuatnya tersinggung. Sultan segera mengutus seseorang untuk menghukum Hakim Ray, kemudian ia dihukum dengan cara memukuli lehernya, Hadiah Kesultanan juga ditarik, serta jabatannya dilepas. Hal ini dikarenakan, ia dianggap tidak beradab terhadap Kholifah sehingga berhak untuk dihinakan dan dihukum dengan hukuman berat.

Imam Syibli yang mendengar kabar ini langsung shok! Ia seakan terbangun dari kelalaian yang berkepanjangan, seketika itu ia kembali ke Baghdad untuk menghadap Khalifah, mengajukan pensiun dini dari jabatan sebagai Gubernur Nahavand. Beliau berkata:

Wahai Khalifah!, Jika memang hadiah pemberianmu tidak boleh diremehkan sedangkan engkau hanyalah salah satu makhluk dari beberapa makhluq yang lain, nilai hadiahmu juga tidaklah samar bagi orang-orang yang meremehkan pemberian Allah, lantas bagaimana jika ada yang merendahkan hadiah pemberian Allah (ilmu).

Allah memberikanku hadiah berupa ilmu pengetahuan agama, lalu apakah Dia akan ridlo jika aku menjadikan ilmu itu sebagai saputangan untuk mengabdi pada makhluq?!

Setelah itu Imam Syibli melepaskan pangkat dan jabatannya, ia memulai hidup zuhud dengan menerapkan tasawuf dengan mengikuti kajian di majelis Khoir an Nassaj Ra. Beliau tidak menghabiskan waktu lama saat mengikuti kajian-kajian an Nassaj, karena gurunya menyuruhnya untuk melanjutkan pengajaran rohaninya ke Syekh Junaid al Baghdadi.

Nyantri pada Junaid al Baghdadi

Sebagai bentuk ketaatan pada guru spiritual, Wali Syibli akhirnya menemui Junaid al Baghdadi untuk melanjutkan pelatihan spiritualnya. Setelah bertemu Wali Junaid, as Syibli berkata:

“Orang-orang berkata bahwa intisari ma’rifat ada padamu, karenanya tunjukkanlah padaku, jika kau berkenan kau boleh menjualnya padaku, atau memberikannya sebagai hibah,”

Mendengar ucapan Syibli, Junaid hanya menjawab:

“Jika memang bisa diperjualbelikan, niscaya kau tidak akan mampu membayarnya!, Jika dijadikan sebagai hibah maka berharganya nilai inti ma’rifat tidak akan pernah kau ketahui. Lemparkan nafsumu ke samudera mujahadah, kesabaran (menghadapi hukum qada qadar Allah), dan penantian (penantian hikmah atas ketentuan-Nya), semoga kamu bisa mendapatkan jauhar ma’rifat.”

Lalu Imam Syibli bertanya:

“Sekarang (jika memang harus melemahkan nafsu) maka apa yang harusnya aku lakukan?”

Al Junaid merespon pertanyaan itu dengan menyuruhnya untuk menjual belerang selama kurun waktu satu tahun.

As Syibli menuruti perkataan Syekh Junaid, dan ia segera menjual belerang dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Setelah masa itu telah lewat, ia kembali ke gurunya dan melaporkan bahwa tugas yang dibebankan sudah dilaksanakan dengan baik. Namun imam Junaid menganggap hal ini belum cukup, beliau berkata:

“Jangan-jangan saat kau berjualan belerang, kau menikmatinya”

Kemudian al Junaid menyuruhnya untuk mengemis di seluruh rumah yang ada di Baghdad selama satu tahun, tanpa memiliki pekerjaan ataupun bisnis sampingan lain.

Sebuah perintah yang berat, terutama bagi Syibli yang saat itu adalah mantan Gubernur dan Hakim, namun keteguhan hatinya membuatnya tetap mentaati perintah sang Syekh, selama setahun ia meminta-minta di seluruh Baghdad, namun selama itu ia tidak memperoleh pemberian yang berarti. Diapun kembali kepada Syekh Junaid, dan melaporkan apa yang telah dilaluinya, lalu Imam Junaid berkata:

“Sekarang kau tahu bahwa dimata manusia, kamu tidaklah berharga dan tidak bernilai, maka janganlah kau gantungkan hatimu pada mereka!. Jangan pula menganggap mereka itu cukup penting dan bernilai untukmu!. Pasrah dan serahkanlah semua kepada Dzat Yang Maha Hidup, yang tidak akan pernah mati.

Akan tetapi, karena sebelum ini kau pernah menjadi seorang Hakim di Nahawand, tidak menutup kemungkinan ada keputusanmu yang salah, sehingga kau berbuat dholim dan memiliki hak adami kepada mereka. Karena itu, kembalilah ke Nahawand dan minta maaflah pada orang-orang yang kasusnya kau putuskan, semoga saja mereka mau memaafkanmu dan membebaskanmu dari jeratan hak adami.”

Mendapati amaran gurunya, ia segera kembali ke Nahavand dan mendatangi satu-persatu masyarakat yang ia temui, serta mendatangi rumah-rumah di kota itu seraya berkata:

Dulu aku adalah Hakim di kota ini, dan yang memutuskan kasus-kasus yang kamu hadapi. Harapanku, jika keputusanku salah dan telah berbuat dholim kepadamu, maka sudilah kiranya kamu memaafkanku karena Allah

Setelah ia menjalani semua ini, Imam Syibli masih merasa kurang puas, hatinya tidak bisa merasa tenang, pasalnya ada satu orang yang memiliki sangkut-paut hak adami yang tidak berhasil ia temukan. Akhirnya beliau memutuskan untuk untuk mensedekahkan hartanya sebesar seratus ribu dirham yang pahalanya ia peruntukkan orang tersebut. Meski begitu, beliau tetap tak bisa tenang. Hingga waktu setahun berlalu, beliau kembali ke Syekh Junaid.

Saat itu Imam Junaid berkata:

“Engkau telah lulus dan telah berhasil menjauh dari cinta derajat kedudukan,”

Dan Syekh Junaid memberinya ujian berupa meminta-minta pada penduduk Baghdad untuk yang kedua kalinya, hanya saja kali ini ia disuruh untuk mencari remahan roti dan mengumpulkan hasilnya untuk kemudian diserahkan kepada Syekh Junaid, kemudian roti-roti itu beliau sedekahkan kepada orang-orang fakir dan membiarkan Syekh Syibli kelaparan. Hal ini dilalui Syibli selama setahun.

Setelah melalui ujian tersebut dari Imam Junaid al Baghdadi, beliau mengijinkan as Syibli bergabung dengan para santrinya seraya berkata:

“Berbaurlah dengan mereka!, Namun tugasmu disini hanya melayani para santri. Tidak lebih dari itu.”

Setelah genap setahun, Syekh Junaid al-Baghdadi memanggil Imam Syibli dan bertanya:

“Hai Syibli, bagaimana perasaanmu setelah melalui semua ini?,”

As Syibli menjawab pertanyaan gurunya:

“Saat ini saya merasa sebagai makhluq Allah yang paling rendah tidak bernilai,”

Kemudian sang guru berkata:

“Sekarang, imanmu telah utuh sempurna!”4

نفعنا الله بعلومهما وامدنا بأسرارهما

Catatan kaki dan refrensi:

  1. Ada perbedaan pendapat mengenai nama asli wali Syibli, ada yang mengatakan nama aslinya Dulaf bin Ja’far, ada pula yang mengatakan nama asli dari wali Syibli adalah Ja’far bin Yunus. Lihat Thobaqootus Sufiyah, Tadzkirotul Auliya, dan Siyar A’lamin Nubala
  2. Sāmarrā adalah sebuah kota kecil yang berada di sebelah timur Sungai Tigris di wilayah kekuasaan Salah ad Din, Irak. Terletak pada koordinat 34°11′LU 43°52′BT, kota ini berada sejauh 125 km di sebelah utara Bagdad. Dulu, Sāmarrā merupakan salah satu kota terbesar Mesopotamia.
  3. Ray, juga disebut Rhages dan sebelumnya Arsacia, merupakan ibu kota dari Syahrestani Ray, Provinsi Tehran, Iran. Ray merupakan kota tertua yang masih bertahan di provinsi ini yang saat ini termasuk kedalam kota metropolitan Tehran. Ray sempat menjadi ibu kota di masa Kesultanan Seljuk.
  4. تذكرة الاولياء, طبقات الصوفية, سير أعلام النبلاء