Biografi Ja’far as Shadiq

Biografi Ja'far as Shadiq

Biografi Ja’far as Shadiq – Nama lengkap beliau Abu Abdillah, Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain as Syahid bin Ali dari istrinya Fathimah binti Rasulullah ﷺ. Seorang tokoh panutan ulama di segala bidang.

Beliau adalah sufi yang sangat twadhu’ dan jujur amaliahnya karena ini beliau dijuluki as Shadiq (jujur perkataan dan amalnya), guru dari kalangan Quraisy, bahkan guru dari para Alawiyyin. Seorang imam yang menjadi panutan ulama sufi dalam tarekatnya. Menjadi panutan ulama fiqih dalam keilmuan dhohirnya. Bahkan dikatakan, seluruh ulama madzhab, jika bukan muridnya maka pasti murid dari murid Sayidina Ja’far as Shadiq.

Kelahiran dan Leluhur Ibu Ja’far as Shodiq ra

Lahir tahun 80 Hijriah dan sempat bertemu sahabat nabi. Adz Dzahaby menganggap kemungkinan sahabat yang pernah bertemu dengan Ja’far as Shadiq adalah Anas bin Malik, dan Sahl bin Sa’d ra.

Ibunya merupakan keturunan Sayidina Abu Bakar as Shiddiq. Nama ibunya adalah Ummu Farwah binti al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar at Taymi, sedangkan Ibu dari Ummu Farwah adalah Asma binti Abdurrahman bin Abu Bakar as Shiddiq ra.

Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa Maulana Ja’far Shadiq tidak mungkin memusuhi kakeknya sendiri, Abu Bakar as Shiddiq ra. Tidak seperti yang dituduhkan para ahli bidah, Syiah Rafidhah yang gemar mengumpat para imam para sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar dan juga Utsman ra.

Karena alasan ini, tidak heran jika banyak ulama yang mengatakan bahwa Imam Ja’far Shadiq adalah salah satu ulama yang difitnah oleh para pengikutnya, banyak yang menyandarkan kesesatan kepada beliau sementara beliau tidak pernah melakukan bahkan lepas diri dari para pelaku bid’ah tersebut. Hal ini sebagaimana yang biasa disandarkan Syiah Rafidhah bahwa Imam Ja’far Shodiq mengatakan kekhalifahan Abu Bakar dan Umar tidak sah.

Ja’far Shodiq dan Hadits

Imam ad Dzahaby menjelaskan bahwa beliau meriwayatkan hadits dari ayahnya, Abi Ja’far al Baqir, Ubaidillah bin Abi Rafi’, Urwah bin Zubair, Atha’ bin Abi Rabah, kakeknya Qasim bin Muhammad, Nafi’ al Umary, Muhammad bin al Munkadir, az Zuhry, Muslim bin Abi Maryam dan lain-lain.

Sementara yang mengambil riwayat dari beliau adalah putranya sendiri, Musa al Kadhim, Yahya bin Sa’id al Anshary, Yazid bin Abdillah bin al Had, Imam Abi Hanifah, Aban bin Taghlab, Ibnu Juraij, Muawiyah bin Ammar ad Duhny, Ibnu Ishaq, Sufyan, Syu’bah, Malik, Ismail bin Ja’far, Wahab bin Khalid, Hatim bin Ismail, Sulaiman bin Bilal, Sufyan bin Uyainah, Muhammad bin Tsabit al Bunany, Muslim az Zanjy dan lain-lain.

Komentar Ulama Tentang Ja’far as Shadiq

  • Ibnu Abi Hatim

 سَمِعْتُ أَبَا زُرْعَةَ وَسُئِلَ، عَنْ جَعْفَرِ بنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيْهِ وَسُهَيْلٍ عَنْ أَبِيْهِ وَالعَلاَءِ عَنْ أَبِيْهِ أَيُّهَا أَصَحُّ? قَالَ لاَ يُقْرَنُ جَعْفَرٌ إِلَى هَؤُلاَءِ. وَسَمِعْتُ أَبَا حَاتِمٍ يَقُوْلُ جَعْفَرٌ لاَ يُسْأَلُ عَنْ مِثْلِهِ. 

“Aku mendengar Aba Zur’ah yang ditanya tentang riwayat Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dan al Ala’ dari ayahnya, mana yang lebih shahih? Beliau menjawab: Ja’far bin Muhammad tidak bisa disejajarkan dengan mereka. Aku juga mendengar Aba Hatim berkata: Ja’far bin Muhammad, tidak bisa ditanyakan siapa yang sepadan dengannya.”

  • Amr bin Abil Miqdam

قَالَ: كُنْتُ إِذَا نَظَرتُ إِلَى جَعْفَرِ بنِ مُحَمَّدٍ, عَلِمتُ أَنَّهُ مِنْ سُلاَلَةِ النَّبِيِّيْنَ, قَدْ رَأَيْتُه وَاقِفاً عِنْدَ الجَمْرَةِ يَقُوْلُ سَلُونِي, سَلُونِي.

“Amr bin Abil Miqdam berkata: Aku, saat melihat Ja’far bin Muhammad mengetahui bahwa beliau keturunan para nabi, aku pernah melihatnya berdiri di sebelah Jamrah dan berkata: Bertanyalah kalian kepadaku, bertanyalah kepadaku.”

Kumpulan Kisah dan Karomah Ja’far as Shadiq RA

Selamat dari rencana pembunuhan

Dinukil dari kitab Tadzkiratul Auliya karya Fariduddin Atthar bahwa suatu ketika Khalifah Manshur berniat untuk membunuh Maulana Ja’far Shadiq karena dianggap mengancam kekuasaannya. Dia pun mengutus wazirnya untuk memanggil Imam Ja’far agar segera di eksekusi.

Merespon keinginan Khalifah, sang Wazir menyampaikan penolakan, dia berkata “Wahai Amirulmukminin, Ja’far Shadiq hanyalah seseorang yang suka menjauh dari khalayak umum, dia orang yang memutuskan untuk mengisi hari-harinya dengan beribadah, dia sama sekali tidak tertarik dalam kepemimpinan dan kekhalifahan, juga tidak pernah mengganggu kepemimpinanmu. Membunuhnya tidak akan memberikan faidah dan tidak ada kemaslahatannya sama sekali.”

Wazir itu bersikukuh agar Khalifah mengurungkan niatnya dengan menyampaikan berbagai macam alasan, namun Khalifah tetap pada pendiriannya; ingin membunuh Maulana Ja’far Shadiq dan menyuruh Wazirnya segera memanggil Syekh Ja’far untuk dieksekusi.

Dengan sangat terpaksa Wazir pun menuruti keinginan dholim dari dari al Manshur, dia segera memanggil Maulana Ja’far Shadiq. Sebelum Sayidina Ja’far hadir di majelis itu, al Manshur berpesan kepada para pengawalnya “Jika dia telah hadir di sini dan aku telah melepaskan imamahku (sorban yang diikat di kepala) bergegaslah kalian untuk membunuhnya”

Beberapa waktu kemudian Wazir berhasil menghadirkan Ja’far as Shadiq ke hadapan Khalifah. Lantas beliau mengucapkan salam pada Khalifah dan Khalifah juga menjawabnya serta menyambutnya dengan sambutan yang hangat. Bahkan Khalifah mempersilahkan beliau untuk duduk di tempat yang terhormat. Anehnya, Khalifah duduk bersimpuh di hadapannya dengan penuh tawadhu’. Kejadian ini membuat orang yang menyaksikan menjadi takjub, tak terkecuali para pengawal yang sebelumnya telah diberi pesan untuk membunuhnya.

Setelah melakukan obrolan panjang, Khalifah berkata “Apa keinginanmu? Aku akan memenuhinya,” Imam Ja’far menjawab “Permintaanku adalah janganlah kamu mencariku lagi.” Tanpa disangka, Al Manshur mengiyakan dan mempersilahkan beliau pergi, dia juga memberikan berbagai macam hadiah dan juga memuliakan Imam Ja’far dengan memberikan beberapa penghormatan.

Setelah Imam Ja’far Shadiq meninggalkan istana, al Manshur tiba-tiba gemetar dan pingsan sampai meninggalkan 3 waktu shalat.

Ja'far as Shadiq dan Ular Besar
Ilustrasi ular besar yang mengawal Ja’far Shadiq ra: Pixabay

Setelah ia tersadar, Wazir menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, dan alasan kenapa dia mengurungkan niat untuk membunuh Imam Ja’far Shadiq. Lantas, dia pun bercerita bahwa saat Imam Ja’far masuk istana, al Manshur melihat seekor ular yang sangat besar ikut menyertainya. Ular itu membuka mulutnya seakan-akan ingin melahap semua yang ada di dalam ruangan.

Al Manshur juga bercerita bahwa dia sangat ketakutan pada saat itu, sehingga dia tidak berani berbuat apapun kecuali mengagungkan dan memuliakan Imam Ja’far. Dia juga berkata kepada Wazir jika dia telah bertobat dan berjanji kepada Allah swt bahwa dia tidak akan lagi memusuhi satu pun dzuriyah keturunan nabi.

Ja’far Shadiq malu melihat Nabi ﷺ

Salah satu bukti tawadhu’nya Imam Ja’far Shadiq RA adalah kisah berikut. Suatu ketika beliau bersama para santri-santrinya sedang berkumpul, kemudian beliau berkata: “Kemarilah kalian! Mari kita berbaiat dan berjanji, barang siapa diantara kita menjadi orang yang selamat kelak di hari kiamat maka dia harus memberi syafaat kepada sahabatnya yang saat ini sedang berkumpul bersama.” Kontan para santri beliau berkata, “Bagaimana mungkin engkau membutuhkan syafaat kami sementara kakekmu ﷺ adalah pemberi syafaat pada seluruh makhluk?”

Kemudian Imam Ja’far as Shadiq menjawab: “Sesungguhnya aku malu melihat kakekku pada hari kiamat nanti dengan bekal amalku yang seperti ini,”

Ja’far Shadiq dan Sufyan Tsauri

Kala Ja’far as Shadiq lebih memilih melalui hari-harinya dengan kholwah dan menghindari hidup bermasyarakat Sufyan as Tsauri mendatanginya dan berkata “Wahai imam Muslimin, masyarakat telah terhalang dari mendapatkan faidah keilmuan dan keshalehanmu. Mengapa engkau menghindari mereka?”

Ja’far as Shadiq menjawab: Aku telah mencium perubahan dalam zaman, persahabatan telah berubah dari sebagaimana mestinya.

Ja’far as Shadiq dan Imam Abi Hanifah

Dalam sebagian pertemuannya dengan Imam Abi Hanifah ra, Imam Ja’far shadiq bertanya kepadanya “Menurutmu, siapa orang yang berakal?” Imam Abi Hanifah menjawab, “Seseorang yang bisa membedakan yang baik dan yang buruk,” Maulana Ja’far kembali berkata, “Jika demikian, binatang juga bisa. Binatang-binatang tahu kapan dia akan dipukul atau diberi makan pemiliknya,”

Lalu Imam Abi Hanifah RA bertanya, “Lantas menurut Anda siapa orang berakal?” Maulana Ja’far menjawab “Orang berakal adalah orang yang bisa membedakan 2 perkara yang baik, kemudian dia memilih yang terbaik. Begitu juga, dia bisa membedakan 2 hal yang buruk kemudian meninggalkan keduanya, atau jika memang terpaksa dia akan melakukan yang paling berdampak positif.”

Maulana Ja’far as Shadiq dituduh mencuri

Suatu ketika ada lelaki kehilangan tas yang penuh terisi dinar, saat dia mencarinya dia mendapati Imam Ja’far Shadiq. Tanpa bukti yang jelas lelaki ini segera memegang Imam Ja’far dan menuduhnya mencuri, dia bertindak sembrono seperti itu karena memang tidak mengenal Imam Ja’far.

Imam Ja'far as Shadiq dan koin emas
Source: Pixabay

Karena risih dituduh mencuri, Imam Ja’far bertanya “Berapa uang kamu yang hilang?,” Lelaki itu menjawab “1000 dinar,” Seketika itu Imam Ja’far Shodiq mengajak lelaki itu ke rumahnya dan memberinya uang 1000 dinar.

Selang beberapa waktu, lelaki tersebut menemukan uangnya yang hilang. Dia segera menemui Imam Ja’far ra untuk meminta maaf dan mengembalikan uang beliau. Lelaki itu berkata “Maafkan aku, aku telah salah menuduhmu. Ini uang kamu aku kembalikan,”

Akan tetapi Imam Ja’far menolak dan berkata “Aku tidak mungkin mencabut kembali pemberianku,” karena merasa penasaran dengan sikap Imam Ja’far yang tidak mau menerima uang sebanyak itu, dia bertanya pada orang-orang yang kebetulan menyaksikan kejadian itu “Sebenarnya, siapa orang ini?”

Orang-orang menjawab “Dia adalah Ja’far Shadiq, cucu Rasulullah ﷺ” mendengar jawaban mereka wajahnya langsung memerah karena malu dan dia segera meninggalkan tempat itu karena tak kuasa menahan rasa malu.

Imam Ja’far as Shadiq dan akidah tauhid

Imam Ja’far as Shadiq berkata: Sesungguhnya barang siapa mengatakan bahwa Allah swt berasal dari sesuatu, atau di dalam sesuatu, atau di atas sesuatu maka dia telah musyrik; karena jika Allah dari sesuatu maka dzat Allah memiliki batasan yang bisa dideskripsikan, jika Allah berada dalam sesuatu maka tentu Allah adalah hadits bukan qidam (karena keberadaan dzat dalam sebuah wadah tentu mengharuskan wadah tersebut wujud lebih dulu), begitu juga keberadaan Allah di atas sesuatu akan memberikan pemahaman bahwa Allah adalah mahmul (sesuatu yang menjadi beban perkara lain). Ketiga sifat ini tidak mungkin menjadi sifat-sifat Allah.

Pendapat Imam Ja’far tentang maksiat dan taat

Imam Ja’far as Shadiq berkata: Segala kemaksiatan yang dilakukan dengan rasa takut dan berakhir dengan penyesalan akan menyebabkan pelakunya menjadi dekat kepada Allah. Segala ketaatan yang dilakukan sembari merasa aman dari makar Allah dan berujung ujub menyebabkan pelakunya semakin jauh dari Allah. Hal ini dikarenakan pelaku maksiat yang telah menyesali perbuataannya menjadi seorang yang berlaku taat, sebaliknya ibadah yang berujung rasa ujub menjadikan pelakunya maksiat kepada Allah.

Imam Ja’far as Shadiq juga pernah berkata: Sebuah ibadah tidak bisa sah tanpa didahului oleh taubat. Pasalnya, Allah mendahulukan kata tobat sebelum kalimat ibadah dalam firmanNya:

اَلتَّاۤىِٕبُوْنَ الْعٰبِدُوْنَ

التوبة : ۱۱۲

Artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, melakukan ibadah… [QS at Taubah 112]

Demikianlah sepenggal manakib Imam Ja’far as Shadiq, pelita para ahli bait, panutan ulama serta junjungan para sufi. Cukup sebagai bukti keutamaan beliau adalah semua Imam Madzhab yang 4 adalah muridnya atau menjadi murid dari muridnya.

Referensi:

سير أعلام النبلاء للذهبي

تذكرة الأولياء لفريد الدين العطار