Biografi Ma’ruf al Karkhi, Mualaf yang Menjadi Waliyullah

Makam Syekh Ma'ruf al Karkhi: Wikipedia

Ma’ruf al Karkhi, Abu Mahfudh bin Fairuz al Baghdadi merupakan panutan pengikut tarekat, pimpinan kaum sufi, dan junjungan para muhibbin (orang-orang yang mencintai Allah dengan sepenuh hati) serta inti dari para arifin di zamannya.

Profil Ma’ruf al Karkhi

Beliau merupakan waliyullah yang hidup di pertengahan abad 100H di masa Sufyan bin Uyainah, dan menimba ilmu hakikat kepada Sayidi Daud at Tha’i serta masih mendapati zaman Imam Ahmad bin Hambal RA. Diantara muridnya yang terkenal paling menonjol adalah Sayidi Sari as Saqati RA. Menurut pendapat yang shahih, Ma’ruf al Karkhi meninggal pada tahun 200H.

Selain ilmu hakekat, Ma’ruf al Karkhi juga meriwayatkan sedikit hadits dari ar Rabi’ bin Shobih, Bakr bin Khunais, Ibnu Sammak dll.1

Pengakuan Para Ulama

  • Sufyan bin Uyainah

Ismail bin Syadad berkata: “Suatu ketika Sufyan bin Uyainah berkata kepada kami: Apa yang dilakukan orang baik itu di tempat kalian, Baghdad?, Kami pun bertanya: Orang baik yang mana?, Sufyan menjawab: Abu Mahfudh, Ma’ruf al Karkhi.

Kami bilang: “Dia melakukan kebaikan”, Sufyan melanjutkan perkataannya: Kalian akan selalu mendapatkan kebaikan selama ia masih hidup di Baghdad.”

  • Ahmad bin Hambal

Suatu ketika, ada yang membicarakan Ma’ruf al Karkhi di hadapan Ahmad bin Hambal, kemudian ada yang mengatakan: Ma’ruf hanyalah orang yang sedikit ilmu. Mendengar ini, Imam Ahmad bin Hambal RA berkata: Tidak!, bukannya tujuan dari ilmu adalah apa yang telah dicapai oleh Ma’ruf al Karkhi?.2

Kisah Ma’ruf al Karkhi

Berikut ini adalah kisah-kisah Ma’ruf yang menginspirasi dan penuh hikmah.

Masa kecil Ma’ruf al Karkhi

Abu Ali ad Daqqoq berkata: “Mulanya kedua orangtua Ma’ruf al Karkhi merupakan orang Nashrani, saat Ma’ruf masih kecil keduanya sempat mengutusnya untuk belajar pada seorang guru. Sang guru akhirnya menyampaikan materi pelajaran, ia berkata pada Ma’ruf: “Katakan, Tuhan ada 3,” Ma’ruf menolak mengatakan itu, dan ia bilang: “Tidak, Tuhan itu satu!”

Mendengar jawaban murid kecilnya, sang guru memukulnya dengan sangat keras. Seketika itu ia kabur dari gurunya dan tidak pulang ke rumah selama beberapa hari. Orangtuanya yang hampir putus asa karena Ma’ruf membangkang dari ajaran gurunya, dan tak kunjung pulang akhirnya mengucap: “Semoga Ma’ruf segera pulang, agama apapun yang ia bawa kami akan mengikutinya.”

Dalam perjalanan, Ma’ruf bertemu Ali bin Musa ar Ridlo RA, ia pun masuk Islam dihadapan beliau. Setelah tinggal beberapa hari bersama Ali bin Musa, akhirnya Ma’ruf memutuskan untuk kembali pulang.

Seperti biasa, saat ia mengetuk pintu rumah, kedua orangtuanya bertanya: “Siapa itu?”, Ia menjawab: “Ma’ruf,” Orangtuanya dari balik pintu kembali bertanya: “Agama apa yang kau anut?,” Ma’ruf menimpali: “Agama yang lurus.”. Merekapun mempersilahkan masuk, dan juga mengikuti Ma’ruf memeluk islam.

Syekh Ma’ruf al Karkhi Bersama Nenek Pencuri

Suatu ketika Syekh Ma’ruf al Karkhi mengambil air wudhu di Sungai Tigris, dan meninggalkan sajadah beserta mushafnya di masjid. Siapa sangka, ada nenek tua yang masuk masjid mengambil sajadah dan mushaf yang saat itu ditinggalkan pemiliknya.

Selesai menyempurnakan wudhu, Syekh Ma’ruf al Karkhi segera kembali ke masjid. Namun, saat ia mendapati sajadah dan mushafnya telah hilang, ia pun segera mencarinya. Tak lama kemudian, pandangannya tertuju pada sosok nenek tua yang membawa sajadah, ia segera menguntitnya, dan saat berhasil menyusulnya, ia menundukkan pandangannya karena malu jika sampai menatap wajahnya (serta untuk menjaga perasaan si nenek).

Dalam keadaan menundukkan kepala, Syekh Ma’ruf bertanya: “Apakah Anda memiliki anak yang bisa membaca Al Quran?” Nenek itu menjawab: “Tidak,” Syekh Ma’ruf al Karkhi kembali berkata: “Jika demikian, kembalikan mushafnya, dan sajadahnya halal (saya ikhlaskan) untuk Anda miliki.”

Nenek itu takjub dengan akhlak dan kearifan Ma’ruf, dengan sangat merasa malu ia segera mengembalikan dan meletakkan sajadah dan mushaf itu di hadapan Ma’ruf. Namun, Ma’ruf al Karkhi tetap berkata: “Sajadah ini halal untuk Anda.” Karena merasa sangat malu, wanita itu segera beranjak pergi meninggalkan Ma’ruf.

Ma’ruf al Karkhi dan Tobatnya Peminum Khamr

Diceritakan bahwa suatu ketika Ma’ruf al Karkhi ra bersama pengikutnya melewati pinggiran Sungai Tigris, mereka melihat perahu yang dinaiki pemuda-pemuda yang berpesta minum-minuman keras disertai lantunan musik rebab, tak hanya itu, mereka juga secara terang-terangan tanpa malu melakukan kemaksiatan.

Melihat mereka yang tanpa malu mempertontonkan kemaksiatan, para pengikut Ma’ruf berkata: “Wahai Syekh Ma’ruf, doakan mereka celaka! Semoga Allah mengadzab mereka dengan menenggelamkan perahunya, agar kemaksiatan mereka tidak menimbulkan adzab yang menimpa orang-orang yang tak bersalah, dan masyarakat terbebas dari kefasikan mereka.”3

Menanggapi keluhan murid-muridnya, sang guru sufi menjawab: “Angkatlah tangan kalian!,” dan saat mereka mengangkat tangan untuk mengamini doa gurunya, sang guru segera memanjatkan doa:

الهي, كما طيبت عيشهم في الدنيا, فطيب كذلك عيشهم في الآخرة

Artinya: Ilahi, sebagaimana engkau berikan mereka hidup yang bahagia di dunia ini, maka bahagiakanlah mereka kelak di akhirat.

Mendengar doa gurunya, mereka semua takjub keheranan. Para pengikut Ma’ruf pun menanyakan: “Ya Syekh, kami tak sanggup memahami sirri doa ini,” Mendapati murid-muridnya yang penasaran, Ma’ruf al Karkhi cuma berkata: “Diamlah, sebentar lagi kalian akan paham.”

Tiba-tiba, saat para pemuda yang berada di perahu melihat Ma’ruf al Karkhi, secara spontan mereka menghancurkan rebab-rebabnya, dan membuang khamrnya. Mereka menangis sejadi-jadinya, lalu mereka segera menghampiri Ma’ruf dan bertobat di hadapannya.

Sayidi Ma’ruf al Karkhi RA kemudian mengungkap sirri doanya, beliau berkata kepada murid-muridnya: “Lihatlah kejadian yang indah ini!, keinginan kalian (agar masyarakat tidak tertimpa adzab, dan terpengaruh perilaku buruk mereka) tercapai tanpa menenggelamkan mereka.”4

Ma’ruf al Karkhi Memungut Biji Kurma Untuk Membeli Mainan

Dinukil dari Sari as saqati; murid Ma’ruf al Karkhi, beliau berkata: “Suatu ketika di hari raya aku melihat guruku mondar-mandir di jalanan untuk memungut biji kurma. Heran dengan tingkah lakunya, akupun bertanya: “Guru, apa yang kau lakukan?” Beliau menjawab: “Aku melihat anak kecil menangis. Kemudian aku bertanya: Apa yang membuatmu menangis? Anak kecil itu menjawab: Di hari raya ini, semua anak kecil memakai pakaian baru, dan mereka memiliki mainan untuk mereka mainkan, sementara aku adalah anak yatim piatu, tidak punya pakaian baru dan tidak memiliki mainan. Aku memungut biji-biji kurma ini untuk kujual dan membelikan anak yatim itu mainan”

Kemudian Sari Saqati berkata: Biarkan aku lakukan ini untukmu, dan jangan kau bebani hatimu dengan masalah ini. Lalu, aku segera membawa anak itu untuk membeli pakaian baru serta mainan, selepas itu aku segera pulang.

Saat di rumah, aku mendapati cahaya ilahi menerangi hatiku, sehingga keadaan rohaniku berubah disebabkan berkah Syekh Ma’ruf al Karkhi.

Ma’ruf al Karkhi Makan Bersama Anjing

Dinukil dari kitab Tadzkirotul Auliya bahwa Syekh Ma’ruf memiliki paman yang menjadi pejabat di Madinah. Suatu ketika paman beliau berjalan melewati reruntuhan sebuah kota, tanpa sengaja ia melihat sang sufi duduk bersama seekor anjing. Setelah ia amati ternyata wali sufi itu sedang makan roti. Ia melihat Ma’ruf mengambil sepotong roti untuk ia makan, kemudian ia mengambil lagi sepotong dan ia suapi mulut anjing disebelahnya dengan roti itu.

Melihat pemandangan jorok ini, pamannya segera menegur: “Apa kau tidak malu makan bersama anjing?,” Ma’ruf tidak menjawab teguran pamannya, ia hanya mendongakkan kepalanya, dan dia melihat ada burung di angkasa, ia pun memanggil burung itu. Tanpa diduga, burung itu memenuhi panggilan Ma’ruf al Karkhi dan segera turun, lalu hinggap di tangan Ma’ruf.

Seakan merasa segan terhadap Ma’ruf, burung yang hinggap di tangan Ma’ruf mengepakkan sayapnya dan menutup kepalanya. Kemudian Ma’ruf al Karkhi berkata: “paman, tahukah engkau?, Barangsiapa yang malu dan segan kepada Allah, niscaya semua makhluk akan segan terhadapnya. Mendengar perkataan Ma’ruf, pejabat itu segera pergi karena malu terhadapnya.5

Refrensi dan catatan kaki

  1. سير أعلام النبلاء
  2. Maksudnya adalah tujuan belajar ilmu syariat adalah mencapai makrifat, sebagaimana yang telah didapatkan Ma’ruf. Imam Ahmad mengatakan ini, sebagai sanggahan bahwa Ma’ruf kurang berilmu. Karena jika memang ia kurang berilmu, tidak mungkin ia sukses menggapai ma’rifat billah.
  3. Para murid Ma’ruf berkata demikian, karena adanya kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan sementara tidak ada yang melakukan amar makruf, bisa membuat Allah murka dan menurunkan adzab. Jika hal ini terjadi, maka adzab yang diturunkan akan merata; tidak hanya menimpa para pelaku maksiat, namun juga orang-orang shalih di daerah itu. Hanya saja nisbat pada orang shalih, adzab tersebut akan menjadi rahmat dan juga pelebur dosa. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan Sayid Abdullah bin Alwi al Haddad dalam kitabnya Nashoihud Diniyah.
  4. Perilaku Ma’ruf al Karkhi dalam kejadian ini sama sekali tidak menafikan kewajiban ia dalam beramar ma’ruf nahi munkar, karena sesungguhnya dalam beramar makruf nahi munkar, jika memang memungkinkan dengan cara yang halus maka hendaknya dilakukan dengan cara yang halus.
  5. تذكرة الأولياء ص ٣٤٥ ـ ٣٤٧
Posting Terbaru

Related Articles

Related