Keutamaan Bulan Muharram, Doa dan Amaliahnya

Bulan Muharram dan Doa, Amaliahnya

Sesungguhnya Bulan Muharram merupakan bulan yang agung, keutamaannya sangat banyak dan sudah masyhur.

Selain itu Muharram termasuk bulan yang paling utama untuk melakukan puasa setelah Bulan Romadhon, menyusul setelahnya Rojab, Dzulhijjah, Dzulqo’dah, kemudian Sya’ban.

Abu Utsman an-Nahdi menuturkan: Dulu ulama-ulama salaf mengagungkan 10 hari dari 3 bulan mulia, yaitu 10 hari terakhir Bulan Romadhon, 10 hari pertama Dzulhijjah dan Muharram.

Penamaan Bulan Muharram

Dalam islam, masa satu tahun terdapat 12 bulan yang pergantiannya berdasarkan peredaran bulan. Namun dari kedua belas bulan yang ada, beberapa diantaranya dianggap mulia.

Hal ini berdasarkan firman Alloh SWT:

إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والأرض منها أربعة حرم..

التوبة 36

“Sesungguhnya jumlah bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, sesuai ketentuan Allah sewaktu Dia menciptakan langit dan bumi, sebagian diantaranya empat bulan yang dimuliakan.”

Dan juga hadits riwayat al-Bukhori:

السنة اثنا عشر شهرا منها أربعة حرم ثلاثة متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان

“Satu tahun terdapat 12 bulan, 4 dari 12 bulan itu dimuliakan oleh Alloh, 3 bulan mulia yang berurutan yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram serta Rojab Mudhor yakni bulan yang berada diantara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhori: 2958)

Sedangkan penamaan bulan ini dengan nama “Bulan Muharram,” dikarenakan dalam bulan ini Alloh mengharamkan peperangan, selain itu juga sebagai pengukuhan bahwa bulan ini benar-benar dimuliakan.

Ibn Rojab al-Hambali dalam kitabnya Lathoiful Maarif menuturkan:

وقد سمى النبي صلى الله عليه وسلم المحرم شهر الله، وإضافته إلى الله تدل على شرفه وفضله، فإن الله تعالى لا يضيف إليه إلا خواص مخلوقاته، كما نسب محمدا وإبراهيم وإسحاق ويعقوب وغيرهم من الأنبياء إلى عبوديته، ونسب إليه بيته وناقته، ولما كان هذا الشهر مختصا بإضافته إلى الله تعالى، وكان الصيام من بين الأعمال مضافا إلى الله تعالى، ناسب أن يختص هذا الشهر المضاف إلى الله، بالعمل المضاف إليه المختص به وهو الصيام

“Nabi SAW menamakan Bulan Muharram sebagai Syahrulloh (bulan millik Alloh), penyandaran bulan kepada Alloh merupakan sebuah indikasi kemuliaan dan keutamaan bulan ini. Karena Allah SWT tidak akan menisbatkan nama-Nya kecuali kepada makhluk-makhluk-Nya yang spesial, sebagaimana penyandaran nama Alloh pada Muhammad, Habibulloh dan Ibrohim Kholilulloh sholawatullohi alaihima wasallam.

Dan karena Bulan Muharram menjadi spesial dengan adanya penyandaran nama Alloh, sementara puasa termasuk salah satu ibadah yang spesial karena disandarkan kepada Alloh (hal ini sesuai dalam hadits yang menjelaskan: Puasa itu milikKu,) maka tentunya amaliyah yang dianjurkan saat muharram adalah berpuasa karena kesamaan Muharram dan puasa dalam hal adanya penyandaran nama Alloh.”

Hasan al-Bashri (Baca: Biografi Hasan al-Bashri dan kata-kata hikmah) juga menjelaskan:

إن الله افتتح السنة بشهر حرام واختتمها بشهر حرام، فليس شهر في السنة بعد شهر رمضان أعظم عند الله من المحرم، وكان يسمى الله: (شهر الله الأصم) من شده تحريمه”.

“Sesungguhnya Alloh SWT mengawali tahun dengan bulan yang dimuliakan dan mengakhirinya dengan bulan yang dimuliakan. Dan dalam setahun tidak ada bulan setelah Romadhon yang lebih agung bagi Alloh, melebihi keagungan Bulan Muharram. Dan Alloh juga menamakan bulan ini dengan “Bulan Tuli milik Alloh” karena sangat mulianya bulan ini.”

Penamaan Muharram dengan Bulan Tuli dikarenakan dalam bulan ini tidak terdengar suara peperangan bahkan suara senjata ataupun alat-alat perang.

Konsekuensi dari Keutamaan Bulan Muharram

  1. Diberatkannya dosa kemaksiatan dalam Muharram

Ulama sepakat dan menuturkan: Pada dasarnya semua kedholiman diharamkan di semua bulan, hanya saja melakukan kedholiman di bulan-bulan mulia lebih diberatkan dosanya sebagaimana melakukan amal shalih di dalamnya akan dilipat gandakan pahalanya melebihi bulan-bulan yang lain.

Hal ini sebagaimana penafsiran Ibn Abbas RA pada ayat:

فلا تظلموا فيهن أنفسكم

“Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian di semua bulan yang 12, terutama 4 bulan yang dimuliakan. Karena dosa-dosa di 4 bulan mulia akan diberatkan sebagaimana amal sholih akan dilipatkan pahalanya.”

  1. Diharamkannya memulai perang

Dalam hal ini ada perbedaan antar ulama, berdasarkan ayat yang melarang memulai peperangan di bulan ini sudah dinaskh ataukah tidak.

Hikmah diharamkannya berperang di bulan haram

Hikmah keharaman berperang di bulan haram sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibn Katsir RA dalam tafsirnya adalah:

Keberadaan bulan-bulan haram, 3 berurutan dimulai dari Dzulqo’dah sampai dengan Muharram dan yang satu terpisah yaitu Sya’ban. Karena dalam bulan Dzulqo’dah biasa digunakan oleh orang-orang muslim untuk persiapan melakukan manasik haji dan umroh.

Sedangkan Dzulhijjah karena dalam bulan ini orang-orang islam sibuk melakukan manasik haji.

Adapun Muharram, di bulan ini biasanya orang-orang yang telah menyelesaikan hajinya kembali pulang. Dengan adanya genjatan senjata diharapkan para jamaah haji yang pulang ke negerinya masing-masing bisa pulang dalam keadaan aman dalam perjalanannya.

Dan diharamkannya Bulan Rojab yang berada di pertengahan tahun, agar muslimin yang berada di ujung Jazirah Arab bisa berkunjung meramaikan Baitulloh serta melakukan ibadah umroh dengan aman.

Amalan yang dianjurkan di Bulan Muharram

Dalam muharram dianjurkan untuk mengisinya dengan puasa sunnah. Hal ini selain alasan yang telah dijelaskan Ibn Rojab al-Hambali di atas terkait berpuasa di Bulan Muharram, banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya berpuasa di bulan Muharram disunnahkan serta memiliki fadhilah yang agung.

Al-Hafidz Ibn Hajar menuturkan:

ذكر الحافظ ابن حجر رحمه الله تعالى: أنه روي عن حفصة رضي الله تعالى عنها عن النبي صلى الله تعالى عليه وسلم أنه قال: من صام آخر يوم من ذي الحجة وأوّل يوم من المحرّم جعله الله تعالى له كفارة خمسين سنة، وصوم يوم من المحرم بصوم ثلاثين يومًا.

“Diriwayatkan dari Sayyidah Chafshoh RA bahwa Nabi SAW bersabda: Barang siapa berpuasa di akhir Bulan Dzulhijjah dan di awal Bulan Muharram niscaya Alloh menjadikan pahalanya sebagai pelebur dosa 50 tahun, dan puasa sehari dalam Bulan Muharram sebanding dengan puasa 30 hari.”

Doa akhir tahun & awal tahun

Bulan Muharram merupakan bulan pertama di penanggalan hijriah, karenanya Hasan al-Bashri RA menuturkan bahwa Alloh mengawali tahun dengan bulan yang haram serta mengakhirinya dengan bulan haram.

Sudah maklum bahwa doa adalah inti ibadah, dalam hal ini Alloh juga memerintahkan Umat Islam untuk melakukan doa sebagaimana firman-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ

الغافر 60

“Tuhanmu menyerukan: Berdoalah kalian semua kepada-Ku niscaya aku akan mengabulkannya.”

Karenanya, sudah sepantasnya saat kita melepas ahir tahun dan mengawali tahun baru dengan membaca dzikir serta doa-doa.

Berikut ini adalah doa akhir tahun yang dibaca selepas ashar sampai dengan menjelang terbenamnya matahari pada akhir Bulan Dzulhijjah, dengan cara dibaca 3x disertai mengharap agar dosa-dosa selama 1 tahun yang telah lewat baik yang disengaja atau tidak, akan diampuni oleh Alloh SWT. Namun dalam hal ini tentunya harus disertai melakukan tobat.

Doa ahir tahun dibaca menjelang bulan muharram
Sumber: rizamkusfandi.web.id
Doa Ahir tahun latin
Sumber: rizamkusfandi.web.id
Arti doa akhir tahun

Setelah membaca doa akhir tahun, setelah maghrib saat permulaan 1 Muharram hendaknya membaca doa awal tahun dengan cara dibaca 3 kali dan berharap agar dilindungi dari syetan dan lebih dimudahkan untuk melakukan amaliyah yang dapat mendekatkan pada keridhoan Alloh SWT.

Berikut ini bacaannya:

Doa awal tahun, arab
Doa awal tahun latin
Arti doa awal tahun

Jika sempat dan memungkinkan ada baiknya mengamalkan apa yang biasa dilakukan al-Arif Billah Sayyid Zaini Dahlan sebagaimana dikutip dalam kitab Kanzun Najah was Surur, yaitu sebelum membaca doa awal tahun, terlebih dulu membaca Ayat Kursi sebanyak 360x (Tigaratus enampuluh) disertai basmalah ditiap-tiap permulaan ayat kursi, kemudian membaca doa awal tahun 3x.

Setelah selesai membaca Ayat Kursi 360x dan doa awal tahun 3x lalu membaca doa berikut:

اللّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ الأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِيْ إِلَى أَحْسَنِ الأَحْوَالِ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا مُتَعَال، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم

“Allohumma Ya Muhawwilal ahwal, hawwil haali ilaa ahsanil ahwaal bihaulika wa quwwatika ya Aziz ya Muta’al. Washollallohu ala sayyidina Muhammadin wa alaa alihi washohbihi wasallam.”

“Ya Alloh, wahai yang Maha Merubah Keadaan rubahlah keadaan hamba menjadi keadaan yang paling baik, dengan daya dan kekuatan-Mu, wahai yang Maha Agung dan Maha Luhur.”

Hari Asyura dan amaliyahnya

Ada perbedaan pendapat antara Sayidina Ibn Abbas dan sebagian ulama yang lain yang menyatakan Hari Asyura bertepatan pada hari ke-9 Muharram dan sahabat yang lain RA menyatakan Hari Asyura pada hari ke-10 Muharram. Namun yang masyhur adalah Asyura tepat di hari ke-10 Muharram.

Puasa Hari Asyura

Hari Asyura merupakan hari yang diagungkan sejak sebelum diutusnya Nabi SAW. Nabi Musa AS berpuasa di hari ini karena keutamaan Asyura. Begitu juga orang-orang yahudi.

Bahkan orang Quraisy di zaman jahiliyah pun melakukan puasa di hari ini. Dalam hal ini Ikrimah pernah ditanya oleh Dalham bin Sholih sebagaimana yang dituturkan oleh Ibn Nashiruddin ad-Dimasqi as-Syafi’i:

وقد جاء ذكر السبب في صيام أهل الجاهلية يوم عاشوراء
فيما روى عن دلهم بن صالح قال : قلت لعكرمة : عاشوراء ما أمره ؟ قال : أذنبت قريش في الجاهلية ذنباً فتعاظم في صدورهم ، فسألوا ما توبتهم ؟ قيل : صوم عاشوراء

“Sebab orang jahiliyah berpuasa di Hari Asyura disinggung dalam riwayat Dalham bin Sholih, aku bertanya pada Ikrimah: Apa yang terjadi di Hari Asyura sehingga orang jahiliyah melaksanakan puasa? Ikrimah RA menjawab: Di masa jahiliyah orang-orang Quraisy melakukan dosa, sehingga hati mereka merasa terbebani rasa bersalah. Kemudian mereka bertanya pada pemuka-pemuka mereka cara bertobat dari dosa itu, kemudan dijawablah bahwa tobatnya adalah berpuasa di Hari Asyura.”

Puasa Asyura termasuk puasa sunnah yang memiliki keutamaan dibanding puasa di hari-hari lain. Namun jika dibandingkan dengan puasa arafah banyak ulama yang lebih mengutamakan puasa arafah. Hal ini dikarenakan puasa arafah melebur dosa 2 tahun, satu tahun yang telah lewat dan satu tahun yang akan dilalui. Sedangkan puasa asyura melebur dosa satu tahun yang telah dilalui.

Imam Nawawi dalam Majmuknya menyatakan:

قُلْتُ وَفِي مَعْنَى هَذِهِ الْأَحَادِيثِ تَأْوِيلَان .. وَكَذَا صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ وَيَوْمُ عَاشُورَاءَ كَفَّارَةُ سَنَةٍ

“Begitu halnya dengan ibadah-ibadah yang telah disebut, puasa asyura melebur dosa setahun dan puasa arafah melebur dosa dua tahun.”

Selain berpuasa di hari asyura, sunnah juga berpuasa di hari setelahnya dan sebelumnya (tasu’a)

Karena dengan berpuasa hari tasu’a dan asyura diharapkan bisa mendapatkan beberapa keuntungan, diantaranya:

  1. Mendapat kesunnatan menghindari khilaf antara ulama, karena sebagian ulama seperti Ibn Abbas dan Dhohhak bin Muzahim menyatakan bahwa asyura jatuh ditanggal 9 Muharram.
  2. Agar tidak menyamai orang yahudi, karna mereka hanya berpuasa di hari asyura saja. Dalam hal ini Nabi SAW sempat menyinggung agar melakukan puasa tidak hanya di tanggal 10 Muharram. Namun juga disertai puasa tanggal 9 atau 11.

وروى الإمام أحمد أيضاً في مسنده قال ثنا عبدالرزاق ومحمد بن بكر قالا أنا ابن جريج قال وأخبرني يعني عطاء أنه سمع ابن عباس رضي الله تعالى عنهما يقول في يوم عاشوراء : خالفوا اليهود صوموا التاسع والعاشر .

“Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas RA berkata: Janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi, berpuasalah di hari ke 9 dan ke 10 Muharram.”

Tata cara puasa asyura dan tasu’a

Puasa tasu’a dan asyura memiliki syarat, rukun dan hal-hal yang membatalkan yang sama sebagaimana puasa romadhon. Hanya saja dalam puasa tasu’a dan asyura tidak disyaratkan harus melakukan niat di malam hari sebagaimana kewajiban niat dalam puasa romadhon.

Bacaan niat puasa tasu’a:

نويتُ صوم يوم تاسوعاءَ لله تعالى

“Nawaitu shouma yaumi tasu’aa’a lillahi ta’ala”

Artinya: Saya niat puasa hari tasu’a karena Alloh ta’ala.”

Bacaan niat puasa asyura:

نويتً صومَ يوم عاشوراءَ لله تعالى

“Nawaitu shouma yaumi asyuro’a lillahi taala.”

Artinya: Saya niat puasa di hari asyura karena Alloh ta’ala.”

Binatang yang berpuasa hari asyura

Uniknya, selain manusia, binatang-binatang juga melakukan puasa asyura, diantara adalah:

  1. Burung Shrike
Binatang yang berpuasa hari asyura
Burung Shrike atau الصرد berpuasa asyura: Pixabay

Burung karnivora ini meskipun sadis saat menyantap makanannya tapi ia termasuk salah satu binatang yang saat asyura berpuasa. hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Abi Hurairah RA:

وجاءت الرواية بصيام الطير والوحش يوم عاشوراء من ذلك ما يروى عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه مرفوعاً أن الصرد أول طير صام يوم عاشوراء .

“Terdapat riwayat yang menyatakan bahwa burung-burung dan binatang liar juga berpuasa asyura, diantaranya adalah yang diriwayatkan secara marfu’ dari Abi Hurairah RA, bahwasanya Burung Shrike adalah burung pertama yang berpuasa di hari asyura.

  1. Semut

وروي عن فتح بن شخرف رحمة الله تعالى عليه قال : كنت أفت للنمل الخبز كل يوم ، فلما كان يوم عاشوراء لم يأكلوه .

“Diriwayatkan dari Fath bin Syakhruf RA, beliau berkata: Setiap hari aku memberi roti pada semut-semut dan mereka selalu memakannya, akan tetapi saat hari asyura tiba mereka tidak mau memakannya.”

وذكر أبو الحسن علي بن عمر بن محمد القزويني الزاهد رحمة الله تعالى أن يوم عاشوراء تصومه النمل .

“Abul Hasan, Ali bin Umar bin Muhammad az-Zahid RA menuturkan bahwa di hari asyura semut-semut melakukan puasa.”

Selain semut, binatang-binatang liar yang lain juga berpuasa di hari asyura.

وقال أحمد بن سنان ثنا عبدالرحمن بن مهدي عن عبيدالله بن النضر عن ابنه عن قيس بن عباد قال : بلغني أن الوحش كانت تصوم يوم عاشوراء . تابعه محمد بن بشار عن ابن مهدي

“Dari Qois bin Abbad, beliau berkata: Telah sampai kepadaku bahwa di hari asyura binatang-binatang liar berpuasa.”

وروي أن رجلاً أتى البادية في يوم عاشوراء فرأى قوماً يذبحون ذبائح فسألهم عن ذلك فأخبروه أن الوحوش صائمة ، وقالوا : اذهب بنا نرك فذهبوا به إلى روضة فأوقفوه ، قال : فلما كان بعد العصر جاءت الوحوش من كل وجه فأحاطت بالروضة رافعة رؤسها ليس شيء منها يأكل حتى إذا غابت الشمس أسرعت جميعها فأكلت . رواها أبو موسى المديني

“Diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang mendatangi hutan di hari asyura, setibanya di hutan, dia melihat orang-orang menyembelih banyak sekali binatang buruan.

Diapun menanyakan perihal ini, kemudian orang-orang itu menceritakan bahwa di hari ini binatang-binatang berpuasa. Di saat seperti ini tentu lebih mudah menangkap binatang buruan.

Untuk meyakinkan lelaki ini, mereka pun berkata: Ikutlah kami, akan kami tunjukkan.

Akhirnya, pergilah mereka ke padang rumput sambil mencari tempat bersembunyi agar tidak mengejutkan binatang-binatang yang di sana.

Kemudian setelah ashar semakin banyak binatang berdatangan dari segala penjuru, sampai-sampai padang rumput itu penuh. Uniknya tak satu pun binatang di sana memakan rerumputan yang berada tepat di hadapannya. Hingga saat matahari terbenam mereka semua segera memakan rerumputan itu.”

Dalil keutamaan puasa hari asyura

قال جابر بن سمرة رضي الله تعالى عنه : كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يأمرنا بصيام يوم عاشوراء ويحثنا عليه ويتعاهدنا عنده . الحديث .

“Jabir bin Samuroh RA berkata: Rosululloh SAW menyuruh kami untuk berpuasa di Hari Asyura, dan beliau mendorong kami untuk melakukannya.”

وقال عبدالله بن وهب أخبرني ابن لهيعة عن يزيد بن أبي حبيب عن عمرو بن الوليد بن عبده عن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله تعالى عنهما قال : من صام يوم الزينة يعني يوم عاشوراء أدرك ما فاته من صيام السنة ، ومن تصدق يومئذ أدرك ما فاته من صدقة السنة .

“Dari Amr bin Ash: Barang siapa berpuasa di Hari Berhias, yakni Hari Asyura niscaya dia telah mengganti puasa-puasa yang ditinggalkan dari puasa tahun sebelumnya, begitu juga barang siapa bersedekah di hari itu maka dia telah mendapati sedekah yang tertinggal di masa satu tahun.”

وثبت عن عائشة رضي الله تعالى عنها قالت : كان يوم عاشوراء يوم تصومه قريش في الجاهلية وكان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يصومه في الجاهلية فلما قدم رسول الله – صلى الله عليه وسلم – المدينة صامه وأمر الناس بصيامه ، فلما فرض رمضان كان هو الفريضة وترك عاشوراء ، فمن شاء صامه ومن شاء تركه . رواه البخاري ومسلم وأبو داود والترمذي والنسائي .

“Dari Aisyah RA: Dulu di zaman jahiliyah orang-orang quraisy berpuasa asyura, begitu juga Rosululloh SAW.

Kemudian setelah Nabi datang di Madinah, Nabi melakukan puasa asyura dan memerintahkan orang-orang muslim untuk berpuasa.

Lalu saat puasa romadhon diwajibkan beliau mewajibkan puasa romadhon dan meninggalkan mewajibkan puasa asyura serta bersabda: Siapa yang hendak berpuasa asyura maka puasalah, dan siapa yang hendak meninggalkan maka tinggalkan.” (HR Bukhori, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i RA)

وقال هشام بن عمار ثنا شعيب بن إسحاق عن سعيد بن أبي عروبة عن يحي بن أبي كثير عن عبيدالله بن أبي يزيد سمعت ابن عباس رضي الله تعالى عنهما يقول : ما كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يتحرى صيام يوم إلا عاشوراء ويوم عرفة .

“Ibn Abbas RA berkata: Rosululloh SAW tidak memprioritaskan puasa di hari-hari tertentu kecuali hari asyura dan arafah.”

عن عليلة بنت الكميت الازدية قالت حدثتني أمي عن أمة الله عن رزينة خادمة رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قالت : كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يدعو مراضعه ومراضع فاطمة عليهم السلام يوم عاشوراء فينفث في افواههم ، ويقول : لا تسقوهم شيئاً الى الليل .
وفي هذا أن بعض المراضع في زمن النبوة كانوا لا يرضعون في يوم عاشوراء .

“Dari Razinah, pelayan Rosululloh SAW: Dikala asyura Nabi SAW memanggil anak-anakny dan anak-anak Fathimah RA yang masih menyusu, dan meludahi mulut mereka dan bersabda: Jangan memberi mereka minuman apapun sampai malam.

Dari sini bisa diketahui bahwa di zaman Nabi SAW sebagian balita yang masih menyusu, di hari asyura tidak menyusu ibunya karena sudah dicukupi dengan ludah Rosululloh.”

وقال عبدالله بن الإمام أحمد بن حنبل سمعت أبي يقول : رأيت عبدالرحمن بن مهدي في النوم ، فقلت : ما فعل الله بك ؟ قال : غفر لي وقربني وأدناني ورفع منزلتي ، فقلت : بماذا ؟ قال : بمواظبتي على يوم عاشوراء ويوم قبله ويوم بعده . يعني صيام ذلك .

“Abdulloh bin Ahhmad bin Hambal, aku mendengar ayahku, Ahmad bin Hambal berkata: Aku memimpikan Abdurrohman bin Mahdi, kemudian aku bertanya: Apa yang dilakukan Alloh padamu? Beliau menjawab: Aku diampuni dan didekatkan pada rahmat dan nikmat-Nya serta diberi kedudukan mulia. Aku kembali bertanya: Apa yang membuatmu mendapat semua itu? Abdurrahman bin Mahdi menjawab: Aku selalu berpuasa di hari asyura, hari setelahnya dan hari tasyu’a.”

Menu masakan spesial

Salah satu amaliyah yang biasa dilakukan oleh ulama salaf di hari asyura’ yaitu memberikan nafkah yang lebih istimewa kepada orang-orang yang menjadi beban wajibnya. Maksudnya bagi seorang kepala keluarga dianjurkan pada hari asyura’ ini, menyajikan menu makanan yang spesial,yang lebih enak dan lezat dari hari-hari biasa.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abi Hurairoh RA:

فائدة: عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: إن الله عزوجل افترض على بين إسرائيل صوم يوم في السنة، وهو يوم عاشوراء، – وهو اليوم العاشر من المحرم – فصوموه ووسعوا على عيالكم فيه، فإنه من وسع فيه على عياله وأهله من ماله وسع الله عليه سائر سنته

اعانة الطالبين

“Dari Abi Hurairoh RA, Rosululloh SAW bersabda: Sesungguhnya Alloh mewajibkan atas Bani Israil untuk berpuasa satu hari dalam setahun, yaitu hari asyura – yakni hari ke 10 dari bulan muharram – maka berpuasalah kalian, dan berilah kelonggaran nafkah pada orang yang menjadi tanggungan wajib kalian, karena barangsiapa memberi kelapangan nafkah di hari asyura maka dia akan diberi kelapangan oleh Alloh di tahun itu.”

Bersedekah di hari asyura

Meski membiasakan bersedekah tidak harus pada hari asyura’. Karena membiasakan sedekah memang dianjurkan dan diajarkan Nabi saw. Namun amal apapun jika dilakukan di hari-hari mulia maka akan mendapatkan pahala yang lebih sebagaimana penjelasan sebelumnya.

Selain itu pada hari asyura’ ini ada keistimewaan dan keutamaan tersendiri bagi orang yang mau bersedekah.

Hal ini sebagaimana dalam hadits berikut:

أخبرني ابن لهيعة عن يزيد بن أبي حبيب عن عمرو بن الوليد بن عبده عن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله تعالى عنهما قال : من صام يوم الزينة يعني يوم عاشوراء أدرك ما فاته من صيام السنة ، ومن تصدق يومئذ أدرك ما فاته من صدقة السنة

“Barangsiapa berpuasa di hari berhias yakni hari asyura maka dia mendapati pahala puasa (sunnah) yang tertinggal di tahun itu, begitu juga, barang siapa bersedekah di hari asyura maka dia mendpati pahala sedekah yang tertinggal di tahun itu.”

Refrensi:

إعانة الطالبين, كنز النجاح والسرور, اللفظ المكرم بفضل عاشوراء المحرم لابن ناصر الدين الدمشقي الشافعي

0 Komentar

Trackbacks/Pingbacks

  1. 11 Peristiwa Bersejarah di Hari Asyura | Pondok Pesantren Putri Hikmatun Najiyah - […] Hari asyura adalah hari ke-10 dari bulan muharram, meski ada pula beberapa ulama yang menyatakan hari asyura adalah hari…

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related