Cinta Gadis Nakha Bertobat Dari Pacaran Tidak Sehat

Cinta Gadis Nakha Bertobat Dari Pacaran Tidak Sehat

Cinta Gadis Nakha Bertobat Dari Pacaran Tidak Sehat – Konon, di Kota Kufah hidup seorang pemuda tampan yang sangat rajin beribadah. Tak hanya giat beribadah, pemuda ini juga termasuk salah satu sufi yang zuhud.

Kisah cinta di pandangan pertama

Kisah cinta berawal ketika pemuda sufi berkunjung ke salah satu temannya dari kabilah Nakha (Qobilah kuno di Yaman), dalam kunjungannya ia melihat gadis Nakha yang teramat cantik.

Tanpa disadari keduanya saling memandang, di pandangan pertama ia langsung terpesona kecantikan gadis itu, sehingga hatinya langsung terjerat dalam cinta. Gayung bersambut, gadis dari Nakha juga terpikat ketampanan si pemuda sufi, ia juga terjerat asmara di pandangan pertama.

Tak mampu menahan derita cinta yang mengusik dada, pemuda sufi yang sangat memahami tata cara pernikahan secara islami, segera mengutus seseorang untuk melamar gadis itu melalui ayahnya.

Namun siapa sangka, ternyata ayahnya menolak pemuda sempurna itu. Bukan karena harta atau masa depan dunianya yang kemungkinan suram. Akan tetapi karena anak gadisnya telah dijodohkan dengan sepupunya.

Kejadian ini telah memupuskan harapan mereka untuk segera mengusir kerinduan yang mengusik ketenangan jiwa. Memang derita cinta seakan tiada akhir, namun pemuda sufi yang telah dibekali ilmu dan amal sholeh tetap melanjutkan rutinitas hariannya untuk bermunajat pada Rabbnya. Walaupun terkadang bayangan gadis itu seakan selalu menari menghantui di kala ia bermunajat dan berserah diri.

Lain halnya dengan gadis Nakha, dekapan cinta yang ia rasakan terlalu kuat, membuatnya seakan sesak dan tak mampu untuk lepas. Mungkin karena kurangnya bekal ilmiah dan amaliyah, atau mungkin karena kalbu yang telah gersang, sehingga benih-benih iman seakan-akan hilang. Gadis itu akhirnya memberanikan diri untuk mengirim utusan agar mengirimkan pesan pada si tampan berakhlak sufi.

قد بلغني شدة محبتك لي وقد اشتد بلائي بك لذلك مع وجدي بك فإن شئت زرتك وإن شئت سهلت لك أن تأتيني إلى منزلي.

“Aku mengerti akan besarnya cintamu kepadaku. Begitupun aku. bencana ini, kehilanganmu terasa berat buatku. Karenanya, demi besarnya rasa cintaku, jika kau berkenan, ijinkan aku menemuimu di rumahmu, atau dengan senang hati aku persilahkan kau menemuiku di rumahku.”

Setelah utusan gadis Nakha menyampaikan pesan itu pada si pemuda sufi. Dia menjawab tanpa berpikir panjang, dan menyuruh utusan tersebut untuk menyampaikan bahwa ia tidak setuju dengan dua pilihan yang disampaikan. Pasalnya, ia takut kepada Allah SWT jika sampai memadu kasih dan berkholwat bersama wanita yang bukan wanita halal dan bukan pula mahram.

Pemuda itu juga bilang: “Sampaikan pada dia yang ku cinta, aku juga takut akan neraka yang kobaran apinya tak pernah mereda dengan bara api yang tak pernah padam.” Lalu ia membaca ayat:

Cinta Gadis Nakha Bertobat Dari Pacaran Tidak Sehat
Quran Surat Az-Zumar Ayat 13

Bertobat dari pacaran tidak sehat

Baca: cerita tentang taubatnya tetangga Imam Ahmad bin Hambal RA

Setelah mendapat jawaban dari pemuda itu, utusan gadis Nakha langsung undur diri untuk segera menyampaikan jawaban. Kemudian, setelah gadis itu mendengar perkataan utusannya, ia bergumam: “Aku yakin pemuda idamanku berakhlak mulia, zuhud serta sangat takut kepada Allah SWT. Demi Alloh, tiada yang lebih berhak atas pemuda ini kecuali wanita yang benar-benar sholihah, karena sesungguhnya hamba-hamba Alloh yang taat akan dipertemukan.”

Gadis Nakha akhirnya bertekat untuk meninggalkan segala urusan duniawinya, dan segala yang berhubungan dengan dunia. Ia memakai pakaian layaknya pakaian ahli sufi dan menjalani hari-harinya dengan ibadah selayaknya kaum sufi.

Namun jerat perangkap cinta terlanjur menguat. Gadis itu, bathinnya terus bergejolak tak pernah mati atau mereda, layaknya kanker ganas yang telah tumbuh menyebar. Bisa mereda, namun kembali aktif menyerang dalam waktu dekat.

Derita cintanya terlalu menyiksa. Namun ia tetap menanggung bebannya dengan selalu bermunajat dan beribadah, tanpa sekalipun terlintas dipikirannya untuk sesekali berkholwat bersama lelaki idamannya. Gadis Nakha telah sadar, ia hanya menginginkan cintanya diridhoi Rabbnya.

Terlalu lama dengan jerat cinta dan beban rindu yang menyiksa, gadis itu akhirnya meninggal dengan mewariskan cerita cinta, kasih tak sampai.

Happy Ending Not Sad Ending

Kabar kematian gadis Nakha akhirnya terdengar pemuda sufi, lantas ia berziarah ke makamnya. Sepulang dari makam, pemuda sufi pun tidur setelah melakukan rutinitas hariannya.

Dalam tidurnya, ia memimpikan kekasihnya, gadis Nakha yang cantik jelita. Kali ini ia terlihat lebih mempesona, wajahnya lebih cantik dengan busana yang sangat indah.

Dalam mimpi, lelaki itu bertanya pada pujaan hatinya: “Bagaimana keadaanmu setelah perpisahan itu, wahai idamanku?” Gadis itu menjawab:

نعم المحبة يا حبيبي حبكا ۝ حب يقود إلى خير وإحسان

“Cinta yang terindah, wahai kekasihku, adalah mencintaimu, cintamu yang telah membimbingku dalam kebaikan dan ihsan.”

Pemuda sufi kembali bertanya: “Akan kemana kau? Ia kembali menjawab:

إلى نعيم وعيش لا زوال له ۝ في جنة الخلد ملك ليس بالفاني

“Aku akan ke tempat dimana banyak kenikmatan, kehidupan yang abadi, di surga, kerajaan yang tak akan rusak atau hancur.”

Mendengar jawaban gadis Nakha, pemuda sufi kembali berkata: “Ingatlah aku di sana, karena aku tidak melupakanmu.” Ia menimpali: “Begitupun aku, demi Alloh, Aku selalu mengingatmu, dan tak mampu melupakanmu. Aku selalu berdoa agar aku mendapatkanmu, sungguh aku telah meminta Allah, yang menjadi tuhanmu dan tuhanku agar berkenan memberikanmu untukku. Allah telah menolongku dengan kesungguhanku dalam berdoa dan menjaga diri dari cinta yang tidak diridhoi.”

Kemudian gadis itu berpaling dan meninggalkan pemuda itu. Namun pemuda sufi seakan tidak rela berpisah, ia bertanya untuk terakhir kalinya: “Kapan aku bisa melihatmu lagi?” “Dalam waktu dekat, kau akan bersamaku.” Ujar gadis Nakha.

Siapa sangka, mimpi yang dialami pemuda sufi adalah mimpi yang nyata. Seminggu setelahnya, pemuda sufi meninggal.

Sebagai catatan:

Mencintai seseorang adalah hal yang wajar, bukan sesuatu yang diharamkan oleh syariat islam. Bahkan Allah SWT akan memberi ganjaran yang sangat besar jika seseorang yang terfitnah cinta bisa memendamnya dan menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan, seperti berkholwah, berzina dll.

من عشق فعف ثم مات مات شهيدًا

الجامع الصغير

“Barangsiapa mencintai seseorang, lantas ia menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan, kemudian ia meninggal niscaya ia mendapat pahala sebagaimana orang mati syahid.”

Refrensi:

الجامع الصغير, كتاب التوابين لابن قدامة

 

 

 

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related