Hukum Jual Beli Kucing, Memelihara dan Memakannya

Hukum jual beli kucing

Kucing merupakan salah satu dari berbagai macam jenis hewan peliharaan yang sangat populer. Karena dikenal mudah bersahabat dengan manusia, serta tidak diperlukan banyak keahlian untuk bisa merawatnya.

Saat ini terdapat banyak macam kucing dengan berbagai ras yang bisa didapatkan dan dipelihara. Bisnis jual beli kucing, bahkan salon grooming kucing belakangan ini juga semakin ramai peminatnya. Untuk itu, kami rasa sangat perlu untuk menjelaskan hukum memelihara kucing, jual beli dan apapun yang berkaitan.

Hukum Memelihara Kucing

Sebagaimana dijelaskan di atas, kucing merupakan binatang yang dikenal paling mudah bersahabat dengan manusia, serta sering ditemukan berseliweran di rumah-rumah, sementara hukum asal dari binatang yang bersahabat, dan tidak membahayakan orang serta bermanfaat menurut tinjauan syariat boleh dipelihara kecuali jika ada nash yang memang melarang.

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan:

حدثني عبْد الله بْن محمد بْن أسْماء الضبعي, حدثنا جويْرية بْن أسْماء, عنْ نافع, عنْ عبْد الله, أن رسول الله ﷺ قال: عذبت امْرأةٌ في هرة سجنتْها حتى ماتتْ, فدخلتْ فيها النار, لا هي أطْعمتْها وسقتْها, إذْ حبستْها, ولا هي تركتْها تأْكل منْ خشاش الأرْض. 1

“Nabi ﷺ bersabda: Ada seorang wanita yang disiksa Allah sebab mengurung kucing sampai mati, karenanya dia dimasukkan neraka. Wanita itu tidak memberinya makan dan minum saat mengurung kucingnya, dia juga tidak melepaskan kucingnya dari kandang untuk berburu makanan.”
Hadits di atas menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mengingkari perbuatan wanita itu karena mengurung kucing dalam kandang dengan tanpa memberinya makanan. Seandainya memelihara kucing diharamkan tentu Nabi akan mengingkarinya, sementara yang diingkari Nabi dalam hadits tersebut hanya bentuk penyiksaan yang terjadi saat seseorang memasukkan kucing dalam kandang tanpa diberi makan dan minum.

Dalam Faidlul Qodir juga dijelaskan:

الهرة لا تقطع الصلاة لأنها من متاع البيت زاد في رواية للطبراني في الأوسط لن تقذر شيئا ولا تنجسه وفيه جواز اقتناء الهرة مع ما يكون منها من تنجس وإفساد2

“Kucing tidaklah membatalkan sholat karena ia termasuk bagian dari rumah. Dalam riwayat at Thabrani di kitabnya al Ausath terdapat tambahan: Tidak mengotori sesuatu dan menajiskannya. Dengan demikian, hadits ini menunjukkan bahwa memelihara kucing diperbolehkan.”

Hukum Jual Beli Kucing

Dalam jual beli binatang, ulama Madzhab Syafii menyimpulkan bahwa binatang yang suci serta bisa diambil kemanfaatannya secara syari adalah boleh. Sementara hadits yang menjelaskan larangan Nabi untuk mengambil atau memakan uang hasil penjualan kucing, diarahkan pada kucing liar, karena tidak bisa diambil manfaatnya.

والْحيوان الطاهر، ضرْبان: ضرْبٌ ينْتفع به، فيجوز بيْعه، كالنعم، والْخيْل، والْبغال، والْحمير، والظباء، والْغزْلان. ومن الْجوارح، كالصقور، والْبزاة، والْفهْد. ومن الطيْر، كالْحمام، والْعصْفور، والْعقاب. وما ينْتفع بلوْنه كالطاووس، أوْ صوْته كالزرْزور. ومما ينْتفع به، الْقرْد، والْفيل، والْهرة، ودود الْقز .اهـ 3

“Hewan yang suci ada 2 macam: Pertama, binatang yang bisa dimanfaatkan secara tinjauan syari, maka boleh menjualnya, seperti dari binatang ternak, kuda, bighol atau bagal4, keledai, rusa, dan antelop.

Adapun dari jenis binatang buas seperti burung falkon, alap-alap, cheetah.

Dari jenis burung-burung, burung gereja, merpati. Dan burung (atau unggas) yang bisa diambil kemanfaatan dari keindahan warnanya seperti merak, atau bisa dimanfaatkan kicauan suaranya seperti burung jalak.

Termasuk yang bisa dimanfaatkan adalah kera, gajah, kucing, dan ulat sutera.”

Selain boleh menjual kucing, juga diperbolehkan menyewakan kucing.

ويجوز استئجار الجوارح للصيد، “الفهد” و “البازي” واستئجار الهرة لأخذ الفأر. أهـ 5

“Diperbolehkan menyewakan binatang buas untuk digunakan berburu, cheetah, alap-alap, juga boleh menyewakan kucing untuk menangkap tikus.”

Sedangkan hadits yang menjelaskan larangan Nabi untuk menjual kucing, Imam ad Damiri as Syafi’i dalam kitabnya Hayatul Hayawan menjelaskan:

وفي صحيح مسلم ومسند الإمام أحمد وسنن أبي داود أن النبي صلى الله عليه وسلم (( نهى عن بيع السنور )) (( ٢ )) . فقيل: محمول على الوحشي الذي لا نفع فيه. .. وأجاب الجمهور عن الحديث، بأنه محمول على ما ذكرناه، وهذا هو المعتمد.6

“Dan dalam Shahih Muslim, Musnad Imam Ahmad, Sunan Abi Daud yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ melarang menjual kucing, maka ada yang berpendapat bahwa hal ini arahnya pada kucing liar yang tidak bermanfaat ….. Dan mayoritas ulama menjawab bahwa hadits tersebut arahnya pada penjelasan yang telah lalu (kucing liar yang tidak bisa dimanfaatkan), pendapat ini adalah yang bisa dijadikan pedoman.”

Bulu Kucing Rontok, Najis atau Suci?

Meski kucing bukanlah binatang yang najis, namun apapun yang terpisah dari tubuhnya disaat masih hidup maupun setelah mati adalah najis. Karena kucing termasuk binatang yang tidak halal dimakan sehingga saat mati dihukumi sebagaimana bangkai, dan organ dari bangkai (selain bangkai manusia, belalang, ikan, anjing dan babi) tidak ada yang bisa dimanfaatkan atau disucikan kecuali kulitnya.

Hal ini sebagaimana penjelasan Khatib as Syirbini RA dalam kitab Mughnil Muhtaj:

وَالْجُزْءُ الْمُنْفَصِلُ مِنْ الْحَيَوَانِ (الْحَيِّ) وَمَشِيمَتِهِ (كَمَيْتَتِهِ) أَيْ ذَلِكَ الْحَيِّ: إنْ طَاهِرًا فَطَاهِرٌ، وَإِنْ نَجِسًا فَنَجِسٌ، لِخَبَرِ مَا قُطِعَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيْتَةٌ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، فَالْمُنْفَصِلُ مِنْ الْآدَمِيِّ أَوْ السَّمَكِ أَوْ الْجَرَادِ طَاهِرٌ، وَمِنْ غَيْرِهَا نَجِسٌ، وَسَوَاءٌ فِي الْمَشِيمَةِ وَهِيَ غِلَافُ الْوَلَدِ، مَشِيمَةُ الْآدَمِيِّ وَغَيْرِهِ. أَمَّا الْمُنْفَصِلُ مِنْهُ بَعْدَ مَوْتِهِ فَحُكْمُهُ حُكْمُ مَيْتَتِهِ بِلَا شَكٍّ (إلَّا شَعْرَ) أَوْ صُوفَ أَوْ رِيشَ أَوْ وَبَرَ (الْمَأْكُولِ فَطَاهِرٌ) بِالْإِجْمَاعِ، وَلَوْ نُتِفَ مِنْهَا أَوْ اُنْتُتِفَ.

قَالَ تَعَالَى { وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ } [النحل: ٨٠] ، وَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى مَا إذَا أُخِذَ بَعْدَ التَّذْكِيَةِ أَوْ فِي الْحَيَاةِ كَمَا هُوَ الْمَعْهُودُ وَذَلِكَ مُخَصِّصٌ لِلْخَبَرِ السَّابِقِ. أَمَّا الْمُنْفَصِلُ مِنْ غَيْرِ الْمَأْكُولِ كَالْحِمَارِ الْأَهْلِيِّ فَنَجِسٌ 7

“Bagian yang terpisah dari binatang yang hidup, dan ari-arinya dihukumi sebagaimana bangkai binatang tersebut; Jika dalam keadaan bangkai dianggap suci maka bagian-bagian tubuh yang terpotong juga suci, jika najis, najis. Hal ini mengecualikan rambut dan bulu-bulu halus dari binatang yang halal dimakan.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan al Hakim: Bagian tubuh yang terpotong dari binatang yang masih hidup, itu sebagaimana bangkainya.

Dengan demikian, organ tubuh yang terpisah termasuk plasenta atauari-ari dari manusia, ikan, dan belalang adalah suci. Selain itu najis.

Sedangkan bagian tubuh yang terpisah setelah kematian binatang maka hukumnya sebagaimana bangkainya. hal ini tidak diragukan lagi.

Adapun ayat:

وَمِنْ اَصْوَافِهَا وَاَوْبَارِهَا وَاَشْعَارِهَآ اَثَاثًا وَّمَتَاعًا اِلٰى حِيْنٍ :النحل : ۸۰

dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu-bulu domba, bulu-bulu unta, dan bulu kambing, perabotan rumah tangga dan kesenangan (untuk kalian gunakan) sampai waktu (tertentu).” (QS. An-Nahl: 80)

Maka diarahkan pada bulu-bulu yang dipotong setelah disembelih atau dalam keadaan hidup. Jadi ayat tersebut mentahsis hadits sebelumnya.

Kesimpulannya: Bulu kucing yang rontok, atau sengaja dipotong hukumnya najis. Dengan demikian hukum bulu kucing yang menempel pada pakaian ketika sholat bisa membatalkan.

Namun, Syekh Ibrahim al Bajuri dalam Syarah Fathul Qorib menjelaskan bahwa:

Ada toleransi bagi orang yang kesehariannya tidak bisa menghindari banyak atau sedikitnya rontokan bulu-bulu binatang, sebagaimana orang-orang yang berprofesi sebagai pencukur bulu binatang, termasuk groomer kucing.8

Hukum Air Liur Kucing

Hukum Jual Beli Kucing, Memelihara dan Memakannya
Hukum liur kucing: Pexels

Berbeda dengan bulu dan organ tubuh yang lain, keringat dan air liur kucing dihukumi suci, karena semua hewan yang suci maka liurnya juga suci kecuali jika mulutnya terkena najis, seperti telah memakan tikus atau bangkai. Dengan demikian kita bisa memanfaatkan air yang kurang dari 2 kulah yang telah dijilat kucing untuk bersuci atau wudhu. Bahkan kita bisa meminum secangkir kopi atau teh yang telah dijilatnya.

Namun, Syekh Zakariya al Anshori mengingatkan bahwa keringat kucing yang terkena bulu-bulunya yang rontok adalah mutanajis dan harus dihindari.

أو عرق سنور بري كما سمعته من ثقات من أهل الخبرة بهذا لكنه يغلب اختلاطه بما يتساقط من شعره فليحترز عما وجد فيه فإن الأصح منع أكل السنور البري9

“Atau keringat kucing darat sebagaimana yang saya dengar dari para pakar terpercaya, hanya saja umumnya keringat kucing tercampur dengan bulu yang telah rontok, maka hendaknya yang demikian dihindari. Karena menurut pendapat yang paling shahih hukum memakan kucing adalah haram.”

Refrensi dan catatan kaki:

  1. أخرجه البخاري (٣٤٨٢) ، (ص ٦٧٠) ، ومسلم (٢٢٤٢) ، (٤/ ١٤٠٤)
  2. فيض القدير
  3. روضة الطالبين وعمدة المفتين
  4. Bagal: Binatang mandul hasil perkawinan silang antara keledai jantan dan kuda betina.
  5. التهذيب في فقه الإمام الشافعي
  6. حياة الحيوان الكبرى
  7. مغنى المحتاج
  8. Lihat al Bajuri ala Ibni Qosim al Ghozi, Juz 2, Hal 290
  9. أسنى المطالب