Ikan Sengketa! Hukum Memancing Ikan yang Didapatkan Orang Lain

Ikan Sengketa! Hukum Memancing Ikan yang Didapatkan Orang Lain

Memancing ikan termasuk salah satu mata pencaharian yang sudah eksis sejak lama, dari zaman purba hingga sekarang.

Selain bisa mendapatkan hasil tangkapan yang bisa digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari memancing terbukti bisa melatih kesabaran dan feeling yang kuat.

Hal ini membuat memancing ikan menjadi sebuah hobi yang memiliki banyak penggemar. Karenanya tak sedikit yang membuat bisnis kolam pancing, atau rekreasi kolam pancing.

Banyak suka-duka dan kejadian-kejadian unik saat memancing, salah satunya yang terjadi pada salah satu kasus yang sempat terjadi pada dua sahabat ini. Sehingga memicu sebuah masalah yang harus diputuskan dari perspektif fikih.

Hukum memancing ikan hasil tangkapan orang lain, milik siapa?

Pertanyaan nyata..
Si Kono’an dan Si Kunu’an adalah sahabat sedari kecil, mereka punya kegemaran yg sama, yaitu memancing 🐠🐋🐟 di Kolam.

Suatu ketika keduanya janjian memancing di kali Gunung sari.

Bejonya Si Kono’an umpannya di saut Ikan Gurami. Karna fisiknya yg kalah kuat dg ikan tersebut, akhirnya ikan itu terlepas bersama dg pancingnya.

Selang beberapa detik pancing si Kunu’an tersangkut sesuatu, setelah di tarik, alhasil… Tersangkutlah pancing dan ikan yg tadinya terpancing oleh Si Kono’an. Dan keduanya pun berselisih.

Keduanya merasa lebih berhak atas ikan tersebut.
Dalam pandangan fiqih, siapakah yg berhak atas ikan tersebut…??

Jawaban:

Milik si kono’an (pemancing pertama), karena ikan yang terkait pada kailnya si kono’an terjadi setelah adanya kesengajaan kono’an melempar atau melesatkan alat pancingnya.

Hal ini sebagaimana ketika seseorang sengaja memasang jebakan atau jaring ikan maka sewaktu-waktu ikan terperangkap, ikan tersebut menjadi miliknya, tidak boleh diambil orang lain.

Bahkan seandainya ikan ini terlepas dan diambil orang lain dia harus mengembalikan, karena status ikan tersebut sudah bertuan.

فصل
قال: ” ومن أحرز صيدا فأفلت منه … إلى آخره ” (١).
١١٥٧٨ – هذا الفصل مشتمل على ما يملك به الصيد، والأصل فيه أنه إذا امتنع على الصيد ما به امتناعه عن التطلق والإفلات بسبب يقصد مثله عرفا، فيصير الصيد ملكا للصائد، فلو نصب شبكة قصدا، فتعقل بها صيد، ملكه، ولو رمى صيدا، فأزمنه، ملكه، ومبنى الملك في المباحات على صورة اليد، ……….
.
ولو سقى الرجل أرضا له، أو وقع الماء على أرضه من غير قصده، فتخطى فيها صيد وتوحل، وصار مقدورا عليه، فالذي رأيته للأصحاب أن صاحب الأرض لا يصير مالكا بما جرى له؛ لأن مثل هذا ليس مما يقصد به الاصطياد، والقصود مرعية في أمثال هذه التملكات. وذكر الصيدلاني وجهين: أحدهما – ما ذكرناه وهو الذي اختاره وصححه، والثاني – أن مالك الأرض يملك الصيد، كما لو نصب شبكة أو رمى صيدا، فأثبته.

نهاية المطلب في دراية المذهب

“Fasal ini mencakup atas kepemilikan buruan. Pokok dari masalah ini adalah, jika buruan ditangkap atau tertangkap dengan sesuatu yang umumnya sengaja dijadikan sebuah alat untuk menangkap binatang sehingga menyebabkan binatang buruan tidak bisa kabur maka buruan menjadi milik pemasang perangkap.

Maka, seandainya ada orang sengaja memasang jaring untuk menjebak buruan dan berhasil menjerat binatang buruan maka pemasang jaring memiliki hasil buruannya.

Pun, jika ada seseorang yang menembak atau memanah binatang buruan dan berhasil melumpuhkannya maka penembak menjadi pemiliknya.

Yang mendasari sebuah kepemilikan atas binatang-binatang mubah dan tidak bertuan adalah terjadinya penguasaan atas binatang-binatang tersebut.

(Lain halnya jika tidak ada kesengajaan memasang perangkap)sebagai contoh, seandainya ada orang menyirami, tanah yang dimilikinya atau tanahnya teraliri banjir sehingga tergenangi air.

Kemudian dalam genangan air itu terdapat ikan-ikan yang terperangkap maka pemilik tanah belum dinyatakan sebagai pemilik ikan. Hal ini dikarenakan genangan air yang berhasil menjebak beberapa ikan tidak dimaksudkan untuk menangkap atau menjebak ikan-ikan.

والله أعلم بالصواب

Pertanyaan ini ditanyakan di group WA pemuda Nderesmo “Fathul Wahhab Musyawarah”

Mujawwib:

احمد وحيد اوانه، Mas Agil Basyaiban, Abyku Jogokali, Albar_basy, Langit

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related