i’tikaf, Syarat & Tata Cara serta Adabiahnya ala Madzhab Syafi’i

I'tikaf, Syarat & Tata Cara serta Adabiahnya ala Madzhab Syafi'i

I’tikaf secara bahasa adalah diam disertai menetap. Sedangkan I’tikaf secara istilah fikih adalah menetap di masjid dengan niat yang telah ditentukan.

Dalil disyariatkannya I’tikaf

Dalil dianjurkannya I’tikaf adalah berdasar ayat dari Al Baqoroh 187

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Janganlah kalian berhubungan dengan istri kalian, sementara kalian dalam keadaan i’tikaf di masjid”

 

Dan juga hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dan juga Imam muslim dari Aisyah RA, beliau berkata “ Nabi SAW melakukan I’tikaf di malam-malam terakhir bulan romadhon, dan istri-istrinya juga melakukan hal yang sama sepeninggal Nabi SAW.”

عن عائشة رضي الله عنها ” أن النبي – صلى الله عليه وسلم – كان يعتكف الأواخر من رمضان… ثم اعتكف أزواجه من بعده “.

Selain dianjurkan untuk Nabi Muhammad SAW beserta ummatnya, i’tikaf juga disyariatkan sebelum Nabi SAW, berdasarkan firman Allah SWT dalam Al Baqoroh 125:

 

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan Aku perintahkan kepada Ibrohim AS, dan Ismail AS agar mensucikan Baitulloh untuk orang-orang yang thowaf, I’tikaf, dan sholat.”

Hikmah disyariatkannya i’tikaf

i'tikaf, Syarat & Tata Cara serta Adabiahnya ala Madzhab Syafi'i

Pixabay

Sebuah keharusan atas muslim, dari masa ke masa, untuk selalu mengalihkan nafsunya dari keinginan yang mubah, dan selalu mengekangnya untuk senantiasa taat pada Allah SWT, agar nafsu menjadi terlatih dalam mencintai Allah SWT dan mengutamakan ridho-Nya, sebab karakeristik nafsu adalah kecenderungannya akan hal-hal negatif.

Karenanya dengan adanya I’tikaf, diharapkan akan ada pembersihan hati, serta pengucilan diri dari segala urusan duniawi, sehingga menjadikan hati lebih fokus dalam bermunajat dan bertafakkur.

Hukum i’tikaf

Secara asal, hukum I’tikaf adalah sunnah terutama dalam Bulan Romadhon. Namun, hukum akan berubah dan berkembang sesuai dengan keadaan pelaku i’tikaf.

  1. Wajib, jika sebelumnya mu’takif bernadzar melakukan I’tikaf.
  2. Haram, jika mu’takif adalah wanita bersuami, dan melakukannya tanpa seizin suami.
  3. Makruh, jika mu’takif sudah mendapat ijin suami, tetapi dia termasuk wanita yang berpotensi menimbulkan fitnah.

Syarat sah mu’takif

 

Orang yang melakukan i’tikaf harus memenuhi kriteria berikut, agar i’tikafnya sah.

  1. Islam
  2. Akil
  3. Suci dari haid, nifas, dan jinabat

Karenanya, I’tikaf tidak sah dari orang kafir, orang gila, wanita haid atau nifas, dan yang sedang jinabat.

Rukun  i’tikaf

Syarat-syarat yang harus dipenuhi saat i’tikaf adalah:

  1. Niat melakukan i’tikaf di permulaan diam menetap di masjid
  2. Menetap dan diam di masjid selama waktu yang melebihi “batas thuma’ninah” sekira sudah dikategorikan sebagai orang i’tikaf.

Apabila mu’takif keluar dari masjid dengan tanpa udzur, sementara dia i’tikaf dengan memberi batasan waktu secara kontinyu (misal: 5 jam secara kontinyu), maka batal i’tikafnya. Bahkan jika yang dilakukan adalah i’tikaf yang dinadzari, maka dia harus mengulang dari awal.

Namun, apabila keluarnya karena udzur, seperti melakukan kebutuhan-kebutuhan manusiawi (yang tidak bisa ditinggal seperti makan, buang air, dan hal-hal yang tidak memungkinkan dilakukan di masjid), dan setelahnya dia langsung kembali ke masjid, maka mu’takif langsung melanjutkan i’tikafnya tanpa ada pengulangan.

Adabiyah Ketika i’tikaf

  1. Disunnahkan bagi mu’takif untuk menghabiskan waktunya dengan melakukan hal-hal yang bernilai ibadah, seperti dzikir, membaca quran, mudzakaroh ilmu, dll.
  2. Dianjurkan bagi mu’takif untuk berpuasa ketika i’tikaf, karena selain lebih afdhol juga lebih berpotensi meredam keinginan hawa nafsu sehingga mu’takif bisa lebih fokus dalam beri’tikaf.
  3. Pelaksanaan i’tikaf di masjid jami’, yakni masjid tempat didirikannya sholat jumat. Hal ini lebih dianjurkan ketika i’tikaf dilakukan di hari jumat dan mu’takif termasuk orang yang kewajiban melakukan sholat jumat, sehingga dia tidak perlu keluar dari tempat i’tikaf saat akan sholat jumat.
  4. Tidak membicarakan hal-hal yang tidak berfaidah, apalagi yang haram, seperti ghibah.

 

Hal yang dimakruhkan saat i’tikaf

  1. Bekam. Hal ini jika tidak dikuatirkan akan mengotori masjid, jika sampai mengotori masjid maka haram.
  2. Melakukan pekerjaan-pekerjaan duniawi, seperti menjahit dan jual beli.

Hal-hal yang membatalkan i’tikaf

Hal-hal yang harus dihindari saat I’tikaf adalah:

  1. Bersetubuh tanpa adanya kelalaian, meski tidak inzal. Sedangkan bersentuhan atau bermesraan dengan suami atau istri yang tidak menyebabkan inzal maka tidak batal.
  2. Sengaja keluar dari masjid dengan tanpa adanya hajat (keperluan).
  3. Murtad
  4. Mabok
  5. Gila
  6. Haid atau nifas. Karena kedua hal ini menafikan kebolehan menetap di masjid.

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related