Karena Suara Burung Perkutut, Imam Syafi’i Mendapat Ijin Fatwa dari Imam Malik

suara burung perkutut

Suara  perkutut merupakan suara burung yang sangat digemari masyarakat terutama di .

Meski banyak yang enggan untuk memelihara burung perkutut karena bukan termasuk burung ocehan yang bisa dimaster dengan berbagai macam suara yang merdu, juga mitos yang berkaitan dengan ritual gaib atau yang berhubungan dengan perkutut katuranggan.

Padahal sebenarnya burung ini memiliki suara unik yang tidak bisa ditirukan burung-burung lain, burung perkutut ini dikenal sebagai burung menarik yang setia. Apabila telah jinak, burung Perkutut seringkali kembali ke sangkarnya apabila terlepas.

Namun, pembahasan kali ini tidak mengulas tentang primbon perkutut atau terapi perkutut macet bunyi. Akan tetapi menceritakan kisah Imam Syafi’i dan Imam Malik yang menghadapi penjual yang meminta fatwa karena terkena masalah dengan pelanggannya disebabkan perkutut yang dijual dianggap tidak mau bunyi.

Berikut ini adalah kisah awal mula Imam Syafi’i diijinkan berfatwa seperti dikutip dari kitab Hayatul Hayawan al Kubra vol. 2, hal. 351-352.

Karena Suara Burung Perkutut, Imam Syafi’i Menjadi Mufti

Suatu ketika Imam Malik bin Anas ra duduk bercengkrama dengan salah satu murid terbaiknya, Muhammad bin Idris as Syafi’i ra. Saat itu, usia As Syafi’i baru 14 tahun.

Ditengah perbincangan mereka, tiba-tiba datang seorang lelaki untuk meminta fatwa kepada Imam Malik.

Lelaki itu lantas matur dan mengatakan pada Imam Malik bahwa ia adalah penjual burung perkutut (قُمَاْري/Qumaari), yang mengalami masalah keluarga setelah mendapatkan komplain dari salah satu pembelinya.

Dia pun menceritakan kronologi masalahnya dan berkata: “hari ini, saya menjual burung perkutut saya. Namun pembeli tersebut mengembalikannya dengan alasan perkutut yang dibeli tidak bunyi. Tentu saja saya sebagai penjual tidak terima karena tahu bagaimana kualitas perkutut yang saya jual. Hingga akhirnya saya bersumpah akan mencerai istri saya jika perkutut yang saya jual berhenti berbunyi. Apakah dengan sumpah saya tersebut talak saya jatuh?”

Mendengar penuturan lelaki itu, Imam Malik berkata: “Istri kamu tertalak dan tidak ada cara untuk lepas dari sumpahmu itu.

Sementara itu, Muhammad bin Idris as Syafi’i yang saat itu berada di majelis dan mendengar perbincangan itu bertanya pada lelaki yang meminta fatwa: “Perkutut yang kamu jual, lebih sering bunyi atau macet?”

Lelaki itu dengan mantap menjawab “Lebih sering bunyi!”.

Mendengar penuturannya Imam Syafi’i muda memberikan pendapatnya bahwa istri penjual burung burung tidak tertalak.

Kontan saja Imam Malik ra yang mendengar penjelasan muridnya yang masih belia itu bertanya “apa dasar landasanmu mengatakan itu?” Syafi’i muda pun menjelaskan dasar ucapannya, “wahai guruku, engkau pernah menceritakan kepadaku sebuah hadits dari az Zuhri dari Abi Salamah bin Abdurrahman dari Umi Salamah bahwa Fathimah binti Qais pernah berkata: “Ya Rasulallah, saya telah dilamar Mu’awiyah dan Aba Jahm (bagaimana pendapat Anda?)” Nabi ﷺ lalu bersabda: Adapun Muawiyah, ia fakir dan tidak memiliki harta. Adapun Aba Jahm, dia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya.” [HR Bukhari-Muslim].

Imam Syafi’i lalu melanjutkan argumennya, “wahai guruku, Nabi ﷺ mengatakan Aba Jahm tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya adalah sebuah majaz. Karena pasti beliau juga memahami bahwa ada waktu-waktu tertentu dimana Aba Jahm tidak membawa tongkat. Karena Aba Jahm juga manusia yg butuh makan, istirahat dan yang lain.

Selain itu kebiasaan orang arab yaitu menjadikan perbuatan yang lebih sering dilakukan sebagai perbuatan yang langgeng. Karena alasan ini saya menyikapi bahwa burung perkutut orang ini yang lebih sering bunyi daripada macetnya sebagaimana perkutut yang tidak pernah berhenti bunyi.

Dengan demikian sumpah talak dari lelaki ini jika burung perkututnya macet bunyi akan menyebabkan tertalaknya istri, tidak terjadi.”

Mendengar penjelasan muridnya ini, Imam Malik ra takjub dan berkata: “Mulai sekarang, berfatwalah! Sudah saatnya kamu menjadi mufti.”

Sejak kejadian itu, Imam Syafi’i berfatwa di usia yang masih sangat muda.

Tinggalkan Komentar
Posting Terbaru

Related Articles

Related