Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban, Amalan dan Doa

keutamaan malam nisfu sya'ban

Dalam bulan Sya’ban terdapat malam yang diagungkan yaitu “Malam Nisfu Sya’ban”. Malam Nisfu Sya’ban adalah malam yang ke-15 dari bulan Sya’ban 14-15 hari sebelum bulan Ramadhan.

Terkait keutamaan malam nisfu Sya’ban Sayid Muhammad bin Alwi al Maliki dalam kitab “Ma Dza fi Sya’ban” menjelaskan bahwa dalam malam ini Allah menampakkan ampunan dan rahmat-Nya, dalam malam ini pula Allah mengampuni semua yang memohon ampun, merahmati setiap orang yang mengharap rahmat, melapangkan orang yang kesulitan. Di malam ini juga Allah mengabulkan doa hamba-Nya yang memanjatkan doa, membebaskan ribuan jiwa dari api neraka serta penulisan rezeki dan amal-amal hamba.

Meski hadits-hadits yang menjelaskan fadhilah nisfu syaban berkisar antara hadits dhoif dan inqitho‘ akan tetapi status lemahnya ada juga yang tidak begitu mencolok. Bahkan al Hafidh Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan malam nisfu Sya’ban, diantara dalil hadits yang masyhur terkait fadhilah malam nisfu sya’ban adalah hadits yang diriwayatkan at Thabrani dan Ibnu Hibban ra dari Muadz bin Jabal radliyallahu anhu:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ


 المعجم الكبير
المؤلف: سليمان بن أحمد بن أيوب بن مطير اللخمي الشامي، أبو القاسم الطبراني

“Dari Mu’adz bin Jabal ra, dari Nabi ﷺ: Allah menampakkan rahmat dan ampunan-Nya di malam nisfu Sya’ban lalu Allah mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang-orang musyrik dan orang-orang munafik yang berperangai buruk serta selalu menyalakan api permusuhan pada beberapa golongan yang saling menyayangi.”

Nama-Nama Malam Nisfu Sya’ban

Sebagian ulama menuturkan bahwa malam nisfu Sa’ban memiliki beberapa nama. Hal ini disebabkan biasanya memang sesuatu yang baik akan memiliki banyak nama atau gelar. Diantara nama-nama malam nisfu Sya’ban adalah:

  • Lailatul Mubarakah (malam penuh berkah)

Penamaan malam nisfu Sya’ban dengan Lailah Mubarakah, karena dalam malam ini terdapat banyak keberkahan. Ada juga yang berpendapat bahwa dinamakan Malam Penuh Berkah karena di malam itu banyak malaikat yang mendekat kepada hamba-hamba Allah, dan sebagaimana yang sudah maklum ketika malaikat mengamini doa seseorang maka besar kemungkinan akan diijabah.

  • Lailatul Qismah (malam pembagian)

Malam nisfu Sya’ban disebut juga malam pembagian karena di malam ini Allah membagikan rezeki dan takdir yang telah diputuskan oleh ketentuan-Nya yang azaly. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Atha’ bin Yasar ra berikut ini:

Keutamaan Malam Nisfu Sya'ban, Amalan dan Doa
Dalil hadits rezeki dan takdir dibagikan di malam nisfu Sya’ban’

“Ketika malam nisfu Sya’ban maka diserahkan kepada malaikat maut nama-nama orang yang akan meninggal di Sya’ban tahun ini sampai bulan Sya’ban tahun berikutnya. Sesungguhnya orang-orang (masih terlena dan sibuk dengan) perbuatan dholim, keji, menikahi banyak wanita, bercocok tanam sementara mereka tidak tahu bahwa namanya telah dihapus dari daftar orang-orang yang hidup di tahun itu. Dan tiada malam yang lebih mulia setelah Lailaturqadar melebihi keutamaan malam nisfu Sya’ban.”

  • Lailatut Takfir

Malam nisfu Sya’ban juga disebut dengan malam peleburan dosa, karena dalam malam ini Allah menghapus dosa selama setahun, sebagaimana malam Jumat Allah menghapus dosa sepekan, dan Lailatul Qadar melebur dosa seumur. Hal ini sebagaimana dijelaskan Imam Suyuthi dalam tafsirnya.

  • Lailatul Ijabah (Malam doa mustajab)

Penamaan malam nisfu Sya’ban dengan malam doa mustajab itu berdasarkan hadits tentang 5 malam mustajab doa yang diriwayatkan Ibnu Umar berikut ini:

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: “خَمْسُ لَيَالٍ لَا يُرَدُّ فِيهِنَّ الدُّعَاءُ: لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ، وَأَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَيْلَةُ القدر، وليلتا العيدين

Dari Ibnu Umar ra: 5 malam doa mustajab dan tidak ditolak yaitu; doa malam Jumat, doa malam pertama bulan Rajab, doa malam nisfu Sya’ban, doa lailatulqadar, doa di dua malam hari raya.

  • Lailatul Hayat dan Lailatu ‘idil Malaikat (malam kehidupan dan malam lebaran para malaikat)

Abu Abdillah, Thahir bin Muhammad bin Ahmad al Haddadi dalam kitab ‘Uyunul Majalis’ menjelaskan bahwa para malaikat juga memiliki dua hari raya sebagaimana manusia-manusia Muslim yang mempunyai hari raya Idul Fitri, Idul Adha. Namun hari raya para malaikat adalah Lailatu Bara’ah (malam pembebasan) yang bertepatan pada malam nisfu Sya’ban, dan malam Lailatul Qadar.

  • Lailatus Syafa’ah

Nama ini diungkapkan oleh Abu Manshur, Muhammad bin Abdillah al Hakim an Nishapuri serta beberapa ulama yang lain.

  • Lailatul Bara’ah dan Lailatus Shak (malam pembebasan dan cek)

Nama ini dikarenakan dalam malam tersebut orang-orang Mukmin yang beramal dituliskan cek berisi maghfirah dan pembebasan.

Cara Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Ulama Syam berbeda pendapat mengenai cara menghidupkan malam nisfu Sya’ban. Ada yang mengatakan cara menghidupkan malam ini yaitu dengan cara berjamaah, ada pula yang mengatakan menghidupkan malam nisfu Sya’ban adalah sebuah anjuran, namun makruh dilakukan secara berjamaah.

Karena itu beberapa tabi’in negeri Syam seperti Khalid bin Ma’dan, Luqman bin ‘Amir dan beberapa tabi’in yang lain ketika malam nisfu Sya’ban tiba mereka akan memakai pakaian terbaik mereka, memakai parfum serta menggunakan celak mata dan lantas berangkat ke masjid untuk qiyamul lail di malam itu juga.

Pemikiran Ibnu Taimiyah Tentang Shalat Nisfu Sya’ban

Pendapat Ibnu Taimiyah tentang malam nisfu Sya'ban
Sumber: Ma Dza fi Sya’ban

Syekh Ibnu Taimiyah mengatakan: Adapun malam nisfu Sya’ban maka banyak sekali hadits dan juga atsar yang menjelaskan keutamaannya. Bahkan dinukil dari ulama salaf bahwasanya mereka juga melakukan shalat malam nisfu Sya’ban. Karena itu seseorang yang shalat sendirian di malam nisfu Sya’ban tidak bisa diingkari, hal ini sudah pernah dilakukan para ulama salaf sehingga bisa dijadikan sebuah dalil.

Sedangkan shalat nisfu Sya’ban secara berjamaah, maka hal ini perlu diteliti dan dikaji lagi. Karena berkumpul dalam melakukan suatu ibadah itu ada dua macam.

  • Berkumpul yang rutin dilakukan Nabi ﷺ

Jika ibadah yang dilakukan secara bersama-sama ini adalah sunnah ratibah (yang rutin dilakukan Nabi dengan cara berjamaah) maka hukumnya ada yang wajib seperti jamaah Shalat Jumat, ada juga sunnah seperti shalat Hari Raya.

  • Berkumpul yang sesekali dilakukan Nabi ﷺ

Hal ini seperti berjamaah shalat malam, berkumpul membaca al Quran, berkumpul dalam majelis dzikir, atau doa. Semua itu tidak masalah jika dilakukan jika memang tidak dilakukan secara rutin dengan berjamaah.

Demikian itu dikarenakan Nabi saw sesekali pernah melakukan shalat sunnah secara berjamaah, hanya saja tidak merutinkan sebagai kebiasaan seperti halnya shalat-shalat yang telah disebutkan.

Selain itu para sahabat nabi juga pernah berkumpul dan menyuruh salah satu diantara mereka untuk membaca al Quran, sementara yang lain diam menyimak.

Kesimpulan dari pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terkait shalat malam nisfu Sya’ban adalah boleh secara mutlak, bahkan dianjurkan jika memang dilakukan sendirian karena hal ini sudah pernah dilakukan para salaf pendahulu. Namun jika dilakukan secara berjamaah maka tidak makruh kecuali jika dijadikan sebuah kebiasaan rutin.

Berdoa di Malam Nisfu Sya’ban

Malam nisfu Sya’ban 2021 jatuh pada tanggal 28 Maret nanti. Di malam ini, bahkan di malam bulan Sya’ban secara umum adalah malam penuh berkah yang diagungkan oleh syariat sehingga sangat dianjurkan bagi seluruh Muslimin untuk bersungguh-sungguh melakukan ibadah dan berbagai macam amalan-amalan yang baik.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa doa adalah salah satu ibadah yang di dalamnya terdapat pembuka rezeki, langkah-langkah pemecahan masalah, bahkan doa bisa merubah takdir buruk. Dalil doa bisa merubah takdir adalah hadits:

 حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ الضَّبِّيُّ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَجَاءٍ، أَنْبَأَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ادْعُوا فَإِنَّ الدُّعَاءَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ


الكتاب: الدعاء للطبراني

“Nabi ﷺ bersabda: Berdoalah kalian, karena doa merubah takdir buruk,”

Selain itu anjuran untuk berdoa juga seringkali disebutkan dalam al Quran dan hadits. Nabi ﷺ juga menjelaskan bahwa “Doa adalah senjata orang Mukmin.” (HR. al-Hakim)

Karena alasan ini sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa di bulan Sya’ban terutama pada waktu malam nisfu Sya’ban.

Bacaan doa malam nisfu Sya’ban, arab latin dan artinya

Tidak ada dasar perintah dari Rosululloh ﷺ untuk membaca doa-doa khusus di malam nisfu Sya’ban, begitu juga shalat-shalat tertentu yang dilakukan di malam itu. Akan tetapi ada anjuran untuk menghidupkan malam nisfu Sya’ban dengan berbagai macam ibadah, apapun itu. Dengan demikian barang siapa yang membaca Alquran, berdoa, berdzikir, shalat, bersedekah dan amalan apapun yang memungkinkan baginya maka dia telah menghidupkan malan nisfu Sya’ban.

Dan terdapat sebuah tradisi adat yang biasa dilakukan di malam ini yaitu membaca doa nisfu Sya’ban yang diawali dengan membaca Surat Yasin 3 kali dan tiap-tiap selesai membaca Yaasin dilanjutkan membaca doa. Tradisi semacam ini sah-sah saja dilakukan, dan termasuk menghidupkan malam nisfu Sya’ban karena membaca Surat Yasin memiliki nilai membaca al Quran, begitu juga doa yang dibaca setelahnya karena bagaimanapun juga doa adalah ibadah.

Cara membaca dan urutan doa nisfu Sya’ban adalah:

  1. Pada waktu akan membaca Yaasin pertama kali diniati untuk memohon umur panjang yang semata-mata hanya digunakan beribadah kepada Allah Swt.
  2. Pada bacaan surat Yaasin yang ke dua diniati untuk memohon rezeki yang barokah dan halal untuk bekal beribadah kepada Allah Swt.
  3. Pada bacaan Yaasin yang ketiga diniati memohon agar diberi keteguhan iman.

Berikut ini lafadz doa nisfu sya’ban:

بسم الله الرحمن الرحيم وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ

اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَ لا يُمَنُّ عَلَيْهِ يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَ اْلاِكْرَامِ ياَ ذَا الطَّوْلِ وَ اْلاِنْعَامِ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَ مَأْمَنَ اْلخَائِفِيْنَ .

اَللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِى عِنْدَكَ شَقِيًّا اَوْ مَحْرُوْمًا اَوْ مَطْرُوْدًا اَوْ مُقْتَرًّا عَلَىَّ فِى الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِي وَ حِرْمَانِي وَ طَرْدِي وَ اِقْتَارَ رِزْقِي وَ اَثْبِتْنِىْ عِنْدَكَ فِي اُمِّ اْلكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَ قَوْلُكَ اْلحَقُّ فِى كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ اُمُّ اْلكِتَابِ.

اِلهِيْ بِالتَّجَلِّى اْلاَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ وَ يُبْرَمُ أَسْألُكَ عَنْ تَكْشِفَ عَنَا مِنَ اْلبَلاَءِ مَا نَعْلَمُ وَ مَا لا نَعْلَمُ وَمَا اَنْتَ بِهِ أعْلَمْ إِنَكَ أنْتَ الْأَعَزُُ الْأكْرَمْ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ . اَمِيْنَ

ماذا في شعبان للسيد محمد بن علوي المالكي

Latin: “Bismillahirrahmanirrahim, wa shollallohu ‘alaa sayidina muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam,

Allahumma ya Dzalmanni wa laa yumannu ‘alaih, yaa dzaljalaali wal ikroom, ya dzat thauli wal in’aam, laa ilaaha illa anta dhohrol lāājiin wa jaarol mustajiiriin wa ma’manal khoo-ifin.

Allahumma in kunta katabtani ‘indaka syaqiyyan aw machruuman aw mathruudan aw muqtarron ‘alayya fir rizqi famchu Allohumma bifadllika syaqoowati wa chirmaani wa thardii wa iqtaaro rizqi, wa atsbitni ‘indaka fii ummilkitaabi sa’iidan marzuuqon muwaffaqon lilkhoiroot.

Fa innaka qulta waqoulukal haqqu fii kitaabikal munzal, ‘alaa lisaani nabiyyikal mursal “Yamchullohu maa yasyaa-u wa yutsbitu wa ‘indahuu ummul kitaab,”

Ilaahii bittajallil a’dhom fii lailatin nishfi min sya’baanal mukarrom allatii yufroqu fiiha kullu amrin hakiimin wa yubrom, as-aluka an taksyifa ‘annaa minal balaa-i maa na’lamu wa maa laa na’lam wa maa anta bihii a’lam innaka antal a’azzul akrom,

Wa shollallohu ‘alaa sayidina muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam.”

Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad ﷺ beserta keluarga dan para sahabat beliau

Ya Allah, Dzat Pemilik Anugerah, bukan penerima anugerah. Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Wahai dzat yang memiliki kekuasaan dan memberi kenikmatan. Tiada Tuhan selain Engkau: Engkaulah penolong para orang yang mencari perlindungan, pelindung para pencari keselamatan, pemberi tempat yang aman bagi yang ketakutan.

Ya Allah, jika Engkau telah mencatat aku di sisiMu sebagai orang yang celaka (mati su’ul khatimah) atau terhalang dari rahmat atau disempitkan rezeki, maka hapuskanlah wahai Allah dengan lantaran anugrahMu ketetapan celakaku, terhalangku, tertolakku dan kesempitanku dalam rezeki.

Dan tetapkanlah aku di sisiMu, dalam Ummul Kitab, sebagai orang yang beruntung (mati dalam keadaan khusnul khatimah), luas rezeki dan memperoleh taufik dalam melakukan kebajikan. Sungguh Engkau telah berfirman dan firman-Mu pastilah benar, di dalam Kitab Suci-Mu yang telah Engkau turunkan melalui lisan nabi-Mu yang diutus:

“Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan apa yang dikehendakiNya dan di sisi Allah terdapat Ummul Kitab”.

Wahai Tuhanku, demi keagungan yang tampak di malam pertengahan bulan Sya’ban nan mulia, saat dipisahkan (dijelaskan, dirinci) segala urusan yang ditetapkan dan yang dihapuskan, hamba memohon kepadaMu agar dihindarkan dari bencana, baik yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui serta yang hanya Engkau ketahui,

Engkaulah Yang Maha Luhur dan Maha Mulia. Semoga Allah melimpahkan solawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad ﷺ beserta keluarga dan para sahabat beliau.”

Meskipun secara teks tidak sama persis, namun secara garis besar doa nisfu sya’ban yang disebutkan di atas mengambil dari hadits yang disampaikan oleh Ibnu Abi Syaibah rahimahullah dalam kitab al Mushonnaf.

 حدثنا أبو معاوية عن عبد الرحمن بن إسحاق عن القاسم بن عبد الرحمن عن عبد الله بن مسعود قال : ما دعا قط عبد بهذه الدعوات إلا وسع الله عليه في معيشته “يا ذا المن فلا يمن عليك ، يا ذا الجلال والاكرام يا ذا الطول والانعام لا إله إلا أنت ، ظهر اللاجئين وجار المستجيرين ومأمن الخائفين ، إن كتبتني عندك في أم الكتاب شقيا فامح عني اسم الشقاء ، وأثبتني عندك سعيدا موفقا للخير ، فإنك تقول في كتاب { يمحوا الله ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتاب }

المصنف لابن ابي شيبة

“….. Dari Ibnu Mas’ud ra, beliau berkata: Tiada seorang hamba yang membaca doa-doa ini kecuali dia dilapangkan rezeki dan kehidupannya; Ya Dzal Manni fa laa yumannu ‘alaika, ya dzal jalaali wal ikroom, ya dzatthauli wal in’aam laa ilaaha illa anta, dhohrol laaji-iina wa jaarol mustajiiriiin wa ma’manal khooifiin,

In katabtanii ‘indaka fii ummil kitaabi syaqiyyan famchu ‘anni ismas syaqoo-i, wa atsbitnii ‘indaka sa’iidan muwaffaqon lilkhoir, fa innaka taquulu fii kitaab: Yamchullohu maa yasyaa-u wa yutsbitu wa ‘indahuu ummul kitaab.”

Selain membaca teks doa nisfu Sya’ban di atas Anda juga bisa mengamalkan doa-doa lain dan juga amalan-amalan lain agar bisa mendapatkan fadhilah malam nisfu Sya’ban karena sebagaimana dijelaskan oleh Sayid Muhammad bin Alwi al Maliki dalil yang ada terkait penjelasan malam Nisfu Sya’ban tidak mengkhususkan doa-doa tertentu atau amalan-amalan khusus. Dengan cara apapun asal bernilai amaliah yang syar’i in sya Allah kita akan memperoleh keutamaan nisfu Sya’ban.

Wallohu A’lam

Referensi:

ما ذا في شعبان العالم العلامة المحدث السيد محمد بن علوي, المصنف لابن ابي شيبة