Kewajiban Jaga Lisan dari Ucapan yang Diharamkan

Kewajiban Jaga Lisan dari Ucapan yang Diharamkan

Allah SWT berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ – ق 18

“Tiada ucapan kecuali dicatat oleh Rokib, dan Atid”

Dan ayat:

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ. الفجر 14

“Sesungguhnya Tuhanmu senantiasa mengawasi”

Melihat ayat-ayat di atas hendaknya setiap mukallaf menjaga lisannya dari segala pembicaraan. kecuali jika bisa memberikan maslahat bagi orang lain secara umum, terutama bagi muslimin.

Namun sekira sebanding antara maslahat dan tidaknya, maka lebih baiknya tidak diucapkan. Karena, umumnya ucapan-ucapan yang mubah menjadi pemicu ucapan makruh, dan ucapan haram, seperti ujaran kebencian, rasis dll. Hal ini selaras dengan apa yang disabdakan Nabi SAW “Barangsiapa iman kepada Alloh SWT, dan hari akhir maka ucapkanlah ucapan-ucapan yang baik, atau diamlah”

مَنْ كانَ يُؤمِنُ بالله واليَوْم الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيراً أوْ لِيَصْمُتْ

Imam Nawawi dalam Adzkarnya mengomentari hadits ini dengan penjelasan beliau;

قلت: فهذا الحديث المتفق على صحته نص صريح في أنه لا ينبغي أن يتكلّم إلا إذا كان الكلام خيراً، وهو الذي ظهرت له مصلحته، ومتى شك في ظهور المصلحة فلا يتكلم. وقد قال الإِمام الشافعي رحمه الله: إذا أراد الكلام فعليه أن يفكِّر قبل كلامه، فإن ظهرت المصلحة تكلم، وإن شك لم يتكلَّم حتى تظهرَ.

“Hadits ini merupakan hadits yang disepakati keshahihannya, serta sebuah nash yang jelas bahwa tidaklah  pantas seseorang mengucapkan sebuah ungkapan kecuali jika ucapan yang baik. Beliau juga memberi batasan bahwa ungkapan yang baik adalah ucapan benar-benar jelas dampak positifnya. Seandainya dia ragu apakah ucapannya ini berdampak positif atau tidak, maka jangan diungkapkan.

Beliau juga mengutip dawuh Imam Syafi’I RA “Jika seseorang ingin berbicara hendaknya memikirkan terlebih dulu, jika memang berdampak maslahat ungkapkan, tapi jika ragu jangan diungkapkan sampai jelas kemaslahatannya.”

Ucapan yang diharamkan

Semua ucapan yang berdampak negatif seperti menyakiti perasaan orang lain, menimbulkan perselisihan, dan kebencian dihukumi haram, minimal makruh. Meski terkadang secara tidak disadari sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini ucapan-ucapan yang diharamkan.

Kewajiban Jaga Lisan dari Ucapan yang Diharamkan
Ilustrasi kewajiban menjaga lisan: Pixabay.com

1.       Ghibah

Ghibah merupakan perkataan haram yang sangat umum terjadi di masyarakat. Bahkan sangat jarang sekali yang bisa selamat dari keharaman ghibah.

Namun keharaman ghibah tentu tidak bisa kita hindari jika belum tahu batasan-batasannya. Untuk itu kita pahami lebih dulu pengertian ghibah.

Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang ada pada orang lain yang bisa menyinggungnya, baik yang dibicarakan terkait fisik, agama, harta, keluarga atau kepribadian seseorang. Baik orang yang dibicarakan masih hidup atau sudah meninggal.

Baca: Ghibah artinya?

2.       Namimah

Namimah adalah menuturkan perkataan seseorang pada orang lain dengan tujuan merusak atau provokasi.

3.       Iftikhor

Iftikhor merupakan ungkapan-ungkapan pengakuan seseorang akan keagungannya baik dari segi amaliyah atau kedudukan duniawi.

Dalil keharaman iftikhor:

قال الله تعالى: {فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى} [النجم: 32]

Dan hadits :

عن عياض بن حمار الصحابي رضي الله عنه قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: “إن اللهَ تَعَالى أوحَى إلي أنْ تَواضعُوا حتَّى لا يَبْغِيَ أحدٌ على أحَدٍ وَلا يَفْخَرَ أحدٌ على أحَدٍ”

Sesungguhnya Alloh SWT menurunkan wahyu kepadaku (agar) kalian saling tawadhu’ sehingga tidak saling melewati batas, dan tidak saling iftikhor”

4.       Syamatah

Syamatah adalah merasa senang saat orang lain terkena ujian atau musibah. Ungkapan-ungkapan yang mengandung nilai syamatah diharamkan berdasarkan hadits Nabi SAW:

قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: “لا تُظْهِرِ الشَّماتَةَ لأخيكَ فَيَرْحَمُهُ اللهُ ويَبْتَلِيكَ” قال الترمذي: حديث حسن.

“Janganlah kamu  menampakkan syamatah atas saudaramu (yang terkena musibah) sehingga Allah SWT akan merahmatinya dan akan mengujimu (dengan ujian yang sama  atau lebih)”.

5.       Ucapan yang merendahkan

Ungkapan-ungkapan merendahkan dan juga bullying termasuk dalam kategori “ikhtiqor dan sukhriyah” atas muslim. Selain nash quran banyak hadits-hadits shahih yang menjelaskan dilarangnya 2 perilaku ini. Diantaranya:

قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: “لا تَحاسَدُوا ولا تَنَاجَشُوا، وَلا تَباغَضُوا، وَلا تَدَابَرُوا، وَلا يَبْغ بَعْضُكُمْ على بَعْضٍ، وكُونُوا عِبادَ الله إخوَاناً، المُسلِمُ أخُو المُسْلِم، لا يَظْلِمُهُ، وَلا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحقُرُه، التَّقْوى هاهُنا -ويشير إلى صدره ثلاث مرات- بحَسْبِ امرئٍ مِنَ الشَّرِّ أنْ يَحْقِرَ أخاهُ المُسْلِمَ، كل المُسْلِمِ على المُسْلِمِ حَرَام: دَمُهُ ومالُهُ وَعِرْضُهُ”

“Janganlah saling dengki, saling menipu dalam jual beli (In Sya Allah akan dibahas di posting berikutnya, terkait tanajusy) saling benci, saling memalingkan diri, dan saling melewati batas. Jadilah kalian hamba-hamba Alloh SWT yang bersaudara, seorang muslim merupakan saudara sesamanya, tidak diperbolehkan mendholiminya, merendahkannya, dan menghinanya, taqwa itu di sini (Rosulullah SAW menunjuk ke dada). Cukuplah keburukan atas seseorang disaat dia merendahkan sesama muslim, setiap muslim atas sesama muslim haram darahnya, harta, dan kehormatannya (nama baiknya).”

6.       Kesaksian palsu

Keharaman kesaksian palsu sangat diberatkan, banyak hadits-hadits shahih yang menjelaskan larangan kesaksian palsu. Sedangkan nash quran, diantaranya adalah ayat:

قال الله تعالى: {وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ} [الحج: 30] وقال تعالى: {وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء: 36].

7.       Mengundat pemberian atau sedekah

Al Man (mnengundat-ngundat) adalah mengungkit pemberian pada si penerima, atau menceritakan pemberian itu pada orang lain yang mana penerima tidak suka pemberian ini diketahuinya. Undat-undat selain haram dan sangat menyakiti perasaan juga berpotensi leburnya pahala.

Karenanya, Ulama Syafiiyah menfatwakan “jika ada seseorang yang tidak mampu haji ditawari orang lain untuk diberangkatkan haji dia tidak wajib menerima pemberiannya, karena berpotensi ada undat-undat pemberian”.

Dalil keharaman ungkit-ungkit pemberian dan semisalnya, adalah firman Alloh SWT yang berbunyi:

قال الله تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى} [البقرة: 264]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memusnahkan (pahala) sedekah kalian dengan mengungkitnya, dan menyakiti (perasaan orang yang diberi)”

8.       Laknat

Laknat adalah mendoakan seseorang (atau sesuatu, seperti angin, binatang, penyakit dll) lain agar dijauhkan dari rahmat.

Dalil keharaman laknat, diantaranyya adalah hadits yang diriwayatkan An Nawawi dalam Adzkarnya:

روينا في “صحيحي البخاري ومسلم” عن ثابت بن الضحاك رضي الله عنه وكان من أصحاب الشجرة قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: “لَعْنُ المُؤمِنِ كَقَتْلِهِ” اهـ الاذكار للنووي

“Melaknat seorang mukmin sebagaimana membunuhnya”

9.       Membentak dhuafa’, fuqoro’, dan yatim

Banyak nash quran atau hadits yang melarang membentak fakir, pengemis, dhuafa’ dan juga yatim, bahkan tak sedikit ayat atau hadits yang menganjurkan untuk berkata dengan halus saat menghadapi mereka. Diantaranya ayat:

قال الله تعالى: {فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ} [الضحى: 9 – 10]

وقال تعالى: {وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ} [الحجر: 88].

Sebagai tambahan, apapun yang haram diucapkan haram juga diungkapkan dengan tulisan, atau bahasa isyarat.

والله اعلم باصواب

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related