Kisah Daud at Tha’i, Sufi Zuhud Murid Abi Hanifah

Kisah Daud at Tha'i, Sufi Zuhud Murid Abi Hanifah

Sayyidi Daud at Tha’i merupakan seorang pakar fikih, salah satu murid istimewa Imam Hanafi RA. Juga pakar ilmu hadits, mendengar banyak hadits dari beberapa tabi’in.

Selain itu, beliau juga mengambil khirqoh tasawuf dari Habib al-Ajami. Darinya, Syekh Daud menjadi zahid panutan para sufi.

Profil Daud at Tha’i

Beliau bernama Daud bin Nashir at Tha’i, al Kufi. Sedangkan kunyah beliau adalah Abu Sulaiman.

Daud at Tha’i dilahirkan di permulaan tahun ke-100 Hijriah.

dan meninggal pada tahun 160 H, sebagian berpendapat 165 H.

Hadits dan keilmuan Daud at Tha’i

Dalam hadits, beliau meriwayatkan dari Habib bin Abi ‘Amroh, Abd Malik bin ‘Umair, Humaid at Thowil, Hisyam bin ‘Urwah, Sulaiman al-‘A’masy dan beberapa tabi’in.

Sedangkan perawi yang meriwayatkan dari beliau adalah; Ibn ‘Ulayyah, Zafir bin Sulaiman, Mush’ab bin al-Miqdam, Ishak bin Manshur as-Saluli, Abu Nu’aim, dll.

Daud at Tha’i juga terbilang sebagai orang yang giat mencari ilmu dalam berbagai bidang fan keilmuan.

Adapun dalam bidang fikih, beliau termasuk imam yang agung dan memiliki pendapat yang cemerlang.

Dalam fan ini beliau menimba ilmu pada Imam Madzhab, Abi Hanifah RA.

Namun dibalik cemerlangnya prestasi keilmuan Daud RA, beliau akhirnya lebih memilih jalan uzlah untuk menyendiri serta berpaling dari kerumunan manusia. Hingga hari-harinya hanya dilalui dengan beribadah serta mujahadah dalam memerangi ego manusiawi sampai akhir hayat.

Tak hanya sampai di situ, bahkan beliau juga menenggelamkan kitab-kitabnya di Sungai Efrat. Lantas memilih jalan khumul, berpaling dari ketenaran di dunia agar bisa lebih fokus beribadah.

Perjalanan hidup Daud at Tha’i

وقال أبو سليمان الداراني: ورث داود الطائي من أمه داراً، فكان يتنقل في بيوت الدار كلما تخرب بيت من الدار انتقل منه إلى آخر ولم يعمره حتى أتى على عامة البيوت التي في الدار؛ قال وورث من أبيه دنانير فكان يتنفق بها حتى كفن بآخرها.

وفيات الأعيان

“Abu Sulaiman ad-Daroni berkata: Daud at Tha’i mendapat warisan dari ibunya, berupa rumah. Di rumah ini beliau menyendiri untuk fokus beribadah di sisa-sisa hidupnya.

Dalam rumah itu, beliau selalu berpindah dari satu kamar ke kamar yang lain saat kamar yang ditempatinya roboh karena tidak terawat.

Hal ini beliau lakukan sampai seluruh ruangan dalam rumah itu tidak layak huni, dan hanya menyisakan satu kamar.

Abu Sulaiman juga mengatakan: Selain rumah, Daud RA juga memperoleh warisan beberapa keping dinar dari ayahnya.

Uang inilah yang nantinya digunakan beliau untuk infak di sisa-sia hidupnya, hingga akhirnya dari warisan ini Daud at Tha’i dikafani.”

Kisah zuhudnya Daud at Tha’i

Berikut ini merupakan kisah zuhud dan wira’inya Daud at Tha’i

Menolak 10 ribu dirham

Suatu ketika, Muhammad bin Qohthofah tiba di Kufah, kemudian ia berkata: Aku mencari seseorang yang bisa mengajar putra-putriku. Aku menginginkan guru yang hafidz al-Quran, memahami sunnah rosul SAW, memahami atsar para sahabat, fikih, nahwu, syiir, serta sejarah para ulama’.

Lantas ada yang menyahut: Semua kriteria ini ada pada Daud RA.

Mendengar jawaban itu, Muhammad segera pergi menemui Daud RA dengan membawa sekantong uang sebanyak 10 ribu dirham.

Saat tiba di rumah Daud, ia memberikan seluruh dirham itu seraya berkata: Gunakanlah uang ini untuk kebutuhanmu seumur hidup. Namun Daud menolak pemberian itu.

Tahu bahwa pemberiannya ditolak, Muhammad bin Qohthobah menyuruh 2 budak untuk membawa 2 kantong dirham agar diserahkan pada Daud. Ia juga berkata kepada mereka: Jika Daud menerima pemberian ini maka kalian akan ku merdekakan.

Kemudian pergilah kedua budak itu ke rumah Daud untuk memberikan 2 kantong dirham. Setibanya di sana, Daud Ra lagi-lagi menolak pemberian itu.

Melihat penolakan itu, salah satu budak berkata pada Daud: Sesungguhnya jika kau menerima 2 kantong ini maka kami akan dimerdekakan dari perbudakan.

Daud pun berkata pada keduanya: Aku kuatir jika aku menerimanya, kedua kantong itu akan menjadi belengguku di neraka. Kembalikan pada Muhammad, dan katakan padanya: Sesungguhnya menolak pemberian ini lebih baik daripada ia memberikannya padaku.”

40 tahun berpuasa tanpa diketahui keluarga

Diceritakan bahwa Daud at Tha’i berpuasa selama 40 tahun tanpa diketahui keluarganya.

Hal ini dikarenakan ia selalu membawa makanan yang telah disiapkan keluarganya tiapkali keluar rumah, di saat inilah ia menyedekahkan makanannya.

Dan ia kembali ke rumah saat makan malam telah siap, saat itulah ia berbuka puasa, tanpa diketahui keluarganya bahwa ia berpuasa.”

Tidak merawat diri karena sibuk ibadah

وقال له رجل: ألا تسرح لحيتك قال: إني عنها مشغول.

وفيات الأعيان

“Suatu ketika ada orang bertanya pada Daud at Tha’i: Apa kau tidak menyisir jenggotmu? Beliau menjawab: Aku sibuk, tidak sempat memikirkan itu.

Nadzar tidak makan wortel dan kurma seumur hidup

Ismail bin Hassan berkata: Aku mendatangi pintu Daud at Tha’i, lalu aku dengar ia berbincang dengan dirinya, akupun menyangka ia bersama seseorang. Lama aku berdiri di depan pintunya, lalu aku memberanikan diri untuk minta dipersilahkan masuk, kemudian aku pun masuk ke dalam.

Daud at Tha’i memulai perbincangan kami, ia berkata: Apa yg membuatmu ingin kemari? Aku menjawab: Aku mendengarmu berbicara, aku kira engkau sedang bersama seseorang.

Tidak ada siapa pun, aku hanya mencela nafsuku.

Semalam aku ingin makan kurma, kemudian aku pergi untuk membelinya. Akan tetapi saat aku tiba, aku menginginkan wortel. Karena itu aku berjanji pada Alloh untuk tidak makan kurma dan wortel sampai aku mati.

Kenikmatan apa yang kelak tersisa di akhirat?

Abu Robi’ al A’roj: Aku masuk ke rumah Daud at Tha’i setelah maghrib, kemudian ia menyuguhkan remukan-remukan roti kering. Setelah memakannya aku menjadi haus, lalu aku menghampiri gentong yang di dalamnya terdapat air yang panas.

Melihat itu, aku berkata: Seandainya engkau memakai gentong lain niscaya airnya bisa dingin. Lantas dia menimpali perkataanku: Jika aku tidak minum kecuali air dingin, tidak makan kecuali makanan yang enak serta tidak berpakaian kecuali pakaian yang halus, lantas apa kenikmatan yang tersisa untukku kelak di akhirat?

Lantaran jawabannya itu, aku memintanya untuk memberikan taushiah kepadaku.

Beliau berkata: Berpuasalah dari kenikmatan dunia, dan jadikan kematianmu sebagai waktu berbuka.

Hindarilah manusia sebagaimana kau menghindari binatang buas.

Berkumpul lah dengan orang-orang yang takwa, teman seperti mereka merupakan teman yang paling ringan biayanya namun paling baik bantuannya.

Dan janganlah meninggalkan sholat berjamaah.

Taushiah ini sudah cukup jika kau mau mengamalkan.

Kisah Daud dan anak yatim

Berkata Hammad bin Abi Hanifah RA: “Daud memiliki maula (budak yang ia merdekakan) sebagai balas budi, dialah yang melayani Daud. Suatu ketika ia berkata pada Daud: Jika saja aku memasakkanmu roti lemak, Daud segera menimpali: Boleh, aku menginginkannya.

Setelah matang pelayan itu menghidangkannya untuk Daud at Tha’i. Namun ia tidak memakannya, ia bertanya pada pelayan itu: Bagaimana keadaan anak-anak yatim Bani Fulan? Pelayan itu menjawab: Mereka baik-baik saja, seperti biasanya. Lantas Daud menyuruhnya untuk mengantar dan memberikan roti lemak itu kepada mereka.

Mendengar perkataannya, pelayan itu bilang: Ya Sayyidi, engkau tidak makan lauk semenjak sekian hari.

Daud Ra menyahuti: Makanan ini, jika mereka makan maka akan sampai di Arsy. Namun jika aku yang memakannya hanya sampai pada usus.

Pelayan itu kembali bertanya: Ya Sayidi, apa engkau tidak ingin makan roti? Daud menjawab: Waktu untuk memakan dan mengunyah roti cukup digunakan membaca lima puluh ayat.”

Kata-kata bijak Daud at Tha’i

وقال داود الطائي: ما حسدت أحداً على شيء إلا أن يكون رجلاً يقوم الليل؛ فإني أحب أن أرزق وقتاً من الليل

وفيات الأعيان

“Aku tidak pernah iri atas apapun yang ada pada orang lain kecuali pada orang yang melanggengkan qiyamul lail; sesungguhnya aku berharap diberi rezeki sebuah waktu untuk sholat malam.”

حفص بن حميد يقول دخلت على داود الطائي أسأله عن مسألة وكان كريما فقال أرأيت المحارب إذا أراد أن يلقى الحرب أليس يجمع آلته فإذا أفنى عمره في جمع الآلة فمتى يحارب إن العلم آلة العمل فإذا أفنى عمره في جمعه فمتى يعمل

تاريخ دمشق لابن عساكر

“Hafs bin Humaid berkata: Aku menanyakan sebuah masalah pada Daud at Tha’ii. Beliau menjawab: Bagaimana pendapatmu mengenai prajurit perang dikala akan melakukan peperangan?, bukankah ia akan mengumpulkan semua alat perangnya? Tapi, jika ia hanya sibuk hanya untuk menyiapkan alat perang maka kapan ia akan berperang? Sesungguhnya ilmu adalah alat untuk beramal, jika seseorang menghabiskan hidupnya hanya untuk mengumpulkan ilmu maka kapan ia akan beramal?

Komentar ulama tentang Daud at Tha’i

Abu Kholid

قال أبو خالد: وبلغني أنه كان لا ينام الليل، [إذا غلبته عيناه احتبى قاعداً] ؛ ومكث عشرين سنة لا يرفع رأسه إلى السماء.

“Daud at Tha’i tidak pernah tidur malam [Jika matanya mulai mengantuk ia duduk ihtiba] ; Juga, ia tidak pernah mengangkat pandangannya ke atas.”

Muharib bin Ditsar

وقال محارب بن دثار: لو كان داود في الأمم الماضية لقص الله تعالى شيئاً من خبره.

وفيات الأعيان

“Seandainya Daud hidup di masa umat terdahulu niscaya Alloh akan menceritakan sedikit tentang kisahnya,”

Refrensi:

وفيات الأعيان, تاريخ دمشق لابن عساكر, سير أعلام النبلاء

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related