Kitab Ta’limul Muta’allim, Pedoman Adab Santri Nusantara

Kitab Ta'limul Muta'allim, Pedoman Adab Santri Nusantara

Kitab Ta’limul Muta’allim Pesantren adalah sebuah tempat pendidikan tradisional yang para muridnya tinggal bersama dan belajar di bawah pengawasan dan bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kiyai. Selain sebagai tempat belajar, pesantren juga menjadi tempat menginap atau asrama para santri.

Karena inilah, dari dulu pesantren diyakini menjadi tempat yang efektif dalam pembelajaran ilmu agama sebab para pelajar bisa menimba ilmu pengetahuan secara intensif. Hal ini terlihat dari padatnya jadwal pengajian serta beragam kitab yang dipelajari. Namun, dalam tradisi pensantren, ada yang lebih ditekankan ketimbang ilmu pengetahuan, yakni adab atau etika. Baik adab kepada Allah, terhadap makhluk bahkan termasuk adabiah dalam mencari ilmu itu sendiri.

Bagi para Santri Nusantara, akhlak memiliki kedudukan yang lebih tinggi derajatnya daripada ilmu. Sedikitnya sopan santun lebih mulia daripada banyaknya ilmu. Hal ini juga senada dengan yang disampaikan oleh Imam Ibnu Mubarak RA:

نَحْـنُ إِلَى قَلِيْــلٍ مِــنَ اْلأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ اْلعِلْمِ

“Kita lebih membutuhkan adab-adab dasar dibanding ilmu yang berlebihan” (Kifâyah al-Atqiyâ wa Minhâj al-Ashfiyâ karya Syekh Abi Bakar Satha Dimyathi al-Bakri, , Dar el-Kutub al-‘Ilmiyah, h. 262).

Tidak hanya itu, adab juga menjadi penentu keberhasilan seseorang dalam menjalani suluk spiritualnya. Dalam hal ini Syekh al Murabbi Abdul Qodir ‘Isa menuturkan dalam kitab Haqaaiq ‘an at-Tasawuf:

 التصوف كله أخلاق فمن زاد عليك بالأخلاق زاد عليك بالتصوف

“Tasawuf, seluruhnya adalah tentang akhlak maka barang siapa yang menjadikan akhlakmu semakin baik dia telah menjadikanmu semakin sufi.”

Hal inilah yang menjadi landasan utama kurikulum pesantren selalu memberikan kajian ilmu adab, mulai dari tingkat paling mendasar sampai tingkat tinggi.

Dalam menggembleng akhlak santri, pesantren memasukkan kajian-kajian tentang etika dan tata cara menuntut ilmu ke dalam kurikulumnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya agar para santri bisa memahami dan menerapkan akhlak yang terpuji dan tata cara menuntut ilmu yang benar, supaya ilmu mereka bisa bermanfaat saat mengabdi di masyarakat.

Ada berbagai macam kitab adab yang digunakan dalam pembelajaran akhlak di pesantren. Beberapa yang bisa disebut antara lain al-Akhlâq lil Banîn karya Syekh Umar bin Ahmad Baraja, Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karangan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Bidâyatul Hidâyah karya Imam al Ghazali, dan yang sangat masyhur di setiap pesantren yaitu kitab Ta’lîmul Muta’allim Tharîqot Ta’allum karya Imam al-Zarnûji.

Kitab Ta’lîmul Muta’allim Tharîq at-Ta’allum merupakan salah satu kitab tematik tentang tuntunan belajar. Nama lengkap pengarangnya adalah Burhanuddin Ibrahim al Zarnuji al Hanafi. Kata al Zarnuji merupakan nisbat kepada salah satu kota terkenal dekat sungai Jeon atau Amu Darya, Turkestan.

Sedangkan penisbatan mushonnif kepada al-Hanafi di ujung namanya dapat diketahui bahwa beliau merupakan ulama bermazhab Hanafi. Mengenai tahun kelahiran Syekh Burhanuddin Ibrahim al Zarnuji al Hanafi para ulama tarikh masih berbeda pendapat, begitupun dengan tahun wafatnya. Sebagian menyebutkan Imam Burhanuddin wafat pada 591 H, namun ada juga yang menuturkan bahwa beliau wafat pada 640 H (Imam al-Zarnûji, Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum, Beirut: al-Maktab al-Islami, cetakan pertama, 1981, halaman 18).

Imam Burhanuddin berguru kepada beberapa ulama terkemuka pada masanya, di antaranya adalah al Imam Ruknul Islam Muhammad bin Abi Bakr al Murghinani al Hanafi (573 H), Syekh Hammad bin Ibrahim, Syekh Fakhruddin al-Kâsyâni, Syekh Fakhruddin Qodhi Khan al Awz Jundi, dan Syekh Ruknuddin al Farghoni. Para ulama tersebut adalah ahli fiqih sekaligus kesusasteraan arab. Ini merupakan salah satu alasan banyaknya nasihat dalam kitab Ta’lim Muta’allim yang dikutip oleh Imam al-Zarnuji berasal dari ulama Hanafiyah, dan banyaknya syair-syair hikmah di dalam kitab ini.

Alasan Mengarang Kitab Ta’limul Muta’allim

Motivasi beliau dalam menulis kitab ini adalah adalah sebagaimana yang beliau tuturkan sendiri dalam pendahuluan kitabnya:

فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زماننا يجدون إلى العلم ولايصلون ومن منافعه وثمراته ـ وهى العمل به والنشر ـ يحرمون لما أنهم أخطأوا طريقه وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضل، ولاينال المقصود قل أو جل، فأردت وأحببت أن أبين لهم طريق التعلم على ما رأيت فى الكتب وسمعت من أساتيذى أولى العلم والحكم

“Tatkala aku melihat banyaknya para pencari ilmu di zamanku yang tekun dan bersungguh-sungguh dalam belajar namun tidak berhasil dalam menggapai buah dan manfaat ilmu. D iantara manfaat dan hasil ilmu adalah mengamalkan ilmu (untuk diri sendiri) dan menyebarkannya (untuk pengabdian pada masyarakat).

Mereka terhalang dari buahnya ilmu sebab kekeliruan dalam metode menuntut ilmu, dan mereka juga meninggalkan syarat-syaratnya. Sedangkan setiap orang yang salah jalan pasti akan tersesat, dan tidak akan mendapat sesuatu yang ia cari sedikit ataupun banyak.

Alasan ini yang menyebabkanku termotivasi untuk menjelaskan kepada para penuntut ilmu, tentang adabiah dan tata cara belajar berdasarkan yang telah aku lihat dan dengar dari guru-guruku yang memiliki ilmu dan hikmah. (Imam Burhanuddini, Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum,halaman 57)

Daftar Isi Kitab Ta’limul Muta’allim

Imam Burhanuddin menjelaskan adabiah belajar dalam kitabnya. Ada 13 pasal yang disebutkan beliau dalam kitab Ta’lîmul Muta’allim, yaitu:

Hakikat ilmu dan keutamaannya

Dalam pasal ini beliau menjelaskan pengertian dan klasifikasi beberapa ilmu, mulai dari yang wajib dipelajari sampai dengan yang haram dipelajari. Ilmu yang wajib dipelajari adalah Ilmul hâl. Ilmu Hal sendiri adalah ilmu pengetahuan akan sesuatu yang dihadapi seseorang saat itu juga, seperti ilmu iman, ilmu sholat, zakat bagi orang yang sudah berkewajiban zakat, ilmu dagang bagi seorang pedagang, haji bagi yang sudah mampu dan semacamnya.

Setelah itu beliau juga menjelaskan keutamaan-keutamaan ilmu, diantaranya adalah keutamaan Nabi Adam AS dibanding para malaikat yang disebabkan ilmu yang dimilikinya. Ini seperti yang disebutkan dalam Alquran QS al Baqoroh 31-34.

Imam Zarnuji juga menjelaskan bahwa hukum dalam menuntut ilmu ada 4. 

  1. Fardlu‘ain.

Ilmu yang wajib dipelajari oleh semua muslim, ilmu yang termasuk kategori wajib ‘ain adalah ilmu hal salah satu contohnya adalah ilmu wudhu, shalat, jual beli bagi pedagang, ilmu nikah bagi yang akan menikah, ilmu tentang menjaga hati dari iri, takabbur dan lainlain. Kewajiban ini dikarenakan agar seseorang tidak sampai terjerumus dalam perkara yang dilarang syariat. 

  1. Fardlu kifayah,

Ilmu berkenaan sesuatu yang dibutuhkan dalam sekali tempo. Ilmu ini wajib dipelajari oleh sebagian orang saja dalam satu daerah, namun jika dalam satu daerah tidak ada yang mempelajari maka seluruhnya berdosa. Contoh ilmu yang fardhu kifayah adalah ilmu tafsir, ilmu nahwu dan semacamnya. 

  1. Haram

Ilmu yang haram dipelajari adalah ilmu yang bisa menyebabkan rusaknya akidah seperti mempelajari ilmu sihir, ramalan berdasarkan perbintangan dan semacamnya. 

  1. Jawâz (boleh),

Selain dari yang telah disebutkan seperti mempelajari ilmu ekonomi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Niat ketika belajar

Imam Zarnuji menuturkan, bahwa seorang santri harus memiliki niat saat akan mengaji atau mondok. Landasan dalil yang digunakan beliau yaitu sabda Nabi tentang niat, “innamal a’mâlu binniyyât”, “Sesungguhnya keshahihan amal seseorang tergantung pada niatnya.” 

Ada beberapa niat menuntut ilmu yang diajarkan Imam al-Zarnuji dalam kitab ini. Pertama, mencari ridha Allah ﷻ. Kedua, niat menghilangkan kebodohan dirinya dan kebodohan orang lain. Ketiga, menghidupkan syiar agama dan memperjuangkan Islam. Keempat, mensyukuri nikmat diberi akal sehat juga kesehatan badan.

Dalam pasal ini Imam al-Zarnuji juga memberi peringatan kepada para santri agar dalam masa-masa mondok atau ngaji dia tidak mencari ilmu dengan maksud mencari pengaruh supaya orang-orang tunduk atau hormat kepadanya, begitu juga mencari pangkat kedudukan di sisi penguasa, kecuai jika dia niati ilmu tersebut nantinya akan digunakan untuk amar ma’ruf nahi munkar di tengah pemerintah yang dholim.

Memilih ilmu, guru, dan teman, serta ketekunan dalam menuntut ilmu

Dalam pasal ini Imam al-Zarnuji memberi saran bagi santri pelajar untuk memilih kriteria ilmu yang akan dipelajari, guru, dan teman. Hendaknya bagi seorang santri pelajar mendahulukan ilmu yang tingkat urgensinya tinggi (ilmul hal), baru kemudian mempelajari ilmu yang dia butuhkan pada masa yang akan datang, seperti 5 bulan lagi dia akan melakukan haji, sementara seminggu lagi dia berniat untuk membuka usaha maka dia wajib mempelajari ilmu terkait usaha yang akan dijalaninya agar tidak terjebak dalam transaksi yang haram.

Imam Zarnuji juga menyarankan agar seorang santri mencari guru yang lebih pandai, lebih wara’ dan lebih sepuh dari beberapa masyayikh yang ada, serta memilih teman bergaul yang tekun, wara’, baik tabiatnya, dan tanggap.

Menghormati ilmu dan ahlinya

Di sini Imam Burhanuddin menjelaskan bahwa seorang santri tidak akan mendapat ilmu manfaat kecuali dengan cara menghormati ilmu dan pemiliknya, yaitu gurunya atau para ulama yang lain.

Beliau juga menyebutkan adab apa saja yang harus dilakukan seorang santri, di antaranya adalah tidak menduduki tempat duduk gurunya, tidak memulai menanyakan suatu masalah kepada guru kecuali atas izinnya, tidak berjalan di depannya, tidak banyak berbicara di sisi gurunya, dan lain-lain.

Sungguh-sungguh, tekun, dan semangat

Imam Burhanuddin memandang ilmu merupakan sebuah pencapaian yang agung, ia harus dicari dengan kesungguhan, ketekunan dan semangat belajar yang tinggi. Kesungguhan yang membuahkan ilmu bermanfaat tidak hanya bergantung pada pelajar atau santrinya saja, namun peran guru dan orangtua pun harus penuh kesungguhan dalam menyiapkan pendidikan anaknya.

Beliau banyak memberi tips dan saran agar ilmu itu kuat melekat pada diri seorang pelajar. Di antaranya dengan cara takror atau mengulang materi pelajaran pada setiap permulaan dan akhir malam.

Tahap awal, ukuran, dan urutannya

Dalam pasal ini imam al-Zarnuji banyak menyinggung soal urutan materi pelajaran yang semestinya diajarkan guru kepada murid, dari dasar baru kemudian kepada tingkat yang lebih tinggi.

Selain itu, Imam al-Zarnuji juga menyatakan bahwa merupakan suatu keharusan bagi santri untuk sering menggelar kegiatan seperti berdiskusi dengan teman terkait materi yang diajarkan gurunya.

Imam al-Zarnuji juga mengingatkan para santri pelajar agar senantiasa bersyukur atas karunia Allah yang dianugerahkan kepada mereka berupa kemampuan dan kemudahan dalam menuntut ilmu.

Tawakal kepada Allah

Tentunya setelah menerapkan usaha-usaha diatas, seorang pelajar harus bertawakal kepada Allah SWT. Imam al-Zarnuji juga menganjurkan para pelajar untuk tidak perlu merasa sulit dan merisaukan masalah rezeki. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW:

من تفقه في دين الله كفاه الله تعالى همه ورزقه من حيث لا يحتسب

“Barangsiapa yang mencari ilmu agama, maka Allah SWT akan menjamin keperluannya dan memberinya rezeki yang tidak terduga.”

Masa produktif

Secara garis besar masa mencari ilmu adalah seumur hidup, sejak dilahirkan hingga masuk ke liang lahat. Menurut Imam al-Zarnuji, waktu terbaik untuk mencari ilmu adalah saat masih berusia muda. Sedangkan waktu terbaik untuk mengaji atau mengkaji ulang materi kajian adalah waktu sepertiga malam, dan waktu antara maghrib dan isyak.

Jika seorang santri merasa jenuh saat belajar terhadap satu disiplin ilmu, ia dapat beralih pada fan ilmu yang lain.

Kasih sayang dan nasihat

Berilmu dan berakhlakul karimah adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Seorang pelajar hendaknya memiliki rasa empati terhadap pelajar yang lain, bersedia memberi nasihat dan tidak iri hati. Seorang pelajar juga seharusnya menghindari permusuhan dalam bentuk apapun dengan teman-temannya, karena dapat menyia-nyiakan waktu. Beliau juga menyarankan agar mereka selalu positif thinking, tidak berburu sangka kepada teman atau orang lain.

Mengambil faedah pelajaran

Imam al-Zarnuji juga memberikan tips metode praktis untuk menambah ilmu pengetahuan, di antaranya ialah dengan selalu mempersiapkan alat tulis setiap saat, tidak menyia-nyiakan waktu, bergaul dengan guru dan rakus terhadap pengetahuan ilmu, fokus saat kajian dan pelajaran, dan selalu taat kepada guru.

Bersikap wara’ ketika belajar

Imam al-Zarnuji dalam pasal ini memberi wejangan kepada para pelajar untuk menghindari terlalu sering merasa kenyang, banyak tidur, banyak membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat, menghindari makanan yang dibeli dari pasar atau warung bila memungkinkan, menggunjing, bergaul dengan orang yang perilakunya buruk dan rusak akhlaknya. Dan hendaknya para santri bergaul bersama orang-orang sholeh, duduk menghadap kiblat saat mengaji atau belajar, mengamalkan sunnah-sunnah Rasul, memperbanyak membaca sholawat.

Catatan: Alasan jajanan pasar atau warung kurang baik bagi santri adalah kurangnya rasa peduli penjual terhadap kesucian jajanan yang dijual. Selain itu keberadaan orang-orang fakir miskin yang melihat dan menginginkan makanan tersebut namun tidak mampu membelinya menjadikan makanan itu kurang berkah.

Penyebab mudah menghafal dan lupa

Menghafal termasuk salah satu metode belajar didalam berbagai lembaga pendidikan. Imam Zarnuji menyebutkan bahwa hal yang banyak membantu menguatkan hafalan ialah kesungguhan, tekun, sedikit makan, dan shalat di malam hari, serta sering membaca Al-Qur’an.

Sedangkan yang dapat menyebabkan mudah lupa adalah sering melakukan dosa dan maksiat, gelisah dan merisaukan perkara lain yang tidak berhubungan dengan pelajaran, termasuk rezeki.

Sesuatu yang mendatangkan rezeki dan menjauhkan rezeki, serta menambah dan memperpendek umur.

Dalam pasal ini Imam Burhanuddin al-Zarnuji kembali mengingatkan bahwa seorang santri harus mengetahui apa saja perihal yang menambah rezeki dan apa saja yang dapat membantu dalam menambah panjang usia dan kesehatan, supaya masa belajarnya dapat diselesaikan dengan baik.

Imam al-Zarnuji menyebutkan bahwa perbuatan dosa dan dusta merupakan faktor yang menjadi penghalang datangnya rezeki. Selain itu, Beliau juga menyatakan bahwa tidur setelah waktu Subuh termasuk penghalang rezeki, banyak tidur menyebabkan kefakiran, termasuk fakir akan ilmu. Sedangkan bangun di pagi hari memudahkan tercapainya segala kemudahan dan dapat mendatangkan rezeki dengan mudah.

Dalam memperkuat pendapatnya, Imam al-Zarnuji seringkali menggunakan hadis dan syair-syair. Banyak sekali syair penuh hikmah dalam kitab Ta’lîmul Muta’allim, hingga ada yang menghimpunnya dalam risalah khusus, yaitu syair Alala. Salah satu bait yang fenomenal dalam kitab ini adalah syair karya Muhammad bin al-Hasan:

تعلم فإن العلم زين لأهله ۞ وفضل وعنوان لكل المحامد

وكن مستفيدا كل يوم زيادة ۞ من العلم واسبح في بحور الفوئد

“Belajarlah, karena ilmu itu laksana perhiasan bagi pemiliknya, juga menjadi keutamaan dan tanda bagi segala sesuatu yang terpuji.

Jadikan dirimu dapat mengambil tambahan faedah dari ilmu setiap harinya, dan berenanglah dalam samudera kemanfatan (Imam al-Zarnuji, Ta’lîm al-Muta’alim, Beirut:halaman 61)

Karya Imam al-Zarnuji ini telah masyhur dikalangan banyak orang baik di Timur maupun di Barat. Banyak para ulama yang memuji kitab Ta’lîm al-Muta’allim, salah satunya adalah al ‘Allamah al-Kinawi al Hindi. Beliau mengatakan, “Aku telah menghatamkan kitab ini berulang-ulang, ini adalah kitab yang ringkas, memiliki manfaat yang banyak, sangat berharga dan berfaedah. (Imam al-Zarnuji, Ta’lîm al-Muta’alim, B