Larangan Saat Hadats Junub dan Haid

Larangan Saat Hadats Junub dan Haid

Larangan Saat Hadats Junub dan Haid – Sebenarnya saat kita temukan istilah “hadats” dalam kitab-kitab fiqih syafiiyah maka merujuk pada pengertian hadats kecil, kecuali jika ada indikasi yang mengarahkan pada selain hadats kecil. Namun kali ini kami fokus membahas larangan saat junub dan haid, dan tidak membahas tentang hadats asghor karena sudah dijelaskan dalam postingan sebelumnya. (Baca: Tata cara bersuci dari hadats)

Perkara yang haram saat junub

Larangan saat junub lebih banyak daripada larangan saat hadats kecil. Begitu juga yang diharamkan saat haid dan nifas lebih beragam dari yang sekedar junub.

Berikut ini adalah perkara yang haram dilakukan dikala junub:

  1. Haram sholat

Baik sholat fardhu ataupun sunnat. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:

Dalil haram salat saat junub
Transliterasi ayat tentang junub
Terjemah arti ayat tentang junub

Dan juga hadits yang diriwayatkan Ibn Umar RA:

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: إني سمعت رسول الله ﷺ يقول:  لا تقبل صلاة بغير 1طهور

رواه مسلم

“Dari Ibn Umar RA, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh SAW bersabda bahwasanya sholat tidaklah diterima dengan tanpa bersuci.”

Maksud hadits ini adalah salat tanpa bersuci, baik dari hadats kecil atau hadats besar tidaklah diterima. Dan orang yang memaksakan untuk sholat sementara ia mengetahui tidak diterimanya salat seseorang yang hadats merupakan bentuk mempermainkan dan menistakan sebuah ibadah, sedangkan menistakan sebuah ibadah adalah haram.

Selain itu, para ulama telah ijmak bahwa sholat yang dilakukan dalam kondisi hadats adalah haram. Demikian itu sesuai dengan penjelasan Imam Nawawi dalam Majemuknya:

المسألة الثالثة: أجمع المسلمون على تحريم الصلاة على المحدث وأجمعوا على أنها لا تصح منه سواء إن كان عالما بحدثه أو جاهلا أو ناسيا لكنه إن صلى جاهلا أو ناسيا فلا إثم عليه وإن كان عالما بالحدث وتحريم الصلاة مع الحدث فقد ارتكب معصية عظيمة.
2.

“Ulama sepakat menghukumi haramnya salat dalam keadaan hadats, dan juga ijma bahwasanya salat yang dilakukan dalam keadaan hadats tidak sah, baik ia mengetahui perihal hadatsnya, tidak tahu bahwa ia sedang hadats atau lupa bahwa ia telah hadats.

Akan tetapi jika ia tidak tahu, atau lupa bahwa dirinya telah hadats dan melakukan salat maka ia tidak dihukumi berdosa. Lain halnya dengan ketika ia melakukan salat sementara dia tahu bahwa dirinya hadats, dan mengetahui keharaman melakukan salat dalam keadaan hadats maka ia dihukumi melakukan sebuah kemaksiatan yang besar.”

Demikian itu jika tidak dalam keadaan terpaksa melakukan salat dalam keadaan hadats. Jika terpaksa seperti tidak ada air untuk wudlu ataupun mandi, serta tidak ada debu yang suci untuk digunakan tayammum maka tidak haram melakukan salat sebagai bentuk hurmatil wakti.

  1. Haram berdiam diri di masjid

Bagi orang yang hadats besar atau junub haram berdiam diri dengan duduk, tiduran atau bentuk diam yang lain. Namun jika hanya sebatas lewat tanpa diam dan tanpa mondar-mandir di masjid maka tidak haram. Hal ini selain berdasar ayat tentang junub di atas, juga berdasarkan hadits Nabi SAW:

قال رسول الله ﷺ :  لا أحل المسجد لحائض، ولا لجنب


رواه أبو داود: ٢٣٢

“Rosul SAW bersabda: Masjid tidaklah halal bagi wanita haid dan orang junub.” HR. Abi Daud

Para pakar hadits menafsiri keharaman masjid dalam hadits ini adalah keharaman berdiam diri di masjid bagi orang junub dan perempuan haid.

  1. Haram thowaf

Bagi junub dan haid diharamkan tawaf wajib atau sunnah sebagaimana keharaman tawaf dalam keadaan hadats kecil.

  1. Haram membaca Alquran

Larangan ke-4 bagi wanita haid dan juga orang yang junub adalah membaca Alquran, meskipun hanya sebagian ayat saja. Hal tersebut berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW:

قال رسول الله ﷺ:  لا تقرا الحائض، ولا الجنب شيئا من القرآن 


رواه الترمذي: ١٣١، وغيره

“Rosululloh SAW bersabda: Wanita haid, dan juga orang dalam keadaan janabah tidak diperbolehkan membaca suatu ayat dari Alquran.”

Sebagai catatan: Untuk para hafidz Alquran yang kebetulan junub atau haid dan ingin nderes hafalannya diperbolehkan membaca dengan tanpa mengeluarkan suara, dan juga diperbolehkan baginya melihat tulisan Alquran.

Begitu juga diperbolehkan membaca doa-doa yang pengambilannya dari Alquran seperti halnya doa naik kendaraan.3

Doa naik kendaraan arab
Doa naik kendaraan latin
  1. Haram membawa dan memegang mushaf Alquran

Larangan saat haid dan nifas

Perkara yang diharamkan saat haid atau nifas sama sebagaimana larangan bagi orang yang sedang janabah. Akan tetapi bagi wanita haid atau nifas ada tambahan larangan yang mesti dijauhi, yaitu:

  1. Melewati masjid

Keharaman ini jika memang dikuatirkan mengotori masjid dengan darah haid, karena darah haid termasuk najis, sementara hukum mengotori masjid adalah haram meskipun dengan kotoran yang suci. Akan tetapi jika tidak ada kekuatiran mengotori masjid maka boleh sebagaimana penjelasan di atas terkait larangan bagi orang junub.

  1. Puasa

Berbeda dengan junub, wanita haid dilarang berpuasa, baik puasa sunat atau wajib. Dalil keharaman ini adalah hadits:

عن أبي سعيد رضي الله عنه: أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال في المرأة وقد سئل عن معنى نقصان دينها:  أَلَيْسَ إذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ 


 رواه البخاري ٢٩٨، ومسلم ٨٠

“Dari Abi Said RA: Bahwa Rasulullah SAW bersabda terkait masalah wanita, saat beliau ditanya makna dari “kurangnya agama wanita,” beliau menjawab: Bukankah saat wanita haid ia tidak salat dan tidak pula berpuasa?”

Meski puasa dan salat diharamkan bagi wanita haid dan nifas, namun puasa yang ditinggalkan saat sedang haid wajib diqodho. Lain halnya sholat yang ditinggal saat haid atau nifas, karena tidak ada kewajiban mengqodho salat bagi mereka.

  1. Melakukan hubungan suami istri

Bagi wanita haid atau nifas diharamkan melakukan jimak atau bermesraan disekitar pusar sampai lutut. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:

Ayat tentang haramnya bersetubuh kala haid
Ayat latin tentang haramnya bersetubuh kala haid
Terjemah ayat tentang haramnya bersetubuh kala haid

Maksud dari perintah menjauhi istri yang sedang haid dalam ayat itu adalah meninggalkan hubungan badan.

Juga hadits yang diriwayatkan Imam Abi Daud:

عن عبدالله بن سعد – رضي الله عنه -: أنه سأل النبي ﷺ: ما يحلُّ لي من امرأتي وهي حائضُ؟ قال: لَكَ مَا فّوقَ الإِزَارِ.

“Dari Abdullah bin Sa’d RA, beliau bertanya pada Rosululloh SAW: Apa yang dihalalkan untuk saya dari istri yang sedang haid? Rasul SAW menjawab: Bagimu, tubuh yang berada di atas jarik.”

Izar dalam hadits di atas, adalah pakaian yang menutupi bagian tengah tubuh. Pada umumnya jarik merupakan busana yang menutupi area sekitar pusar sampai lutut. Dengan demikian para ulama menyimpulkan keharaman bermesraan di area tubuh yang tertutup jarik, yakni pusar sampai lutut.

  1. الفقه المنهجي ج١ ص ٧٥
  2. المجموع شرح المهذب ج٢ ص ٦٧ دار الفكر
  3. الفقه المنهجي ج١ ص ٧٦

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related