Macam-Macam Sujud yang Dianjurkan, Tata Cara dan Rukunnya

Sujud, sebagaiman yang telah dijelaskan di postingan sebelumnya (“Sujud, definisi dan syaratnya”) yaitu menundukkan diri dengan meletakkan 7 bagian tubuh sebagai bentuk pendekatan kepada Allah SWT.

Ada berbagai macam sujud yang memang disyariatkan atau dianjurkan dilakukan seorang muslim, baik di dalam sholat atau di luar sholat. Berikut ini macam-macam sujud yang masyru’ dilakukan.

Macam-Macam Sujud yang Dianjurkan, Tata Cara dan Rukunnya
ilustrasi sujud: pixabay.com

Sujud Sahwi

Sujud Sahwi merupakan sujud yang dilakukan 2 kali menjelang salam disebabkan musholli melakukan salah satu dari hal-hal berikut ini.

  1. Musholli meninggalkan salah satu, atau sebagian dari beberapa sunnah ab’adh sholat
  2. Kelalaian musholli dalam melakukan hal-hal yang bisa membatalkan sholat jika disengaja, namun tidak membatalkan jika didasari kelalaian musholli. Seperti berbicara dengan kalam yang sedikit, makan yang sedikit, penambahan rukun fi’li dan juga penambahan rokaat.
  3. Memindah atau melakukan rukun qouli pada selain tempatnya. Seperti membaca fatihah di saat ruku’ atau duduk tasyahhud. Membaca tasyahhud di saat berdiri atau ketika duduk diantara 2 sujud. Begitu juga pembacaan surat pada waktu ruku’. Melakukan pemindahan rukun qouli baik disengaja atau tidak, menyebabkan musholli sunnat sujud sahwi.
  4. Melakukan rukun fi’li yang dimungkinkan adanya penambahan rukun. Seperti ketika musholli ragu meninggalkan ruku’ kemudian dia melakukan rukuk, maka menjelang salam dia sunnah sujud sahwi.

Tata cara sujud sahwi

Tata cara pelaksanaan sujud sahwi sebagaimana sujud-sujud yang lain dalam sholat. Hanya saja musholli diharuskan niat melakukan sujud sahwi saat beranjak sujud. Dan, sujud sahwi dilakukan menjelang salam. Namun apabila musholli lupa belum sujud sahwi dan ingat setelah salam sementara jeda waktu belum panjang maka sunnah untuk sujud sahwi kemudian diahiri salam. Jika jeda pemisah sudah lama, maka kesunnatan sujud sahwi sudah tidak berlaku.

Dalam sujud sahwi bacaan yang dibaca adalah سبحان من لا ينام ولا يسهو (subhana man la yanamu wala yashu). Sebagian ulama menjelaskan, bacaan tersebut sunnah jika penyebab sujud sahwi adalah kelalaian. Namun jika pemicu sujud sahwi merupakan kesengajaan musholli, seperti sengaja membaca fatihah saat sujud, maka yang dibaca adalah istighfar.

Sujud tilawah

Sujud tilawah merupakan sujud yang disunnahkan saat mendengar ayat sajdah. Kesunnatan ini berlaku bagi qori’  (pembaca quran) dengan bacaan yang memang dianjurkan (masyru’) bukan bacaan yang haram seperti bacaan dari orang junub, atau bacaan yang makruh seperti bacaan surat pada waktu sujud.

Kesunnatan sujud juga berlaku pada mustami’, yakni orang yang sengaja mendengarkan bacaan quran orang lain, dan sami’ yakni orang yang kebetulan mendengar bacaan tersebut.

Dalil sunnahnya sujud tilawah

Dalil kesunnatan sujud tilawah adalah, hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dari  Ibn Umar RA. “Nabi SAW membacakan surat yang terdapat ayat sajdah, kemudian Nabi SAW sujud. Kami pun mengikutinya sujud, sampai-sampai salah satu diantara kami ada yang tidak mendapatkan tempat untuk sujud” Al Fiqhul Manhaji I/174

ودليل ذلك ما رواه البخاري ، عن ابن عمر – رضي الله عنه – قال: كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يقرأ علينا السورة فيها السجدة، فيسجد ونسجد، حتى ما يجد أحدنا موضع جبهته. اهـ الفقه المنهجي

Juga hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abi Hurairoh RA. Nabi SAW bersabda “Ketika anak adam membaca ayat sajdah, kemudian dia sujud, maka syetan menangis dan menjauhinya. Syetan berkata “Celaka!, anak adam disuruh sujud dan mereka mematuhinya, sehingga mendapat surga. Sedangkan aku diperintah sujud. Namun aku menolaknya, sehingga aku mendapat neraka.”

وروى مسلم  عن أبي هريرة – رضي الله عنه – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ” إذا قرأ ابن آدم السجدة فسجد، اعتزل الشيطان يبكي، يقول: يا ويْلَهُ، أُمِرَ ابن آدم بالسجود فسجد فله الجنة، وأمرت بالسجود فعصيت فلي النار”.اهـ الفقه المنهجي

Syarat dan bacaan sujud tilawah

Syarat-syarat yang harus dipenuhi saat akan sujud tilawah meskipun dilakukan di luar sholat, adalah:

  1. Terpenuhinya syarat-syarat sholat, seperti suci, menutup aurot, menghadap kiblat
  2. Meninggalkan perkara yang membatalkan sholat, seperti berbicara dll.

Untuk bacaan yang sunnat dibaca adalah:

سجد وجهي للذي خلقه وصوره وشق سمعه وبصره بحوله وقوته, فتبارك الله أحسن الخالقين”

“Sajada wajhi lilladzi kholaqohu wa showwarohu wa syaqqo sam’ahu wa bashorohu bihaulihi wa quwwatih, fatabarokallohu ahsanulkholiqin”

Baca juga “Risalah sholat

Rukun sujud tilawah

Mengingat sujud tilawah dianjurkan dilakukan dalam sholat, atau di luar sholat, maka dalam rukunnya juga ada perbedaan.

Sujud tilawah yang dilakukan di dalam sholat, rukunnya adalah:

  1. Niat melakukan sujud tilawah. Jika berpijak pada pendapat Ar Romli, berbeda dengan pendapat Ibn Hajar yang menyatakan tidak perlu niat saat sujud tilawah di dalam sholat.
  2. Sujud

Sedangkan sujud tilawah yang dilakukan di luar sholat, maka rukun-rukunnya sebagaimana sujud syukur.  Yaitu:

  1. Niat
  2. Takbirotulihrom
  3. Sujud
  4. Duduk, atau tidur miring setelah selesainya sujud tilawah
  5. Salam
  6. Tertib

Surat-surat yang terdapat ayat sajdah

1 sajdah dalam Al A’rof, Ar Ro’du, An Nahl, Al Isro’, Maryam, Al Furqon, An Naml, As Sajdah, Ha Mim Assajdah, An Najm, Al Insyiqoq, Al ‘Alaq, dan 2 sajdah dalam Al Haj.

Sujud Syukur

Sujud syukur hanya dianjurkan di luar sholat. Untuk syarat sebagaimana sujud-sujud yang lain. Sedangkan tata cara dan rukun-rukunnya sama dengan rukun sujud tilawah yang dilakukan di luar sholat.

Sujud syukur disunnahkan Ketika terjadi hal-hal berikut ini:

  1. Terjadinya kenikmatan (kebahagiaan) yang tidak diduga sebelumnya. Baik kebahagiaan yang sudah diharapkan sebelumnya atau tidak.
  2. Terhindar dari musibah. Seperti di selamatkan dari bencana atau kehilangan harta.
  3. Melihat seseorang yang terkena ujian dhohiriyah yang menimpa badan atau akal. Seperti melihat seseorang yang diuji dengan penyakit teryentu, atau seseorang yang terkena bencana.
  4. Melihat seseorang yang terang-terangan melakukan kemaksiatan. Maksiat merupakan sebuah musibah diniyah, yang tentunya harus disyukuri oleh orang yang diberi taufiq untuk meninggalkannya. Hal ini yang menjadikan sunnah sujud syukur saat melihat pelaku kemaksiatan secara terang-terangan.

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related