Mengenal Sahabat Nabi ﷺ, Siapakah Mereka?

Mengenal sahabat Nabi

Sahabat Nabi merupakan seseorang yang memiliki peranan penting dalam penyampaian hadits dan sejarah yang terkait Nabi Muhammad ﷺ, selain itu generasi mereka adalah generasi keemasan Umat Muhammad.

Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi ﷺ bahwa generasi terbaik adalah generasi yang sezaman dengan Nabi yakni generasi sahabat, kemudian dilanjutkan oleh generasi setelahnya yang kita kenal dengan generasi tabi’in.

Mengingat bahwa Nabi Muhammad ﷺ diutus Allah ﷻ sebagai rahmat dan juga untuk mengajarkan tauhid kepada seluruh makhlukNya, baik manusia maupun jin, tentu membuat kita bertanya-tanya: Apakah jin muslim di masa Nabi ﷺ termasuk sahabat Rasulullah? Untuk mengetahui jawabannya tentu kita harus memahami siapa sahabat Nabi, dan pengertian sahabat Nabi. Berikut ini adalah penjelasannya.

Siapakah Sahabat Nabi?

Arti sahabat secara bahasa diambil dari akar kata “suhbah / صحبة” yang bermakna menyertai orang lain tanpa ada ketentuan batasan waktu. Baik menyertai orang lain dalam masa yang singkat atau dalam jangka waktu yang lama.

Sedangkan menurut para ulama, terdapat beberapa pendapat mengenai arti sahabat Nabi.

Pendapat Abul Husain

هو من طالت مجالسته له على طريق التّبع له والأخذ عنه، أما من طالت بدون قصد الاتباع أو لم تطل كالوافدين فلا.

“Sahabat adalah seseorang yang berkumpul dengan Rasulullah ﷺ dalam waktu yang lama dengan cara mengikuti perilaku Nabi dan mengambil pengajaran Nabi. Adapun mereka yang lama bersama Nabi, namun tidak ada tujuan mengikuti perilaku Nabi, atau tidak menyertai Nabi dalam jangka waktu yang lama sebagaimana orang-orang mancanegara yang berkunjung kepada Nabi untuk memeluk Islam maka bukan termasuk sahabat.”

Pendapat Ilkiya at Thabari

هو من ظهرت صحبته لرسول اللَّه صلّى اللَّه عليه وسلم صحبة القرين قرينه حتى يعد من أحزابه وخدمه المتصلين به.

“Sahabat adalah orang yang menyertai Rasulullah ﷺ sebagaimana teman menyertai sahabatnya sehingga ia dianggap sebagai kelompoknya atau pelayannya yang bertemu secara langsung”

Pendapat al Waqidi

ورأيت أهل العلم يقولون: كل من رأى رسول اللَّه صلّى اللَّه عليه وسلم وقد أدرك الحلم فأسلم وعقل أمر الدّين ورضيه فهو عندنا ممّن صحب النبيّ صلّى اللَّه عليه وسلم ولو ساعة من نهار

“Aku mengetahui para ulama mengatakan: Siapapun yang melihat Rosululloh ﷺ sementara ia telah baligh, kemudian ia masuk Islam, dan memegang teguh ajaran Islam serta suka rela menjalaninya, maka menurut kami mereka adalah sahabat Nabi, meski mereka hanya melewati masa-masa bersama Nabi dalam waktu singkat.”

Pendapat yang disampaikan al Waqidi, menukil dari penjelasan para ulama, dianggap Imam Suyuti sebagai pendapat yang kurang lengkap. Karena, sahabat dalam pengertian yang disampaikan al Waqidi mensyaratkan akil baligh terhadap seseorang yang dikategorikan sahabat. Pengertian ini tentu akan menafikan beberapa orang yang telah disepakati oleh para ulama akan status shohabinya.

Pendapat yang Paling Tepat

Dari beberapa pendapat ulama, pendapat yang disepakati sebagai pendapat paling shahih mengenai “Siapa Sahabat Nabi” adalah:

من لقي النبيّ صلّى اللَّه عليه وسلم في حياته مسلما ومات على إسلامه

“Seseorang yang bertemu Nabi ﷺ saat beliau masih hidup, sementara dia memeluk Islam (diwaktu itu), dan meninggal dalam keadaan Islam.”

Dengan demikian orang yang memeluk Islam, akan tetapi dia tidak melihat Nabi diwaktu hidupnya sebagaimana Abi Dzuaib al Hudzali, bukanlah termasuk sahabat, karena Abi Dzuaib baru melihat Nabi saat beliau akan disemayamkan.

Begitu juga orang yang pernah bertemu Nabi ﷺ namun ia baru memeluk Islam setelah Nabi wafat. Dan juga orang yang pernah bertemu Rasulullah serta masuk Islam, hanya saja ia mati dalam keadaan kafir (naudzu billah).

Adapun orang yang pernah mengalami murtad, kemudian pada akhirnya ia kembali pada Islam maka ada beberapa pendapat. Imam al Iroqi, dalam hal ini tidak secara tegas menjelaskan status sahabat dari orang yang sempat murtad, meski akhirnya memeluk Islam, karena Imam Syafii dan Imam Abi Hanifah menjelaskan bahwa kemurtadan melebur status sahabat Nabi. Namun Ibnu Hajar secara tegas menyatakan bahwa status sahabat masih ada, jika di masa hidup Nabi ia kembali pada Islam.

Apakah Malaikat Bisa Menjadi Sahabat Nabi?

Banyak sekali para malaikat yang bertemu langsung dengan Nabi ﷺ dimasa hidupnya, terutama Jibril AS, bahkan tak jarang Jibril menemui Nabi secara terang-terangan dengan menyamar sebagai sosok sahabatnya, Dihyah al Kilabi RA. Namun terkait apakah mereka yang pernah bertemu Nabi diwaktu Nabi masih hidup termasuk sahabat, ada beberapa pendapat.

Pendapat-pendapat ini berkaitan dengan “apakah risalah Nabi ﷺ juga mengikat pada para malaikat”. Imam Fakhrudin dalam tafsirnya menukil ijmak ulama bahwa Rosululloh tidak diutus untuk menyampaikan risalahnya kepada para malaikat. Berbeda dengan Imam Taqiyudin as Subki yang menyatakan bahwa Nabi juga diutus kepada para malaikat.

Adakah Sahabat Nabi yang Dari Golongan Jin?

Berbeda dengan para malaikat, para ulama sepakat bahwa risalah Rosululloh ﷺ juga mencakup kepada golongan jin, dan mereka juga memiliki beban yang sama sebagaimana manusia yang diperintahkan menjalankan Syariat Islam. Hal ini berdasarkan penjelasan Al Quran, diantaranya adalah firman Allah:

Mengenal Sahabat Nabi ﷺ, Siapakah Mereka?
Mengenal Sahabat Nabi ﷺ, Siapakah Mereka? 5
Mengenal Sahabat Nabi ﷺ, Siapakah Mereka?
Mengenal Sahabat Nabi ﷺ, Siapakah Mereka? 6

Artinya:

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an, maka ketika mereka menghadirinya mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)!” Maka ketika telah selesai (pembacaan Al Quran) mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (QS. Al-Ahqaf: 29)

Ayat ini memberikan pemahaman bahwa kembalinya para jin kepada kaumnya untuk memberi peringatan, merupakan sebuah indikasi bahwa mereka juga tertaklif sebagaimana manusia.

Dan juga ayat:

Mengenal Sahabat Nabi ﷺ, Siapakah Mereka?
Mengenal Sahabat Nabi ﷺ, Siapakah Mereka? 7
Mengenal Sahabat Nabi ﷺ, Siapakah Mereka?
Mengenal Sahabat Nabi ﷺ, Siapakah Mereka? 8

Karena alasan inilah al Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan:

الرّاجح دخولهم، لأن النبي صلّى اللَّه عليه وسلم بعث إليهم قطعا

“Pendapat yang rajih (unggul) adalah golongan jin bisa masuk kategori sahabat Nabi, karena Nabi ﷺ juga diutus kepada mereka secara qoth’i.”1

Kesimpulan

Sahabat Nabi adalah manusia atau jin yang bertemu Nabi di masa hidupnya, dan ia mengimaninya, serta meninggal dalam keadaan beriman. Wallohu a’lam

Refrensi:

  1. الإصابة في تمييز الصحابة