Merayakan Maulid Nabi Menurut Abuya Sayid Maliki

Merayakan Maulid Nabi Menurut Abuya Sayid Maliki

Merayakan Maulid Nabi merupakan bagian dari tradisi yang dirayakan setiap tahunnya bagi mayoritas umat Islam. Meski perayaan maulid mabi di awal-awal era Islam belum ada namun merayakan maulid Nabi ﷺ menjadi sebuah bentuk amaliah bernilai ibadah dan telah dianjurkan oleh banyak ulama ASWAJA terkemuka.

Salah satu ulama besar yang menganjurkan perayaan maulid mabi adalah Abuya Assayyid Muhammad bin Alwi al Maliki al Hasani. Seringkali beliau menyampaikan hukum merayakan maulid nabi dalam berbagai majelis kajiaannya. Dan dalil-dalil perayaan maulid nabi juga beliau tulis dalam sebagian karyanya “Adzdzakhoo-ir al Muhammadiyah”.

Berikut ini adalah dasar-dasar yang memperbolehkan merayakan maulid Nabi.

  1. Sebagai bentuk sukacita atas kelahiran Nabi ﷺ

Merayakan Maulid Nabi adalah wujud mengekspresikan rasa bahagia dan gembira atas kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Bahagia atas kelahiran nabi terbukti bisa memberikan manfaat kepada orang non-muslim, tidak hanya muslim. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari bahwa Abu Lahab yang sangat membenci dakwah Nabi ﷺ, akan diringankan siksanya di neraka setiap hari senin karena turut senang dan gembira dengan kelahiran Nabi Muhammad.

Jadi, jika yang tidak mengimani Rosululloh dan secara jelas disebutkan dalam Al-Quran jika ia termasuk golongan orang celaka bisa mendapatkan keuntungan seperti itu dengan mengekspresikan kebahagiaannya di waktu lahirnya Nabi ﷺ, lantas bagaimana jika yang bersukacita dalam peringatan maulid nabi adalah seorang muslim yang selalu iman dan taat pada perintahnya?

  1. Bergembira atas kelahiran Nabi ﷺ dianjurkan dalam Al-Quran

Kehadiran Nabi Muhammad ﷺ merupakan terbukanya pintu syariat yang menerangi berbagai kegelapan jalan yang ditempuh manusia di kala itu hingga akhir zaman nanti. Dengan demikian, lahirnya nabi Muhammad adalah awal sebuah rahmat untuk seluruh alam, karena beliau diturunkan sebagai rahmatan lil alamin.

Dalam hal ini Allah ﷻ berfirman:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ

الانبياء ١٠٧

“Tidaklah Aku mengutusmu (Muhammad) melainkan sebagai rahmat untuk seluruh alam.”

Sementara itu, dalam ayat lain Allah menyuruh kita untuk bergembira atas karunia dan rahmat yang telah Dia berikan.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

يونس ٥٨

Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah (Islam) dan dengan rahmat-Nya (Al Quran). hendaknya dengan itu semua mereka bergembira. Demikian itu lebih baik dari apa yang telah mereka kumpulkan.

  1. Nabi ﷺ merayakan hari kelahirannya

Rosululloh ﷺ juga mengagungkan dan mensyukuri maulid (hari kelahirannya) karena dengan kehadirannya seluruh makhluk dapat merasakan rahmat. Dalam hal ini beliau mengekspresikannya dengan berpuasa di hari senin yang merupakan hari kelahirannya, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya, bahwa Rosululloh ﷺ pernah ditanya tentang puasa di hari senin, lantas Nabi menjawab “di hari itu aku dilahirkan, di hari itu pula wahyu pertama diturunkan”

Menyikapi hadits tersebut Sayid Maliki menjelaskan bahwa dalam perayaan maulid implementasinya bisa berbeda dan tidak harus monoton. Cara merayakan maulid nabi bisa dengan berpuasa, mensedekahkan makanan pada orang-orang fakir, mengadakan majelis dzikir, majelis sholawat dan pembacaan maulid.

  1. Terdapat anjuran untuk mengingat sejarah

Jika kita merenungkan beberapa hadits tentu kita akan menyadari bahwa Nabi ﷺ juga peduli dengan kejadian bersejarah yang bernilai keagaamaan, sebagaimana diceritakan dalam hadits shahih bahwa tatkala Nabi tiba di Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Dan beliaupun menanyakan perihal puasa mereka, lalu ketika Nabi mendapat jawaban bahwa mereka melakukan puasa di hari Asyura adalah sebagai bentuk rasa syukur atas diselamatkannya nabi Musa AS dari kedloliman Firaun dan bala tentaranya, beliaupun bersabda “Kami lebih berhak untuk mensyukuri selamatnya nabi Musa dibanding kalian.”

Dari 4 dalil maulid di atas bisa disimpulkan bahwa hukum memperingati maulid Nabi ﷺ adalah boleh bahkan dianjurkan. Dan cara masyarakat merayakan maulid nabi juga bisa dengan berbagai macam amaliah, namun untuk menjaga agar perayaan maulid Nabi SAW tidak melenceng dari aturan agama yang benar kita tetap diwajibkan menjaga batasan-batasan syariat agar tidak terdapat kemungkaran dalam acara perayaan maulid.

Demikian kajian tentang hukum merayakan maulid nabi dan dalilnya. Semoga bermanfaat.

Posting Terbaru

Related Articles

Related