Merayakan Maulid Nabi

Maulid nabi

Merayakan Maulid Nabi – Kebanyakan ulama sunni menilai perayaan maulid Nabi Muhammad Saw. sebagai amaliah yang diperbolehkan dalam syariat islam serta bernilai pahala bagi yang melakukannya. Demikian itu telah dijelaskan oleh beberapa ulama terkemuka, seperti Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Kitabnya Al-Hawi li al-Fatawi, pengarang kitab I’anah at-Thalibin Sayyid Abi Bakar Syato ad-Dimyati juga menuturkan hal yang sama di I’anahnya, begitu juga Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitab Dakhoir Al-Muhammadiyah, dan lain-lain.

Waktu merayakan maulid Nabi

Mengenai waktunya, pada umumnya kebanyakan masyarakat memahami bahwa merayakan maulid Nabi SAW hanya dapat dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awal. Begitu juga mengenai tata cara perayaan maulid Nabi, sudah menjadi pemahaman yang mengakar di masyarakat bahwa merayakan maulid Nabi hanya bisa dilakukan dengan cara membaca bacaan maulid seperti maulid Simtud Duror, maulid ad-Diba’i, al-Barzanji, dan semacamnya.

Diceritakan dalam sebuah hadis bahwa ketika Rasulullah SAW memasuki kota Madinah (Baca juga: Keutamaan sholat di Masjid Nabawi), beliau bertemu dengan orang-orang Yahudi yang sedang berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram; Baca juga: Keutamaan bulan muharram). Ketika Rasulullah SAW bertanya kepada mereka perihal puasa yang sedang mereka jalani, mereka menjawab bahwa hal itu dilakukan sebagai bentuk puji syukur atas diselamatkannya Nabi Musa As serta tenggelamnya bala tentara Firaun.1

Dari hadis tersebut, Syekh Abdul Hamid asy-Syarwani menjelaskan dalam kitabnya Hawasyi asy-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj:

فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَحَرَّى الْيَوْمَ بِعَيْنِهِ حَتَّى يُطَابِقَ قِصَّةَ مُوسَى فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَمَنْ لَمْ يُلَاحِظْ ذَلِكَ.

.لَا يُبَالِي بِعَمَلِ الْمَوْلِدِ فِي أَيِّ يَوْمٍ مِنْ الشَّهْرِ بَلْ تَوَسَّعَ قَوْمٌ فَنَقَلُوهُ إلَى يَوْمٍ مِنْ السَّنَةِ وَفِيهِ مَا فِيهِ

.هَذَا مَا يَتَعَلَّقُ بِأَصْلِ عَمَلِهِ وَأَمَّا مَا يُعْمَلُ فِيهِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقْتَصِرَ فِيهِ عَلَى مَا يُفْهِمُ الشُّكْرَ لِلَّهِ تَعَالَى

مِنْ نَحْوِ مَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ مِنْ التِّلَاوَةِ وَالْإِطْعَامِ وَالصَّدَقَةِ وَإِنْشَادِ شَيْءٍ مِنْ الْمَدَائِحِ النَّبَوِيَّةِ وَالزُّهْدِيَّةِ الْمُحَرِّكَةِ لِلْقُلُوبِ إلَى فِعْلِ الْخَيْرِ وَالْعَمَلِ لِلْآخِرَةِ

“Seyogyanya dalam perayaan Maulid Nabi seseorang memprioritaskan hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, sehingga cocok dengan hadits yang menceritakan puasa orang yahudi yang mensyukuri selamatnya Nabi Musa AS dari bala tentara Fir’aun pada hari Asyura’.

Adapun orang yang tidak memperhatikan tanggal perayaan maulid Nabi, ia tidak mempermasalahkan untuk merayakan maulid pada hari apa pun sepanjang bulan. Bahkan kebanyakan orang justru melakukan perayaan maulid pada hari apa pun sepanjang tahun. Hal ini berkaitan dengan pokok perayaannya.

Adapun yang dapat dilakukan dalam merayakan maulid sebisa mungkin melakukan amaliyah yang dapat dipahami sebagai ekspresi rasa syukur kepada Allah sesuai dengan penjelasan yang telah lewat, yakni merayakan dengan cara membaca Al-Quran, memberi makan, bersedekah, Melantunkan nasyid tentang pujian-pujian pada Nabi dan nasyid yang bernuansa zuhud yang membuat hati menjadi tergugah untuk melakukan kebaikan serta amal akhirat.”2

Syekh Abdul Hamid Quds al-Makki pun menegaskan:

وَجَرَى النَّاسُ عَلَى قِرَاءَتِهَا لَيْلَةَ مَوْلِدِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … وَالأََنَاشِيْدِ فِى مَدْحِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي الْمَسَاجِدِ وَالْجَوَامِعِ.
وَتَوَسَّعُوْا فِى ذَلِكَ حِرْصًا عَلَى اسْتِجْلَابِ بَرَكَتِهِ فَصَارُوْا يَقْرَءُوْنَهَا فِي الدَّوْرِ وَالْبُيُوْتِ فِي أَيِّ يَوْمٍ كَانَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ بَلْ فِي أَيِّ يَوْمٍ مِنَ الْعَامِ

“Telah berlaku pembacaan Maulid pada malam kelahiran Nabi SAW oleh beberapa umat islam … Dan juga lantunan nasyid tentang pujian kepada Nabi Saw di berbagai masjid, bahkan beberapa masjid jami’. Mereka juga melapangkan diri demi mendapatkan berkah maulid. Karena itu, mereka pun membacanya lagi di rumah-rumah di hari apapun di bulan Rabiul Awwal bahkan pada hari yang tidak ditentukan sepanjang tahun. ” 3

Dengan demikian, terang sudah bahwa perayaan maulid Nabi tidak dibatasi oleh waktu. Hanya saja, pada tanggal 12 Rabiul Awwal memiliki keutamaan lebih, sesuai dengan hadits Asyura di atas. Begitu pula teknis perayaan juga bisa dilakukan dengan cara apapun yang terpenting mencerminkan bentuk syukur atas kelahiran Nabi SAW. Karena tanpa kelahiran beliau kita tidak mungkin mendapatkan anugerah iman dan islam.

Refrensi:

  1. Syarh An-Nawawi’ala Shahih Muslim, VIII/10
  2. Hawasyi asy-Syarwani ala Tuhfah al-Muhtaj, VII/423
  3. Kanz an-Najah wa as-Surur, hal. 132