Nasab Silsilah Nabi Muhammad ﷺ

Silsilah Nabi Muhammad

Silsilah Nabi Muhammad – Salah satu rukun iman yang 6 adalah “Iman Kepada Rasul-Rasul Allah” dan termasuk rukun islam adalah syahadat, yang mana dalam dua kalimat syahadat seseorang tidak cuma mengakui bahwa hanya Allah, Tuhan yang berhak disembah. Namun ia juga meyakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusannya.

Dengan demikian agar keimanan seseorang terhadap Rosululloh saw bisa lebih mantap, ia wajib mengetahui serta meyakini bahwa Nabi Muhammad merupakan makhluk terbaik secara mutlak!

Keutamaan Nabi ﷺ tidak hanya dari segi lahiriyah saja, namun juga bathiniyah. Bahkan secara garis keturunan, nasab silsilah mulia Nabi merupakan nasab terbaik yang pernah ada. Pasalnya, keberadaan nasab Nabi dari garis orang-orang mulia sepanjang sejarah merupakan sebuah hikmah tersendiri, diantaranya adalah:

  • Allah menunjukkan kepada makhlukNya, betapa Dia mencintai dan memuliakan kekasihNya dengan memilihkan garis keturunan terbaik untuk Nabi ﷺ
  • Dengan latarbelakang nasab yang baik, tidak akan ada yang mempermasalahkan status sosial atau masa lalu leluhurnya. Bahkan orang kafir Quraisy yang paling memusuhinya sekalipun tidak pernah mencemooh Nabi terkait nasabnya

Karena itulah, akan kami bahas terkait silsilah nasab mulia Rosululloh SAW, serta kabilah maupun golongan keluarga Nabi.

Silsilah Nabi Muhammad dari Garis Ayah

Nasab Nabi Muhammad dan Khulafaur rasyidin
Nasab Nabi Muhammad dan Khulafaur rasyidin: rassoulallah.com

Dari jalur garis ayah, nasab nabi kita adalah:

Sayidina Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushoiy bin Kilab bin Murroh bin Ka’b bin Lu’ay bin Gholib bin Fihr bin Malik bin an Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhor bin Nizar bin Ma’d bin Adnan.

Kewajiban mengetahui nasab rasulullah ﷺ dari jalur ayah hanya sampai Adnan saja. Sayid Adnan yang menjadi leluhur Nabi ﷺ merupakan keturunan Nabi Ismail AS, semua ulama dan ahli sejarah sepakat akan hal ini. Hanya saja terkait siapa saja nama kakek Nabi yang sampai pada Nabi Ismail, serta jumlah orang yang ada setelah Adnan sampai dengan Nabi Ismail, terdapat perbedaan pendapat.

Bahkan Nabi Muhammad ﷺ menegaskan dalam sebagian hadits bahwa siapa saja yang menisbatkan nasabnya setelah Adnan sampai dengan Nabi Adam adalah pembohong. Hal ini sesuai dengan penjelasan al Munawi dalam kitabnya Faidhul Qodhir.

Silsilah Nabi Muhammad dari Garis Ibu

Sedangkan silsilah nasab Nabi Muhammad ﷺ dari jalur ibu adalah:

Sayiduna Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhroh bin Kilab.

Kilab yang berputra Zuhroh dan menurunkan ibu dari Rosululloh ﷺ adalah Kilab yang sama dengan yang berputra Qushoiy. Dari sinilah silsilah kedua orangtua Nabi bertemu, dan nama Kilab adalah nama laqob (julukan) nama aslinya adalah Hakim, atau Urwah menurut sebagian riwayat.

Kabilah Quraisy

Sedangkan kabilah Nabi Muhammad ﷺ adalah Kabilah Quraisy yang telah diketahui sebagai suku yang mulia, dengan status sosial yang tinggi, kedudukan yang suci melebihi suku-suku arab yang lain. Nama Quraisy sendiri merupakan laqob (julukan) dari Fihr bin Malik, atau Nadhr bin Kinanah menurut sebagian riwayat.

Seluruh lelaki dari Suku Quraisy merupakan tokoh bangsawan terpandang, serta memiliki kelebihan dibanding orang-orang arab lain di zamannya, terutama Qushoiy1, beliaulah orang Quraisy pertama yang mengambil alih kepengurusan Ka’bah. Beliau yang memegang kunci Ka’bah dan yang berhak memasukkan seseorang kedalam Ka’bah, kapanpun ia mau.

Beliau juga yang menempatkan orang-orang Quraisy di dalam Mekkah, dimana sebelumnya mereka bermukim di sudut serta pinggiran Kota Mekkah. Tak hanya itu, Qusay membangun sebuah rumah di sebelah utara Ka’bah yang dikenal dengan Darun Nadwa, yang merupakan Rumah Dewan Quraisy, dan menjadi pusat gerakan sosial mereka, sehingga tidak ada akad nikah, dan tidak ada masalah yang diputuskan kecuali di rumah ini.

Jenderal dan kepemimpinan perang juga berada di tangannya, namun meski begitu dia murah hati, dermawan dan berakal sempurna. Ucapannya selalu diikuti rakyatnya.

Qushoiy juga yang pertamakali memunculkan tradisi “Siqoyah” dan “Rifadah”.

Tradisi Siqoyah:

Siqoyah adalah air tawar dari perasan kurma, madu, kismis, dan sejenisnya, yang biasa ia persiapkan di beberapa kantong minum untuk disuguhkan pada para jamaah haji.

Tradisi Rifadah:

Rifadah adalah makanan yang dibuat untuk suguhan jamaah haji kala musim haji.

Keluarga Nabi Muhammad

Adapun keluarga Nabi, semoga sholawat dan salam menyertainya, mereka dikenal sebagai Keluarga Hasyimi, sebuah keluarga yang dinisbahkan pada Hasyim, kakek kedua Nabi ﷺ, dan Hashem melanjutkan posisi dan tradisi Qusay: Siqoyah dan Rifadah, kemudian dilanjutkan saudaranya, Mutholib, kemudian anak-anak Hashem sampai Islam datang dan pembebasan Kota Mekkah mereka tetap diijinkan Nabi untuk melanjutkan kepengurusan itu.

Hasyim merupakan bangsawan teragung pada masanya. Beliau memiliki kebiasaan menghasyim roti (melumatkan roti di dalam daging, membuatnya menjadi sekental pasta), kemudian mensedekahkan kepada orang-orang, karena itulah beliau disebut Hasyem, sedangkan nama aslinya adalah Amr.

Kisah Pernikahan Sayid Hasyim

Dalam suatu waktu beliau melewati Yatsrib (Madinah) saat dalam perjalanan dagang ke Syam (Levant)2, kemudian dia bertemu Salma putri Amr dari Bani Adi bin al-Najjar, dan beliau menikahinya serta tinggal bersamanya sebentar, lalu dia melanjutkan perjalanannya ke Levant ketika istrinya telah hamil, lalu beliau meninggal di Gaza, Palestina.

Selang beberapa waktu Salma melahirkan seorang putra di Madinah, yang dia beri nama: Syaibah, karena adanya uban di kepalanya, dalam keadaan yatim, anak ini dibesarkan di antara paman dari pihak ibu di Madinah, dan pamannya (dari pihak ayah) di Mekkah tidak tahu tentang keberadaan Syaibah, putra Hasyim sampai dia mencapai usia sekitar tujuh atau delapan tahun.

Setelah paman-paman Syaibah dari pihak ayah mengetahui keberadaan putra Hasyim di Madinah, pergilah Mutholib, saudara Hasyim untuk menjemput keponakannya di Madinah dan membawanya pulang ke Mekah, dan ketika orang-orang Mekkah melihat Syaibah bersama Mutholib mereka mengira dia adalah pelayannya sehingga mereka menyebutnya “Abd al-Muttalib” yang berarti “budak dari Muttalib”, itu merupakan asal penamaan Abdul Muttholib.

Mengenal Abdul Mutholib, Kakek Nabi ﷺ

Abd al-Muttalib adalah sosok lelaki yang sangat tampan, menawan, dan bangsawan teragung di antara orang-orang arab, dan pada masanya dia sangat dihormati dengan kemuliaan yang belum pernah dicapai oleh siapa pun. Pemuka Quraisy dan pemilik kafilah Mekah yang terhormat dan dipatuhi kaumnya, ia juga akrab disebut Al-Fayyad karena kedermawanannya.

Dia kerapkali memberikan hidangan makanannya untuk orang miskin, binatang liar serta burung-burung, karena inilah beliau dikenal dengan nama pemberi makan manusia dan binatang.

Di masa Abdul Muttholib, juga terjadi insiden perang gajah. Abrahah al-Asyram datang dari Yaman bersama enam puluh ribu tentara Ethiopia, dan beberapa diantara menggunakan pasukan gajah, untuk menghancurkan Ka’bah.

Namun, ketika sampai di Wadi Muhassar, lembah antara Muzdalifah dan Mina, dan penyerangan ke Mekah telah disiapkan, Allah mengirimkan puluhan ribu ekor burung Ababil untuk melempari pasukan Abrahah dengan batu dari neraka, dan akhirnya batu-batu itu membuat mereka seperti dedaunan yang digerogoti ulat. Kejadian itu kurang dari dua bulan sebelum kelahiran Nabi ﷺ.

Abdullah bin Abdul Muttholib

Adapun ayahnya, Sayid Abdullah, dia adalah lelaki terbaik dari putra-putra Abd al-Muttalib, yang paling iffah diantara mereka, dan paling disayanginya, yang menjadi “anak pengorbanan”, penyebabnya adalah ketika Abd al-Muttalib menggali sumur Zamzam yang saat itu keberadaannya tersembunyi karena dilenyapkan oleh Bani Jurhum, dan saat tanda-tanda keberadaan Sumur Zamzam telah tampak, orang-orang Quraisy yang lain merebutnya, padahal dalam penggalian itu dia lakukan seorang diri dengan bantuan satu orang putranya yang bernama Harits.

Krena kejadian ini, beliau bernadzar bahwa jika Allah memberinya sepuluh anak laki-laki, dia akan menjadikan salah satunya sebagai pengorbanan. Ketika akhirnya beliau memiliki sepuluh anak laki-laki, mau tidak mau dia harus menyembelih anaknya sebagai bentuk menepati nadzar.

Akhirnya beliau mengundi di antara anak-anaknya, namun siapa sangka ternyata undian pengorbanan jatuh pada Abdullah, ayah dari Rosululloh ﷺ kemudian dia pun pergi ke Ka’bah untuk membunuhnya, namun orang Quraisy yang mengetahui hal ini mencegahnya, terutama saudara laki-laki dan paman dari pihak ibu, akhirnya beliau menebus nadzar ini dengan menyembelih seratus unta, jadi Nabi ﷺ merupakan putra keturunan dari dua orang yang dijadikan pengorbanan: Ismail AS dan Abdullah, Ismail AS ditebus dengan seekor domba jantan, sementara Abdullah ditebus dengan seratus ekor unta.

Abdul-Muthalib menikahkan putranya, Abdullah, dengan Aminah binti Wahab, yang merupakan wanita terbaik Quraisy dalam hal kehormatan dan status sosial, dan ayahnya, Wahab merupakan Bangsawan Bani Zahra yang paling agung, baik dalam garis keturunan dan maupun kehormatan, dan Sayid Abdullah hidup bersama Aminah di Mekah dan kemudian ia mengandung Rasulullah ﷺ.

Dan setelah beberapa saat, Abd al-Muttalib mengirimnya ke Madinah, atau Syam dalam perjalanan bisnis melakukan perdagangan, dan sekembalinya dari Syam beliau meninggal di Madinah, dan dimakamkan di rumah al-Nabigha al-Dhabyani, kejadian ini sebelum kelahirannya Nabi Muhammad.3

Catatan kaki dan refrensi:

  1. Nama aslinya adalah Zaid
  2. Levant atau Syam merupakan wilayah Mediterania Timur, atau wilayah besar di Asia Barat yang dibatasi oleh Pegunungan Taurus di utara, Gurun Arab di selatan, Laut Mediterania di barat, dan Pegunungan Zagros di timur. Levant meliputi wilayah Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina.
  3. الرحيق المختوم, الذخائر المحمدية, فيض القدير