Panduan Wudhu Yang Benar Beserta Syarat, Fardhu dan Sunnah

Panduan Wudhu Yang Benar Beserta Syarat, Fardhu dan Sunnah

Wudhu adalah pemakaian air pada bagian-bagian tertentu pada tubuh yang diawali dengan niat yang khusus. Hukum melakukan wudhu adalah wajib, karena wudhu merupakan penentu keabsahan sholat, sedangkan apapun yang menjadi ketentuan sesuatu yang wajib maka dihukumi wajib.

Baca “Tata cara shalat beserta bacaan shalat lengkap

Adapun awal diwajibkannya wudhu bersamaan dengan permulaan diwajibkannya melakukan sholat, di malam isra`. 1

Syarat sah wudhu

Syarat agar wudhu dianggap sah dan bisa digunakan melakukan sholat serta ibadah lain yang mensyaratkan suci dari hadats kecil, seperti memegang mushaf Al Quran, thowaf, serta khutbah jumat adalah:

  1. Menggunakan air mutlak

Air mutlak adalah air yang sifat-sifatnya masih murni sesuai asal penciptaan Allah SWT. Meski begitu, perubahan sifat air yang disebabkan terlalu lama berada di suatu wadah, tercampur tanah atau lumpur, serta perubahan air yang diakibatkan keberadaan air atau tempat aliran air, seperti air yang berada di tanah yang mengandung unsur sulfur atau belerang tidak merubah sifat kemutlakan air. Hal ini dikarenakan sulitnya menjaga kemurnian air dalam keadaan tersebut. 2

Dan disyaratkan air mutlak yang digunakan bukanlah air musta`mal, yakni air yang telah digunakan untuk menghilangkan najis atau hadats.

  1. Air mengaliri bagian tubuh yang dibasuh

Dalam membasuh bagian-bagian tubuh yang seharusnya dibasuh saat wudhu harus ada air yang mengalirinya, tidak cukup hanya sekedar membasahi bagian tubuh tersebut.

  1. Anggota wudhu tidak terdapat sesuatu yang bisa merubah air

Tidak ada perkara yang menempel pada anggota tubuh yang dapat merubah kemutlakan air.

  1. Tidak ada penghalang

Tidak terdapat perkara yang menyebabkan terhalangnya air pada kulit. Seperti cat, minyak yang mengeras, begitu juga tinta yang telah mengeras yang sekira dapat menghalangi air pada kulit.

  1. Masuknya waktu sholat bagi orang yang selalu hadats

Syarat ke-5 ini berlaku pada orang-orang yang hadatsnya tidak bisa mampet (Daimul Hadats) seperti halnya beser, dan juga istichadloh. Bagi selain daimul hadats, diperbolehkan melakukan wudhu meski waktu sholat belum masuk.

Fardhu wudhu:

Fardhunya wudhu ada 6 baik dilakukan oleh daimul hadats ataupun bukan, 4 diantaranya telah ditetapkan dalam Al Quran sedang sisanya berdasarkan sunnah 3

Di dalam wudhu ada bagian tubuh yang diharuskan dibasuh, adapula yang harus diusap. Perbedaannya adalah, untuk bagian tubuh yang dibasuh tidak cukup hanya dengan cara membasahi akan tetapi harus ada air yang mengalirinya, lain halnya dengan mengusap. Karena pada bagian tubuh yang diusap cukup dengan membasahinya dengan air yang suci dan mensucikan meskipun tanpa mengalirkan air.

  1. Niat

Niat melakukan wudhu dilakukan bersamaan dengan basuhan pertama pada bagian wajah. Dengan demikian, jika niat dilakukan pada pertengahan membasuh wajah maka mencukupi, hanya saja ia harus mengulang membasuh bagian yang terlewati saat niat. 4

Niat wudhu arab
Niat wudhu latin beserta arti
  1. Membasuh wajah

Batasan wajah yang harus dibasuh saat wudhu adalah mulai dari tempat tumbuhnya rambut sampai dengan ujung dagu, dan juga dari telinga ke telinga yang lain.

Selain kewajiban membasuh wajah juga diharuskan membasuh rambut atau bulu yang tumbuh di wajah. Begitu juga daging yang tumbuh di area sekitar wajah.

  1. Membasuh kedua tangan beserta siku

Membasuh kedua tangan dimulai dari dua telapak tangan sampai dengan siku. Kewajiban ini juga berlaku pada bulu serta daging yang tumbuh di area tangan.

  1. Mengusap sebagian kepala

Fardhu wudhu yang ke-4 adalah mengusap sebagian kepala, baik kulit kepala atau rambut meskipun hanya mengusap sehelai rambut, selama nasih berada di area kepala.

  1. Membasuh kedua kaki beserta mata kaki

Dalil dari keharusan membasuh dan mengusap bagian anggota wudhu adalah ayat 6 dari Surat Al Maidah:

Dalil wudhu
Dalil wudhu latin
  1. Tertib

Saat melakukan wudhu diharuskan berurutan mulai dari membasuh wajah sampai membasuh kedua kaki. Jika tidak berurutan maka diharuskan mengulang sesuai urutan yang tertinggal.

Kewajiban tertib sesuai dengan sunnah yang dilakukan Rasululloh SAW.

Kesunatan wudhu

Berikut ini merupakan adabiyah serta kesempurnaan yang sunnah dilakukan setelah wudhu.

  1. Membaca basmalah
  2. Membasuh telapak tangan sampai pergelangan tangan
  3. Menggunakan siwak
  4. Berkumur
  5. Istinsyaq

Istinsyaq adalah menghirup air ke dalam hidung

  1. Mengusap seluruh kepala
  2. Mengusap kedua telinga
  3. Menggosok anggota wudhu

Yakni menggosok anggota wudhu setelah terkena air. Hal ini agar terhindar dari perbedaan pendapat dikalangan ulama yang mewajibkan menggosok-gosokkan tangan pada anggota wudhu.

  1. Menyela-nyela jenggot yang tebal

Lelaki yang berjenggot lebat dalam wudhunya tidak diwajibkan mengupayakan agar air sampai pada kulit di balik jenggotnya. Namun ia tetap disunnahkan menyela-nyela jenggotnya dengan jari-jari tangan kanan agar air bisa sampai pada kulit. Lain halnya dengan lelaki berjenggot tipis, karena ia wajib mengupayakan agar air sampai pada kulit.

sedangkan batasan jenggot tipis atau lebat adalah, ketika lawan bicara bisa melihat kulit di balik jenggot maka termasuk jenggot yang tipis. Jika tidak nampak oleh lawan bicaranya maka tebal.

  1. Menyela-nyela jari-jari tangan dan kaki

Kesunatan ini berlaku ketika air bisa sampai pada sela-sela jari. Namun jika air tidak bisa sampai pada sela-sela jari karena lengket akibat penyakit kulit atau yang lain, maka wajib menyela-nyela jari.

  1. Memanjangkan basuhan pada wajah

Dengan cara melebihkan basuhan pada sebagian area kepala dan lipatan-lipatan leher.

  1. memanjangkan basuhan pada kedua tangan dan kaki

Dengan cara membasuh kedua tangan sampai pada atas siku, dan membasuh kedua kaki sampai betis. Hal ini berdasar hadits:

 إن أمتي يدعون يوم القيامة غرا محجلين من آثار الوضوء فمن استطاع منكم أن يطيل غرته فليفعل 

5

“Sesungguhnya umatku di hari kiamat kelak akan dihadirkan dalam keadaan wajah, kedua kaki dan tangannya bercahaya disebabkan basuhan wudhu. Karenanya siapapun dari kalian yang mampu memanjangkan cahaya anggota tubuhnya kelak maka lakukanlah.”

  1. Mengulang basuhan atau usapan sebanyak 3 kali
  2. Mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan

Hal ini dilakukan pada saat membasuh tangan dan kaki. 6

  1. Muwalah atau kontinyu

Yakni segera membasuh atau mengusap anggota wudhu berikutnya sekira basuhan anggota wudhu yang pertama belum kering, dan dalam kondisi cuaca dan suhu tubuh normal. Hal ini berlaku pada selain daimul hadats.

Bagi daimul hadats muwalah dalam wudhu wajib dilakukan.

  1. Menghadap kiblat
  2. Tidak berbicara saat wudhu
  3. Tidak mengeringkan anggota wudhu selama tidak ada udzur
  4. Berdoa setelah wudhu
Doa setelah wudlu lengkap arab dan latin
Arti doa setelah wudhu
  1. Meminum sedikit air sisa wudhu

Kesunatan ini berdasarkan hadits:

إن فيه شفاء من كل داء

7

“Sesungguhnya dalam air sisa wudhu terdapat kesembuhan segala penyakit.”

Makruh dalam wudlu

Selain memiliki rukun yang menjadi ketentuan wajib, dan sunah yang menjadi adabiyah penyempurna, wudlu juga memiliki praktek yang seyogyanya dihindari agar wudlu yang dilakukan menjadi sempurna.

Berikut ini adalah beberapa hal yang sebaiknya dihindari saat wudlu8:

  1. Isrof dalam pemakaian air

Isrof di sini adalah pemakaian air yang pada umumnya dianggap melewati batas penggunaan secara wajar. Hal ini dikarenakan berlawanan dengan ajaran Nabi SAW dan juga termasuk dalam larangan isrof secara umum yang termaktub dalam ayat:

ولا تسرفوا إنه لا يحب المسرفين


سورة الأعراف: ٣١

“Dan janganlah kalian berlebihan melewati batas, sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai perbuatan isrof.”

Juga berdasar hadits:

قال ﷺ: إنه سيكون في هذه الأمة قوم يعتدون في الطهور والدعاء

“Rasulullah SAW bersabda: Akan tiba suatu zaman didalam umat ini terdapat sebuah kaum yang melewati batas dalam bersuci dan berdoa”

Adapun maksud dari melewati batas dalam berdoa adalah, ketika berdoa ia menentukan permintaan tertentu dengan sifat-sifat khusus.

  1. Mendahulukan anggota kiri dalam basuhan tangan dan kaki

Hal tersebut makruh karena bertentangan dengan yang diajarkan Nabi SAW.

  1. Mengeringkan anggota wudlu dengan semisal handuk

Kemakruhan ini jika tidak ada udzur. Namun jika ada udzur seperti saat cuaca sangat dingin maka tidak makruh. Hal ini berdasarkan hadits Riwayat Bukhori dan Muslim RA “Bahwa Nabi SAW diberi handuk sesaat setelah wudlu, namun beliau tidak menggunakannya.”

  1. Memukulkan air ke wajah

Karena semestinya seseorang memuliakan wajahnya, dan hal ini menafikan itu.

  1. Menambah atau mengurangi basuhan dan usapan

Menambah basuhan atau usapan saat wudlu melebihi atau kurang dari 3 kali merupakan perkara yang harus dihindari kala wudlu. Hal ini berdasarkan hadits:

قال رسول الله ﷺ – بعدما توضأ ثلاثاً ثلاثاً -: هكذا الوضوء، فمن زاد على هذا، أو نقص فقد أساء وظلم

“Rosululloh SAW (setelah melakukan wudlu tiga kali tiga kali) bersabda: Seperti inilah wudlu yang benar, barangsiapa menambah, atau menguranginya maka ia telah berbuat buruk dan berbuat dholim.”

Imam Nawawi RA dalam Majemuknya menuturkan: Hadits ini shahih, dan maksudnya adalah siapa saja yang meyakini bahwasanya kesunatan wudlu adalah melebihi dari 3 kali, atau mengurangi dari 3 kali basuhan dan usapan maka dia telah melakukan hal yang buruk dan berbuat dholim.

  1. Meminta orang lain untuk mengguyurkan air

Alasan kemakruhan adalah adanya unsur takabur dalam perilaku ini, sementara dalam sebuah ibadah mestinya menghilangkan semua praktek takabbur. Namun jika memang ada udzur, meminta bantuan untuk menuangkan air saat wudlu bukanlah hal yang makruh.

  1. Over saat berkumur atau istinsyaq

Demikian ini makruh jika memang sedang berpuasa karena berpotensi menyebabkan masuknya air dan membatalkan puasa. Namun jika tidak dalam keadaan puasa hal ini tidak makruh.

Baca juga: Yang membatalkan wudhu.

Refrensi:

  1. فتح المعين
  2. الفقه المنهجي
  3. إعانة الطالبين ج ١ ص ٤٨
  4. إعانة الطالبين ج١ ص ٤٩
  5. صحيح البخاري ١٣٦, صحيح مسلم ٢٤٦
  6. فتح المعين ص ٥٦ الناشر: دار بن حزم
  7.  الترمذي رقم: ٤٨ النسائي رقم: ٩٥، ٩٦
  8. الفقه المنهجي

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related