Panggilan Taubat, Kenapa Sulit Sekali Bertaubat?

Panggilan taubat

Panggilan Taubat – Ketahuilah sesungguhnya manusia adalah hamba Allah Yang Maha Esa, yang diciptakan sesuai dengan kehendak-Nya, kemudian mengangkat derajat mereka dengan memberikan ilmu pengetahuan, dan kekuatan, serta memberikan mereka kemampuan mengatur peradaban alam semesta dengan memberinya bekal sebuah akal yang bisa berpikir dengan baik.

Dengan demikian manusia bisa menentukan salah satu dari dua pilihan; baik, dan buruk, islam dan kafir, bertobat atau tetap maksiat. Kita tidak boleh lupa bahwa kehidupan ini hanyalah perjalanan singkat di dunia ini, dan selalu mengalami kejadian yang silih berganti antara kebaikan dan kebatilan.

Sesungguhnya kehidupan duniawi ini suatu saat pasti akan habis masanya, dan kita harus memilih jalan dengan benar, jadi kita harus pandai memilih jalan untuk bisa taat kepada Tuhan dan mendapat ridloNya. Akan tetapi, terkadang jiwa seseorang melemah sehingga dia bosan mengikuti jalan kebaikan, bahkan disaat seperti ini tak jarang kita secara sadar menginjakkan kaki untuk melakukan maksiat atau dosa meski terkadang itu merupakan dosa besar.

Meskipun begitu, harus kita ingat bahwa pintu taubat selalu terbuka. Karena Allah Yang Maha Kuasa telah menyampaikan seruan mulianya kepada mereka yang telah melewati batas dan berbuat dosa dengan memberikan janji berupa maghfiroh ketika mereka mau kembali ke jalan-Nya.

Allah berfirman:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

الزمر : ۵۳

“Katakanlah: Hai hamba-Ku yang telah melewati batas janganlah berputus asa akan rahmat Allah, bahwa sesungguhnya Alloh mengampuni segala dosa: karena Dia adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Ayat ini merupakan seruan Allah Yang Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang telah melewati batas dan lalai, untuk segera kembali kepada-Nya, dan meneguhkan hati dalam pertobatan, serta tidak putus asa dari ampunan-Nya, karena Dia mengampuni semua dosa dan tidak peduli siapa pelakunya dan sebesar apa dosanya.

Allah juga berfirman dalam ayat lain:

وَمَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا اَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهٗ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

النساء : ۱۱۰

“Dan siapa pun yang melakukan kejahatan atau mendlolimi diri sendiri, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” [Al-Nisa 110]

Melihat dua ayat di atas, kita akan tahu bahwa Allah Yang Maha Pemurah telah menceritakan kepada kita bahwa semua dosa akan diampuni jika kita istighfar memohon ampunan disertai penyesalan.

Karena itu, sudah semestinya sebagai seorang hamba yang telah melakukan maksiat untuk segera kembali ke jalan suciNya dan memohon kepadaNya agar taubatnya diterima dengan air mata penyesalan akan kemaksiatan dan dosa.

Dan sudah selayaknya bagi hamba Muslim untuk bersungguh-sungguh dan memulai pertobatan, serta segera bergegas menyerahkan diri kepadaNya dan menjauhkan diri dari dosa-dosa, yang merupakan malapetaka bagi seseorang dalam kehidupan duniawi ini, dan menjadi kehancuran serta kerugiannya di dunia ini dan di akhirat.

Kenapa Sulit Sekali Bertobat?

Meskipun kebanyakan orang mengetahui bahwa Allah Maha Pengampun, namun jarang sekali mereka yang segera melakukan tobat dan tetap menjalani kemaksiatan. Untuk itu kita harus mengetahui serta menerapkan 3 hal penting agar bisa dimudahkan dalam bertobat:

  1. Ilmu
  2. Hal
  3. Perbuatan

Ilmu

Adapun ilmu yang dimaksud adalah pengetahuan tentang sejauh mana bahaya dosa, bisanya yang mematikan, juga mengetahui bahwa dosa merupakan sebuah tabir yang menghalangi antara hamba dan Tuhannya. Karena, bagaimana mungkin seseorang bisa bertobat dari suatu dosa (apapun jenisnya) sementara dia tidak tahu akan bahaya yang ditimbulkan dosa dan kerusakannya. Dan bagaimana mungkin tobat akan dilakukan sementara ia semakin menjauh dari Allah.

Karena itu, jika seorang hamba mengetahui dampak yang ditimbulkan kemaksiatan dan mempelajari aturan-aturan tentang muamalah dengan Allah dan dengan para hamba, maka dia pasti tidak ragu-ragu untuk bertobat dari dosa apa pun yang menjauhkannya dari Allah, sebesar apapun dosanya, hal ini berdasarkan hadits:

واعظ الله في قلب كل امرئ مسلم

“Allah memberikan mauidhoh di hati setiap Muslim.”

Hal

Adapun yang dimaksud hal adalah rasa penyesalan terhadap apa yang dia lakukan atas sebuah kemaksiatan, tidak mungkin bagi orang yang percaya serta iman akan sebuah ancaman hukuman dari Allah terhadap para pelaku kemaksiatan, sementara dia melakukannya tanpa ada sedikitpun rasa sesal dalam dirinya. Maksud penyesalan adalah niat untuk tidak mengulang kembali.

Karena itu sudah seharusnya orang yang rasional pasti menyesali dosa yang dilakukannya. Meski kita tahu bahwa Allah Maha Pengampun, namun jangan lupakan juga, bahwa Allah Yang Mahakuasa juga memiliki siksaan yang pedih.

Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

نَبِّئْ عِبَادِيْٓ اَنِّيْٓ اَنَا الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

وَاَنَّ عَذَابِيْ هُوَ الْعَذَابُ الْاَلِيْمُ

الحجر :٤٩- ۵۰

“Katakan pada hamba-hambaku bahwa sesungguhnya Aku Yang Maha Pemaaf, Yang Maha Penyayang * dan bahwa hukumanku adalah siksaan yang menyakitkan .” (Al-Surga: 49-50).

Perbuatan

Adapun perbuatan: yaitu tindakan meninggalkan kemaksiatan tanpa menunda, dan bertekad untuk tidak mengulang atas dosa yang telah dilakukan, berjuang untuk menyelesaikan kesalahan-kesalahannya terhadap orang lain, dan melanggengkan rasa bersalah serta senantiasa beristighfar mencari pengampunan, serta menebus amal kebaikan yang telah terlewatkan. Sahl bin Abdullah berkata:

التوبة ترك التسويف – وأن لا تنسى ذنبك

“Taubat adalah meninggalkan penundaan (melakukan kebaikan, dan meninggalkan kemaksiatan) – dan tidak melupakan dosamu.”

Dzun Nun al Misri berkata:

الاستغفار من غير إقلاع هو توبة الكاذبين

“Memohon ampunan tanpa melepas kesalahan adalah pertobatan para pendusta.”

Karena orang yang meminta pengampunan bukanlah orang yang mencari pengampunan dengan lidah, namun tetap melakukan kesalahan yang sama, akan tetapi orang yang mencari pengampunan adalah orang yang meninggalkan kesalahan.

Sayidah Rabia Al Adawiya berkata:

أستغفر الله العظيم من قلة صدقي في قولي: أستغفر الله

“Hamba memohon ampunan dari Allah Yang Maha Agung karena kurangnya ketulusan saya dalam mengatakan: Saya meminta pengampunan Allah.”

Refrensi:

الرسالة القشيرية للنيسابوري.

موعظة المؤمنين للقاسمي.
مقاصد الرعاية للإمام العز بن عبد السلام.
وأنيبوا إلى ربكم وأسلموا له للشيخ أبو اليسر عابدين.
شخصيات استوقفتني للدكتور محمد سعيد رمضان البوطي.
من هو سيد القدر في حياة الإنسان للدكتور محمد سعيد رمضان البوطي.
نعم الله وفضله على خلقه لإيمان جمال الدين.

Posting Terbaru

Related Articles

Related