Pengertian Istinja, Hukum dan Tata Cara

Hukum istinja menggunakan tisu: Pixabay

Secara bahasa, pengertian istinja adalah “memutus” karena kata istinja (استنجاء) diambil dari akar kata “Najawtu as-syai’a/نجوت الشيء” yang bermakna “aku memutus sesuatu”. Penamaan ini dikarenakan dalam praktek istinja seakan-akan si pelaku memutus kotoran yang keluar dari tubuhnya.

Sedangkan apa yang dimaksud dengan istinja secara istilah fikih adalah menghilangkan najisnya dua jalan (qubul atau dubur) yang disebabkan keluarnya benda najis dari kedua jalan tersebut, serta mengotorinya.

Hukum istinja

Dalam fiqih Madzhab Syafii istinja atau cebok memiliki 5 hukum yang berlaku sesuai dengan praktek dan sebab:

  1. Wajib

Jika yang keluar dari kedua jalan adalah benda najis serta mengotori keduanya

  1. Nadb / Sunnah

Jika yang keluar adalah benda padat yang tidak mengotori kedua jalan, seperti halnya kelereng atau batu yang keluar dari kedua jalan dalam keadaan kering.

  1. Makruh

Jika yang keluar adalah angin seperti contoh kentut

  1. Mubah

Istinja karena keluar keringat dari kedua jalan; qubul atau dubur

  1. Haram

Kadang istinja menjadi haram, karena menggunakan sarana yang tidak diperbolehkan secara syar’i. Contoh istinja menggunakan air curian atau ghosoban

Tata cara istinja

Praktek istinja bisa menggunakan air, karena pada dasarnya, istinja adalah bagian dari thaharoh (baca: fiqih thaharah) dan air merupakan salah satu sarana thoharoh. Namun, selain menggunakan air, istinja juga bisa dengan menggunakan batu atau benda-benda lain yang memiliki karakteristik sifat seperti batu dalam hal

  • Benda padat

Benda padat yang dimaksudkan adalah apapun yang bukan benda cair seperti tisue, kayu, atau kain.

  • Suci
  • Bisa menghilangkan kotoran

Karakter sifat batu adalah bisa menyerap cairan dan juga menghilangkan suatu benda yang mengotori. Dengan demikian, pengganti batu juga diharuskan memiliki karakteristik yang sama, sehingga menggunakan semisal kaca sebagai pengganti batu untuk istinja tidak diperbolehkan.

  • Bukan benda muhtaram (dimuliakan syariat)

Benda muhtaram seperti halnya Mushaf/Al Quran, benda yang berunsur keilmuan syari seperti kertas sobekan dari kitab tafsir, hadits dll. Begitu juga makanan.

Meskipun istinja dengan tisu atau pengganti batu yang lain, diperbolehkan. Namun yang lebih utama adalah menggunakan air, karena istinja dengan menggunakan air, bisa lebih bersih.

Bagaimana jika ingin istinja menggunakan tisu dan juga air, apakah boleh? Boleh, dan ini merupakan praktek istinja yang paling afdhol. Dengan catatan, pelaku mengawali istinja dengan pemakaian tisu, kemudian disusul dengan menggunakan air. Jika dibalik maka tidak ada kesunatan melakukan istinja lagi dengan tisu. Karena tempat yang dilalui najis sudah bersih sempurna, sehingga tidak ada faidah untuk mengulangi istinja dengan tisu.

Syarat istinjak dengan selain air

Istijmar atau cebok dengan menggunakan selain air harus memenuhi beberapa syarat berikut ini:

  1. Menggunakan 3 batu

Artinya, syarat pertama dari istijmar adalah dengan 3 usapan. Meskipun masing-masing usapan dengan memakai satu batu dengan mengusapkan sisi bagian yang berbeda.

  1. Membersihkan tempat keluarnya najis

Tempat keluarnya najis telah bersih, jika belum, meski sudah membersihkan dengan 3 usapan maka wajib disap ulang dengan batu atau sisi batu yang berbeda sampai bersih, sekira hanya tersisa kotoran yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan menggunakan air.

Tempat keluarnya najis yang dimaksud adalah

  • Shafhah (daging tebal di kedua sisi pantat yang mengatup saat seseorang berdiri)
  • Hasyafah (Kepala dzakar)
  • Bagian dhohir (luar) dari farji wanita (bagian yang terlihat saat ia jongkok)
  1. Najis belum kering

Najis yang menempel pada tempat keluarnya belum kering, sekira tidak bisa dibersihkan dengan batu

  1. Najis tidak berpindah

Najis yang menempel di tempat keluarnya tidak meluber dan berpindah dari posisinya melewati shafhah atau hasyafah

  1. Tidak terkena najis lain

Najis yang menempel tidak tercampur najis lain yang berbeda jenis, baik benda padat atau benda cair seperti terkena cipratan air toilet.

  1. Najis tidak melewati shafhah, atau hasyafah, dan khusus bagi wanita, najis tidak melewati tempat masuknya dzakar saat berhubungan badan
  2. Najis tidak terkena air
  3. Menggunakan batu atau penggantinya yang suci

Refrensi:

نيل الرجا في شرح سفينة النجا, دار المنهاج ص٧٦ – ٧٩

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related