Pengertian Kurban, Hikmah dan Hukumnya

Pengertian Kurban, Hikmah dan Hukumnya

Kurban dalam istilah syara’ disebut “udhhiyyah” (أضحية) yang bermakna: Domba atau kambing, serta sapi atau onta yang disembelih di hari raya idul adha dengan tujuan taqorrub (ibadah untuk mendekatkan diri) kepada Alloh SWT.

Sedangkan dalil disyariatkannya kurban adalah ayat kedua dari surat Al-Kautsar yang berbunyi: فصل لربك وانحر yang berarti: Maka sholatlah kamu (Muhammad) dan menyembelihlah.

Ulama-ulama menafsiri “sholat” yang termaktub dalam ayat di atas sebagai “sholat hari raya idul adha” (baca “hukum sholat hari raya & cara melakukan sholat idul adha“) dan menafsiri “menyembelih” sebagai “menyembelih kurban”.

Selain dalil Quran, juga dalil hadits berikut ini:

أن النبي – صلى الله عليه وسلم – ضحى بكبشين أملحين أقرنين، ذبحهما بيده، وسمى وكبر، ووضع رجله على صفاحهما.

Artinya: Nabi SAW berkurban 2 ekor domba putih yang masing-masing bertanduk besar, kedua domba tersebut disembelih sendiri oleh Nabi SAW, dan (saat akan menyembelih kurban) Nabi SAW membaca basmalah serta bertakbir, juga meletakkan kaki beliau di samping leher domba.

Hikmah melakukan kurban

Sepatutnya kita umat muslim mengetahui bahwa kurban merupakan ibadah, dan sesuatu yang memiliki nilai ibadah kadang memiliki hikmah tersendiri, kadang murni sebagai bentuk taat serta penyerahan diri sebagaimana dalam kebanyakan ibadah.

Dalam melakukan kurban, hikmah yang paling mendasar yaitu menghidupkan kembali pengurbanan besar yang akan dilakukan Nabi Ibrohim AS kepada putranya setelah mendapat wahyu untuk menyembelih putranya. Meski akhirnya oleh Alloh SWT diganti dengan domba besar. Namun ketaatan Nabi Ibrohim AS yang rela mengurbankan putranya sendiri merupakan bentuk totalitas dalam penyerahan diri serta membenarkan segala perintah Alloh SWT.

Selain hikmah tersebut, dalam melakukan kurban akan terjalin rasa mengasihi terhadap orang-orang fakir, orang-orang dhuafa’ yang sangat membutuhkan, juga terbentuknya kebahagiaan mereka dan juga kebahagiaan keluarga dengan adanya makanan yang spesial di hari raya idul adha. Hal ini akan menguatkan tali persaudaraan sesama muslim serta menghidupkan kembali ruh-ruh persatuan dan kasih sayang sesama muslim.

Hukum melakukan kurban

Secara asal hukum berkorban adalah sunnah muakkad, yang berarti ketika tidak dilakukan tidak terancam dosa. Namun hukum kurban akan berubah menjadi wajib saat seseorang menadzarinya.

Siapa saja yang dituntut melakukan kurban?

Kesunnatan kurban hanya berlaku pada orang-orang yang memiliki persyaratan berikut:

  1. Muslim.
    Orang-orang non-muslim tidak dituntut melakukan kurban, bahkan seandainya mereka melakukannya maka tidak sah sebagai kurban yang bernilai ibadah taqorrub kepada Alloh SWT.
  2. Akil Baligh. Karena jika tidak akil baligh maka tidak ada tuntutan hukum.
  3. Mampu. Dalam hal ini, seseorang bisa dikatakan mampu berkurban jika memiliki sesuatu yang melebihi nilai dari harga binatang kurban, dan juga nilai dari nafkah yang dibebankan kepadanya baik nafkah yang berupa makanan, pakaian atau tempat tinggal di saat hari raya idul adha sampai hari tasyriq.

Hewan yang bisa dijadikan kurban

Kurban tidaklah sah jika tidak menggunakan onta, sapi, kambing atau domba. Dalilnya adalah firman Alloh SWT dalam surat Al-Haj 34:

“ولكل أمة جعلنا منسكاً ليذكروا اسم الله على ما رزقهم من بهيمة الأنعام”

“Dari setiap ummat kami telah syariatkan kurban agar mereka mengingat nama Allah atas apa yang Dia rezekikan pada mereka berupa binatang ternak”

Para ulama menyimpulkan bahwa lafadz “an’aam” hanya berlaku pada 3 jenis binatang di atas. Selain itu tidak pernah dinukil dari Nabi SAW atau shohabat yang melakukan kurban dengan menggunakan selain binatang-binatang di atas.

Dari 3 jenis binatang kurban, yang paling afdhol adalah unta, kemudian sapi.

Khusus untuk unta dan sapi, per ekornya bisa digunakan untuk kurbannya 7 orang. Hal ini berdasarkan hadits:

“روى مسلم (1318) عن جابر – رضي الله عنه – قال: نحرنا مع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عام الحديبية البدنة عن سبعة، والبقرة عن سبعة.”
“Dari sahabat Jabir RA, beliau berkata: Kami berkurban bersama Nabi SAW di tahun Hudaibiyyah, 1 unta untuk 7 orang, 1 sapi untuk 7 orang”

Syarat hewan yang dijadikan kurban

Syarat agar penyembelihan binatang bernilai ibadah kurban adalah:

  1. Usia yang memenuhi untuk dijadikan kurban.
    Dari masing-masing jenis hewan kurban, terdapat perbedaan dalam syarat usia mencukupi kurban. Untuk usia yang mencukupi pada unta yang dijadikan kurban adalah saat telah memasuki usia 6 tahun. Dan untuk sapi atau kambing adalah saat memasuki usia 3 tahun. Berbeda dengan kambing, domba bisa mencukupi sebagai kurban jika telah memasuki usia 2 tahun atau telah tanggal gigi depannya meski belum memasuki usia 2 tahun. Hal ini berdasarkan hadits

     

    “عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال: سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: ” نعمت الأضحية الجذع من الضأن “. yang artinya “Dari Abi Huroiroh RA, aku mendengar Rosul SAW bersabda: Sebaik-baik kurban adalah domba yang telah menanggalkan gigi-gigi depannya”.

  2. Selamat dari cacat yang mengakibatkan kurusnya binatang dan berkurangnya daging.
    Syarat yang kedua ini berlaku sama untuk semua jenis hewan kurban. Karenanya tidak diperbolehkan dijadikan kurban, binatang-binatang yang sangat kurus, yang jelas-jelas pincang, jelas-jelas buta, sakit, atau terpotong sebagian telinganya. Hal ini berdasarkan hadits:

     

    “عن البراء بن عازب – رضي الله عنه – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ” أربع لا تجزئ في الأَضاحي: العوراء البين عورها، والمريضة البين مرضها، والعرجاء البين عرجها، والعجفاء التي لا تنقي “.”Dari Barro’ bin ‘Azib RA, Nabi SAW bersabda: 4 sifat yang menjadikan binatang tidak mencukupi sebagai kurban, yang jelas butanya, yang sangat sakit, yang jelas-jelas pincang, yang sangat kurus hingga sumsumnya tidak ada.”

    4 sifat ini juga bisa dijadikan landasan qiyas sifat-sifat lain yang berpotensi menjadikan binatang semakin kurus dan berkurang dagingnya.

Waktu menyembelih kurban

Menyembelih kurban bisa dilakukan dimulai saat terbitnya matahari di hari raya ditambah waktu lebih yang sekira bisa digunakan untuk sholat 2 rokaat dan 2 khutbah, sampai dengan terbenamnya matahari di akhir hari tasyriq, yaitu 13 dzulhijjah. Namun untuk waktu yang utama yaitu setelah melaksanakan sholat hari raya.

ِYang dilakukan setelah menyembelih kurban

Sebagaimana penjelasan di atas, bahwa hukum asal kurban adalah sunnah dan bisa menjadi wajib jika dinadzari. Kedua kondisi ini tentu juga menyebabkan perlakuan berbeda pada binatang kurban yang telah disembelih.

Untuk kurban wajib atau nadzar, harus disedekahkan seluruhnya. Orang yang melakukan kurban atau orang-orang yang menjadi beban nafkah wajibnya tidak diperbolehkan memakannya. Seandainya salah satu dari mereka memakannya maka wajib mengganti.

Sedangkan kurban sunnah, diperbolehkan bagi orang yang melakukan kurban memakannya dan mensedekahkan selebihnya kepada orang-orang fakir. Selain itu diperbolehkan juga baginya untuk menghadiahkan sepertiga daging kurban sunnah kepada orang-orang kaya. Namun ketika penerima daging kurban adalah orang kaya, maka dia hanya boleh memakannya tidak boleh memberikannya kepada orang lain, menjualnya, dan bentuk pertukaran yang lain.

Berbeda jika penerima daging adalah orang fakir, dia berhak memakannya, atau menjualnya. Hal ini dikarenakan daging kurban yang diterima orang fakir adalah sedekah yang berarti pemindahan hak milik, sehingga mereka bebas mengelolanya. Sedangkan yang diterima orang kaya hanya sebagai hadiah sebagaimana jamuan untuk suguhan tamu.

Orang yang kurban sunnah juga berhak mensedekahkan kulit kurban, atau memanfaatkan kulit kurbannya untuk kepentingan pribadi. Namun tidak diperbolehkan menjualnya, atau menjadikannya sebagai upah penyembelihan.

Adabiyah & hal-hal yang berkaitan dengan kurban,

  1. Jika menjelang 10 Dzulhijjah memiliki rencana untuk berkurban, maka hendaknya jangan memotong kuku atau rambut sebelum pelaksaan kurban. Berdasarkan hadits:

    “لما رواه مسلم (1977)، عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ” إذا رأيتم هلال ذي الحجة، وأراد أحدكم أن يضحي فليمسك عن شعره وأظافره “.”Nabi SAW bersabda: Jika kalian melihat hilal dzilhijjal dan salah satu dari kalian berencana untuk berkurban maka jangan memotong kuku dan rambutnya”

  2. Menyembelih sendiri kurbannya. Jika tidak memungkinkan, setidaknya menghadiri dan menyaksikan penyembelihan kurbannya. Berdasarkan hadits:

    “لما رواه الحكام (4/ 222) بإسناد صحيح: إنه – صلى الله عليه وسلم – قال لفاطمة رضي الله عنها: ” قومي إلى أضحيتك فاشهديها فإنه بأول قطرة من دمها يغفر لك ما سلف من ذنوبك” قالت: يا رسول الله، هذا لنا أهل البيت خاصة، أو لنا المسلمين عامة؟ قال: بل لنا وللمسلمين عامة “.
    “Rosul SAW bersabda pada Sayyidah Fathimah RA: Pergilah dan lihatlah kurbanmu, sesungguhnya di awal tetesan darah kurbanmu, dosa-dosamu yang lewat telah diampuni. Siti Fathimah lantas bertanya: Wahai Rosululloh SAW, apakah ini khusus untuk Ahlil Bait, atau untuk ahlil bait juga untuk muslimin yang lain? Rosul SAW menjawab: Untuk kami Ahlil Bait dan muslimin secara umum.”

  3. Sunnah melaksanakan kurban di tempat berkumpulnya jamaah sholat hari raya idul adha. Berdasarkan hadits:

    “روى البخاري في صحيحه (5232) عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يذبح وينحر بالمصلي.”
    “Ibn Umar RA berkata: Konon Rosululloh SAW menyembelih kurban di tempat berkumpulnya jamaah sholat hari raya.”

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related