Pengertian Ta’ziah, Hukum dan Tata Caranya

Hukum ta'ziah

Kematian merupakan perpisahan yang menyedihkan bagi kebanyakan orang, sehingga tak jarang yang histeris meratapi kepergian keluarganya, terutama jika yang meninggal adalah tulang punggung keluarga atau buah hati mereka. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan dianjurkan berta’ziah atau melayat keluarga mayit, karena meratapi kematian tergolong kemungkaran dan dosa.

Pengertian Ta’ziah

Takziah secara bahasa adalah mendorong seseorang yang terkena musibah yang berat untuk bersabar.

Adapun secara istilah fiqih ta’ziah adalah mengajak keluarga mayit untuk bersabar dengan memberikan iming-iming pahala yang besar, dan mendoakan mayit serta keluarga yang tertimpa musibah.

Dengan demikian saat melayat mayit hendaknya seseorang mengatakan ucapan yang dapat menghibur keluarga mayit dan meringankan kesedihan mereka.

Hukum Ta’ziah

Hukum ta’ziah adalah sunnah, karena dalam ta’ziah terdapat unsur amar ma’ruf nahi munkar, serta termasuk dalam ayat Al Quran yang menganjurkan untuk saling membantu dalam kebaikan.

Allah SWT berfirman:

وَتَعاوَنُوا على البِرّ والتَّقْوَى

المائدة ٢

“Saling bahu-membahulah kalian dalam kebaikan dan bertakwa,” [Al Maidah: 2]

Selain ayat di atas, juga hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim RA:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ العَبْدِ ما كانَ العَبْدُ في عَوْن أخيه

“Dan Allah akan menolong seorang hamba selama dia mau membantu saudaranya,”1

Kapan Sunnah Ta’ziah?

Imam Nawawi dalam Adzkar menuturkan bahwa para pengikut Imam Syafii Ra mengatakan: sunnahnya takziah dimulai sejak kematian mayit dan berlangsung sampai 3 hari setelah proses pemakaman. Namun batas 3 hari ini hanyalah sekedar perkiraan, dan bukanlah batasan paten.

Hal ini dikarenakan umumnya setelah 3 hari, kesedihan keluarga sudah berangsur reda, dan takziah di waktu ini berpeluang membangkitkan lagi kesedihan keluarga yang tertimpa musibah, sementara tujuan takziah adalah meringankan kesedihan mayit.

Karena alasan inilah mayoritas ulama Syafiiyah memakruhkan melayat jenazah setelah melewati 3 hari setelah pemakaman, kecuali jika orang yang melayat atau keluarga mayit saat itu tidak di rumah, dan secara kebetulan, pulang setelah melebihi 3 hari dari pemakaman.

Dalam Madzhab Syafii kesunatan takziah boleh dilakukan sebelum proses pemakaman atau setelah pemakaman. Namun, baiknya takziah dilakukan setelah proses pemakaman, karena sebelum mayit dikuburkan biasanya keluarga yang terkena musibah masih sibuk merawat jenazah, dan biasanya mereka sangat resah setelah mayit dikuburkan. Dengan demikian, inilah waktu yang paling tepat untuk meringankan kegelisahan mereka. Akan tetapi, jika keluarga mayit sangat terpukul dengan musibah yang melanda maka dianjurkan untuk mensegerakan ta’ziah sebelum jenazah dikebumikan, agar mereka segera tenang dan tidak terjerumus dalam ratapan kematian yang diharamkan.

Kepada Siapa Kesunnatan Ta’ziah?

Imam Nawawi dalam al Adzkar2 menuturkan:

ويستحبّ أن يعمَّ بالتعزية جميعَ أهل الميت وأقاربه الكبار والصغار والرجال والنساء، إلا أن تكون امرأةً شابّةً، فلا يعزّيها إلا محارمُها وقال أصحابنا: وتعزيةُ الصلحاء والضعفاء على احتمال المصيبة والصبيان آكد

“Dianjurkan melayat kepada seluruh keluarga duka beserta kerabat-kerabatnya, baik yang sudah tua, anak kecil, laki maupun wanita. Kecuali wanita yang masih muda, kepada mereka takziah hanya dianjurkan bagi mahram-mahramnya saja.

Sahabat kami (Ulama Syafiiyah) mengatakan: Bertakziah kepada orang-orang shaleh, dhuafa, dan anak-anak untuk bersabar menghadapi duka kematian lebih dianjurkan.”

Ucapan Belasungkawa Ketika Takziah

Sebenarnya dalam ucapan belasungkawa tidak ada kriteria kalimat-kalimat khusus yang harus disampaikan, dengan kalimat dan bahasa apapun asal sesuai dengan tujuan asal takziah, bisa mencukupi untuk mendapat kesunnatan.

Hanya saja sebagai masyarakat negara yang menerima berbagai agama sudah tentu kita akan bergaul dengan teman, relasi bisnis yang terkadang berbeda keyakinan. Hal ini tentu menjadikan ucapan belasungkawa tidak boleh sama. Berikut ini contoh berbagai ucapan belasungkawa:

Belasungkawa Kepada Sesama Muslim Atas Kematian Kerabat Muslim

أعْظَمَ اللَّهُ أجْرَكَ، وأحْسَنَ عَزَاءَكَ، وَغَفَرَ لمَيِّتِكَ

Latin: A’dhomallohu ajroka, Wa ahsana ‘azaa-aka, wa ghofaro limayyitika.

Artinya: Semoga Allah memberimu pahala yang agung, dan memberimu kesabaran yang baik, serta mengampuni mayitmu.

Belasungkawa Kepada Muslim Atas Kematian Kerabat Non-Muslim

أعظم الله أجرَك، وأحسن عزاءَك

Latin: A’dhomallohu ajroka, Wa ahsana ‘azaa-aka

Artinya: Semoga Allah memberimu pahala yang besar dan menjadikan sabarmu sebagai kesabaran yang baik.

Belasungkawa Kepada Non Muslim Atas Kematian Kerabat Muslim

أَحسن الله عزاءك، وغفر لميّتك

Latin: Ahsanallohu ‘azaa-aka, waghofaro limayyitika

Artinya: Semoga sabarmu berbuah indah, dan Allah mengampuni dosa mayitmu

Belasungkawa Kepada Non Muslim Atas Kematian Kerabat Non-Muslim

 أخلف الله عليك

Latin: Akhlafallohu ‘alaika

Artinya: Semoga Tuhan memberimu pengganti (mayit).

Sekali lagi kalimat diatas hanyalah contoh ucapan belasungkawa, kita bisa menggantinya dengan kalimat-kalimat lain asal sesuai koridor syar’i; tidak boleh mendoakan ampunan atau rahmat kepada mayit non muslim.

والله أعلم

Refrensi:

  1. صحيح مسلم
  2. الأذكار النووية