Pengertian Zuhud, Dalil dan Konsepnya

Pengertian Zuhud, Dalil dan Konsepnya

Zuhud oleh sebagian kelompok muslim dianggap sebagai bid’ah yang disusupkan dalam Islam dan merupakan ajaran yang diadopsi dari rahib-rahib Nasrani yang konon katanya mengharamkan dirinya untuk menikah1, atau pendeta-pendeta Budha atau Hindu yang menghindari makanan yang berasal dari sesuatu yang bernyawa2.

Benarkah anggapan tersebut? Lantas apakah pengertian zuhud yang biasa digaungkan oleh Muslim Aswaja? Simak penjelasannya berikut ini.

Pengertian Zuhud

Zuhud menurut Ibnu Jalla’ RA:

الزهد هو النظر إلى الدنيا بعين الزوال لتصغر في عينك فيسهل عليك الإعراض عنها

“Zuhud adalah memandang dunia sebagai sesuatu yang pasti sirna, dengan tujuan agar dunia menjadi sesuatu yang remeh di mata kita sehingga mudah untuk berpaling darinya.”

Zuhud menurut Imam Junaid al Baghdadi RA:

الزهد استصغار الدنيا ومحو آثارها من القلب

“Zuhud adalah menganggap dunia sebagai perkara yang remeh dan menghapus apapun yang bersifat duniawi dari hati.”

Sedangkan zuhud menurut Syekh Ibrahim bin Adham RA:

الزهد فراغ القلب من الدنيا لا فراغ اليد

“Zuhud adalah mengosongkan hati dari segala sesuatu yang berhubungan dengan duniawi, bukan mengosongkan diri dari kepemilikan dunia.”

Dari pengertian yang disampaikan ulama-ulama di atas bisa disimpulkan bahwa zuhud adalah mengosongkan hati dari kecintaan dan keinginan-keinginan duniawi serta mengisinya dengan upaya mencintai Allah dan taat kepada-Nya.

Sekuat apa kadar berpalingnya seorang hamba dari mencintai perkara-perkara duniawi, sebesar itu pula kadar cintanya pada Rabbnya. Semakin bertambah berpalingnya hati hamba dari dunia semakin bertambah pula rasa cintanya.

Dan perlu diingat bahwa zuhud bukanlah sebuah tujuan utama, karena zuhud hanyalah lantaran untuk menggapai ridho-Nya, karena tanpa zuhud seseorang akan kesulitan menggapai ridho-Nya dan bisa benar-benar mencintai-Nya. Sebagai contoh, seorang hamba akan merasa keberatan dalam infak jika dalam hatinya masih ada rasa tidak ingin kehilangan harta atau hartanya berkurang.

Dalil perintah zuhud

Jika kita menelaah Kitab Alquran, atau sirah perjalanan Nabi Muhammad ﷺ kita akan menemukan ayat dan hadits-hadits yang secara jelas menganjurkan untuk menerapkan gaya hidup zuhud.

Diantara dalil hadits yaitu:

فقد روى سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى رسول الله صلّى الله عليه وسلّم فقال: يا رسول الله دلّني على عمل إذا عملته أحبني الله وأحبني الناس قال له: (( ازهد في الدنيا يحبك الله، وازهد فيما في أيدي الناس يحبوك ))

Sahal bin Sa’d as Sa’idi RA berkata: Ada lelaki yang datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata “Ya Rasul Allah, tunjukkan padaku sebuah amal apabila aku mengamalkan maka Allah akan mencintaiku dan manusia juga akan menyukaiku, lantas Nabi ﷺ bersabda: Zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki orang lain, niscaya mereka akan menyukaimu.”

Hadits di atas sangatlah terang menyatakan perintah Rasululloh ﷺ untuk berlaku zuhud agar dicintai Allah dan juga masyarakat. Ini sangatlah jelas bahwa orang yang dalam hatinya tidak begitu mempedulikan duniawi maka hatinya lebih difokuskan untuk beribadah kepada Allah, lebih mudah dalam melakukan ketaatan yang berkaitan dengan harta seperti infak, sedekah, atau jihad dengan harta. Dan orang yang tidak peduli atau berapa harta yang ia infakkan tanpa merasa takut hartanya akan berkurang sudah tentu dia akan dicintai-Nya.

Begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang yang tidak mempedulikan dan tidak usil terhadap harta kekayaan orang lain pasti akan disenangi oleh masyarakat.

Adapun dalil zuhud dalam Al-Quran adalah ayat-ayat yang menjelaskan rendahnya dunia dalam pandangan Allah, serta keberadaannya yang mudah sirna. Diantara ayat-ayat tersebut adalah:

يا أَيُّهَا اَلنّاسُ إِنَّ وَعْدَ الله حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَياةُ اَلدُّنْيا ولا يَغُرَّنَّكُمْ بِالله الْغَرُورُ

فاطر : ۵

“Wahai manusia! Sesungguhnya janji Allah itu nyata, maka janganlah sampai kehidupan dunia menipu kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdaya kamu tentang Allah.” (QS. Fatir: 5)

وما هذِهِ الْحَياةُ اَلدُّنْيا إِلّا لَهْوٌ ولَعِبٌ وإِنَّ اَلدّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوانُ لَوْ كانُوا يَعْلَمُونَ

العنكبوت : ۶۴

“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya kehidupan akhirat itulah kehidupan yang sesungguhnya, seandainya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)

Ayat-ayat di atas sangat jelas bahwa Allah mendorong kita para muslimin untuk tidak terlena dengan kehidupan duniawi, akan tetapi lebih fokus dalam beramal untuk akhirat nanti. Namun perlu diketahui semua itu hampir mustahil kita terapkan dengan tanpa menerapkan hidup zuhud.

Kesalahan Memahami Zuhud Hakiki

Banyaknya kesalah pahaman dan penyelewengan makna zuhud yang diartikan dengan totalitas dalam meninggalkan perkara duniawi, hingga menyimpulkan bahwa siapapun yang memiliki pekerjaan, harta, berpakaian bagus, serta memakan makanan yang enak adalah orang yang tidak zuhud.

Dalam menyikapi pemahaman ini, jika kita akan kembali pada pengertian zuhud di atas, juga dalil hadits dan Quran yang telah disebutkan kita akan paham bahwa inti dari zuhud adalah tidak adanya ketergantungan hati seorang hamba dengan harta duniawi, baik hartanya sendiri yang dimiliki, atau yang tidak dia miliki.

Bukan berarti makna zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia secara total, sehingga dia akhirnya meninggalkan pekerjaan-pekerjaan halal dan menjadi beban orang lain. Ini menunjukkan bahwa ada juga seseorang yang miskin papa tanpa memiliki apapun tapi dia tidak menerapkan gaya hidup zuhud, ketika di hatinya selalu mengharap santunan atau bantuan orang lain.

Begitupun sebaliknya, orang kaya raya dengan harta melimpah namun hatinya tidak pernah dia fokuskan pada memikirkan hartanya atau merasa kuatir kehabisan harta akan tetapi dia lebih sibuk mengupayakan bagaimana untuk selalu taat Allah dan mendapat ridhonya dia telah menerapkan gaya hidup zuhud.

Terkait hal ini Rasulullah ﷺ telah menjelaskan makna hakiki dari zuhud dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Turmudzi dalam Kitab Azzuhd dari Abi Dzarrin RA:

 الزهادة في الدنيا ليست بتحريم الحلال ولا إضاعة المال، ولكن الزهادة أن تكون بما في يد الله تعالى أوثق منك بما في يدك، وأن تكون في ثواب المصيبة إذا أصبت بها أرغب منك فيها لو أنها أبقيت لك

“Zuhud dunia bukanlah dengan cara mengharamkan perkara yang halal dan menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud dunia adalah ketika kamu lebih percaya terhadap apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang menjadi milikmu, dan pahala musibah yang menimpamu lebih kamu sukai daripada harta (yang hilang/rusak) seandainya ia dikembalikan kepadamu.”

Al Allamah Al Munawi RA menafsirkan hadits ini dengan penjelasannya: “Zuhud bukanlah meninggalkan harta secara total, akan tetapi menganggap ada dan tiadanya harta merupakan hal yang sama, dan menghindari terkaitnya hati dalam selalu memikirkannya. Bukankah Nabi ﷺ adalah panutan para zahid? Beliau ﷺ juga memakan daging, manisan dan juga madu. Selain itu Nabi ﷺ juga menggunakan minyak wangi, menikah, serta memakai pakaian yang bagus. Karena itu, ambillah perkara-perkara yang bagus dengan tanpa berlebihan dan hindarilah pelit.”

Zuhud semacam inilah yang dimaksud oleh para ulama tasawuf dalam kitab-kitabnya. Hal ini ditegaskan oleh Syekh Abdul Qodir al Jailani RA dalam kitabnya Al Fathurrabbani saat beliau menjelaskan zuhud hakiki:

أخرج الدنيا من قلبك وضعها في يدك أو في جيبك، فإنها لا تضرك

“Keluarkan dunia dari hatimu, taruhlah ia di tanganmu atau lengan bajumu, ia tidak akan membahayakanmu.”3

Demikianlah penjelasan zuhud hakiki menurut para sufi, Wallohu A’lam.

Referensi:

  1. Wikipedia
  2. Wikipedia
  3. حقائق عن التصوف للعلامة العارف بالله سيدي عبد القادر عيسى الشاذلي