Ringkasan Manakib Ibrohim bin Adham

Ringkasan Manakib Ibrohim bin Adham

Ibrohim bin Adham atau Abu Ishaq Al Balkhi, merupakan imam, panutan, pembesar ulama sufi, dan junjungan orang-orang zuhud.

Selain sebagai ulama salaf yang hidup di masa kejayaan Islam, beliau juga merupakan salah satu ulama sufi terbaik di masanya. Kisah kezuhudannya layak dijadikan teladan bagi generasi saat itu dan setelahnya.

Ibrohim bin Adham, Abu Ishaq Al Balkhy

Sufi yang dilahirkan di awal 100 H beliau terlahir dan tumbuh sebagai anak raja yang hidup dengan serba kemewahan. Namun akhirnya meninggalkan seluruh harta yang dimilikinya dan memilih mengabdikan diri kepada Alloh SWT, dan mengikuti ulama-ulama berpengaruh di zamannya, seperti Sufyan Tsauri dan Fudhoil bin ‘Iyadh.

Kelahiran, dan peran ibu dalam masa kecil Ibrohim bin Adham

Meski berdarah Balkh, Afganistan. Namun kelahiran beliau di Mekkah saat kedua orang tuanya menunaikan haji. Sebagaimana penjelasan Ad Dzahabi dalam kitabnya:

وعن الفضل بن موسى ، قال : حج والد إبراهيم بن أدهم وزوجته ، فولدت له إبراهيم بمكة .

سير أعلام النبلاء للذهبي

Di masa kecilnya, sang ibu sering membawanya berkunjung ke ulama dan orang-orang sholeh agar Ibrohim kecil didoakan nantinya menjadi orang sholeh.

Semua amal pasti ada balasannya, usaha sang ibu dikabulkan oleh Alloh SWT, sehingga Ibrohim bin Adham dimudahkan dalam meninggalkan kemewahan duniawi.

Ibrohim bin Adham  mendapatkan hidayah

Hidup sebagai anak raja yang bergelimangan harta, memiliki banyak pembantu dan kuda-kuda terbaik membuatnya melalui hari-harinya dengan berbagai kesenangan.

Suatu hari Ibrohim bin Adham berburu dan mendapatkan seekor kelinci. Namun ketika mencari hasil buruannya tiba-tiba dia mendengar suara asing dari belakang:

أَلِهَذَا خُلِقتَ؟ أَمْ بِهَذَا أُمِرتَ؟

“Ibrohim, apa untuk ini kau diciptakan? Apa untuk ini kau diperintahkan?”

Dia tercengang, menghentikan kudanya dan menoleh kiri-kanan tidak mendapati siapapun, dia berkata: “Semoga Alloh melaknat Iblis.”

Kemudian dia memacu lagi kudanya. Namun suara itu terdengar lagi, lebih keras dari sebelumnya. Dia kembali hentikan kudanya dan menoleh kiri-kanan tidak ada siapapun juga, dia kembali mengucap: لعن الله ابليس

Untuk ketiga kalinya dia memacu kudanya, suara itu terdengar lagi. namun kali ini berasal dari pelana kudanya. Spontan dia berpikir: Aku telah diingatkan, aku telah diingatkan, ini adalah sebuah peringatan. Demi Alloh, setelah ini aku tidak kan melakukan maksiat lagi selama Alloh menjagaku.

Kemudian dia pulang, dan membebaskan kudanya serta menemui penggembala ternak ayahnya, dia menukar pakaiannya dengan pakaian shuf milik pengembala.

Sebagai catatan: Shuf merupakan kain berbahan bulu domba (kamus Al Ma’ani). Meski di saat ini kain wol tergolong bahan kain yang mahal, namun di saat itu bahan wol merupakan bahan yang kasar dan berkualitas buruk. Hal ini bisa jadi karena belum adanya peralatan memadai yang bisa mengolah wol dengan baik.

الصُّوفُ : الشَّعْرُ يغطي جلد الضأْنِ، ويمتاز بدقته وطوله وتموُّجه

https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/%D8%B5%D9%88%D9%81/

Nyantri pada Sufyan Tsaury dan Fudhoil bin ‘Iyadh

Setelah menanggalkan semua kemewahannya, Ibrohim bin Adham memasuki hutan, beliau pergi menuju Mekkah dan mengikuti Sufyan Tsaury, dan juga Fudhoil bin ‘Iyadh untuk nyantri (Shuhbah: istilah tasawwuf).

Dari keduanya, beliau mendapatkan banyak sekali faidah keilmuan.

Melakukan pekerjaan berat demi rizki halal

Setelah shuhbah pada Sufyan Tsaury RA, dan Fudhoil bin ‘Iyadh RA, Ibrohim bin Adham RA melanjutkan perjalanannya ke Syam untuk mencari rizki halal.

Diriwayatkan dari Ibn Bassyar: Bahwasanya Ibrohim bin Adham RA bertanya (meminta pendapat) kepada sebagian masyayikh terkait mencari rizki halal, syekh menjawab: Pergilah ke Syam!.

Ibrohim bin Adham pun melanjutkan perjalanannya, dan tiba di Mashishoh (Mopsuestia; kota di pinggiran sungai Ceyhan) di sini beliau bekerja mencari makanan halal sebagai buruh tani, dan penjaga kebun.

Kondisi ini beliau lalui selama puluhan tahun. Sebagaimana yang dijelaskan Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala:

قَالَ خَلَفُ بنُ تَمِيْمٍ: سَأَلْتُ إِبْرَاهِيْمَ: مُنْذُ كَمْ قَدِمتَ الشَّامَ؟ قَالَ: مُنْذُ أَرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ سَنَةً، مَا جِئْتُ لِربَاطٍ وَلاَ لِجِهَادٍ، جِئْتُ لأَشبَعَ مِنْ خُبْزِ الحَلاَلِ.

“Berkata Kholaf bin Tamim: Aku bertanya pada Ibrohim RA, sejak kapan kamu berada di Syam? Ibrohim bin Adham menjawab: Sejak 24 tahun, aku ke sini tidak untuk menjaga benteng, tidak pula untuk jihad. Kedatanganku di sini untuk mengusir lapar dengan roti yang halal.”

Wafatnya Ibrohim bin Adham RA

Beliau wafat saat berada di Al Jazeera untuk mengikuti peperangan, kemudian jenazahnya dibawa ke Shur (kota di pesisir pantai Syam) dan dimakamkan di sana.

Sebelum wafat beliau sempat bolak-balik ke kamar mandi hingga hampir 20 kali, dan tiapkali ke kamar mandi beliau selalu berwudhu untuk sholat. Hingga ketika merasa ajal akan menjemput, beliau berkata: “Pasanglah tali busurku!” kemudian setelah tali busur terpasang beliau memegangnya bertepatan dengan dijemput nya ajal. Beliau wafat dalam keadaan memegang busurnya.

Kalam hikmah Ibrohim bin Adham

قَالَ: الزُّهْدُ فَرضٌ، وَهُوَ الزُّهْدُ فِي الحَرَامِ، وَزُهْدُ سَلاَمَةٍ، وَهُوَ الزُّهْدُ فِي الشُّبُهَاتِ، وَزُهْدُ فَضْلٍ، وَهُوَ الزُّهْدُ فِي الحَلاَلِ

“Ibrohim RA berkata: (Zuhud ada 3)

  1. Zuhud Fardhu, yaitu menghindari  hal-hal yang diharamkan
  2. Zuhud Salamah, menghindari sesuatu yang tidak jelas halal haramnya.
  3. Zuhud Fadhol, menghindari (berlebihan) dalam hal-hal yang halal.”

عَبْدُ الرَّحْمَنِ بنُ مَهْدِيٍّ: عَنْ طَالُوْتَ: سَمِعْتُ إِبْرَاهِيْمَ بنَ أَدْهَم يَقُوْلُ: مَا صَدَقَ اللهَ عَبْدٌ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ.

“Dari Tholut: Aku mendengar Ibrohim bin Adham berkata: Tidaklah membenarkan Alloh SWT, seorang hamba yang senang menjadi orang terkenal.”

وَعَنْ إِبْرَاهِيْمَ بنِ أَدْهَمَ، قَالَ: كُلُّ مَلِكٍ لاَ يَكُوْنُ عَادِلاً، فَهُوَ وَاللِّصُّ سَوَاءٌ، وَكُلُّ عَالِمٍ لاَ يَكُوْنُ تَقِيّاً، فَهُوَ وَالذِّئْبُ سَوَاءٌ، وَكُلُّ مَنْ ذَلَّ لِغَيْرِ اللهِ، فَهُوَ وَالكَلْبُ سَوَاءٌ

“Semua pemimpin yang tak adil, dia sama dengan maling. Semua orang alim (ulama) yang tidak bertakwa, dia sama dengan serigala. Begitu juga, semua orang yang merendah pada selain Alloh SWT, dia sama dengan anjing.”

قَالَ المُسَيَّبُ بنُ وَاضِحٍ: حَدَّثَنَا أَبُو عُتْبَةَ الخَوَّاصُ:
سَمِعْتُ إِبْرَاهِيْمَ بنَ أَدْهَمَ يَقُوْلُ: مَنْ أَرَادَ التَّوبَةَ، فَلْيَخرُجْ مِنَ المَظَالِمِ، وَلْيَدَعْ مُخَالطَةَ النَّاسِ، وَإِلاَّ لَمْ يَنَلْ مَا يُرِيْدُ.

“Berkata Musayyab bin Wadhih: Abu ‘Uthbah Al Khowwash menceritakan: Aku mendengar Ibrohim bin Adham RA, berkata: Siapa yang hendak bertaubat, maka keluarlah dari pebuatan dholimnya, dan hindari pergaulan (tidak berfaidah) dengan masyarakat. Jika tidak melakukan hal ini, dia tidak akan berhasil mendapatkan apa yang diinginkan (taubat)”

Catatan: Keluar dari perbuatan dholim yaitu melepaskan diri dari kedholiman yang pernah dilakukan, seperti mengembalikan harta yang diperoleh dengan cara tidak halal, seperti mencuri, ghosob, korupsi, dll kepada pemiliknya. Dan meminta maaf kepada orang yang pernah didholimi secara fisik atau kehormatan nama baik.

ومنه: ” على القلب ثلاثة أغطية: الفرح، والحزن، والسرور. فإذا فرحت بالموجود فأنت حريص، والحريص محروم. وإذا حزنت على المفقود فأنت ساخط، والساخط معذب. وإذا سررت بالمدح فأنت معجب، والعجب يحبط العمل.

Diantara kalamnya yang indah adalah: Ada 3 hal yang bisa menutupi hati (menghijab dari makrifat Alloh SWT): Bahagia,  susah, dan senang.

Jika kamu merasa bahagia dengan keberadaan (harta) maka kamu tergolong orang rakus, sedangkan orang rakus akan terhalang (terhijab dari makrifat Alloh).

Jika kamu merasa sedih saat kehilangan, maka kamu tergolong pembenci (ketentuan Alloh), dan orang yang membenci (keputusan Allloh SWT) dia akan disiksa.

Dan jika kamu merasa senang dengan pujian orang lain maka kamu termasuk orang yang membanggakan diri (‘ujub) hal ini bisa melebur pahala amal.

Kumpulan kisah Ibrohim bin Adham

Ibrohim bin Adham, berbuka bersama pengemis

Ibrohim bin Bassyar, khodim Ibrohim bin Adham bercerita: Di suatu malam aku bersama beliau,  sedangkan kami tidak memiliki apapun buat berbuka, dan sudah kehabisan akal memikirkannya.

Saat beliau melihatku murung, lantas beliau berkata: Hai Bin Bassyar, kenikmatan yang diberi Alloh Swt pada orang-orang fakir adalah ketenangan di dunia dan akhirat! Mereka tidak akan diminta pertanggung jawaban atas haji, zakat, silaturrahim, dan membahagiakan orang-orang fakir.

Hisab pertanggung jawaban hanya untuk mereka yang sejatinya miskin, yaitu orang-orang yang di dunia kaya, namun fakir di hari akhir, mereka manusia agung di dunia namun hina di akhirat, jangan bersedih!.

Rizki Alloh yang telah ditanggung akan mendatangimu! Demi Alloh, kita adalah para raja dan orang-orang kaya, ketenangan telah diberikan kepada kita di dunia, apalagi yang kita pedulikan jika kita sudah taat kepada Alloh SWT!

Kemudian beliau sholat, dan akupun mengikutinya sholat. Berselang setelahnya, tiba-tiba ada lelaki yang mendatangi kami dengan membawa 8 roti dan kurma yang banyak, sambil meletakkannya di depan kami, lantas lelaki itu berkata: “Makanlah! Semoga Alloh SWT merahmati kalian.”

Kemudian Ibrohim bin Adham salam dari sholatnya, dan berkata: “Makanlah, hai pemurung!” Kemudian ada pengemis masuk, dan berkata: “Berilah aku makanan!” Lalu Ibrohim bin Adham memberinya 3 roti dan kurma yang banyak, dan memberiku 3 roti, sedangkan beliau cuma memakan 2 roti, dan beliau menjelaskan: “Membahagiakan orang lain merupakan akhlak orang-orang mukmin.

Ibrohim bin Adham dan kapal yang terombang-ambing

Dari Baqiyyah, beliau berkata: Suatu ketika kami berada di kapal bersama Ibrohim RA, tiba-tiba badai angin mengombang-ambingkan kapal. Kontan seluruh yang ada di kapal menangis, dan mengadu pada Ibrohim Ra, “Bagaimana ini wahai, Aba Ishaq?”

Lalu Ibrohim bin Adham RA, berdoa:

يَا حَيُّ حِيْنَ لاَ حَيَّ، وَيَا حَيُّ قَبْلَ كُلِّ حَيٍّ، وَيَا حَيُّ بَعْدَ كُلِّ حَيٍّ، يَا حَيُّ، يَا قَيُّومُ، يَا مُحْسِنُ، يَا مُجْمِلُ! قَدْ أَرَيْتَنَا قُدْرَتَكَ، فَأَرِنَا عَفْوَكَ،

“Wahai Yang Maha Hidup dikala tiada yang hidup, wahai Yang Maha Hidup sebelum adanya kehidupan, wahai Yang Maha Hidup setelah habisnya kehidupan, Ya Hayyu, Ya Qoyyum, Ya Muhsinu, Ya Mujmil. Engkau telah perlihatkan kekuasaan-Mu maka perlihatkanlah ampunan-Mu” Seketika itu kapalnya menjadi tenang.

Ibrohim bin Adham dan Syaqiq

Ibrohim bin Adham berkata pada Syaqiq: “Apa yang kamu jadikan pondasi (perjalanan spiritual kamu)?”

Syaqiq RA menjawab: “Saat kami diberi rizki maka kami makan, dan jika tidak maka kami bersabar.”

Ibrohim RA menimpali: “Seperti itulah anjing-anjing kota Balkh, jika diberi makan maka ia makan, jika tidak maka ia bersabar.”

Beliau juga menegaskan: “Dasar suluk spiritualku yaitu, jika ada rizki maka aku memprioritaskan orang lain. Namun jika aku tidak punya apapun aku bersyukur dan memuji Alloh SWT.”

Kontan, Syaqiq berdiri, kemudian duduk di depan Ibrohim RA, dan berkata: “Engkaulah guruku.”

Ibrohim bin Adham dihina tukang potong

Suatu  ketika Ibrohim bin Adhaam menjadi buruh tani dan mendapatkan upah 20 dinar, kemudian beliau bersama shohibnya memasuki tkota Idna, Palestina untuk bercukur dan melakkukan bekam.  Saat mendatangi tukang bekam, dia meremehkan Ibrohim dan shohibnya, seraya mengucapkan: “Tidak ada seorangpun yang membuatku jengkel melebihi mereka berdua, apa di dunia ini mereka tidak menemukan tukang bekam lain selain aku?”

Si tukang cukur lantas tidak menghiraukan Ibrohim dan shohibnya, serta sibuk melayani pelanggan yang lain.

Setelah selesai dengan semua pelanggannya, dia berkata kepada Ibrohim bin Adham: “Apa yang kalian inginkan?  Ibrohim Ra menjawab: “Aku ingin cukur dan bekam.”

Sang tukang cukur pun melakukan keinginan beliau.

Sedangkan shohibnya menolak untuk dilayani tukang cukur itu, karena si tukang cukur dianggapnya berlebihan dalam merendahkan mereka berdua.

Kemudian tanpa diduga, Ibrohim bin Adham memberikan semua upah jerih payahnya pada tukang cukur.

Spontan saja shohib Ibrohim RA protes: “Apa maksudnya ini?” Beliau pun menjawab: “Diamlah! Hal ini agar dia tidak lagi merendahkan orang fakir.”

Ibrohim bin Adham menggendong Sahl bin Ibrohim

Sahl bin Ibrohim menceritakan: Aku pernah nyantri (shuhbah) pada Ibrohim bin Adham, kemudian aku jatuh sakit.

Saat itu beliaulah yang merawatku dan membelanjakan hartanya untuk makananku, hingga akhirnya aku menginginkan makanan yang kusukai sebagaimana wajarnya orang sakit, mengetahui hal ini beliau menjual keledainya dan membelikanku apa yang ku inginkan.

Ketika aku sudah hampir pulih, aku berkata: “Dimana keledainya?” Beliau menjawab: “Sudah ku jual”

Aku kembali bertanya: “Lantas, aku naik apa?”

Beliau menjawab: “Saudaraku, naiklah ke leherku.”

Setelah itu beliau menggendongku melewati 3 desa.

Ibrohim bin Adham dan doa wali yang merindukannya

Ibrohim bin Adham bercerita: Suatu ketika aku mendatangi masjid untuk bermalam di sana, malam itu sangatlah dingin.  Namun ternyata pengurus masjid tidak mengijinkanku menginap, dia menyeret kakiku dan membuangku ke pembuangan sampah.

Kemudian pandanganku terfokus pada perapian besar sebagaimana perapian yang terdapat di pemandian air hangat, dan juga seseorang yang berusaha menyalakan api.

Saat melihatnya, aku ucapkan salam kepada lelaki itu. Namun dia tak segera menjawab salamku hingga menyelesaikan pekerjaannya. Uniknya, lelaki ini seringkali tiba-tiba menoleh ke kiri dan kanan, sebagaimana orang ketakutan.

Setelah dia menyelesaikan kesibukannya, aku menghampirinya dan bertanya: “Ya Hadza! Kenapa kamu tidak segera menjawab salamku?”

lelaki itu menjawab: “Aku adalah buruh, jika aku segera menjawab salam, aku kuatir pekerjaanku akan teralihkan dengan menyambutmu sehingga aku berdosa karena tidak menepati amanah orang yang memberiku upah.” Lelaki itu juga menuturkan: “Apa yang kau lihat, saat aku menoleh ke kiri dan kanan, itu karena aku kuatir akan kematian, aku tak tahu dimana kematian akan menjemputku.”

Terjadilah perbincangan antara keduanya.

Syekh Ibrohim bertanya: “Berapa gajimu tiap hari?”

Lelaki itu menjawab: “1 dirham lebih 1 daniq (sepernam dirham), yang 1 daniq aku gunakan untuk kebutuhanku, sisanya aku berikan kepada anak-anak saudaraku fillaah yang telah meninggal 20 tahun lalu.”

Mendengar jawabannya, Syekh Ibrohim sangat tertarik untuk kembali bertanya: “Lantas, apa kau tidak pernah meminta kepada Alloh agar dikabulkan hajatmu?”

Lelaki itu menjawab: “Tentu, sejak 20 tahun lalu aku pernah meminta agar dikabulkan satu hajat. Namun hingga saat ini belum dikabulkan oleh Alloh SWT.”

Syekh Ibrohim melanjutkan pertanyaannya: “Apa itu?” Beliau kembali menjawab: “Aku ingin dipertemukan dengan Ibrohim bin Adham, setelah itu tercapai aku ingin mati.”

Kemudian Syekh Ibrohim berkata:” Demi Alloh! Alloh hanya meridhoi mempertemukanku denganmu dalam keadaan wajahku terseret! Akulah Ibrohim bin Adham.

Lantas lelaki itu memelukku, dan meletakkan kepalanya di pangkuanku seraya berdoa:

إلهي! قضيت حاجتي، فاقبضني إليك!

“Tuhanku, Engkau telah mengabulkan keinginanku, maka cabutlah ruhku menuju ke haribaan-Mu

Ibrohim bin Adham dan doa wanita yang melahirkan

Syaqiq bercerita: “Suatu hari kami bersama Syekh Ibrohim, tiba-tiba ada lelaki yang lewat tanpa mengucap salam. Syekh Ibrohim lantas berkata: “Bukankah dia, si fulan?” Kami pun menjawab: “Iya, dia si fulan.”

Kemudian Syekh ibrohim berkata: “Pergilah, kejar dia dan tanyakan, kenapa tidak mengucap salam.”

Setelah ditanyakan, lelaki itu memberi alasan: “Istri saya melahirkan, sedangkan saya tidak memiliki apapun. Karenanya saya keluar rumah dalam keadaan seperti orang gila.”

Mengetahui alasannya tidak menjawab salam, Ibrohim bin Adham merasa menyesal dan berkata: “Innaa Lillah! Saudaraku mengalami kesusahan, sedang aku tidak mengetahuinya,”

Kemudian Syekh Ibrohim menyuruhku untuk berhutang 2 dinar, dan membelanjakan yang 1 dinar untuk membelikan lelaki itu semua kebutuhannya, serta memberikan semua sisa uang yang ada.

Setelah Syaqiq RA melakukan semua perintah gurunya, Syekh Ibrohim memberikan seluruh hadiah beserta uang 1 dinar kepada istri lelaki itu.

Spontan wanita itu berkata:

اللهم! لا تنس هذا اليوم لابرهيم!

“Ya Alloh, janganlah Engkau melupakan (tidak menerima) amal Ibrohim di hari ini.” Mendengar doa wanita itu, Syekh Ibrahim bin Adham sangat senang, tidak pernah aku melihatnya sebahagia itu.

Komentar ulama terkait Ibrahim bin Adham

قَالَ النَّسَائِيُّ: هُوَ ثِقَةٌ، مَأْمُوْنٌ، أَحَدُ الزُّهَّادِ.

“An Nasa’i RA berkata: Beliau adalah tsiqoh (perowi terpercaya), terjaga dari perbuatan fasik, serta salah satu ulama zuhud.”

قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بنُ مَهْدِيٍّ: قُلْتُ لابْنِ المُبَارَكِ: إِبْرَاهِيْمُ بنُ أَدْهَمَ مِمَّنْ سَمِعَ؟
قَالَ: قَدْ سَمِعَ مِنَ النَّاسِ، وَلَهُ فَضْلٌ فِي نَفْسِهِ، صَاحِبُ سَرَائِرَ، وَمَا رَأَيتُهُ يُظْهِرُ تَسبِيْحاً، وَلاَ شَيْئاً مِنَ الخَيْرِ، وَلاَ أَكَلَ مَعَ قَوْمٍ قَطُّ، إِلاَّ كَانَ آخِرَ مَنْ يَرْفَعُ يَدَه

“Abdurrahman bin Mahdi berkata: Aku bertanya pada Ibn Mubarok RA, “Ibrohim bin Adham pernah mendengar hadits dari siapa saja?” Beliau menjawab: Ibrohim bin Adham mendengar dari banyak ahli hadits, beliau orang yang memiliki keutamaan, pemilik banyak sirri, aku tak pernah melihatnya menampakkan tasbih, atau amal-amal baik lainnya, dan juga, beliau selalu menjadi yang terakhir mengangkat tangannya saat makan bersama-sama.”

أَبُو نُعَيْمٍ: سَمِعْتُ سُفْيَانَ يَقُوْلُ:
كَانَ إِبْرَاهِيْمُ بنُ أَدْهَمَ يُشْبِهُ إِبْرَاهِيْمَ الخَلِيْلَ، وَلَوْ كَانَ فِي الصَّحَابَةِ، لَكَانَ رَجُلاً فَاضِلاً

“Abu Nu’aim berkata: Aku mendengar Sufyan menyatakan: “Ibrahim bin Adham menyerupai Nabi Ibrohim Al Kholil SAW, seandainya Ibrahim bin Adham dari golongan sahabat nabi niscaya beliau adalah sahabat yang menonjol.”

قَالَ بِشْرٌ الحَافِي: مَا أَعْرِفُ عَالِماً إِلاَّ وَقَدْ أَكَلَ بِدِيْنِهِ، إِلاَّ وُهَيْبَ بنَ الوَرْدِ ، وَإِبْرَاهِيْمَ بنَ أَدْهَمَ، وَيُوْسُفَ بنَ أَسْبَاطٍ، وَسَلْمَ الخَوَّاصَ

“Bisyr Al Hafy berkata: Aku tidak pernah mengenal seorang alim kecuali ia makan dari pengetahuan agamanya, kecuali Ibrahim bin Adham, Yusuf bin Asbath, dan Salma al-Khowash.”

بِشْرٌ الحَافِي: حَدَّثَنَا يَحْيَى بنُ يَمَانٍ، قَالَ:
كَانَ سُفْيَانُ إِذَا قَعَدَ مَعَ إِبْرَاهِيْمَ بنِ أَدْهَمَ، تَحرَّزَ مِنَ الكَلاَمِ.

“Bisyr al Hafy menceritakan dari Yahya bin Yaman, beliau berkata: Konon Sufyan Tsauri menjaga bicaranya, jika duduk bersama Ibrahim bin Adham.”

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related