Tata Cara Sholat

Sholat, Definisi, Syarat & Rukunnya ala Madzhab Syafi'i

Sholat merupakan ibadah jasmaniyah yang dilakukan sejak zaman Nabi Adam AS sampai dengan diutusnya Nabi Ahir Zaman, Muhammad SAW.

Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam I’anatut Tholibin I/35 Maktabah Shamela

“(قوله: ولم تجتمع هذه الخمس لغير نبينا محمد) أي بل كانت متفرقة في الأنبياء.
فالصبح
صلاة آدم، والظهر صلاة داود، والعصر صلاة سليمان، والمغرب صلاة يعقوب، والعشاء صلاة يونس، كما سيذكره الشارح في مبحث أوقات الصلاة عن الرافعي.”

“Sholat 5 waktu hanya dikhususkan pada Nabi Muhammad SAW beserta ummatnya, sedangkan nabi-nabi sebelumnya hanya melakukan sebagiannya saja. Sholat Shubuh merupakan sholatnya Nabi Adam AS, Sholat Dhuhur sholatnya Nabi Daud AS, Sholat Ashar sholatnya Nabi Sulaiman AS, Maghrib sholatnya Nabi Ya’qub AS, Isya’ sholatnya Nabi Yunus AS..”

Definisi sholat lughotan wa syar’an

Secara bahasa sholat bermakna doa. Sedangkan secara terminologi fikih, sholat adalah ucapan dan gerakan-gerakan khusus yang diawali dengan takbirotulihrom dan diakhiri dengan salam. Penamaan ibadah ini dengan nama “sholat” karena di dalamnya terkandung banyak sekali bacaan-bacaan doa.

Sholat, Definisi, Syarat Rukun serta yang Membatalkannya ala Madzhab Syafi'i
Gambar oleh RENE RAUSCHENBERGER dari Pixabay

Hukum sholat 5 waktu dan hukum mengingkarinya

Dari berbagai macam salat, yang diwajibkan untuk umat islam hanya salat 5 waktu dalam sehari semalam. Karena sifat sholat 5 waktu adalah ma’lum minad din bid dhoruroh (diketahui secara pasti oleh semua umat, baik kalangan awam ataupun khos) maka yang mengingkarinya dihukumi kufur.

Dalil yang menjelaskan wajibnya solat 5 waktu adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim

قَالَ ابْنُ حَزْمٍ، وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” فَفَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى أُمَّتِي خَمْسِينَ صَلاَةً، فَرَجَعْتُ بِذَلِكَ، حَتَّى مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى، فَقَالَ: مَا فَرَضَ اللَّهُ لَكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟ قُلْتُ: فَرَضَ خَمْسِينَ صَلاَةً، قَالَ: فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ تُطِيقُ ذَلِكَ، فَرَاجَعْتُ، فَوَضَعَ شَطْرَهَا، فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، قُلْتُ: وَضَعَ شَطْرَهَا، فَقَالَ: رَاجِعْ رَبَّكَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ تُطِيقُ، فَرَاجَعْتُ فَوَضَعَ شَطْرَهَا، فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ، فَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ تُطِيقُ ذَلِكَ، فَرَاجَعْتُهُ، فَقَالَ: هِيَ خَمْسٌ، وَهِيَ خَمْسُونَ، لاَ يُبَدَّلُ القَوْلُ لَدَيَّ، فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، فَقَالَ: رَاجِعْ رَبَّكَ، فَقُلْتُ: اسْتَحْيَيْتُ مِنْ رَبِّي، ثُمَّ انْطَلَقَ بِي، حَتَّى انْتَهَى بِي إِلَى سِدْرَةِ المُنْتَهَى، وَغَشِيَهَا أَلْوَانٌ لاَ أَدْرِي مَا هِيَ؟ ثُمَّ أُدْخِلْتُ الجَنَّةَ، فَإِذَا فِيهَا حَبَايِلُ اللُّؤْلُؤِ وَإِذَا تُرَابُهَا المِسْكُ “

صحيح البخاري اهـ

Dan sabda Nabi Muhammad SAW kepada Mu’adz bin Jabal RA ketika diutus Nabi ke Yaman

وقوله عليه الصلاة والسلام لمعاذ لما بعثه إلى اليمن: أخبرهم أن الله قد فرض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة.

30 اهـ اعانة الطالبين ج1 ص

“Sampaikan kepada penduduk Yaman, bahwa Allah SWT telah mewajibkan mereka melakukan solat 5 waktu dalam sehari semalam”

Yang diwajibkan melaksanakan sholat 5 waktu

Kewajiban shalat 5 waktu dibebankan kepada:

  1. Muslim
  2. Mukallaf (Akil Baligh)
  3. Orang yang suci dari haidh dan nifas

ٍSelain yang disebutkan di atas tidak diwajibkan melakukan shlat 5 waktu, seperti:

  1. Kafir asli (bukan kafir yang awalnya adalah muslim, seperti non-muslim karena murtad)
  2. Anak yang belum baligh
  3. Orang yang hilang kesadaran seperti koma, atau mabok yang tanpa didasari keteledoran atau kesengajaan, dan orang gila
  4. Wanita yang sedang haid atau nifas. Bahkan bagi wanita haid dan nifas, tidak diwajibkan bagi keduanya untuk mengqodho’ sholat yang ditinggalkan ketika haid serta nifas.

Kewajiban wali dalam menyuruh anak sholat

Meski anak yang belum baligh belum ada kewajiban melakukan sholat 5 waktu, namun orang tua atau wali diwajibkan untuk menyuruh anak-anaknya yg telah berumur 7 tahun untuk melakukan sholat beserta syarat dan rukunnya. Kewajiban ini dilakukan jika anak sudah tamyis di usia 7 tahun, atau tamyis sebelum 7 tahun.

Jika anak sudah menginjak 10 tahun, maka kewajiban wali adalah memukulnya jika dia meninggalkan sholat. Tentunya pukulan ini, adalah pukulan yang tidak menyakitkan karena hanya sebatas memberi pelajaran sebagaimana pukulan guru ke murid.

Kewajiban-kewajiban ini berdasarkan hadits shohih:

للحديث الصحيح: مروا الصبي بالصلاة إذا بلغ سبع سنين، وإذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها.

33 اهـ إعانة الطالبن ج1 ص

“Perintahlah anak-anak kecil untuk melakukan sholat jika telah berumur 7 tahun, dan jika telah mencapai 10 tahun maka pukullah jika meninggalkan sholat” I’anatut Tholibin I/33 Shamela

Bagi wali, selain wajib menyuruh anaknya sholat juga diwajibkan untuk mengajarkan anaknya tentang masalah-masalah syar’i yang lain seperti hal-hal yang wajib, haram, dan sunnat. Kewajiban ini senantiasa berlaku selama anak belum baligh dalam keadaan sudah mengerti.

Syarat sahnya sholat

Syarat sah di sini maksudnya adalah hal-hal yang menjadi penentu keabsahan sholat namun bukan termasuk bagian dari sholat. Sebagai contoh adalah wudhu. Wudhu bukanlah bagian dari sholat namun sholat tanpa wudhu tidak sah.

5 syarat yang harus dipenuhi saat akan melaksanakan sholat yaitu:

  1. Thoharoh (suci dari dua hadats)
  2. Sucinya badan, pakaian, dan tempat sholat dari najis
  3. Menutup aurot
  4. Mengetahui masuknya waktu sholat
  5. Menghadapkan dada ke kiblat

Rukun-rukun Sholat

Baca juga “Toleransi bermadzhab dalam sholat berjamaah

Rukun sholat merupakan penentu keabsahan sholat sebagaimana syarat sah sholat. Hanya saja kalau rukun termasuk bagian dari sholat. Memang dalam beberapa kitab syafiiyah ada perbedaan terkait jumlah rukun sholat, tapi sebenarnya isinya tetap sama. Timbulnya perbedaan jumlah dikarenakan ada yang memasukkan thuma’ninah sebagai rukun tersendiri dan ada yang menjadikan 1 rukun antara thuma’ninah dengan mahalnya.

Rukun sholat ada 14 yaitu:

  1. Niat
  2. Takbirotul Ihrom
  3. Berdiri (bagi yang mampu)
  4. Membaca Fatihah di tiap-tiap rokaat
  5. Rukuk
  6. I’tidal
  7. Sujud 2 kali di tiap rokaat
  8. Duduk diantara 2 sujud
  9. Thuma’ninah di saat ruku’, i’tidal, 2 sujud, dan duduk diantara 2 sujud
  10. Tasyahhud ahir
  11. Sholawat Nabi setelah tasyahhud ahir
  12. Duduk di saat membaca tasyahhud dan sholawat
  13. Salam yang pertama
  14. Tertib

Definisi niat, dalil, tujuan dan caranya

NIat secara bahasa adalah menyengaja dalam hati untuk melakukan sesuatu baik disertai melakukannya atau tidak. Sedangkan secara istilah fikih niat merupakan kesengajaan yang disertai melakukan perbuatan.

Tujuan diwajibkannya niat untuk membedakan antara perbuatan yang bukan ibadah dengan perbuatan yang termasuk ibadah seprti halnya duduk di masjid, jika disertai niat i’tikaf maka akan ada nilai lebih yaitu unsur ibadah. Begitu juga mandi di hari jumat jika diniati kesunnatan mandi untuk menghadiri sholat jumat maka akan bernilai ibadah.

Dalil keharusan niat adalah hadits

إنما الأعمال بالنيات

Sesungguhnya keabsahan amal itu dengan niat”

Mengingat macam-macam sholat ada 3, yaitu: fardhu, sunnat yang terikat waktu dan sebab, dan sunnat mutlak maka dalam syarat-syarat niatnya tentu juga dibedakan.

Untuk niat melakukan sholat fardhu disyaratkan

  1. Menyengaja melakukan sholat, dalam hal ini seperti contoh “USHOLLI”
  2. Menyatakan kefardhuan sholat, contoh “FARDHO”
  3. Menentukan nama sholat, contoh “AL ASHRI, AL MAGHRIBI dll”

Selain 3 yang telah disebutkan, seperti “MUSTAQBILAL QIBLATI, LILLAHI TA’ALA, ROKATAINI” tidak disyaratkan dalam niat.

Untuk sholat sunnat yang terikat waktu dan sebab, disyaratkan:

  1. Menyengaja melakukan sholat, dalam hal ini seperti contoh “USHOLLI”
  2. Menentukan nama sholat, contoh “Dhuha, Tarowih dll”

Baca: Kapan waktu sholat dhuha

Jadi dalam sholat sunnat yang terikat waktu dan sebab hanya 2 syaratnya, cukup dengan “Usholli ad dhuha” penyebutan SUNNATAN, MUSTAQBLALQIBLAH, LILLAHI TAALA dan penyebutan rokaat bukan keharusan.

Sedangkan sholat sunnah mutlak yakni sholat yang tidak terikat waktu dan sebab, seperti sholat tahiyyatulmasjid, dan sholat sunnat setelah wudhu hanya disyaratkan menyengaja melakukan sholat (USHOLLI).

Tuntunan Bacaan niat sholat 5 waktu lengkap beserta artinya
  • Niat sholat shubuh sendirian

أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Latin: “Usholli Fardlos Shubhi Rok’ataini Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardhu subuh 2 rokaat, dengan menghadap qiblat, secara ada’, karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat shubuh sebagai makmum

أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوما لله تَعَالَى

Latin: “Usholli Fardlos Shubhi Rok’ataini Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Ma’muuman Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardhu subuh 2 rokaat, dengan menghadap qiblat, secara ada’, sebagai makmum karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat shubuh sebagai imam

أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إماما لله تَعَالَى

Latin: “Usholli Fardlos Shubhi Rok’ataini Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Imaaman Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardhu subuh 2 rokaat, dengan menghadap qiblat, secara ada’, sebagai imam karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat dhuhur sendirian

اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Latin: “Usholli Fardlod dhuhri Arba’a Rok’aatin Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardu dhuhur 4 rakaat, sambil menghadap qiblat, secara ada’, karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat dhuhur sebagai makmum

اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مأموما لله تَعَالَى

Latin: “Usholli Fardlod dhuhri Arba’a Rok’aatin Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Ma’muuman Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardu dhuhur 4 rakaat, sambil menghadap qiblat, secara ada’, sebagai makmum karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat dhuhur sebagai imam

اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إماما لله تَعَالَى

Latin: “Usholli Fardlod dhuhri Arba’a Rok’aatin Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Imaaman Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardu dhuhur 4 rakaat, sambil menghadap qiblat, secara ada’, sebagai imam karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat ashar sendirian

أُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Latin: “Usholli Fardlol Ashri Arba’a Roka’aatin Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardu ashar 4 rakaat, dalam keadaan menghadap qiblat, secara ada’, karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat ashar sebagai makmum

أُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مأموما لله تَعَالَى

Latin: “Usholli Fardlol Ashri Arba’a Roka’aatin Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Makmuuman Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardu ashar 4 rakaat, dalam keadaan menghadap qiblat, secara ada’, dan sebagai makmum, karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat ashar sebagai imam

أُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إماما لله تَعَالَى

Latin: “Usholli Fardlol Ashri Arba’a Roka’aatin Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Imaaman Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardu ashar 4 rakaat, dalam keadaan menghadap qiblat, secara ada’, dan sebagai imam, karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat maghrib sendirian

أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَ

Latin: “Usholli Fardlol Maghribi Tsalaatsa Roka’aatin Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardhu maghrib 3 rakaat, sambil menghadap qiblat, secara ada’, karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat maghrib sebagai makmum

أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مأموما لله تَعَالَ

Latin: “Usholli Fardlol Maghribi Tsalaatsa Roka’aatin Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Ma’muuman Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardhu maghrib 3 rakaat, sambil menghadap qiblat, secara ada’, sebagai makmum, karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat maghrib sebagai imam

أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إماما لله تَعَالَ

Latin: “Usholli Fardlol Maghribi Tsalaatsa Roka’aatin Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Imaaman Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardhu maghrib 3 rakaat, sambil menghadap qiblat, secara ada’, sebagai imam, karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat isya’ sendirian

أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاء ِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Latin: “Usholli Fardlol I’syaa-i Arba’a Roka’aatin Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardu isya 4 rakaat, sambil menghadap qiblat, secara ada’, karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat isya’ sebagai makmum

أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاء ِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مأموما لله تَعَالَى

Latin: “Usholli Fardlol I’syaa-i Arba’a Roka’aatin Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Ma’muuman Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardu isya 4 rakaat, sambil menghadap qiblat, secara ada’, sebagai makmum karena Allah ta’ala”

  • Niat sholat isya’ sebagai imam

أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاء ِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إماما لله تَعَالَى

Latin: “Usholli Fardlol I’syaa-i Arba’a Roka’aatin Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Imaaman Lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardu isya 4 rakaat, sambil menghadap qiblat, secara ada’, sebagai imam karena Allah ta’ala”

Adapun cara niat sholat qodho sama persis dengan sholat ada’. Baik yang dilakukan sendirian sebagai makmun atau imam, karena qadha shalat boleh dilakukan berjamaah, hanya saja ia mengganti bacaan “Adaa-an” menjadi “Qodhoo-an.”

Baca: Cara qodho sholat

Takbirotulihrom, dalil dan syaratnya

Takbirotulihrom adalah takbir yang pertama kali dilakukan bersamaan dengan niat. Untuk takbir-takbir lain dalam sholat disebut takbir intiqol (takbir perpindahan satu rukun ke rukun yang lain). Penamaan takbir ini dengan nama takbirotul ihrom adalah karena dengan takbirotulihrom hal-hal yang sebelumnya halal (boleh) dilakukan, menjadi haram dilakukan, seperti makan, berbicara dan hal-hal lain yang boleh dilakukan diluar sholat.

Dasar bahwa takbirotulihrom merupakan rukun adalah hadits yang telah muttafaq

إذا قمت إلى الصلاة فكبر

“Jika kamu mendirikan sholat, maka takbirlah”

Syarat takbirotulihrom

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam takbirotulihrom

  1. Pelafadzan takbir harus disertai niat sholat
  2. Mengucapkan Allohu Akbar menggunakan bahasa arab, bagi yang mampu

Menggantinya dengan lafadz lain meski semakna tidak diperbolehkan misalnya Allohu Ajallu, Allohu A’dhomu dll. Begitu juga membalik susunannya, contoh Akbaru Alloh.

Bagi yang tidak mampu mengucapkan takbir dengan menggunakan bahasa arab boleh menggantinya dengan bahasa lain yang dikuasainya. Meskipun begitu, diwajibkan bagi orang semacam ini untuk segera belajar bahasa arab agar bisa mengucapkan takbir dengan benar.

  1. Bacaan takbir harus keras dengan sekira bisa didengarkan oleh yang melafadzkan (selama tidak ada noise)
  2. Harus kontinyu antara lafadz jalalah dengan akbar. Kecuali jika bacaannya terhenti karena udzur, seperti kehabisan nafas, batuk dll.
  3. Tidak ada perubahan huruf-huruf takbir, baik perubahan dengan cara menambah huruf atau mengurangi.

Berdiri bagi yang mampu

Dari beberapa rukun yang ada, semua berlaku untuk sholat fardhu dan sunnat kecuali “berdiri bagi yang mampu”. Rukun yang 1 ini hanya berlaku untuk sholat fardhu.

Karenanya boleh kita melakukan sholat sunnat dengan duduk meskipun dalam keadaan sehat dan mampu berdiri, meski kualitas pahala yang didapatkan tentunya berbeda dengan yang didapat ketika sholat sunnat dengan berdiri.

Lain halnya dengan sholat sunnah, sholat fardhu wajib dilakukan dengan berdiri walaupun dengan bersandar pada sesuatu yang seandainya dihilangkan, si musholli akan terjatuh.

Berdiri hanya di sebagian sholat

Seandainya musholli hanya mampu berdiri di sebagian sholatnya (mungkin karena faktor usia atau kesehatan) maka tetap diwajibkan baginya berdiri selama waktu yang dia mampu, misalnya, dalam rokaat pertama dilakukan dengan berdiri dan rokaat selanjutnya dengan duduk.

Begitu juga, orang yang seandainya dia sholat sendirian maka dia bisa sholat secara sempurna dengan berdiri, dan jika dia berjamaah dia hanya mampu berdiri di sebagian sholatnya, dia diperbolehkan berjamaah dengan berdiri di sebagian sholatnya saja. Namun dalam hal ini, yang afdhol adalah sholat sendirian, sebagaimana yang dijelaskan dalam Fathul Muin 160 Shamela

فرع قال شيخنا: يجوز لمريض أمكنه القيام بلا مشقة لو انفرد، لا إن صلى في جماعة إلا مع جلوس في بعضها، الصلاة معهم مع الجلوس في بعضها، وإن كان الافضل الانفراد.

فتح المعين

“Bagi orang yang sakit, yang memungkinkannya untuk berdiri dengan tanpa kesulitan yang berarti seandainya dia sholat sendirian, namun tidak memungkinkan untuk berdiri kecuali di sebagian sholatnya saja saat berjamaah, diperbolehkan baginya melakukan sholat berjamaah dengan duduk di sebagian sholatnya. Meski yang afhol baginya adalah sholat sendirian dengan berdiri di tiap-tiap rokaat.

NB: Kesulitan (masyaqqot syadidah) di sini adalah kesulitan yang dapat menghilangkan kekhusyukan seandainya musholli memaksa berdiri.

Membaca Fatihah di tiap rokaat

Membaca Fatihah merupakan rukun yang wajib dilakukan di tiap rokaat (ketika berdiri sebelum ruku’) berdasarkan hadits shohih, sebagaimana dalam Fathul Muin I/162 Shamela

و رابعها: (قراءة فاتحة كل ركعة) في قيامها، لخبر الشيخين: لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب.

“Sholat tidak sah bagi yang tidak membaca Fatihah.”

Namun kewajiban membaca fatihah tidak berlaku bagi makmum masbuq yang sekira dia tidak mendapati waktu yang cukup untuk membaca fatihah, di saat imam masih berdiri.

Bahkan seandainya makmum masbuq memaksakan untuk menyempurnakan bacaan fatihah yang mengakibatkan dia tertinggal dari imam, dan mendapati imam sudah i’tidal maka rokaatnya tidak dihitung.

Kewajiban membaca fatihah juga harus disertai bacaan basmalah, dikarenakan Nabi SAW membaca basmalah terlebih dulu sebelum membaca fatihah. Selain alasan ini, juga berdasarkan hadits yang dijelaskan dalam I’anatut Tholibin I/163 Shamela:

قوله: لانه – صلى الله عليه وسلم – إلخ وصح أيضا قوله – صلى الله عليه وسلم -: إذا قرأتم بالفاتحة فاقرؤا بسم الله الرحمن الرحيم فإنها أم القرآن والسبع المثاني، وبسم الله الرحمن الرحيم إحدى آياتها.

“Jika kalian membaca fatihah, maka bacalah bismillahirrahmanirrahim karena fatihah merupakan ummul quran dan 7 ayat yang diulang-ulang, dan bismillahirrahmanirrahim salah satu ayatnya.”

Syarat dalam membaca fatihah

Selain disyaratkan harus membaca basmalah dalam fatihah, juga terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam bacaan fatihah, yaitu:

  1. Harus membaca seluruh tasydid yang ada pada fatihah, bila 1 tasydid dari ke 14 tasydid yang ada pada fatihah tidak dibaca maka wajib mengulang bacaan.
  2. Tidak diperbolehkan mengganti atau mengurangi huruf-huruf yang ada pada fatihah.
  3. Bacaan fatihah harus kontinyu tanpa jeda yang lama, kecuali jika memutus bacaan karena waqof atau sekedar ambil nafas.
  4. Membaca fatihah harus berurutan dari ayat pertama sampai terahir.
Pengganti fatihah bagi yang tidak mampu

Untuk orang yang belum bisa membaca fatihah dan belum sempat belajar karena waktu sholat sudah hampir habis maka wajib membaca 7 ayat yang lain, yang hurufnya sama dengan huruf yang ada pada fatihah (156 huruf).

Jika 7 ayat pengganti juga tidak memungkinkan, yang wajib dilakukan adalah 7 macam bacaan dzikir yang hurufnya sesuai jumlah huruf dalam fatihah. Namun jika masih belum bisa, maka cukup baginya untuk diam dengan waktu yang sekira cukup digunakan membaca fatihah.

Bagaimana hukum mengulang fatihah?

Jika seseorang tidak menghafal surat atau ayat lain selain fatihah, lantas bagaimana agar ia bisa mendapatkan pahala kesunatan membaca surat setelah fatihah? Apakah boleh mengulang bacaan fatihah sebagai ganti bacaan surat?

Terkait masalah pengulangan fatihah sebagai ganti kesunatan bacaan surat dalam salat. Imam Zainuddin al-Malibary menjelaskan dalam Fathul Muin:  

ويحصل أصل السنة بتكرير سورة واحدة في الركعتين وبإعادة الفاتحة إن لم يحفظ غيرها


فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين ص ١٠٥
الناشر: دار بن حزم

Pokok kesunnatan membaca surat dalam salat bisa diperoleh dengan cara mengulang satu Surat Al Quran di rakaat pertama dan kedua, atau bisa juga pahala kesunatan baca surat di dalam salat diperoleh dengan mengulang fatihah, bila memang ia tidak menghafal surat-surat lain kecuali fatihah

Rukuk, tata cara dan bacaannya

Rukuk merupakan rukun sholat yang ke 5, yang dilakukan setelah membaca fatihah atau surat.

Rukuk harus dilakukan minimal dengan membungkukkan badan yang sekira kedua telapak tangan bisa menggapai kedua lutut. Untuk lebih afdholnya agar mendapat kesunnatan Ittiba’ Nabi SAW yaitu dengan cara mensejajarkan punggung, leher, dan kepala (tidak mendongak dan tidak terlalu menunduk) sehingga terlihat seperti satu papan, disertai menegakkan kedua kaki, dan kedua telapak tangan menggapai lutut.

Untuk kalimat yang dibaca saat rukuk, sebenarnya tidak ada kalimat-kalimat atau dzikir khusus yang wajib dibaca dalam rukuk.  Karenanya jika rukuk dengan sekedar thuma’ninah tanpa membaca tasbih maka sholatnya tetap sah.

Hanya saja jika ingin mendapatkan kualitas sholat yang lebih baik, yang sesuai dengan sunnah, hendaknya membaca “Subhaana robbiyal adhimi 3*“.

Hal ini berdasarkan hadits ittiba’ yang diriwayatkan Imam Muslim, dan juga hadits yang diriwayatkan Abu Daud, Ibn Hibban, dan Al Hakim, serta dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim:

وَعَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: «لَمَّا نَزَلَتْ {فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ} [الواقعة: 74] [الْوَاقِعَةُ] قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: اجْعَلُوهَا فِي رُكُوعِكُمْ، قَالَ: وَلَمَّا نَزَلَتْ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} [الأعلى: 1] الْأَعْلَى: قَالَ: اجْعَلُوهَا فِي سُجُودِكُمْ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ، وَصَحَّحَهُ الْأَخِيرَانِ.

مغنى المحتاج 1 ص 164مكتبة شاملة

“Ketika turun ayat ke 74 dari Surat Waqiah, Rosululloh SAW bersabda “Jadikanlah tasbih ini di rukuk kalian”

Bagi musholli yang sholat sendirian juga disunnahkan menambah bacaannya dengan bacaan berikut:

اللهم لك ركعتُ وبك آمنتُ ولك أسلمْتُ خشَع لك سمْعي وبصري ومًخٍّي وعًظْمي وعصَبي

“Allohumma laka roka’tu wabika aamantu walaka aslamtu, khosya’a laka sam’ii wa bashori wa muhhi wa ‘adhmii wa ‘ashobi”

I’tidal

I’tidal bisa terpenuhi di saat musholli kembali pada keaadaan sebelum ruku’. Baik dengan berdiri tegak jika sebelum rukuk dia berdiri, atau duduk sebagaimana keadaan sebelum ruku’.

Jika musholli ragu, apakah i’tidalnya sudah sempurna atau belum maka wajib baginya untuk segera kembali pada posisi i’tidal atau sholatnya batal. Hukum ini berlaku bagi selain makmum.

Untuk makmum harus tetap mengikuti imam, akan tetapi wajib menambah satu rokaat setelah salamnya imam.

Untuk bacaan i’tidal, adalah:

سمع الله لمن حمده

“Sami’allohu liman hamidah,” dimulai saat musholli beranjak dari rukuk.

Dan saat posisi tubuh sudah tegak musholli membaca:

رَبَّنَا لَك الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْت مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

“Robbana lakalhamdu mil’us samaawati wa mil’ul ardhi wa mil’u maa syi’ta min syai’in ba’du.”

Sujud, definisi dan syaratnya

Sujud secara bahasa adalah menundukkan diri. Sedangkan menurut istilah fikih sujud merupakan meletakkan 7 bagian tubuh (kening, hidung, 2 telapak tangan, 2 lutut, dan ujung jari bagian dalam dari kaki).

Minimal posisi tubuh saat sujud adalah meletakkan sebagian dari kening, 2 telapak tangan, 2 lutut, ujung jari kaki pada tempat sujud. Jika ada yang tidak menempel pada tempat sujud maka sujudnya wajib diulang.

ٍSyarat sujud
  1. Menekan kepala pada tempat sujud, sekira seandainya di bawahnya adalah kapas maka akan membekas
  2. Ketika turun dari i’tidal ada kesengajaan melakukan rukuk. Seandainya ketika i’tidal dia terjatuh dan langsung melakukan sujud maka sujud tidak sah. Dalam keadaan ini musholli harus kembali pada i’tidal untuk kemudian turun melakukan sujud.
  3. Dalam sujud, posisi tubuh bagian atas harus lebih rendah dari tubuh bagian bawah. Kecuali jika ada keterbatasan fisik atau tidak mampu maka boleh melakukan sujud dengan posisi tubuh bagian atas sejajar dengan tubuh bagian bawah.
  4. Tempat sujud bukan bagian dari pakaian yang dipakai musholli. Seperti imamah atau mukenah

Untuk bacaan dalam sujud adalah:

سبحان ربي الاعلى وبحمده

“Subhaana robbiyal a’laa wa bihamdih.”

Duduk diantara 2 sujud

Duduk diantara 2 sujud dilakukan dengan posisi iftirosy (duduk di atas mata kaki kiri) dengan telapak tangan terbuka namun tidak terlalu renggang berada di kedua paha, serta mendekati lutut, sekira ujung-ujung jari sejajar dengan lutut.

Iftirosy juga dilakukan saat duduk istirocha, duduk tasyahhud awal, dan juga duduk tasyahhud ahir yang mana musholli akan melakukan sujud sahwi.

Duduk iftirosy
source: pwnusumut.or.id

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi saat melakukan duduk diantara 2 sujud, yaitu:

  1. Saat duduk tidak ada kesengajaan selain melakukan duduk antara 2 sujud
  2. Tidak memanjangkan durasi duduk sekira melebihi minimal bacaan tasyahhud

Untuk bacaan dalam duduk antara 2 sujud yaitu:

رب اغفر لي وارحمني، واجبرني، وارفعني، وارزقني، واهدني، وعافني

“Robbighfir li warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’aafini”

Thuma’ninah

Thuma’ninah adalah tenang tidak bergerak (selama durasi membaca tasbih) setelah beralih dari rukun yang telah dilakukan.

Tasyahhud ahir

Secara asal, tasyahhud adalah bacaan 2 kalimat syahadat. Penggunaan istilah tasyahhud dalam bacaan sholat karena dalam bacaan tasyahhud terdapat 2 kalimat syahadat.

Minimal bacaan tasyahhud adalah:

(التيحات لله سلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته، سلام علينا وعلى عباد الله الصالحين، أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله

“Attahiyyatu lillahi salamun alaika ayyuhannabiyyu warohmatullohi wabarokatuh, salamun alaina wa ‘ala ‘ibadillahis sholihin, asyhadu alla ilaaha illalloh wa anna muhammadar rosululloh”

Syarat dalam bacaan tasyahhud

  1. Tidak ada penggantian huruf / lafadz yang terdapat pada tasyahhud di atas (minimal tasyahhud)
  2. Membaca seluruh tasydid yang ada
  3. Dibaca keras sekira didengarkan oleh diri sendiri
  4. Dibaca secara kontinyu tanpa jeda kecuali ambil nafas

Sedangkan yang paling afdhol dalam bacaan tasyahhud adalah tasyahhud yang diriwayatkan oleh Ibn ِAbbas RA

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَلَام عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَلَام عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ.

“Attahiyyatul mubaarokaatus sholawaatut thoyyibaatu lillah, assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rohmatullohi wa barokaatuh, assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibaadillahis sholihin, asyhadu alla ilaaha illalloh wa asyhadu anna muhammadar rosululloh.”

Sholawat Nabi setelah tasyahhud

Bacaan sholawat atas Nabi merupakan rukun yang harus dibaca setelah tasyahhud. Sedangkan membaca sholawat atas keluarga Nabi SAW merupakan kesunnatan, namun ada juga ulama yang mewajibkannya.

Untuk minimal sholawat yang dibaca adalah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ atau صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Shollallohu ‘ala muhammad / Allohumma sholli ala muhammad.”

Untuk bacaan yang lebih sempurna yaitu:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكَتْ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Allohumma sholli ala muhammad, wa alaa ali muhammad kamaa shollaita ala ibroohima wa ala ali ibrohim, wa baarik alaa muhammdin wa alaa ali muhammad kama baarokta ‘ala ibrohima wa alaa ali ibrohim, innaka hamidummajid.”

Sebagai catatan, sebagaimana dalam I’anatut Tholibin I/198 yang lebih utama saat menyebut nama Nabi SAW diawali dengan penyebutan sayyidina. Hal ini karena untuk menjaga adab terhadap Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan hadits:

لا تسودوني في صلاتكم

“Janganlah kalian membaca sayidina saat bersholawat dalam sholat.”

adalah hadits bathil.

وقوله: وإن محمدا رسول الله الأولى ذكر السيادة، لأن الأفضل سلوك الأدب.
وحديث: لا تسودوني في صلاتكم.
باطل.

“Yang lebih utama adalah menyebutkan kesayyidan, karena yang afdhol adalah menjaga adab. Sedangkan hadits: Janganlah kalian mensayyidkanku dalam sholat, adalah bathil.”

I’anatut Tholibin I/198

Duduk dikala tasyahhud ahir dan sholawat

duduk tawarruk
source: datariau.com

Duduk ini merupakan duduk terahir yang dilakukan dalam sholat, posisi duduk terahir adalah tawarruk kecuali jika musholli akan melaksanakan sujud sahwi maka duduknya dengan posisi iftirosy, sebagaimana penjelasan di atas.

Selain disunnatkan duduk tawarruk, musholli juga sunnat meletakkan kedua tangannya di kedua paha dengan sedikit merenggangkan jari-jari tangan kiri sekaligus mensejajarkan ujung jari dengan lutut. Sedangkan jari-jari tangan kanan digenggam kecuali telunjuk.

Telunjuk tangan kanan sunnah dinaikkan saat membaca hamzahnya “الا الله”. Selain itu, juga disunnahkan agar telunjuk tetap terangkat sampai salam pertama, atau berdiri (jika di tasyahhud awal).

Salam pertama

Dua salam yang ada pada sholat hanya salam pertama yang termasuk rukun. Ini berarti, jika setelah salam pertama musholli hadats maka sah sholatnya, kecuali jika setelah hadats dia meneruskan salam kedua.

Bacaan salam agar terpenuhi rukun sholat adalah dengan mengucap:

السلام عليكم,

“Assalaamu alaikum.”

Yang lebih afdhol:

السلام عليكم ورحمة الله

“Assalaamu alaikum warohmatulloh.”

Pada saat salam pertama juga disunnatkan menoleh ke arah kanan sekira orang dibelakang bisa melihat pipi kanan musholli, begitu juga saat salam kedua dengan diiringi menoleh ke kiri.

Menertibkan rukun-rukun sholat

Dalam gerakan sholat wajib dilakukan sesuai urutan rukun-rukun yang telah disebutkan, sehingga ketika musholli melakukan gerakan sholat yang tidak sesuai urutannya maka sholatnya batal jika memang disengaja.

Apabila tanpa ada kesengajaan dan musholli masih berada di rokaat yang sama dari rusaknya tartib maka dia wajib segera kembali pada rukun yg urutannya di tinggal. Seperti contoh, setelah fatihah lupa dan langsung sujud, dan dalam rokaat yang sama, dia ingat kalau belum ruku’ di saat dalam keadaan duduk antara 2 sujud maka dia harus segera ruku’ kemudian i’tidal dst.

Namun jika ingatnya di rokaat berikutnya, dan dia telah berada pada rukun yang sama dengan rukun yang ditinggal (ingat meninggalkan ruku’ pada rokaat sebelumnya pada waktu dia melakukan rukuk di rokaat kedua dst) maka rokaat yang terdapat rukun yang cacat tidak dihitung, sehingga dia harus menambah satu rokaat lagi.

Hal – hal yang membatalkan sholat

Sholat menjadi batal jika musholli melakukan hal-hal berikut:

  1. Berbicara yang di sengaja. Pembicaraan yang membatalkan adalah pembicaraan yang mengandung unsur dialog antar anak adam, bukan dzikir, doa, dan bacaan Al Quran. Namun jika membaca ayat-ayat Quran disengaja untuk berdialog kepada anak adam maka membatalkan. Sedangkan Batasan kalam yang membatalkan adalah yang tersusun dari satu huruf namum bisa dipahami, atau 2 huruf meski tidak bisa dipahami.

Untuk dalil batalnya sholat sebab kalam adalah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Muslim dari Mu’awiyah bin Hakam As Sulamy RA yang ditegur oleh Nabi SAW Ketika Hakam mendoakan orang yang bersin di saat Hakam dalam keadaan sholat. Nabi menegurnya dengan berkata “Sesungguhnya sholat tidak patut digunakan sebagai dialog manusia, sesungguhnya dalam sholat hanya ada tasbih, takbir, dan bacaan Quran” Al Fiqh Al Manhaji i/167

وروى مسلم (537)، عن معاوية بن حكم السُّلَمي – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال له – وقد سمت عاطساً في صلاته-: “إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شئ من كلام الناس، إنما هو التسبيح والتكبير وقراءة القرآن”.

  1. Gerakan yang banyak. Yakni, gerakan-gerakan yang bukan gerakan sholat, yang terjadi sebanyak 3 kali secara kontinyu.
  2. Terkena najis. Kejatuhan najis atau terkena najis, baik pada pakaian atau badan menyebabkan sholat menjadi batal. Kecuali jika najisnya kering dan musholli segera menyingkirkannya.
  3. Terbukanya aurot. Namun jika aurot terbuka dengan tanpa disengaja, semisal tersingkap angin dan segera ditutup kembali oleh musholli maka sholatnya tidak batal.
  4. Makan atau minum.
  5. Hadats sebelum salam pertama.
  6. Dehem, batuk, merintih, tertawa, dan menangis. Jika memang sampai menimbulkan keluarnya suara 2 huruf atau lebih.
  7. Merubah niat. Yakni, menyengaja keluar dari sholat, atau menggantungkan sholat pada sesuatu, seperti jika fulan datang sholatnya saya putus. Maka seketika itu sholatnya batal.
  8. Membelakangi kiblat.

Refrensi:

اعانة الطالبين, صحيح البخاري, مغني المحتاج, الفقه المنهجي

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related