Sholat Tahajud, Pengertian, Hukum dan Tata Cara

Cara sholat tahajud

Pengertian sholat tahajud – Secara bahasa tahajud berarti tidur di malam hari, terkadang juga bermakna bangun tidur. Sedangkan tahajud secara istilah syari adalah bangun dari tidur malam untuk melakukan sholat, penamaan sholat tahajud dikarenakan seseorang bangun dari tidurnya dengan tujuan untuk melaksanakan sholat.

Sholat tahajud termasuk salah satu sholat sunah yang sering dihimbau oleh Nabi ﷺ untuk dilakukan. Selain anjuran-anjuran Nabi dalam hadits, Allah juga menfirmankan dalam Al Quran terkait perintah sholat tahajud secara khusus pada Nabi Muhammad ﷺ:

وَمِنَ الَّليْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَ ۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

Artinya: “Dan dimalam hari, lakukanlah (Muhammad) sholat tahajud sebagai nilai tambah (ibadah) bagimu, semoga Rabbmu memberimu kedudukan yang terpuji.”

Hukum sholat tahajud

Terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama madzhab, ada 2 pendapat mengenai hukum sholat tahajud

  1. Sunnah muakkad

Pendapat ini merupakan pendapat Imam Maliki, Imam Syafii, dan Imam Hambali radliyallohu anhum. Dengan demikian, jika mengacu pada pendapat ketiga ulama madzhab tersebut maka sangat dianjurkan bagi seorang muslim untuk menjaga dan merutinkan sholat tahajud. Namun, meninggalkan sholat tahajud tidak menyebabkan dosa. Meskipun demikian, mayoritas ulama syafiiyah menghukumi makruh meninggalkan sholat tahajud bagi orang yang istiqomah melakukan tahajud.

  1. Wajib

Kewajiban seorang muslim untuk melakukan sholat tahajud merupakan pendapat kebanyakan pengikut Imam Hanafi rodliyallohu anh.

Jumlah rokaat sholat tahajud

Semua ulama sepakat bahwa sholat tahajud minimal dilakukan sebanyak 2 rokaat, namun terkait jumlah maksimal rokaat sholat tahajud ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama. Imam Syafii dan Imam Hambali menyatakan bahwa jumlah maksimal rokaat tahajud tidak terbatas, boleh dilakukan sebanyak 100 rokaat dengan cara salam di tiap-tiap rokaat.

Berbeda dengan pendapat di atas, Imam Hanafi menyatakan bahwa rokaat terbanyak dari sholat tahajjud adalah 8 rokaat. Sementara Imam Maliki berpendapat maksimal sholat tahajjud adalah 10 rokaat, atau 12 rokaat yang ditambah setelahnya 1 rokaat witir.

Waktu sholat tahajud

Waktu sholat tahajud adalah setelah melakukan sholat isya’ baik tidurnya dilakukan sebelum masuknya waktu sholat isya’ atau sesudah masuknya waktu isyak, dan berakhir saat fajar shodiq telah terbit (masuknya waktu shubuh).

Tata cara sholat tahajud

Sama halnya dengan sholat fardhu, sholat tahajud juga memiliki syarat sah sholat yang sama. Pembedanya hanya, dalam tahajud tidak ada batasan rokaat, harus dilakukan setelah melakukan sholat isyak dan harus dilakukan setelah tidur.

Sementara untuk niat sholat tahajud adalah:

أصلي ؁ التهجد لله تعالى

Latin: Usholli sunnatat tahajjudi lillahi taala

Artinya: Aku niat sholat sunnah tahajud karena Allah taala.

Doa sholat tahajud

Berikut ini adalah doa sholat tahajud yang biasa dilakukan Rasululloh ﷺ sebagaimana dijelaskan dalam Shahih Bukhori dan Shahih Muslim:

اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

[البخاري، صحيح البخاري، ٤٨/٢]

Latin: “ALLOHUMMA LAKAL HAMDU ANTA QOYYIMUS SAMAAWAATI WAL ARDLI WA MAN FIIHINNA, WALAKAL HAMDU, LAKA MULKUS SAMAAWATI WAL ARDLI WAMAN FIIHINNA, WALAKAL HAMDU, ANTA NUURUS SAMAAWAATI WAL ARDLI WA MAN FIIHINNA.

WA LAKAL HAMDU ANTA MALIKUS SAMAAWAATI WAL ARDLI WA MAN FIIHINNA WALAKAL HAMDU, ANTAL HAQQU WA WA’DUKAL HAQQU, WA LIQOO’UKA HAQQUN, WA QOULUKA HAQQUN WAL JANNATU HAQQUN WAN NAARU HAQQUN WAN NABIYUUNA HAQQUN WA MUHAMMADUN ﷺ HAQQUN. WAS SAA’ATU HAQQUN

ALLAAHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA AAMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKKALTU, WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHAASHAMTU WA ILAIKA HAAKAMTU, FAGHFIR LII MAA QODDAMTU WA MAA AKHKHORTU WA MAA A’LANTU WA MAA ASRARTU. ANTAL MUQODDIMU WA ANTAL MUAKHKHIRU LAA ILAAHA ILLAA ANTA.”

Terjemah: “Ya Allah untukMu segala pujian. Engkaulah Yang Maha Mengatur langit dan bumi serta apa yang ada dalam keduanya.

Dan teruntukMu segala pujian, milikMu lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang terdapat dalam keduanya. Dan untukMu segala pujian, Engkau menerangi langit dan bumi serta apapun yang terdapat pada keduanya.

Dan teruntukMu segala pujian, Engkaulah penguasa langit dan bumi serta apapun yang terdapat dalam keduanya.

Dan teruntukMu segala puian, Engkaulah Al Haq (Yang Maha Benar), dan janjiMu nyata, dan perjumpaan denganMu kelak adalah nyata, firmanMu benar, perihal surga adalah nyata, neraka adalah nyata, dan para nabiMu jujur dan benar, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam benar dan hari qiyamat adalah nyata.

Ya Allah, hanya kepadaMu aku berserah diri, hanya kepadaMu aku beriman, hanya kepadaMu aku bertawakal, kepadaMulah aku kembali melakukan taat, karena hujah yang Engkau berikan aku lawan siapapun yang menentang syariat-Mu dan kepadaMulah aku menghukumi.

Ampunilah aku dari dosa yang lewat maupun yang akan datang, yang aku samarkan atau yang aku tampakkan. Engkaulah yang Maha Awal dan yang Maha Akhir dan tidak ada tuhan yang berhaq disembah selain Engkau atau.1

Refrensi:

  1. صحيح البخاري