Syekh Nawawi Banten: 6 Pendapat Tentang Iman Taqlid

Syekh Nawawi Banten: 6 Pendapat Tentang Iman Taqlid

Iman merupakan sebuah keyakinan yang tidak bisa ditumbuhkan dengan sekedar berdoa ataupun dengan beribadah. Membangun iman harus didasari dengan pengetahuan yang kuat juga disertai dalil-dalil yang logis.

Dalam hal ini Allah mengisyaratkan dalam Al Quran bagaimana proses pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ. الأنعام : ۷۶

Ketika kegelapan malam telah menyelimuti, Ibrahim melihat sebuah bintang, dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS. Al-An’am: 76)

فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚفَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ. الأنعام : ۷۷

Lalu saat dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu mulai terbenam dia pun berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. Al-An’am: 77)

فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُ ۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ. الأنعام : ۷۸

Kemudian ketika dia melihat matahari mulai terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi saat matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku membebaskan diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)

اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۚ. الأنعام : ۷۹

Aku hadapkan diriku kepada Sang Pencipta Langit dan Bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS. Al-An’am: 79)

Alasan ini menjadi salah satu faktor terjadinya perbedaan pendapat dikalangan ulama terkait Imannya seseorang yang tumbuh berdasarkan taklid buta. Karena taklid adalah meyakini kebenaran perkataan atau perbuatan seseorang tanpa berlandaskan pengetahuan yang disertai dalil-dalil yang logis. Karena itu Iman seorang murid berdasarkan pengetahuan yang disampaikan guru disertai argumen yang sesuai logika bukan termasuk taqlid.

Perbedaan Pendapat Tentang Imannya Orang Taklid

Syekh Nawawi Banten menuturkan dalam kitab Nürudl Dlolām bahwa ada 6 pendapat ulama terkait iman yang tumbuh berdasarkan taklid. Berikut adalah rinciannya:

  1. Imannya sah, namun berdosa jika dia bisa berpikir dengan baik

Artinya iman seseorang yang bisa berpikir dengan baik akan keberadaan Tuhan, yang mana iman ini tumbuh dengan mengikuti orang lain tanpa melalui proses berpikir atau mengangankan bagaimana jika dalam kehidupan ini semua terjadi secara kebetulan tanpa ada Tuhan yang mengatur segalanya adalah sah, namun dia berdosa karena tidak mau memikirkan hal ini. Lain halnya bagi mereka yang memang tidak memiliki kemampuan untuk memikirkan hal ini.

  1. Iman orang taklid tidak sah

Pendapat ini disampaikan oleh Imam Sanusi, dengan demikian menurut pendapat ini orang-orang yang taklid dalam mengimani belum dianggap sah imannya dan pelakunya masih dianggap kafir, karena iman harus berdasarkan pengetahuan dan tidak boleh sekedar ikut-ikutan. Namun pendapat ini ditentang oleh banyak ulama.

  1. Iman sah akan tetapi berdosa

Hampir sama dengan pendapat pertama, hanya saja dalam pendapat ini tidak ada perbedaan antara orang yang bisa berpikir dengan baik dan orang yang tidak ahli bertafakur.

  1. Sah jika taklid kepada Al Quran dan Sunnah

Iman dianggap sah jika dia hanya taklid kepada Al Quran dan Sunnah yang qoth’i (meski tanpa adanya tafakur). Karena dia telah mengikuti perkara yang qoth’ï. Berbeda dengan taklid terkait iman pada selain keduanya, sebab tidak ada orang yang bisa bebas dari kesalahan kecuali para nabi.

  1. Sah tanpa terbebani dosa

Iman orang yang taklid dianggap sah dan tidak berdosa secara mutlak; baik dia ahli berpikir maupun tidak. Pendapat ini disampaikan oleh Imam Bajuri, menurutnya berpikir hanya merupakan syarat sempurnanya iman bukan syarat iman. Karenanya jika ada orang ahli berpikir namun dia meninggalkan tafakur terkait hal ini, ia telah meninggalkan perkara yang afdhol.

  1. Sah dan haram bertafakur

Maksudnya, iman orang yang taklid adalah sah dan bagi pelakunya haram untuk memikirkan proses terjadinya alam dalam menumbuhkan keimanan jika memang dia menyusupi pemikiran filsafat yang bisa menggiring kepada sifat-sifat yang tidak sesuai dengan keagungan Allah.

Demikianlah 6 perbedaan pendapat ulama tentang imannya orang yang taklid buta seperti yang disampaikan oleh Syekh Nawawi Banten, tokoh ulama Nusantara yang biasa dikenal dengan nama Syekh Nawawi al Bantani saat menjelaskan bait

وبعدُ فاعلمْ بوجوبِ المعرفةْ ۞ مِنْ واجبٍ للهِ عشرينَ صفةْ

Salah satu bait dari nadzam ‘Aqīdatul ‘Awām. Wallöhu a’lam bisshowab