Tidak Pernah Menista Sahabat Nabi, Tetangga Imam Ahmad bin Hambal Didoakan Nabi dan Bertobat

Tidak Pernah Menista Sahabat Nabi, Tetangga Imam Ahmad bin Hambal Didoakan Nabi dan Bertobat

Tidak Pernah Menista Sahabat Nabi, Tetangga Imam Ahmad bin Hambal Didoakan Nabi Agar Bertobat – Konon Imam Ahmad bin Hambal Ra memiliki tetangga yang gemar melakukan kemaksiatan, tiada hari yang dilaluinya tanpa melakukan hal-hal yang diharamkan. Hal ini menjadikan ia selalu tidak begitu dihiraukan masyarakat sekitar termasuk oleh Imam Ahmad bin Hambal.

Diceritakan dari Abul Faroj Abdurrahman bin ‘Ali, dari al-Hafidz Abul Fadhol bin Nashir, dari Abu Tholib al-Yusufi, dari Abu ishaq al-Barmaki, dari Abu Abdillah bin Batthoh, dari Abu Bakr al-Ajuri, dari Ibn Abi Toyyib, dari Ja’far as-Sho’igh, beliau berkata:

“Konon, dari beberapa tetangga Abi Abdillah, Ahmad bin Muhammad bin Hambal RA ada satu lelaki yang hidupnya berlumuran kemaksiatan dan terjerumus dalam melakukan perbuatan-perbuatan kotor. Suatu hari dia mendatangi majelis pengajian Imam Ahmad bin Hambal.

Lelaki itu lantas mengucapkan salam pada Imam Ahmad bin Hambal. Mengetahui orang yang salam adalah orang yang biasa melakukan hal-hal yang diharamkan Alloh SWT, Imam Ahmad pun membalasnya dengan jawaban salam yang sekan-akan cuma sekedarnya lalu memalingkan muka dari lelaki tersebut.

Melihat respon Imam Ahmad yang tidak hangat, lantas lelaki itu berkata: “Wahai Aba Abdillah, kenapa engkau memalingkan muka dariku, sementara aku sudah merubah kebiasaanku melakukan kemaksiatan setelah aku mengalami sebuah mimpi.” Imam Ahmad bin Hambal lalu menanyakan: “Mimpi apa yang kau alami?”

Tetangga Imam Ahmad bin Hambal kemudian bercerita: “Aku mimpi melihat Rosululloh SAW dikelilingi banyak orang, beliau duduk di tempat yang tinggi, sementara orang-orang di sekelilingnya duduk di bawah. Lalu satu persatu dari kerumunan orang yang hadir, berdiri dan menghadap Nabi Shollallohu alaihi wasallam dan berkata: “Ya Rosul Alloh, doakanlah aku.” Kemudian Nabi SAW mendoakannya.

Satu-persatu dari yang hadir di tempat itu juga melakukan hal yang sama, hingga akhirnya, tibalah giliranku, hanya tinggal aku seorang yang belum menghadap Nabi SAW dan meminta doa. Namun, saat aku akan berdiri, aku merasa malu karena buruknya perbuatanku, akhirnya aku mengurungkan niatku menghadap beliau.

Melihat tingkahku tersebut Nabi SAW memahami apa yang aku alami, beliau shollallohu alaihi wasallam lantas bertanya: “Hai fulan, kenapa kamu tidak menghadapku dan memintaku mendoakanmu?” Aku pun memberi alasan: “Wahai Rosul Alloh SAW, aku tidak berani, aku malu kepadamu disebabkan perbuatanku yang buruk,”

Rosululloh SAW kemudian bersabda: “Jika yang menghalangimu adalah rasa malu, tidak apa-apa, berdirilah menghadapku dan mintalah doa kepadaku! Karena kamu sama sekali tidak pernah mencaci dan mengatai buruk pada satu orang pun dari beberapa sahabatku.”

Mendengar sabda Nabi SaW akupun lantas berdiri dan menghadapnya, lalu Nabi SAW mendoakanku. Kemudian aku terbangun dari tidurku.

Setelah kejadian itu, Alloh memberiku taufiq sehingga hatiku merasa benci pada kemaksiatan yang biasa aku lakukan.”

Mendengar cerita tetangganya, Imam Ahmad bin Hambal menyuruh jamaah yang hadir di majelis itu untuk menghafal kejadian ini seraya berkata: “Hai Ja’far, Hai fulan! Hafalkan dan ceritakan kejadian ini pada yang lain karena kejadian ini sangat bermanfaat.”

Sebagai catatan: Apa yang dilakukan Imam Ahmad bin Hambal terkait memalingkan muka dan menjawab salam dari tetangganya dengan jawaban dan sikap yang tidak care merupakan sebuah anjuran dalam menghadapi orang-orang yang masyhur kefasikannya. Hal ini beliau lakukan karena pada waktu itu beliau belum mengetahui bahwa tetangganya sudah bertobat.

Imam Nawawi dalam Adzkarnya menjelaskan:

وأما المبتدعُ، وَمَنْ اقترف ذنباً عظيماً ولم يتُب منهُ، فينبغي ألا يسلِّم عليهم، ولا يردّ عليهم السلامُ، كذا قالهُ البخاري وغيرهُ من العلماء.

“Adapun orang-orang pelaku bid’ah, dan juga pelaku dosa besar yang belum bertobat maka sebaiknya tidak usah mengucapkan salam kepada mereka, dan juga tidak menjawabnya. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan Imam Bukhori dan ulama-ulama lain.”

واحتجّ الإمام أبو عبد الله البخاري في صحيحه في هذه المسألة بما رويناهُ في صحيحي البخاري [رقم: 4418] ، ومسلم [رقم: 2769] ؛ في قصة كعبِ بنِ مالكٍ رضي اللهُ عنهُ حينَ تخلَّف عن غزوةِ تبوكَ هو وَرَفيقان لهُ، قال: ونهى رسولُ الله صلى الله عليه وسلم عن كلامنا، قال: وكنتُ آتي رسول الله صلى الله عليه وسلم فأُسلِّم عليه، فأقولُ: هل حرّكَ شَفتيه بردّ السلام، أم لا؟

“Dalam hal ini Imam Bukhori mengambil dalil dari kejadian Ka’b bin Malik dan kedua temannya RA yang tidak mengikuti perang tabuk. Sayyidina Ka’b bin Malik RA berkata: “Rosululloh SAW melarang sahabat-sahabat yang lain untuk berbicara kepada kami,” Beliau juga menceritakan: “(Pada waktu itu) aku mendatangi Rosululloh SAW dan aku mengucap salam pada Nabi, lalu aku berkata:” Apa Nabi menggerakkan bibirnya menjawab salamku?”

قال البخاري: وقال عبدُ الله بن عمروٍ: لا تسلِّموا على شَرَبَة الخمر.

قلتُ: فإن اضّطُر إلى السلام على الظلمة، بأن دخل عليهم، وخاف تَرَتُّب مفسدةٍ في دينه أو دنياهُ أو غيرهما إن لم يُسلم، سلّم عليهم.

“Imam Bukhori berkata:”Abdulloh bin Umar menjelaskan: Janganlah kalian mengucap salam pada peminum khomr.”

“Kesimpulanku (An Nawawi): Jika terpaksa harus salam pada orang-orang dholim, sebagaimana jika kita masuk di tempat mereka dan mengkuatirkan akan terancamnya agama, dunia, atau hal lain jika tidak mengucap salam, maka boleh mengucapkan salam.”

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related