Tobatnya Labib al-Abid, Satria yang Menjadi Sufi

Tobatnya Labib al-Abid, Satria yang Menjadi Sufi

Qodhi Abu Ali at-Tanukhi menuturkan: Dulu di daerah Syam, tepatnya di gerbang masuk arah sebelah barat Baghdad ada lelaki sufi pendatang yang zuhud yang dikenal dengan nama Labib al-Abid. Banyak sekali orang yang silih-berganti berkunjung mendatanginya, sekedar meminta doa karena beliau dikenal dikaruniai doa yang mustajab.

Profil masa lalu Labib al-Abid

Qodhi Abu Ali juga menegaskan, bahwa: Labib al-Abid bercerita kepadaku, bahwa: “Dulu, beliau merupakan budak dari romawi yang dimiliki sebagian prajurit, si pemilik lah yang merawat, mendidik serta melatih dia menggunakan pedang dan beberapa peralatan perang lainnya, hingga dia akhirnya menjadi lelaki satria.

Setelah beberapa tahun mengabdi pada tuannya, akhirnya Labib dimerdekan. Hingga pada saat mantan pemiliknya meninggal, Labib berhasil memiliki hartanya, dan kemudian menikahi istrinya.”

Labib al-Abid juga menuturkan pada Qodhi Abu Ali: “Aku menikahi istri mantan tuanku tidak ada tujuan buruk, Alloh SWT mengetahui bahwa aku menikahinya dengan tujuan untuk menjaganya. Setelah pernikahan itu, aku hidup bersama istriku selama beberapa waktu.

Ujian yang berat

Hingga bertepatan pada suatu hari, aku melihat seekor ular yang memasuki kamar istriku, melihat kejadian itu, aku pun bergegas mengejar dan berniat membunuh ular itu agar tidak membahayakan jiwa istriku.

Hingga akhirnya aku berhasil menangkap ekor ular tersebut. Namun naas, ular itu seakan melompat dan menggigit tanganku dan menyebabkan tangan yang digigit menjadi lumpuh.

Waktu terus berjalan, dan aku masih dengan kondisi yang sama, memiliki 1 tangan yang berfungsi sementara yang satunya masih saja lumpuh.

Hingga akhirnya, tiba-tiba tanganku yang satunya juga lumpuh tanpa sebab yang ku ketahui, lalu setelah beberapa waktu, kedua kakiku juga lumpuh tanpa sebab yang jelas. Menyusul kemudian, mataku buta, mulutku bisu. Semua terjadi tanpa sebab yang pasti, dan hanya telingaku yang masih berfungsi.

Aku lalui kondisi seperti ini selama satu tahun penuh, tanpa anggota tubuh yang berfungsi, kecuali hanya pendengaranku yang masih normal dan membuatku semakin menderita karena mendengar hal-hal yang kubenci.

Di masa-masa itu aku cuma dibaringkan terlentang tanpa kemampuan berbicara, berisyarat, apalagi menggerakkan tubuhku. Meski istriku masih merawatku, namun karena kondisiku yang tak berdaya dan cuma bisa mendengar seringkali aku diberi minum di saat aku belum haus, diberi makan saat aku masih kenyang, dan ditinggalkan saat aku begitu lapar dan haus.

Mendapat hidayah dan bertobat

Setelah berjalan satu tahun penuh, istriku dikunjungi teman wanitanya, dia bertanya: “Bagaimana keadaan suamimu, Abu Ali Labib,?

Istriku menjawab: “Suamiku bukanlah orang hidup yang bisa diharapkan kesembuhannya, bukan pula orang mati yang bisa dihilangkan deritanya.”

Perkataan istriku membuatku sangat merasa sedih dan membuat hatiku sangat sakit. Kemudian hatiku menangis dan menjerit kepada Alloh seraya berdoa.

Sebelumnya, meskipun kondisiku sangat malang namun aku sama sekali tidak merasakan sakit. Lalu di penghujung hari itu, secara tiba-tiba tubuhku seakan terkena pukulan yang berat yang hampir membuatku binasa. Rasa sakit ini semakin terasa dan terus terasa sampai masuknya tengah malam. Namun melewati tengah malam perlahan rasa sakit itu mulai reda.

Aku pun tidur dan tanpa terasa aku bangun di saat menjelang fajar, anehnya saat itu aku merasa kedua tanganku berada di dada padahal sebelumnya, selama setahun kedua tanganku dibiarkan tergeletak di tempat tidur.

Aku pun mencoba menggerakkannya, dan ajaib sekali tanganku yang setahun penuh tidak berfungsi tiba-tiba bisa digerakkan.

Saat itu aku merasa senang sekali, harapanku akan karunia kesembuhan dari Alloh yang sempat redam kini semakin membesar. Akupun menggerkkan tanganku yang lain dan ternyata sudah bisa bergerak.

Mengetahui hal ini, aku mencoba menggapai dan memegang kakiku kemudian aku gerakkan dan aku kembalikan sebagaimana semula, aku juga melakukan hal sama pada kakiku yang lain. Kemudian aku mencoba membalik tubuhku, ternyata berhasil.

Akhirnya aku duduk, dan mencoba berdiri dari tempat aku dibaringkan di salah satu kamar dalam rumah.

Setelah berhasil berdiri, aku berjalan mengelilingi kamar gelap itu berupaya menggapai tembok sampai akhirnya aku berhasil meraih gagang pintu.

Saat itu sama sekali tidak terlintas di benakku bahwa mataku masih ada harapan bisa sembuh namun saat aku keluar dari pintu menuju halaman rumah aku lihat langit yang diterangi bintang-gemintang. Aku langsung terkesima dan sangat bahagia sampai hampir mati dibuatnya.

Kebahagian yang dikaruniakan Alloh membuatku tak sadar mengucap kalimat:

يا قديم الإحسان لك الحمد

“Wahai dzat yang kebaikannya tak terbatas waktu, segala puji untuk-Mu.”

Kemudian aku berteriak memanggil istriku, dia pun datang dan terkejut serta mengucap “Kau, Abu Ali?” Aku menjawab “Saat ini aku menjadi Aba Ali yang sejati, nyalakan lampu dan bawakan aku gunting!” seketika itu dia pergi mengambil gunting, dan setelah mendapat gunting yang kuminta, aku segera mencukur kumis yang menjadi identitas seorang prajurit satria.

Melihat tingkahku, istriku langsung protes dan berkata “Apa yang kau lakukan? Kau akan dimaki teman-temanmu,” aku pun menimpalinya dan berkata: “Mulai detik ini, aku tidak akan melayani siapapun kecuali hanya Tuhanku.”

Setelah kejadian itu, aku pun keluar dari rumah dan hidupku sepenuhnya hanya kupersembahkan mengabdi dan beribadah kepada Alloh azza wa jall.

Labib al-Abid juga melanjutkan ceritanya, dia berkata: Sejak kejadian yang ku alami, aku selalu membiasakan mengucap “Ya Qodiimal Ihsan, lakal hamdu.”

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related