Toleransi Antar Madzhab dalam Sholat Berjamaah

Sholat berjamaah adalah sholat yang dilakukan secara berkelompok. Karenanya dalam sholat jamaah disyaratkan jumlah pesertanya minimal 2 orang termasuk imam. Hal ini mengecualikan sholat jumat yang disyaratkan minimal 40 orang beserta imam.

Sholat Jamaah beda aliran madzhab
Sumber: pexels.com

Masalah yang terjadi saat sholat jamaah

Selain syarat di atas, ada beberapa syarat lain yang mesti dipenuhi oleh ma’mum atau imam. Tak cuma harus memperhatikan terpenuhinya syarat jamaah, syarat sahnya sholat beserta rukun-rukunnya juga harus dipenuhi. Namun yang jadi masalah adalah, bagaimana jika antara ma’mum dan imam memiliki sudut pandang yang berbeda terkait syarat, dan rukun-rukun sholat, seperti halnya saat keduanya berbeda madzhab. Apakah sholat si ma’mum sah? Atau ma’mum harus mencari imam yang satu pemahaman dengannya?

Baca juga “Syarat sah sholat dan rukunnya

Hukum berjamaah dengan orang berbeda madzhab

Berkaitan dengan masalah di atas, beberapa ulama madzhab syafi’i telah membuat kesimpulan. Pendapat kuat dalam madzhab Syafi’i terkait masalah ini adalah, tidak sahnya sholat makmum yang mengikuti imam yang diyakini oleh makmum akan ketidak absahan shalatnya. Sebagai contoh, makmum bermadzhab Syafi’i yang meyakini wajibnya basmalah dalam bacaan fatihah, sedangkan imamnya bermadzhab Hanafi yang meyakini bahwa basmalah bukan bagian dalam fatihah sehingga membacanya dihukumi sunah.

Dengan keyakinan imam yang seperti ini, dia pun meninggalkan bacaan basmalah karena meyakini bukan bagian ari fatihah dan membaca basmalah hukumnya sunah.

Jika situasi semacam ini terjadi maka sholatnya makmum dihukumi tidak sah. Dalam Minhajul Qowim dijelaskan:

شروط صحة القدوة أن لا يعلم بطلان صلاة إمامه بحدث أو غيره.

المنهاج القويم ج١ ص١٥٠ مكتبة شاملة

“Syarat sah berjamaah adalah makmum tidak meyakini batalnya sholat imam, baik batalnya sholat yang disebabkan hadats atau yang lain”

“وكحنفي” أو غيره اقتدى به شافعي وقد “علمه ترك فرضا” كالبسملة ما لم يكن أميرا أو الطمأنينة أو أخل بشرط كأن لمس زوجته ولم يتوضأ فلا يصح اقتداء الشافعي به حينئذ اعتبارا باعتقاد المأموم لأنه يعتقد أنه ليس في صلاة اهـ

المنهاج القويم ج ١ ص ١٥١ مكتبة شاملة

“Seperti imam yang bermadzhab Hanafi yang diikuti oleh makmum bermadzhab Syafi’i, sementara makmum mengetahui bahwa imam telah meninggalkan hal-hal yang menjadi rukun sholat dalam keyakinan makmum, sebagaimana membaca basmalah atau melakukan thuma’ninah.

Atau makmum mengetahui imamnya meninggalkan sesuatu yang diyakini makmum sebagai syarat sah sholat. Dalam hal ini, seperti imam telah memegang istrinya dan langsung sholat tanpa berwudhu terlebih dahulu. Maka tidak sah sholatnya makmum yang bermadzhab Syafi’i dalam masalah-masalah ini, karena mempertimbangkan keyakinan makmum, sebab ia meyakini bahwa imamnya tidak berada dalam sholat yang sah,” (Al-Minhaj al-Qawim, halaman. 151 maktabah shamela)

Solusi agar tercapai toleransi antar madzhab

Meski begitu, menurut pendapat lain dari madzhab Syafi’i, keabsahan jamaah ketika imam dan makmum memiliki sudut pandang yang beda dalam syarat dan rukun maka yang menjadi acuan adalah keyakinan imamnya, meskipun menurut keyakinan (madzhab) yang dianut makmum menghukumi sholatnya imam tidak sah.

Misalkan, dalam permasalahan imam yang tidak membaca basmalah karena ia sholat berdasarkan madzhab Hanafi yang meyakini bahwa basmalah bukan bagian dari fatihah, sementara makmumnya bermadzhab Syafi’i yang meyakini kewajiban basmalah karena termasuk bagian dari fatihah, maka sholatnya makmum tetap dinyatakan sah. Karena sholat yang dilakukan imam sudah benar sesuai madzhab yang dianutnya.

Syekh al-Khathib as-Syirbini menjelaskan dalam Mughni al-Muhtaj I/478-479:

“وكحنفي” أو غيره اقتدى به شافعي وقد “علمه ترك فرضا” كالبسملة ما لم يكن أميرا أو الطمأنينة أو أخل بشرط كأن لمس زوجته ولم يتوضأ فلا يصح اقتداء الشافعي به حينئذ اعتبارا باعتقاد المأموم لأنه يعتقد أنه ليس في صلاة دوننا كأن (افتصد فالأصح الصحة) أي صحة الاقتداء (في الفصد دون المس) ونحوه مما تقدم (اعتبارا بنية) أي اعتقاد (المقتدي) لأنه محدث عنده بالمس دون الفصد، والثاني عكس ذلك اعتبارا باعتقاد المقتدى به؛ لأنه يرى أنه متلاعب في الفصد ونحوه فلا يقع منه نية صحيحة، وحينئذ فلا يتصور جزم المأموم بالنية، ولو حافظ المخالف في الفروع كحنفي على واجبات الطهارة والصلاة عند الشافعي صح اقتداؤه به، وكذا لو شك في إتيانه بها تحسينا للظن به في أنه يراعي الخلاف، ولا يضر عدم اعتقاده الوجوب وإنما ضر في الإمام الموافق لعلم المأموم ببطلانها عندهما اهـ

مغني المحتاج ج١ ص ٤٧٨-٤٧٩ مكتبة شاملة

“Menurut pendapat yang kedua, kebalikan dari pendapat pertama. Karena mempertimbangkan keyakinan imam.” (Mughnil Muhtaj, I/478-479)

Jadi, dalam masalah ini ada dua pendapat yang masing-masing bisa dipertanggungjawabkan karena memiliki tendensi hukum serta dapat dijadikan pijakan. Karenanya, jika permasalahan ini terjadi di masyarakat alangkah baiknya jika menggunakan pendapat kedua untuk menjaga kemaslahatan yaitu toleransi dalam hidup bersama orang yang berbeda madzhab sehingga sholat jamaah tetap terbisa dilakukan meski beda pemahaman syarat dan rukun.

والله اعلم بالصواب

 

0 Komentar

Penulis: mantra-berdarah

Kategori

Related Articles

Related