Upacara Grebeg Maulud, Akulturasi Budaya Jawa-Islam

Upacara Grebek Maulud

Garebek Maulud atau Grebeg Maulud adalah salah satu adat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Keraton Yogyakarta)1, dalam sejarah Grebeg Maulud pertama kali diadakan oleh Sultan Hamengku Buwana I. Upacara perayaan ini melibatkan seluruh keraton, segenap jajaran aparat kerajaan, serta melibatkan seluruh lapisan masyarakat Jogja.

Akulturasi kebudayaan asli dengan Islam

Upacara grebeg maulud merupakan contoh akulturasi kebudayaan asli dengan kebudayaan islam, karena pada dasarnya upacara adat ini diselenggarakan sebagai bentuk perayaan hari lahir atau maulid Nabi Muhammad saw. yang jatuh tepat pada tanggal 12 Rabiulawal. Dalam kalender Jawa-Islam bulan Rabiulawal disebut juga bulan Mulud, Maulid, atau bulan Maulud.

Itulah sebabnya upacara adat grebeg yang memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad ini disebut dengan Grebeg Maulud.

Selain tradisi Grebeg Maulud, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga menyelenggarakan Grebeg Maulud Dal yang diadakan setiap satu windu sekali dan diselenggarakan secara istimewa dengan penuh kemegahan, serta lebih banyak mengungkapkan unsur-unsur kebudayaan lama identitas raja, kerajaan Jawa.

Dalam Grebeg Maulud Dal, Sultan Jogja akan menghadiri acara adat ini di Masjid Besar di tengah publik yang hadir dengan memperlihatkan berbagai macam pusaka keraton yang dianggap sangat keramat sebagai bentuk pernyataan tradisional bahwa Sultan dan Kesultanan Yogyakarta adalah ahli waris yang sah dari para raja dan kerajaan Jawa terdahulu. Hal ini merupakan sikap tradisional Sultan sebagai wakil dari suku bangsanya dalam memuliakan dan menghormati para leluhur.

Pra acara Grebeg Maulud

Sebelum upacara adat Grebeg Maulud diselenggarakan, ada beberapa kegiatan dalam rangka persiapan menyambut garebek maulud dan kegiatan ini sudah menjadi tradisi adat yang diselenggarakan di lingkungan istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kegiatan-kegiatan ini meliputi

  • Upacara adat Geladi Resik untuk kesiapan para prajurit keraton oleh Bupati Nayoko Kawedanan Ageng Prajurit.
  • Upacara numplak wajik sebagai tanda permulaan pembuatan gunungan.
  • Upacara Miyosipun Hajat Dalem sebagai puncak acara dengan mengiring keluarnya hajat dalem yang berwujud gunungan dari dalam keraton ke Masjid Besar oleh Kyai Penghulu Keraton.
  1. Wikipedia: Merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Meski kesultanan tersebut pada tahun 1950 telah menjadi bagian Republik Indonesia secara resmi, akan tetapi kompleks bangunan keraton ini masih eksis hingga saat ini dan difungsikan sebagai tempat tinggal Sultan dan rumah tangga istananya, tradisi kesultanan juga masih diterapkan di sini hingga saat ini.