Demi Birrul Walidain, Wanita Cantik ini Rela Diperistri Budak Hitam

Kisah wanita cantik dan budak penjaga kebun

Kisah Wanita Cantik dan Budak Penjaga Kebun – Alkisah, di Kota Marwa1 ada seorang lelaki bernama Nuh bin Maryam, dia merupakan seorang yang shaleh, alim dan kaya raya. Tak hanya itu, beliau dikaruniai beberapa kenikmatan duniawi, bahkan ia juga menjabat sebagai hakim kota itu.

Anugerah Allah yang diberikan kepada Nuh bin Maryam seakan makin lengkap, karena ia juga dikaruniai seorang putri yang cantik jelita, akhlak yang santun, serta berbagai kesempurnaan.

Kecantikan putrinya ini sudah kesohor di berbagai penjuru Marwa. Sehingga tidaklah mengherankan jika banyak sekali para pejabat, kepala suku, dan orang-orang kaya di kota itu yang mendatangi Nuh, untuk mempersunting putrinya sebagai wanita pendamping idaman.

Namun semua lamaran dari para pejabat dan juga para kepala suku tersebut tidaklah segera diiyakan oleh Nuh bin Maryam. Keadaan seperti ini seringkali membuatnya bingung. Karena ia tentu tidak menginginkan sebuah kesalahan menjodohkan putri cantiknya dengan lelaki yang tidak shaleh.

Layaknya orang-orang kaya di zaman itu, Nuh bin Maryam juga memiliki budak yang ia tugaskan untuk menjaga kebun anggur. Budak berkulit hitam dari India yang bernama Mubarak. Saat itu, baru dua bulan Mubarak menjaga kebun.

Ditengah keresahan hati seorang ayah yang bingung menentukan calon suami untuk anaknya, Nuh memutuskan untuk menenangkan pikiran dengan menengok kebun yang ia miliki. Ia pun singgah di kebun yang di jaga Mubarak, budak hitam miliknya.

Nuh kemudian berkata kepada Mubarak:

“Ya Mubarak, petiklah setangkai anggur untukku!”

Mendengar perintah tuannya, Mubarak segera mengambilkan setangkai anggur sesuai perintah. Namun, anggur yang ia petik ternyata masih masam.

Mendapati anggur yang masam, Nuh kembali memerintahkan budaknya untuk memetik lagi anggur yang manis. Akan tetapi, siapa sangka jika ternyata untuk yang kedua kalinya Mubarak masih melakukan kesalahan.

Merasa gemas dengan tingkah budaknya, Hakim itu berkata:

“Kenapa kau selalu mengambilkan yang kecut, bukankah anggur di kebun ini sangat banyak?!”

Budak itu menjawab:

“Ya sayidi, saya tidak tahu bagaimana ciri buah yang manis dan ciri yang masam,”

Terkejut mendengar jawaban budaknya, hakim itu berkata:

سبحان الله, لك شهران في البستان ولا تعرف الحلو من الحامض؟

“Subhanalloh, dua bulan di kebun ini tapi kau tidak paham mana yang manis dan mana yang asam?”

Menanggapi teguran tuannya, Mubarak beralasan:

“Demi hakmu tuanku, aku tidak pernah sekalipun merasakan buah-buahan di kebun ini,”

Menanggapi alasan Mubarak, Nuh si hakim kembali bertanya:

“Lalu, kenapa kau tidak pernah memakan buah-buahan di sini,?”

Mubarak kembali menyampaikan alasannya:

يا سيدي, انما امرتني بحفظه لا بالأكل منه, وما كنت أخون في مالك وأخالف امرك

“Wahai tuanku, engkau hanya memerintahkanku untuk menjaga kebun ini, bukan untuk memakan buah di kebun ini, dan aku tidaklah akan mengkhianati amanatmu untuk menjaga hartamu serta melenceng dari perintahmu,”

Mendengar jawaban budak penjaga kebun, kali ini hakim itu benar-benar terkejut dan takjub akan kuatnya agama dan kejujuran dia dalam menjaga amanat. Hakim itu berkata:

“Hai Mubarak, aku benar-benar menyukaimu!. Kali ini aku akan menyampaikan persoalan dan perintahku, namun kau harus mematuhinya,”

Mubarak hanya menjawab:

“Aku akan mematuhi Allah, dan juga mematuhimu,”

Nuh bin Maryam kembali berkata:

“Aku memiliki putri, wanita cantik yang sangat rupawan dan sempurna, banyak para pejabat dan pembesar kabilah yang melamarnya melaluiku. Namun sampai saat ini aku bingung, kepada siapa akan ku nikahkan. Bagaimana menurutmu?”

Mubarok pun menjawab keresahan tuannya:

“Ya sayidi, sesungguhnya orang-orang jahiliyah dalam menikahkan putrinya lebih memprioritaskan nasab dan status sosial yang tinggi, dan orang Yahudi dan Nasrani lebih menyukai ketampanan dan kecantikan, sementara di zaman Nabi Muhammadpara sahabat lebih mementingkan agama dan ketakwaan seseorang, untuk orang-orang di zaman kita, mereka lebih menyukai yang berharta dan berkedudukan tinggi. Terserah engkau tuanku, kau inginkan yang mana?”

Nuh bin Maryam lantas merespon perkataan budaknya:

“Aku lebih menginginkan yang agamanya kuat dan bertakwa, dan sesungguhnya aku ingin menikahkanmu dengan putriku, karena aku menilaimu sebagai sosok yang sangat religius, sangat shaleh dan amanah,”

Mendengar permintaan sayidnya, budak penjaga kebun itu cuma menjawab:

“Ya sayidi, aku hanyalah budak hitam berkebangsaan India, sementara engkau telah membeliku dengan uangmu, bagaimana mungkin engkau nikahkan aku dengan putrimu?, Bagaimana mungkin putrimu yang cantik nan sempurna itu mau menikah denganku?”

Kemudian hakim itu mengajak Mubarak untuk mengikutinya, beliau berkata:

“Ikutlah kerumahku! Kita akan tahu bagaimana cara memutuskan masalah ini”

Setibanya di rumah, hakim itu berkata kepada istrinya:

“Budak ini adalah lelaki yang shaleh, religius dan bertakwa. Aku ingin menikahkannya dengan putri kita, bagaimana pendapatmu?,”

Istrinya menjawab:

“Keputusan ada ditanganmu, hanya saja terlebih dulu aku akan memberitahukan masalah ini pada putri kita, setelah mendapat jawaban darinya, aku akan segera memberitahumu,”

Ia segera beranjak menuju kamar putrinya, dan menceritakan keinginan ayahnya. Selepas, mendengar cerita ibunya tentang keinginan ayahnya untuk menikahkannya dengan budak penjaga kebun, wanita cantik itu menjawab:

“Keputusan ini aku serahkan pada kalian; ayah dan ibu. Aku tidak akan durhaka kepada kedua orangtuaku dan akan mematuhi ayah dan ibu.”

Setelah mendapat jawaban dari putrinya, istri Nuh bin Maryam segera menemuinya dan menceritakan jawaban anaknya. Lalu setelah tahu bahwa putrinya tidak menolak, Nuh si hakim, segera menikahkan wanita cantik itu dengan budaknya yang telah dimerdekakan, Mubarak. Hakim itu juga memberi mereka berdua harta yang melimpah.

Berkah dari pernikahan antara suami shaleh, yang selalu bertakwa dan kuat menjalankan amanah, dengan seorang istri shalehah yang birrul walidain dan pandai menjaga keridhoan kedua orangtuanya, keduanya dikaruniai anak lelaki yang mereka beri nama Abdullah.

Abdullah inilah yang akhirnya menjadi ulama terkemuka, membidangi segala ilmu, zuhud dan wara’ yang dikenal oleh para ulama dan para sufi serta wali-wali Allah dengan sebutan Ibnu Mubarak atau Abdullah bin Mubarak.2

Catatan kaki dan refrensi:

  1. Marw (Turkmen: Merw, Persia: مرو, Tiongkok: 木鹿 Mulu, juga Merv, Maru, Marwa), sebelumnya bernama Satrap Akhemeniyah dari Margiana, juga kemudian bernama Aleksandria (Ἀλεξάνδρεια) dan Antiokia di Margiana (Yunani: Ἀντιόχεια τῆς Μαργιανῆς) adalah sebuah situs kuno dan bersejarah dengan oase di Asia Tengah yang berada di jalur sutera. Marw dahulunya merupakan kota besar di wilayah Khurasan Raya, bersama dengan Naisabur, Herat dan Balkh sebagai salah satu dari empat kota besar dari Khurasan. Kota ini disebut dengan Marw asy-Syahijan untuk membedakannya dengan kota di tepi sungai Murghab yang bernama Marwa ar-Rudh. Marw maknanya adalah batu putih yang digunakan untuk menulis, Syahijan berasal dari dua kata dalam bahasa persia Syah artinya Sultan dan Al-Jan artinya roh. Beberapa kota pernah ada dalam wilayah ini yang penting dalam pertukaran budaya dan politik di tempat yang memiliki nilai strategis yang besar ini. Diyakini bahwa Marw pernah menjadi kota terbesar di dunia pada abad ke-12. Sekarang situs ini terletak di wilayah kota Mary di Turkmenistan.
  2. النوادر للقليوبي ٩٤
Posting Terbaru

Related Articles

Related

Enable referrer and click cookie to search for pro webber